
Afif sedang duduk di bangku yang ada di bawah pohon kelapa, matanya tak lepas memandangi ke mana istrinya yang sedang bunting melangkah. Panasnya sinar matahari ternyata tak membuat istrinya itu takut untuk bermain air.
Naynay begitu senang karena tidak merasakan perih lagi ketika masuk ke dalam air. Malam tadi Afif tidak menyentuhnya karena kasihan istrinya itu tidak bisa menikmati babymoon ini. Naynay duduk selonjoran di atas pasir dengan kaki terbuka, dia tertawa senang ketika ombak yang saling mengejar itu menghempas pelan tubuhnya.
Tak jauh di belakang Naynay, ada seonggok kerang yang tadi dia dapatkan ketika iseng menggali pasir.
Afif berjalan mendekati Naynay, istrinya itu sudah lumayan lama bermain air. Afif takut jika nanti Naynay masuk angin.
"Nay, ayo keluar. Kau sudah lama bermain air," ucap Afif sambil mengulurkan tangannya.
Naynay mengangguk dan dibantu berdiri oleh Afif. "Kakak yang bawa kerang, ya."
Sambil menggandeng tangan Naynay, sebelah tangan Afif juga memegangi ujung bajunya yang dia gunakan untuk membawa kerang-kerang yang didapatkan sang istri. Mereka kembali ke villa dan segera membersihkan tubuh dengan guyuran air shower.
Naynay yang sudah selesai terlebih dahulu pun pergi ke balkon dan duduk di sana. Sedang asik memandangi view laut dan langit yang cerah, matanya menangkap seorang lelaki yang sedang memotret lautan di pinggir pantai.
"Apa yang kau lihat?" tanya Afif yang ternyata sudah berdiri di samping Naynay hingga bumil itu terkejut. Afif ikut duduk di samping istrinya itu.
"Kak Iyan, Nay lihat dia suka banget sama yang warna biru."
Afif mengikuti arah tatapan istrinya itu, dan benar, ada Ryan yang masih sibuk dengan hpnya di pinggir pantai sana.
"Itu karena warna biru adalah warna kesukaan gadis yang dia cintai," ucap Afif santai membuat Naynay menoleh menatapnya dengan wajah penasaran.
"Ih, jangan setengah-setengah, jelasin!" ujar bumil itu menggoyang-goyangkan lengan Afif dengan gemas. Suaminya itu tersenyum sambil menyentuh bibirnya dan alis yang naik-turun.
__ADS_1
"Cup.. Udah, sekarang ceritain!" ucap Naynay setelah mengecup dua kali bibir suaminya itu.
Afif memperbaiki duduknya dan menatap ke arah sekretarisnya yang masih setia berdiri di tepi pantai. "Agar kau tidak bingung nantinya, aku akan menceritakan semuanya tentang dia."
Naynay mengangguk dan mengubah posisi duduknya menjadi bersila di kursi yang dia duduki.
"Ryan memang tidak pernah terlihat dekat dengan seorang gadis, tapi ternyata dia menyukai seorang gadis yang sangat galak. Aku sendiri tidak menyangka dia akan jatuh hati pada gadis itu, jarak usia mereka sekitar 7 tahun. Gadis itu awalnya risih dengan Ryan yang kaku mencoba mendekatinya. Tapi lama-kelamaan hatinya luluh dan mereka menjalin hubungan. Itu sekitar dua setengah tahun lalu, tapi hanya bertahan sekitar enam bulan. Sejak itu, Ryan kembali ke pribadi kakunya kembali. Padahal ketika menjalin hubungan itu, dia begitu bucin dan tidak menolak segala permintaan aneh yang gadis itu lontarkan." Terdengar tawa kecil dari bibir Afif ketika ucapannya terhenti. Ryan yang kini dan dulu memang agak jauh berbeda.
Naynay mencondongkan tubuhnya ke depan Afif. "Lalu? lanjut!" ucapnya penasaran.
