
"Kau tidak memberiku ciuman dulu?" Afif menahan tangan Naynay yang hendak keluar dari mobil setelah istrinya itu mencium tangannya.
Dua kecupan diterima Afif di kedua pipinya, tapi masih belum cukup jika bibirnya belum mendapat bagian. Kalau menunggu Naynay mulai lebih dulu, bisa-bisa nanti dia karatan di sini. Jadi Afif lah yang memulai terlebih dahulu.
Disambarnya bibir Naynay itu dan dia nikmati dengan lembut. Tengkuk Naynay ditahan dan dia mulai memperdalam ciumannya. Apa yang bisa Naynay lakukan? Dia tidak bisa melawan karena yang menciumnya ini adalah suaminya.
Suara yang tercipta dari kegiatan mereka membuat Ryan jadi tuli seketika, seakan dia bisa menonaktifkan fungsi pendengarannya jika dalam keadaan terdesak. Dia juga memperbaiki spion depan agar tidak melihat pasutri di belakang itu.
"Tunggu sampai sopir menjemputmu, jangan pulang sebelum dia datang!" ucap setelah melepas ciumannya. Ibu jarinya mengusap bibir Naynay yang basah.
Naynay mengangguk dan segera keluar dari mobil. Wajahnya yang memerah dan jantung yang berdebar begitu cepat harus dia normalkan kembali. Ini di depan gerbang sekolah, bisa-bisanya Afif menciumnya begitu ganas di sini. Walaupun di dalam mobil, tetap saja Naynay malu.
Di dalam kelas, ternyata sudah ada Rania yang sedang duduk sambil sibuk dengan hpnya. Belum ada orang selain Rania di sana, mungkin karena ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah. Melihat Naynay datang, dia langsung menatap jengah sahabatnya itu.
"Kenapa kamu natap aku kayak gitu?" tanya Naynay setelah duduk di samping Rania. Heran dengan tatapan Rania.
"Aku tuh heran aja, emang gak ada tempat lain buat kalian ciuman? Untung ini masih pagi, jadi belum banyak yang datang." Rania mengomel sambil menggerakkan tangannya, entah apa gunanya, tapi itu mamang ciri khasnya jika sedang kesal.
"Kamu lihat tadi?!" tanya Naynay terkejut.
Rania mengangguk. "Makanya, puas-puasin dulu di kamar, itu kaca mobil jernih banget lagi." Masih lanjut mengomel, tidak peduli dengan Naynay yang menganga mendengar Rania ngomong ceplas-ceplos begitu.
Naynay benar-benar malu, Rania melihat adegan ciumannya di dalam mobil tadi? Dia menutupi wajahnya yang memerah malu.
"Ran, aku malu..." cicit Naynay sambil menggoyang-goyangkan lengan Rania.
"Salah siapa nggak tahu tempat?" Rania masih dalam mode ngomel, sebenarnya sih dia begitu terkejut melihat Naynay berciuman dengan Afif tadi. Di depan gerbang lagi...
"Ya kalau nggak aku cium, nggak mungkin aku bisa keluar dari mobil." Naynay menjatuhkan kepalanya di atas mejanya.
"Besok-besok kalau masih mau begituan, ganti kaca mobilnya!" balas Rania acuh, walaupun masih shock karena perbuatan Naynay tadi.
Naynay diam tak menjawab, dia menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya di atas meja. Kelas sudah mulai ramai, Rosi juga sudah berjalan mendekat.
*****
Sepulang sekolah, Naynay dan kedua sahabatnya sudah berdiri di depan gerbang menunggu jemputan mereka. Rania tadi pagi diantar oleh sopirnya, jadi dia bisa melihat adegan ciuman Naynay dan Afif yang menurutnya hot itu ketika sedang berjalan melewati mobil mereka.
Mobil sport putih berhenti tepat di depan kedua wanita dan satu gadis perawan itu. Laki-laki dengan celana pendek selutut dan baju kaos abu-abu keluar dan menghampiri mereka.
__ADS_1
"Kenapa kamu yang ke sini? Joan mana?"tanya Rosi ketika tidak mendapati suaminya yang menjemputnya.
"Meeting dadakan," balas laki-laki itu singkat.
Rosi menghembuskan napas kasar sambil menatap tidak suka laki-laki itu. Sedangkan Naynay dan Rania yang tidak mengenal laki-laki itu hanya diam menonton.
Menyadari kedua orang itu bingung, Rosi memperkenalkan siapa laki-laki di depannya. "Ini Ezriel, kakak sepupu aku."
