My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 216 Kisseu


__ADS_3

''Ayo katakan lagi! Kamu cemburu kan?'' kata Arthur yang terus berusaha mendesak Belinda. Sorot matanya semakin tajam menatap Belinda, sampai membuat Belinda tak berkutik dan mematung.


''Ayo katakan? Sudah, mengaku saja kalau kamu cemburu dengan Grace.''


''Ah, sudahlah! Aku malas berdebat denganmu. Sebaiknya kamu pulang.'' Kesal Belinda.


''Lalu sekarang aku tanya, bagaimana perasaanmu pada Erick? Apakah kamu menyukainya?''


''Kalau iya dan tidak memang kenapa? Itu bukan urusanmu.''


''Itu sudah jelas menjadi urusanku. Kita akan bertunangan dan sebentar lagi menikah.''


''Memangnya kamu mau menikah tanpa ada ikatan cinta?'' tanya Belinda.


''Yang paling utama restu orang tua yang aku dapatkan. Karena seiring berjalannya waktu cinta itu akan datang dengan sendirinya. Aku juga bilang pada Grace kalau aku sudah memiliki calon istri. Aku juga cerita pada Grace kalau aku akan bertunangan. Bahkan aku mengundang Grace langsung supaya di datang. Lalu bagaimana denganmu? Aku bukanlah seorang pria plin-plan yang tidak bisa menghargai komitmen. Sekalipun aku dijodohkan, aku akan melakukannya dan mencobanya, kalau memang di tengah jalan perasaan itu masih sama, ya aku mundur. Dengan begitu orang tua ku bisa tahu anaknya bahagia atau tidak, meskipun pengorbanan untuk melakukan itu cukup besar. Toh saat ini aku juga sedang sendiri.'' Jelas Arthur panjang lebar.


''Jadi Grace tahu kalau aku adalah calonmu?''


''Dia belum tahu. Tapi yang jelas, aku menyuruhnya datang supaya dia bisa melihatmu bersanding denganku nanti.''


Pipi Belinda memerah, mendengar ucapan Arthur. Kini ia semakin di buat salah tingkah dengan sorot mata Arthur yang begitu menghakimi.


''Ternyata Arthur cerita pada Grace tentang perjodohan ini. Aku sudah salah sangka padanya. Tapi tetap saja aku cemburu.


''Sekarang, jelaskan padaku bagaimana perasaanmu pada Erick? Kamu harus memutuskannya Belinda.''


''Sudah pasti aku akan tetap bertunangan denganmu. Jodohku sudah di tangan Papa dan Mama, apa boleh buat.''


''Kalau memang begitu, akhiri semuanya dengan Erick. Jangan sampai orang tuamu mendengar semua ini. Dan besok aku akan membantumu berkemas, kembali kerumah.''


''Hah? Kembali ke rumah? Sungguh?'' mata Belinda berbinar.

__ADS_1


''Iya dan besok hari terakhirmu bekerja di kantor.''


''Lalu siapa yang akan menggantikan aku?''


''Banyak sekali kandidat yang masuk.''


''Si-siapa? Pria atau wanita?'' selidik Belinda. Arthur kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto wanita seksi pada Belinda. Belinda terkejut melihat itu.


''Wah, otakmu mesum juga ya.''


''Mesum bagaimana? Pakaian mereka normal-normal saja, layaknya baju kerja seperti milikmu.''


''Kenapa tidak mencari sekretaris laki-laki saja? Seperti sekretaris hyung.''


''Memangnya kenapa kalau perempuan? Kan biar bikin tambah semangat kerjanya. ''


Mendengar ucapan Arthur, Belinda kesal sekali. Ia pun reflek memukul dada Arthur.


''Dasar mata keranjang! "


''Iya aku cemburu! Aku tidak suka kamu punya sekretaris perempuan. PUAS!" kesal Belinda sambil berkacak pinggang. Arthur kemudian tersenyum dan menyentil kening Belinda.


''Ihhh sakit!" rintih Belinda. Arthur kemudian menarik Belinda dalam pelukannya.


''Dasar bodoh! Kenapa gengsi segala sih?'' kata Arthur yang begitu senang mendengar ucapan Belinda.


''Gengsi? Bukankah kamu juga gengsi, hah? Kamu juga cemburu kan?''


''Iya aku cemburu. Aku takut kalau kamu menjadi milik Erick. Apa kamu mau mencobanya? Kita mulai dari nol?''


