My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 217 PACAR?


__ADS_3

''Selamat pagi pacar!" sapa Belinda begitu melihat Arthur sudah sampai di depan kontrakannya.


''Pacar?''


''Iya, pacar. Mulai kemarin kita kan pacaran.'' Kata Belinda dengan gaya bicara manjanya. Arthur hanya bisa tersenyum sambil mengelus kepala Belinda.


''Oh ya ini aku membuatkanmu bekal makan siang. Aku memasak sendiri.''


''Masak sendiri? Serius?'' Arthur menaikkan sebelah alisnya, ketika mendengar Belinda memasak untuknya.


''Iya. Tapi tidak tahu rasanya bagaimana, hehehe. Aku berusaha melakukannya untukmu.''


''Terima kasih ya dan semangat belajar. Sekarang ayo kita berangkat! Jadi tetaplah akting menjadi sekretarisku sampai hari ini saja.''


''Siap Tuan Arthur.''


''Nanti pulang kantor, aku akan langsung mengantarmu ke rumah. Karena aku sudah meminta beberapa anak buahku untuk membersihkan kontrakan dan mengemasi barang-barangmu.''


''Terima kasih pacar.'' Kata Belinda seraya memeluk lengan Arthur.


''Hati-hati ya jangan panggil aku pacar di kantor.''


''Iya-iya. Lagi pula kita juga satu ruangan kan. Jadi bebas dong.''


''Dasar! Ya sudah, ayo berangkat!"


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai juga di kantor. Seperti biasa, keduanya berjalan terpisah. Arthur berjalan di depan, sementara Belinda menyusul di belakang. Begitu keduanya sampai di ruangan, Belinda langsung menghambur ke pelukan Arthur.


''Rasanya aku ingin drama hari ini segera berakhir. Toh nanti mereka semua akan tahu siapa aku.'' Kata Belinda. Arthur terkejut tiba-tiba mendapat pelukan dari Belinda.


''Bel, tapi kamu masih menyamar. Dandanan kamu saja berbeda dari biasanya.''


''Awas ya kalau kamu genit-genit sama Grace, aku tidak akan mengampunimu.''


''Iya-iya, kamu tenang saja.'' Kata Arthur sambil mengelus kepala Belinda.


...****************...


Dan pagi ini di kantor, Brian sangat akrab dengan rekan kerjanya, baik pria ataupun wanita. Mereka mulai bisa menerima kehadiran Brian. Sementara Gea memilih fokus untuk mengerjakan tugas-tugas barunya.

__ADS_1


''Brian, dengan wajah tampanmu ini, seharusnya kamu menjadi model atau aktor saja.'' Kata Fani, teman satu kantor dan satu ruangan Brian.


''Aku tidak ada bakat kearah sana, Fan. Aku malu kalau harus berhadapan dengan kamera.''


''Sayang sekali kalau wajah tampanmu ini di sembunyikan. Aku bisa membantumu masuk agency. Karena Pamanku punya agency. Kalau kamu mau, aku bisa membantumu meraih kesuksesan sebagau aktor atau model.''


''Jangan dengarkan dia, Brian. Aku yang sudah bapak-bapak begini ditawari juga oleh Fani. Dia sedang mempromosikan agency milik pamannya, sampai OB saja dia tawari juga.'' Sahut Pak Aryo dengan terkekeh.


''Pak Aryo, kalau Brian memang cocok. Lihat saja penampilannya dari atas sampai bawah sangat sempurna. Kamu seperti berlian yang terbuang Brian.'' Kata Fani sembari merapikan rambut Brian yang berantakan. Tak sengaja Gea melihat adegan itu di hadapannya. Gea juga memperhatikan sikap Brian yang sepertinya nyaman dengan perlakuan Fani.


''Tuh kan? Katanya suka tapi malah genit-genit sama cewek lain,'' gerutu Gea dalam hati.


''Kamu terlalu berlebihan, Fan. Aku lebih menyukai kerja kantoran daripada menjadi aktor atau model. Karena saat terjun ke dunia hiburan seperti itu, kita hampir tidak punya privasi. Sedangkan aku merasa grogi kalau harus berhadapan dengan kamera. Aku lebih nyaman seperti ini.'' Kata Brian.


''Kembali ke mejamu, Fani. Jangan mengganggu Brian lagi,'' tegur Pak Aryo ketua tim di ruangan tersebut. Sosok yang bersahaja dan bersahabat.


''Iya-iya Pak, tenang saja. Aku pastikan semua pekerjaan akan beres.'' Kata Fani seraya kembali ke tempat duduknya.


''Gea, nanti makan siang sama-sama ya.'' Bisik Brian yang mejanya bersebelahan dengan Brian.


