My Perfect Husband

My Perfect Husband
24 tahun


__ADS_3

Setelah kejadian Naynay kabur beberapa hari yang lalu, semua kembali berjalan dengan baik. Naynay juga meminta maaf pada Hendrayan dan Yasmin karena sudah membuat mereka khawatir.


Afif, laki-laki bergelar ayah dan sebentar lagi bergelar papa itu begitu sibuk. Seharian ini dia sama sekali tidak berpindah dari kursi kebesarannya. Untungnya Naynay mengajaknya untuk melakukan panggilan video hingga sekarang langit sudah berubah menjadi gelap.


"Kau tidak mandi?" tanya Afif sambil melirik Naynay sebentar sebelum menatap layar laptopnya kembali.


"Nggak, tadi pagi kan udah. Hemat air untuk masa depan, Kak!" jawab Naynay dengan alasan konyolnya jika ditanya mandi.


Afif tertawa kecil mendengar alasan klasik itu, jika Naynay ada di sini, mungkin pipi chubbynya habis dicubit Afif.


Brakkk


Afif mendengar suara pintu yang dibanting dan melihat wajah Naynay yang berubah takut. Kemudian layar hanya menampilkan langit-langit kamar dan terdengar teriakan nyaring yang merupakan suara Naynay. Afif berdiri dan berlari keluar dari ruangannya setelah melihat orang bertopeng sebelum panggilan terputus.


"Kita pulang, sekarang!" ucap Afif ketika masuk ke dalam ruangan Ryan.


Ryan yang melihat wajah khawatir Afif dengan cepat mengikuti langkah Afif keluar dan memasuki lift. Afif tidak bisa tenang, dia mengendurkan dasi yang terasa mencekik lehernya.


Ketika pintu lift terbuka, mereka berdua berlari secepat mungkin menuju mobil. Ryan segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi atas perintah Afif sudah pucat dan gelisah karena khawatir dengan istrinya. Teriakan Naynay terasa masih terdengar di telinganya.


"Sial!!" umpat Afif karena jalanan macet. Dia mengambil hp dari saku dan mencoba munghubungi Qiara dan Silla, tapi nomor mereka tidak aktif. Beralih ke nomor Pak Hen, tapi sama saja.


"Tenang, Tuan Muda. Jika Anda panik, semuanya tidak akan berjalan dengan baik." Ryan mengunci pintu mobil ketika melihat Afif hendak membuka pintu.


"Bagaimana aku bisa tenang?" tanya Afif dengan suara keras dan mengusap kasar wajahnya yang terlihat kusut.


Ryan hanya diam dan kembali melajukan mobil setelah jalanan kembali lancar. Terhitung mereka menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk pulang karena sempat terjebak macet parah. Afif yang sudah benar-benar panik pun segera keluar dari mobil setelah mobil berhenti di depan teras.


"Ke mana semua pengawal? Dasar tidak becus!!" bentak Afif ketika melihat tidak ada satu orang pun di luar, gerbang pun tadi dalam keadaan terbuka.


Afif memasuki rumah yang sedikit gelap dan ada beberapa barang pecah yang dia injak. Dia langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Afif mencari Naynay ke semua ruangan yang ada di dalam kamar, tapi istrinya itu tidak ada. Hanya ada hp Naynay di atas tempat tidur di mana Naynay tiduran ketika video call tadi.


Afif kembali keluar dan memeriksa kamar Silla dan Qiara, namun juga kosong dengan kondisi berantakan.


Dorr


Hingga Afif mendengar suara tembakan itu, Afif segera berlari menuju sumber suara. Tidak peduli dengan keadaan yang remang-remang, Afif berlari ke pintu menuju halaman belakang.


Begitu gelap, Afif tidak bisa melihat apapun di sana. Tapi telinga tajamnya menangkap suara tangisan yang dia kenal sebagai suara Silla dan Qiara. Suara tangisan itu tidak jauh darinya, Afif berjalan perlahan dalam gelap karena hpnya tertinggal di dalam mobil.

__ADS_1


"Qiara, Silla," panggil Afif pelan ketika merasa sudah begitu dekat dengan suara tangisan kedua adiknya itu.


Dorr


"Aakkkhhh...."


Satu lagi suara tembakan disertai teriakan membuat dada Afif terasa berhenti, itu suara Naynay. Air matanya mengalir mendadak karena teriakan kesakitan itu, dia tidak bisa melihat apa-apa.


"Hanaya!!" teriak Afif sambil berjalan kecil lurus ke depan dengan air matanya yang masih setia mengalir. Dia menggeleng mengusir pemikiran buruknya.


"KEJUTANNN!!!"


Lampu menyala setelah suara teriakan banyak orang itu terdengar. Mata Afif terpusat pada istrinya yang berdiri sambil tersenyum tak jauh di depannya.


Beberapa jam yang lalu........


"Please, bantuin Naynay, ya!" pinta Naynay penuh harap pada Ryan dan Pak Hen yang berdiri di depannya.


Ryan dan Pak Hen saling tatap, mereka ragu untuk menyanggupi permintaan Naynay yang satu ini.


"Kalau nggak mau, Nay bisa sendiri." Wajah Naynay berubah murung ketika tidak mendapatkan jawaban dari dua orang di depannya. Dia berbalik dan melangkah pergi sambil mengelus perutnya.


