My Perfect Husband

My Perfect Husband
Baby Girl


__ADS_3

Panti asuhan, tempat di mana anak-anak kurang beruntung menggantungkan hidup. Diasuh dan dididik oleh ibu panti yang sudah seperti ibu kandung mereka sendiri. Setiap tawa dan senyum yang terukir dari puluhan anak-anak itu bagaikan angin surga yang menyejukkan hati ibu panti.


Di sinilah Naynay beserta suaminya sekarang, tentu saja juga ada Ryan dan Rania yang pastinya masih mengikuti ke mana pasutri itu pergi. Mobil mewah yang mereka tumpangi sudah beralih fungsi menjadi objek mainan anak-anak berumur lima tahunan di halaman depan panti.


Naynay datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu hingga ibu panti yang sedang berkebun dengan beberapa anak perempuan di sana terkejut. Wajah cemong mereka membuat Naynay tersenyum lebar.


"Maaf, membuat Nona dan Tuan menunggu." Wanita paruh baya itu sedikit menunduk karena merasa tidak enak hati. Dia baru saja selesai membersihkan tubuhnya yang kotor karena tanah.


Naynay tersenyum manis. "Tidak apa-apa, Bi. Naynay ke sini kan nggak bilang-bilang dulu, santai aja."


Ibu panti yang berusia sekitar lima puluh tahunan membalas senyum Naynay. Dia selalu merasakan kehangatan kala dipanggil bibi oleh Naynay.


"Apa Nona ada perlu sesuatu? Tidak biasanya datang tiba-tiba seperti ini." Ibu panti akhirnya bertanya tentang maksud kedatangan Naynay dan ketiga orang lainnya. Biasanya Naynay akan selalu menghubunginya jika mau datang.


"Nay kangen banget sama anak-anak, jadi langsung ke sini," ucap Naynay. "Perkenalkan ini Kak Afif, suami Naynay. Yang di sana itu Kak Ryan, dan yang satu ini pasti Bibi sudah hapal sampai ujung kaki." Naynay memperkenalkan dua orang yang terasa tidak asing bagi ibu panti. Tak lupa jari telunjuknya mengarah ke Rania yang tersenyum sambil melambaikan tangannya.


Ibu panti benar-benar terkejut mendengar bahwa Naynay sudah menikah, bukankah dia masih SMA? Dan juga, dia sudah sadar siapa laki-laki tampan itu. Dia pengusaha muda yang wajahnya sering muncul di tv, kan?


"Maaf, ya, Bi. Naynay nggak undang Bibi sama anak-anak, soalnya dadakan aja." Naynay memegang tangan ibu panti itu sambil menciumnya.


Rania yang sudah sering menemani Naynay ke sini tentu sudah tahu kalau sahabatnya itu sangat menghargai dan menyayangi ibu panti. Tapi berbeda dengan Afif dan Ryan yang tidak menyangka Naynay bisa mencium tangan orang yang bukan siapa-siapa baginya.


"Tidak apa-apa. Bibi doakan semoga kamu bahagia, ya. Langgeng terus sampai panggilan Tuhan itu datang." Air mata yang jatuh dari mata ibu panti itu menggambarkan bagaimana bahagianya dia mendengar Naynay sudah menikah. Diusapnya surai hitam Naynay itu dengan lembut.


Suasana haru itu sirna kala suara tangisan bayi terdengar sangat nyaring. Ibu panti segera berlari menuju kamarnya. Naynay sendiri mengerutkan dahinya bingung, setaunya tidak ada bayi di sini. Paling kecil itu berumur tiga tahun yang ikut bermain di mobil mereka.


"Bayi?" gumam Naynay ketika ibu panti datang sambil menggendong bayi yang dibalut selimut pink.


"Kita kehadiran pendatang baru, Nona."

__ADS_1


Naynay beringsut untuk lebih dekat dengan ibu panti yang sudah duduk di kursinya. Bayi itu memiliki pipi gembul, alis yang melengkung cantik, dan bulu mata lentik.


"Pagi tadi anak-anak teriak, katanya ada bayi di dalam kardus di depan pintu. Bibi cek dan ternyata benar. Abis itu Bibi bawa dia ke puskesmas di depan, tapi kata dokternya dia baik-baik aja. Diperkirakan umurnya sekitar dua bulan." Ibu panti mengayun-ayun kecil tubuh bayi itu.


"Dia perempuan?" tanya Naynay sambil mengusap pelan pipi putih gembul bayi itu. Ibu panti mengangguk membenarkan.


"Nay boleh gendong?" Semua mata di sana langsung membulat mendengar permintaan bumil itu.