''Iya.'' Singkat Gea.


''Wah Brian, kantinnya bagus banget ya. Pasti makanannya mahal sekali.''


''Tidak mahal kok, Gea. Kita cukup menukarkan kupon makan ini saja. Bahkan harga kupon ini cuma sepuluh ribu dan aku sudah membelikannya untukmu.''


''Kamu serius cuma sepuluh ribu?''


''Iya Gea. Dengan uang segitu kamu sudah bisa mendapatkan makanan yang lengkap, sehat dan bergizi. Itulah sebabnya Dirgantara Group semakin berkembang pesat karena pimpinannya sangat mempedulikan kesejahteraan para pekerjanya.''


''Keren sih emang.''


''Ya sudah, kita antre makanan yuk!"


''Oke.'' Gea kemudian mengikuti langkah Brian untuk mengantre makanan. Setelah dapat, keduanya lalu mencari tempat duduk yang kosong. Karena hampir setiap hari kantin selalu penuh.


''Selamat makan!" ucap Brian dengan penuh semangat.


''Selamat makan juga, Brian.'' Kata Gea dengan semangat juga. Saat keduanya sedang asyik makan bersama, tiba-tiba datanglah Fani.

__ADS_1


''Hai Brian, Gea! Aku gabung ya, soalnya penuh semua.''


''Silahkan saja Fan.'' Kata Brian. Fani lalu mengambil duduk tepat di sebelah Brian, padahal kursi di samping Gea masih kosong. Bukannya makan, Fani justru memandangi wajah Brian. Sampai membuat Brian merasa tidak nyaman.


''Ke-kenapa kamu melihatku seperti itu?'' tanya Brian.


''Tidak kenapa-kenapa. Aku merasa wajahmu seperti tidak asing.''


''Maksudmu?''


''Ya tidak asing saja. Coba rambut kamu belah samping, pasti semakin rapi.'' Kata Fani seraya berusaha merapikan rambut Brian. Namun tiba-tiba tangan Gea mencegahnya. Fani terkejut.


''Fan, Brian sedang makan. Sebaiknya jangan ganggu dia. Kamu juga ke kantin untuk makan kan? Kamu pasti tahu kalau perusahaan ini sangat disiplin? Jadi kita harus memanfaatkan waktu dengan baik.'' Jelas Gea.


''Kamu kan baru sehari kerja disini, Ge. Jadi jangan sok tahu. Kamu tidak tahu kan generasi terakhir Dirgantara Group? Aku dengar dia juga sangat tampan seperti Tuan Arsen. Tapi dia tidak pernah terlihat di perusahaan dan sepertinya wajahnya mirip dengan Brian.'' Ucap Fandi. Sontak, ucapan Fani membuat Brian terbatuk. Gea dengan cepat memberikan segelas air untuk Brian.


''Hati-hati Brian.'' Kata Gea dengan khawatir.


''Memangnya kamu sudah pernah ketemu dengan generasi terakhir Dirgantara Group?'' tanya Brian dengan terbata.


''Hehehe belum sih. Lebih tepatnya belum melihat jelas wajahnya. Saat itu aku hanya melihatnya dari kejauhan saja, itupun dari samping.'' Kata Fani.


''Aku malah sama sekali tidak tahu kalau Dirgantara Group punya generasi terakhir. Aku pikir hanya Tuan Arsen. Tuan Arsen pun aku belum pernah melihatnya.'' Kata Brian yang pura-pura tidak tahu.


''Tuan Arsen dengan honeymoon bersama istrinya, Nona Sheena. Setelah launching produk, mereka pergi ke Swiss.'' Kata Fani yang begitu detail.


''Kenapa kamu tahu sekali Fan?'' tanya Gea.


''Iya dong Ge. Aku sengaja ingin tahu, siapa tahu aku bertemu dengan generasi terakhir? Sudah terbayang di benakku kalau aku menjadi bagian dari mereka. Keluarga yang hebat, konglomerat dan semua bibitnya good looking, kualitas terbaik.'' Kata Fani yang begitu antusias menceritakan tentang keluarga Dirgantara.


''Fani, sebaiknya habiskan makananmu. Jangan banyak berkhayal.'' Ucap Gea dengan mulut penuh makanan.


''Iya Fan, sebaiknya habiskan makananmu. Fokus bekerja jangan memikirkan yang lain.'' Timpal Brian.


''Pasti aku habiskan lah tapi aku tidak akan berhenti berkhayal.'' Ucap Fani terkekeh.


''Sepertinya aku harus hati-hati dengan Fani. Jangan sampai dia tahu siapa aku sebenarnya.'' Gumam Brian dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2