My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 213 Gadis Pilihan


__ADS_3

Masih di atas perahu....


''Aku harus mengetes Gea. Apakah dia menyukaiku apa tidak. Yaitu dengan cara menciumnya. Kalau saat aku cium dia menjauh, berarti dia memang biasa saja. Tapi kalau dia mau, itu tandanya dia suka tapi tidak berani mengungkapkannya.'' Batin Brian.


''Gea,''


''Apa Brian?''


Brian lalu menatap Gea dan perlahan Brian mendekatkan wajahnya pada Gea. Saat melihat Brian mengarahkan bibirnya pada bibirnya, secara reflek Gea mendorong Brian sampai Brian terjebur ke dalam danau.


''Brian, maaf-maaf. Aduh, ayo aku bantu naik!" Gea pun merasa panik karena membuat Brian terjatuh dan terjebur.


''Kenapa mendorongku sih? Kamu jahat sekali.'' Gerutu Brian.


''Maaf, aku reflek saja. Habisnya kamu mau ngapain?''


''Mau.... Ah sudahlah, lupakan. Aku akan berenang ketepian.'' Kesal Brian. Gea kemudian mendayung perahunya sampai ke tepi. Setelah sampai ketepian, Gea menunggu Brian berenang sampai ke tepi.


''Kamu baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka kan?'' ucap Gea yang merasa bersalah sudah membuat Brian terjatuh.


''Tidak apa-apa tapi aku basah.''


''Lagi pula tadi kamu ingin melakukan apa? Mau ambil kesempatan dalam kesempitan ya?'' tuduh Gea.


''Ti-tidak! Aku hanya terbawa perasaan dan suasana saja. Kita pulang saja, aku sudah basah kuyup.'' Ucap Brian seraya berlalu.


''Makanya jangan mesum!" teriak Gea dengan terkekeh. Namun Brian tidak peduli karena ia sudah terlanjur kesal. Gea lalu mengejar Brian menuju tempat parkir.


''Biar aku yang bonceng.'' Kata Gea.


''Tidak usah!"


''Ngambek ya? Sudah tahu kan kalau aku galak? Baru begitu saja marah. Padahal aku tidak sengaja.'' Ucap Gea.


''Aku tidak marah.''


''Ya sudah, sini biar aku bonceng. Nanti kalu kamu yang boncengin aku, yang ada kamu makin kedinginan.'' Bujuk Gea. Akhirnya Brian mengalah dan memberikan kunci motornya pada Gea. Sebenarnya Brian lebih merasa malu daripada merasa basah.


''Martabatku sebagai seorang penakluk wanita hancur sudah karena Gea. Biasanya tidak ada satupun wanita yang bisa menolak ciumanku tapi Gea bukan sekedar menolak tapi membuatku malu dan trauma.'' Gumam Brian dalam hati. Selama perjalanan pulang, keduanya pun tak saling bicara dan larut dengan pikiran masing-masing.


''Apa reaksiku berlebihan? Aku sungguh terkejut dengan apa yang akan Brian lakukan tadi. Tapi kasihan juga dia, sampai basah kuyup. Sepertinya doronganku terlalu kuat. Wajahnya tampak polos tapi cara berpikirnya jauh sekali. Bisa-bisanya dia mau menciumku. Pacar saja bukan. Tapi ya sudahlah, dia pantas mendapatkan itu. Aku sepertinya harus lebih hati-hati.'' Gumam Gea dalam hati.

__ADS_1


''Apa yang aku lakukan tadi mengagetkan Gea ya? Apalagi Gea pernah bercerita kalau dia hampir mengalami tindakan asusila. Brian, bodohnya dirimu! Gea itu bukan perempuan yang gampangan, yang bisa kamu cium seenak jidatmu. Kamu pantas di dorong dan di ceburkan, bersyukurlah setidaknya dia tidak menenggelamkanmu.'' Ucap Brian dalam hati, yang berkomunikasi dengan dirinya sendiri.


Sesampainya di rumah Brian...


''Brian, sebaiknya kamu segera ganti pakaian. Aku akan membuatkanmu minuman hangat dan aku akan memasak untuk makan malam. Anggap saja ini seperti permintaan maaf.''


''Iya, terima kasih.'' Jawab Brian seraya berlalu menuju kamarnya.


Gea kemudian menyalakan kompor dan membuatkan teh jahe hangat untuk Brian. Gea memilih sup ayam untuk makan malam. Dua puluh menit kemudian Brian keluar kamarnya dan sudah mengganti pakaiannya. Ia lalu menuju dapur, menghampiri Gea.


''Brian, ini teh jahenya. Minumlah selagi hangat, supaya kamu tidak masuk angin.'' Kata Gea seraya memberikan secangkir teh jahe pada Brian.


''Terima kasih Ge. Oh ya, aku mau minta maaf. Maaf kalau aku tadi lancang. Aku terbawa perasaan dan aku bukan pria mesum yang seperti kamu tuduhkan. Sekali lagi maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukannya lagi dan aku juga tidak akan memaksamu untuk menyukaiku juga.''


''Aku juga minta maaf karena aku mendorongmu terlalu keras. Karena aku memang reflek tadi.''