Menyadari keempat orang itu ragu, Naynay langsung mengambil bayi perempuan itu dari gendongan ibu panti. Gerak tangan Naynay tidak kaku sama sekali, bahkan terlihat seperti wanita yang sudah terbiasa mengurus bayi.


"Nay udah sering gendong bayi kok, gendong anaknya adik papa!" ucap Naynay menyebut sepupu kecilnya yang masih berusia tiga bulan.


Melihat Naynay yang tersenyum sambil mengusap-usap pipi bayi itu, membuat perasaan Afif campur aduk. Istrinya itu berhasil meluluh-lantakkan hatinya hanya dengan perbuatan kecil tapi menyentuh sampai hati terdalam.


"Bibi udah beli susunya?" tanya Naynay kepada ibu panti yang sejak tadi menatapnya.


Naynay mengangguk dan meminta ibu panti untuk membuatkan susu untuk bayi perempuan itu. Setelah susunya siap, dia membawa bayi itu ke kursi yang ada di halaman belakang panti. Ada taman kecil di sana yang ditanami berbagai macam bunga. Sebelum pergi, dia mengecup pipi Afif secepat kilat agar suaminya itu tidak merasa terabaikan.


"Aaa.. Kau sudah bangun." Naynay begitu senang ketika mendapati bayi perempuan itu terbangun. Dada Naynay berdebar ketika tangan mungil bayi itu menggenggam telunjuknya. Mata jernih bayi itu juga menatap Naynay dengan sesekali mengerjap.


'Apa yang dipikirkan ibu dari anak ini sampai ia tega membuang anaknya sendiri?' Hati Naynay begitu sakit melihat nasib bayi malang ini.


"Jika seandainya pun hamil di luar nikah, seharusnya mereka bertanggung jawab, kan!" ucap Naynay sambil merapikan rambut bayi itu. Mungkin nanti ia akan memiliki rambut ikal.


"Aku bisa saja meminta papa atau kak Afif untuk mengadopsi kamu, tapi aku ragu bisa merawatmu. Aku masih bisa dipanggil anak-anak, rasanya sulit untuk merawat dua anak sekaligus." Naynay mengecup kedua pipi gembul itu dengan lembut.


"Kalau kau mau, aku bisa melakukannya." Suara Afif membuat Naynay menoleh ke samping kanan.


Naynay meraih botol susu tadi dan menempelkannya di bibir bayi yang sudah gelisah itu. Setelah itu Naynay menatap Afif yang sudah duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Nay takut jika nantinya tidak bisa merawat dua bayi sekaligus. Takut juga tidak bisa bersikap adil pada mereka berdua. Apalagi...." Naynay hampir keceplosan, untungnya dia sadar sebelum membeberkan rencananya.


"Apalagi apa? Lanjutkan ucapanmu!" perintah Afif dengan mata menatap tajam istrinya. Seakan dia sudah menduga ada yang Naynay sembunyikan.


"Apalagi jika nanti orang tuanya kembali," ujar Naynay sedikit gugup, tapi untungnya dia mendapatkan alasan yang masuk akal.


Afif berdiri dengan memasang wajah datarnya. "Sudah sore, kita harus pulang." Dia pergi setelah mengatakan hal itu.


Naynay menyusul Afif setelah bayi menggemaskan itu menghabiskan susunya. Dia menyerahkan bayi itu kepada ibu panti dan menciumnya sebelum pulang.


Di perjalanan pulang, Naynay hanya diam sambil bersandar di kursinya. Dengan mata terpejam, dia merasakan kepalanya berpindah di tempat yang terasa hangat dan nyaman. Naynay melingkarkan tangannya di pinggang Afif yang sudah terlebih dahulu memeluknya.


'Mama hanya bisa berharap jika nanti kita pergi, papa kamu yang sekarang nggak benci sama kita. Mau bagaimana pun, kita tidak layak bagi dia yang begitu sempurna dan dia bisa mendapatkan wanita yang sempurna pula.' Ada sesuatu yang memperkuat rencana Naynay untuk pergi setelah anaknya lahir.


Tanpa sadar, Naynay terisak kecil. Baju kaos putih Afif sudah basah karena air matanya. Afif menduga jika istrinya itu sedih karena bayi tadi, jadi dia menenangkan Naynay dengan menepuk-nepuk pelan punggungnya.


Dua orang yang duduk di depan sana hanya bisa saling melirik. Mereka bergelud dengan pemikirannya masing-masing.


.


.


.


.


.


Dukung Beruang tampan dan Koala Bunting dengan like, rate, dan vote.....

__ADS_1


__ADS_2