Afif mengelus wajah Naynay yang tepat berada di depannya. "Semuanya berubah saat gadis itu kecelakaan dan koma selama beberapa bulan. Ryan tetap menemani gadis itu setelah jam kerjanya habis, dengan harapan kekasihnya itu cepat sadar. Tunggu, lebih baik kau duduk di sini agar aku lebih fokus untuk bercerita!" Afif menepuk pahanya tiga kali yang berarti jika tidak mau, maka cerita juga akan berakhir di sini.
Dengan perasaan dongkol yang luar biasa, Naynay berpindah duduk di pangkuan Afif dengan posisi menyamping karena dia hanya memakai baju kaos sepaha tanpa memakai celana. Afif melingkarkan tangannya di perut istrinya itu.
"Hari yang ditunggu pun tiba, gadis itu sadar dan yang pertama dilihatnya adalah Ryan. Ryan tentu senang dan langsung memeluk gadis itu, tapi dia merasa ada yang aneh. Melepas pelukannya, gadis itu memandang aneh dirinya dan mendorong tubuh Ryan menjauh. Setelah diperiksa, ternyata dia kehilangan setengah ingatannya. Dan itu termasuk melupakan Ryan dan hubungan mereka yang sudah terjalin enam bulan." Afif mencium pipi Naynay sebentar sebelum lanjut bercerita.
Afif menghela napas panjang. "Dan gadis itu adalah Silla, adik sepupuku."
Kalimat itu sukses membuat Naynay terkejut dan tergagap. Silla, gadis itu adalah gadis yang dicintai oleh Ryan.
"Iyan, panggilan yang kau gunakan padanya itu juga panggilan yang sama yang digunakan Silla. Sampai sekarang, dia masih belum mengingat sedikitpun tentang Ryan yang merupakan cinta pertamanya!" imbuh Afif sambil mengusap rambut panjang Naynay yang masih terdiam.
"Lalu, bagaimana perasaannya ketika setiap hari bertemu dengan Silla?" tanya Naynay setelah mendapat elusan di kepalanya.
"Ryan bisa menahan dirinya, dia tetap tenang meskipun hatinya sakit ketika melihat Silla yang sama sekali tidak mengenalnya. Padahal mereka sering menghabiskan waktu berdua dulunya, kadang jalan-jalan dan masih banyak lagi."
__ADS_1
Warna biru, ya, Naynay pernah masuk ke kamar Silla. Di mana semuanya berwarna biru terang dan ada juga yang deep blue. Ada juga beberapa lukisan yang begitu realistis seperti di atas awan yang menyajikan langit biru cerah.
"Silla udah periksa kan?" tanya Naynay lagi.
"Sudah, tapi dokter menyarankan agar tidak terlalu memaksa Silla untuk mengingat setengah memorinya yang hilang itu. Bisa berakibat fatal jika dipaksakan," jawab Afif yang masih mengingat perkataan dokter tentang kondisi adik sepupunya itu.
"Sudah, kau harus tidur siang agar kuat nanti malam!"ujar Afif sambil menggendong Naynay menuju tempat tidur.
"Berarti Nay nggak bisa main air lagi besok?" gumam Naynay yang sudah berbaring di atas tempat tidur.
"Besok lusa kau bisa bermain air lagi di sana, ayo tidur!" Afif memeluk Naynay dengan sebelah tangannya yang berada di paha Naynay yang terbuka karena baju yang dia pakai begitu pendek.
"Kak, Nay mau bikin sesuatu dari kerang tadi, boleh kan?" tanya Naynay sambil memasukkan tangannya ke dalam kaos Afif dan menyentuh punggung berotot itu.
"Aku akan meminta pelayan mempersiapkan apa yang kau butuhkan, sekarang tidurlah!"
Naynay mengangguk dan memejamkan matanya. Angin yang masuk melalui dinding kaca yang dibuka membuat Naynay cepat tertidur. Afif mencium jidat Naynay sebelum ikut memejamkan matanya. Dia juga butuh tenaga untuk bertempur malam nanti.
.
.
Vote, ya.... Supaya lebih semangat lagi up-nya...
.
__ADS_1
.