''Iya aku mau.'' Jawab Belinda dengan senang hati.

__ADS_1


''Apa itu artinya kita mulai pacaran?'' tanya Belinda.


''Menurutmu bagaimana?''


''Aku ingin kita lebih dekat saja dulu. Tapi awas ya jangan dekat-dekat dengan Grace apalagi mencari sekretaris perempuan.'' Ancam Belinda.


''Baiklah, itu urusan mudah. Lalu bagaimana denganmu dan Erick?''


''Aku akan bilang pada Erick yang sejujurnya tentang hubungan kita.''


''Oke baiklah. Kalau begitu sekarang aku pulang dulu.'' Kata Arthur seraya melepaskan pelukannya. Belinda menatap manja Arthur dengan kedua tangan yang masih melingkar di pinggang Arthur.


''Apa kamu tega meninggalkan aku?''


''Ini adalah hari terakhirmu belajar tentang mandiri dan sebuah kesederhanaan. Jadi nikmati saja semuanya. Besok pagi aku akan menjemputmu.''


''Baiklah, aku akan menikmati malam terakhir ini. Tapi setidaknya berikan aku sesuatu sebelum aku pergi.'' Ucap Belinda. Arthur tersenyum tanpa ragu-ragu ia mengecup sekilas bibir Belinda. Dan kecupan itu seketika membuat Belinda menjadi panas dingin. Merasakan sensasi yang luar biasa dalam hatinya.


''Sudah cukup kan?'' kata Arthur. Belinda hanya mengangguk. Belinda lalu berjinjit dan membalas mengecup bibir Arthur.


''Hati-hati.'' Kata Belinda seraya melepaskan kedua tangannya yang masih melingkar di pinggang Arthur. Namun saat Belinda hendak melepaskannya, Arthur justru meraih pinggang dan tengkuk Belinda. Dan Arthur memulai sebuah ciuman yang lebih intim. Belinda tanpa rasa canggung dan malu, membalas ciuman Arthur. Ciuman keduanya semakin dalam, semakin memanas dan semakin menuntut. Arthur menggiring langkah Belinda menuju kamar, keduanya terjatuh diatas tempat tidur tanpa melepaskan pagutannya. Tentu saja lama hidup di luar negeri, membuat Belinda sedikit berani. Belinda melingkarkan kedua tangannya pada Arthur. Belinda semakin menikmati lu.. ma.. tan demi lu.. ma.. tan yang diberikan oleh Arthur. Lidah keduanya pun saling membelit dan menelusup ke setiap sudut bibir dan rongga mulut. Nafas keduanya semakin memburu dan tak terkendali. Ingin rasanya malam itu Arthur melakukan sesuatu yang lebih namun Arthur berusaha menahannya. Sampai pada akhirnya Arthur memilih mengakhiri ciumannya setelah berlangsung hampir sepuluh menit. Sampai membuat bibir keduanya memerah. Arthur kemudian mengecup kening Belinda dan merapikan kembali pakaiannya yang berantakan.


''Ak-aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik ya.''


''I-iya. Hati-hati.'' Jawab Belinda malu-malu.


''Jangan lupa kunci pintunya.'' Ucap Arthur seraya beranjak dari atas tubuh Belinda.


''I-iya.'' Kata Belinda. Setelah mengantar Arthur sampai ke depan, Belinda lalu kembali menuju kamarnya. Ia teringat bagaimana Arthur me.. lu.. mat bibirnya. Bahkan sebenarnya malam ini Belinda menginginkan lebih.


''Astaga Bel, apa yang kamu pikirkan? Sekarang otakmu yang mesum ya. Ingat, kalian ini baru pacaran, masa iya mau langsung lebih. Sadar Bel! Sadar! Tapi aku suka bibirnya. Dia mahir sekali berciuman. Sepertinya aku harus bertanya, berapa banyak wanita yang dia cium? Kenapa dia pintar sekali, bahkan sampai membuat jantungku ingin melompat.'' Gumam Belinda yang berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


''Jangan banyak memikirkan sesuatu yang aneh, Bel. Sebaiknya tidur dan besok kamu kembali menjadi Nona Belinda Dirgantara. Penderitaanmu berakhir Belinda. Yeah!" gumamnya dengan begitu bahagia.


Bersambung...


__ADS_2