Ezriel tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Rania dengan cepat membalasnya. Gadis perawan ini memang semangat jika menyangkut cowok tampan. "Aku Rania!" ucapnya semangat.
Laki-laki bernama Ezriel itu kini beralih mengulurkan tangannya ke depan Naynay. Bumil itu ragu untuk menyambutnya, tapi nanti dibilang tidak sopan pulak kalau tidak dibalas.
"Hanaya." Akhirnya Naynay membalas uluran tangan itu dan melepaskannya dengan cepat setelah menyebutkan namanya. Tanpa ketiga orang itu tahu, Naynay mengelap tangan kanannya dengan rok bagian belakangnya. Bukannya jijik, tapi Naynay merasa tidak nyaman jika bersentuhan dengan lelaki se usianya sejak kejadian itu.
Mobil mewah berwarna hitam berhenti di belakang mobil Ezriel tadi. Sopir yang biasa menjemput Naynay keluar dan membukakan pintu untuknya.
"Aku duluan, ya." Naynay pamit dan masuk ke dalam mobil. Sopir masuk kembali dan melajukan mobil menuju ke arah rumah mewah milik si Beruang Tampan.
Hp Naynay berbunyi, setelah melihat nama yang tertera di sana, dia langsung mengangkatnya. "Hallo, Kak."
"Kau sudah pulang?" tanya Afif dari seberang sana.
"Udah, ini lagi di jalan."
"Nggak ngerepotin, kan?"
"Enggak, mau apa?"
"Chocolate cake yang tokonya buka malam-malam itu, Kak."
"Oke, ada lagi?" tanya Afif sambil tersenyum.
"Nggak, itu aja, Kak."
"Baiklah, aku tutup dulu. Bye, Sayang." Afif langsung mematikan panggilan itu.
Wajah Naynay memanas kala mendengar sebutan "Sayang" dari Afif. Bahkan suara suaminya itu masih menggema di pendengarannya. Aaaaaa.... Naynay kembali olahraga jantung dibuatnya!!
"Apa Nona sedang sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit dulu?" tanya sopir yang melihat pantulan wajah memerah Naynay.
__ADS_1
"Oh, nggak usah, Pak. Nay sehat kok, kita langsung pulang aja."
Senyum manis Naynay menjadi pengiring perjalanan pulang sore itu. Dia menatap wallpaper hpnya yang merupakan foto suaminya yang berpose sangat tampan di sana. Awalnya Naynay terkejut mendapati wallpaper itu ketika Afif mengembalikan hpnya dulu. Tapi diam-diam dia suka memperhatikannya ketika sedang sendirian.
*****
"Oke, Sayang." Rosi menyimpan hpnya setelah menghubungi suaminya yang masih sibuk di kantor. Joan sendiri memang sering berada di kantor dari pada di kampus. Dia akan membantu ayahnya di perusahaan.
"Pisah sebentar aja udah kangen, bucin!" ejek Ezriel membuat Rosi memukul keras lengan pemuda itu.
"Urus urusan kamu sendiri!" balas Rosi kesal.
"Naynay itu imut banget, ya."
Mata Rosi membelalak mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut sepupunya itu.
"Cinta pandangan pertama nih?" goda Rosi sambil mencolek lengan yang tadi dia pukul.
Ezriel tidak menjawab, tapi malah senyum-senyum sendiri.
"Kalau suka, ya usaha. Soalnya yang suka sama Naynay juga banyak. Dia itu nggak cantik, tapi wajah imutnya yang membuat banyak orang suka. Apalagi sekarang auranya beda, lebih memikat aja gitu!" ujar Rosi semangat menceritakan Naynay pada kakak sepupunya itu.
"Dia juga pintar banget, juara umum terus. Dia juga nggak sombong, tapi beberapa minggu ini dia agak berubah. Kayak menghindar dari laki-laki gitu, tapi dia nggak mau cerita kenapa."
'Apa karena itu dia sampe ngelap tangannya sesudah salaman sama aku tadi, ya?' batin Ezriel mengingat tingkah Naynay tadi. Ya, Ezriel memang menyadari Naynay mengelap tangannya tadi.
.
.
.
.
.
Mohon bersabar, ya.... Aku juga punya kewajiban yang harus aku kerjakan. Selagi aku bisa, aku akan up, ya..
Tapi aku memohon kepada kalian semua agar bersabar, novel ini masih on-going. Dan juga, di kehidupan nyata kita juga punya urusan....
__ADS_1
Dukung Beruang Tampan dan Koala Bunting dengan
Like,Vote, Favorite, Dan Rate.....