''Kamu sudah melakukan hal yang tepat, Gea. Sudah seharusnya kamu melawan jika ada pria yang kurang ajar kepadamu. Sekali lagi maaf, aku merasa tidak enak padamu.''


''Sudahlah, kita lupakan saja. Sebaiknya kita makan saja karena aku sudah lapar. Kamu bisa membantuku memindahkannya ke meja makan kan?''


''I-iya.''


Keduanya lalu menikmati makan malam bersama namun suasana menjadi canggung.


Keesokan harinya, Gea menyiapkan lamaran pekerjaannya dan ia pun kali ini berdandan lebih rapi dan feminim dengan sepatu kantor yang tidak pernah ia impikan selama ini. Ya, meskipun heelsnya tidak terlalu tinggi tapi tetap saja Gea merasa kesulitan. Ia bahkan mencoba memakai make up, sesuatu yang tidak pernah ia gunakan sama sekali.


''Gea! Sudah siap?'' panggil Brian sambil mengetuk pintu rumah Gea. Gea dengan langkah terburunya, membuka pintu untuk Brian. Brian di buat terpesona melihat penampilan Dara hari itu. Sebuah blazer coklat yang di padukan dengan rok selutut dengan sepatu heels warna hitam, di tambah make up tipis membuat Gea semakin cantik.


''Kamu cantik sekali hari ini. Pakaian yang kamu pakai itu seperti dari brand ternama.''


''Masa sih? Aku sama sekali tidak percaya diri. Aku bahkan kesulitan memakai sepatu ini. Apa riasan di wajahku menor?''


''Tidak! Semuanya sempurna. Riasanmu itu terlihat natural. Baiklah kita berangkat sekarang?''


''Aku kesulitan sekali memakai rok. Rasanya aneh.''


''Nanti juga terbiasa, Ge. Ayo kita berangkat! Pimpinanku sangat disiplin dan tidak menyukai orang yang telat.''


''Baiklah, aku ambil tasku dulu.'' Gea dengan langkah terburu menyambar tasnya yang sudah berisi surat lamaran pekerjaan.


''Terima kasih ya sudah membelikan aku pakaian ini. Tulis saja ya semua hutangku padamu.''

__ADS_1


''Pagi-pagi jangan memikirkan hutang, Ge. Lebih baik kita berdoa supaya kamu diterima bekerja disana.''


''Amin. Aku jadi deg-degan begini.''


''Tenang saja. Kamu pasti bisa.''


Mereka berdua segera berangkat ke kantor dengan motor butut Brian.


''Ge, memakai baju pasar saja kamu sudah sangat bahagia. Bahkan senyumanmu itu sangat tulus. Naik motor jelek begini, kamu sama sekali tidak gengsi. Berbeda sekali dengan para wanita yang pernah bersamaku, mereka selalu memikirkan brand dan pelayanan high class. Sementara dirimu, sangat jauh berbeda dari mereka. Sepertinya aku menemukan cinta sejatiku padamu, Ge.'' Kata Brian dalam hati.


Saat berhenti di lampu merah, motor Brian bersebelahan dengan sebuah mobil mewah. Dan mobil mewah itu membuka kaca mobilnya.


''Nona, turunlah dari motor butut itu. Wajah cantikmu tidak pantas naik ke motor butut itu.'' Ucap pria dalam mobil mewah itu.


''Memangnya kenapa? Kecantikan ku juga tidak hilang dengan naik motor butut ini.'' Balas Gea.


''Iya tapi kamu lebih pantas naik di mobil mewah ini dan duduk disampingku. Tidak ada gunanya bersama pria miskin, Nona. Aku kasihan padamu saja.''


''Maaf ya Tuan, aku tidak butuh belas kasihanmu. Dari cara bicaramu saja, kamu jelas bukanlah pria baik-baik. Maaf ya aku tidak suka pria sombong sepertimu dan kamu juga bukan tipeku, hhhh!" ketus Gea.


''Dasar wanita bodoh!" gerutu pria itu seryaa menutup kembali kaca mobilnya.


''Untuk apa kamu menghiraukannya, Ge.'' Kata Brian.


''Aku kesal saja mendengar ucapannya. Sombong sekali dia. Kenapa kamu tidak marah sih?''


''Untuk apa aku marah? Memang kenyataannya seperti ini kan? Kalaupun aku marah dan meladeninya, dia justru merasa senang. Aku sudah biasa mendapat hinaan itu.''


''Semangat ya Brian! Aku yakin kamu akan menjadi orang sukses. Aku harap kamu tidak sakit hati mendengar ucapannya.''


''Apa kamu tidak malu boncengan denganku?''


''Untuk apa malu? Aku sangat benci dengan orang kaya yang sombong. Karena mereka cenderung tidak bisa menghargai orang seperti kita ini, Brian.''


''Tapi kan tidak semuanya begitu, Ge.''


''Memang tidak semuanya tapi rata-rata. Lampunya sudah hijau, sebaiknya jalan dan jangan berdebat lagi.''


''Iya-iya.''


''Gea, kalau kamu tahu siapa aku yang sebenarnya apakah kita akan bisa sedekat ini?'' gumam Brian dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2