Naynay memutar tubuhnya sambil tersenyum lebar. "Makasih," ucapnya senang. Setelah itu dia pergi menaiki tangga karena takut Afif sudah bangun.


Hari ini adalah hari ulang tahun Afif yang ke 24 tahun dan Naynay ingin memberikan kejutan untuk suaminya. Dia meminta Ryan datang lebih awal untuk menjelaskan rencananya, dia juga meminta Pak Hen untuk ikut bekerja sama.


Naynay meminta agar Ryan membuat Afif sibuk sampai sebelum jam makan malam. Terserah kata Naynay, jadi Ryan memberikan laporan pengembangan perusahaan sampai beberapa bulan ke depan. Naynay juga meminta Ryan untuk melalui jalur lain yang biasanya macet agar Afif semakin panik dan tidak menyadari semuanya.


Dan Pak Hen, Naynay meminta pria tua itu untuk memerintahkan semua pengawal bersembunyi ketika Ryan memberi kode kalau mereka sudah dekat. Dan juga rumah yang berantakan, Naynay juga lah yang punya berulah agar rencananya semakin meyakinkan.


Dari pagi sampai sore, Naynay sibuk membuat kue dan mendekor halaman belakang yang super luas itu. Semua pelayan tentunya membantu Naynay karena tidak ingin Nona Muda mereka itu kelelehan. Lima orang koki juga memasak begitu banyak makanan untuk mereka santap nantinya. Sebelum itu Naynay menjemput Araa, sekalian meminta kedua orang tuanya datang ke acara ulang tahun Afif.


Satu lagi, orang bertopeng itu adalah Silla yang ikut dalam rencana Naynay. Dan suara tembakan itu, pistolnya sama sekali tidak berpeluru yang ditembakkan oleh Qiara.


*


Melihat Afif menatap khawatir ke arahnya, Naynay mendekat dan berdiri tepat di depan suaminya itu. Dia langsung mendapat pelukan yang begitu erat dari Afif.


"Kau membuatku khawatir," ucap Afif pelan dan mendapat tepukan lembut Naynay di punggungnya.

__ADS_1


Afif melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Naynay. Ditatapnya wajah imut istrinya itu penuh cinta dan menghadiahi ciuman hangat di kening Naynay.


"Kak, banyak orang," bisik Naynay yang malu karena ada banyak orang di sana.


Afif menoleh ke kanan-kiri dan bersikap cool saat melihat memang banyak orang. Semua pelayan dan puluhan pengawal ada di sana. Jangan lupakan Yasmin yang sedang menggendong Araa dan Hendrayan yang menatap jengah padanya.


Naynay menarik tangan Afif mendekat ke arah meja yang di atasnya ada kue buatan Naynay. Kue tiga tingkat dengan hiasan dasi berwarna maroon tersebut membuat Afif tersenyum. Dia juga tidak menyangka akan mendapat kejutan di hari yang sempat dia kira kalau Naynay tidak mengetahuinya.


"Nay nggak kasih lilin, jadi Kakak langsung berdoa saja sebelum potong kue!" ujar Naynay sambil meraih pisau.


Afif menengadahkan kedua telapak tangannya dan berdoa di dalam hati. 'Ya Tuhan ku, terima kasih karena masih memberikanku kesempatan untuk merasakan kebahagiaan ini bersama orang-orang yang aku sayangi. Terima kasih juga telah memberikanku istri yang begitu sempurna, aku percaya semua yang terjadi adalah kehendak-Mu. Selalu berikan kami kesehatan dan lindungilah kami dari segala marabahaya. Amiin.. '


Setelah memanjatkan doa dan rasa syukurnya, Afif menerima pisau dari Naynay dan memotong kue itu. Dia tersenyum melihat kue yang melambangkan kalau dia itu gila kerja. Potongan pertama Afif menyuapi Naynay yang merupakan wanita yang dia cintai, selanjutnya Qiara dan Silla, setelah itu Araa.


"Kau tidak menyuapiku juga?" tanya Hendrayan ketus ketika Afif menyerahkan piring dengan sepotong kue di atasnya.


"Maaf, Papa dan Mama Mertua. Ada hati yang harus saya jaga, hati wanita yang sangat saya cintai." Afif dengan jawaban konyolnya menunjuk Naynay yang sibuk dengan potongan kue di tangannya.


Sontak jawaban Afif membuat Hendrayan bergidik ngeri, sedangkan Yasmin tertawa hingga Araa yang dia gendong pun ikut tertawa.


Afif mengambil sepotong kue lagi dan memberikannya pada Ryan. Dia memeluk sekretarisnya itu sebagai ungkapan terima kasihnya karena sudah sabar menghadapi dirinya yang kadang keterlaluan. Afif tidak terbiasa mwngungkapkan rasa bahagianya secara lisan.


Beralih ke Pak Hen, Afif memegang tangan pria tua itu dan menciumnya. Pak Hen itu sudah seperti ayahnya sendiri, dia meminta maaf karena sering marah-marah tidak jelas pada pria tua itu. Elusan lembut di kepalanya dari tangan yang mulai keriput itu membuat air mata Afif kembali menetes. Sejak kecil, Pak Hen sudah menemaninya hingga dia merasa mempunyai dua sosok ayah. Afif tidak memberi kue karena Pak Hen tidak menyukai makanan manis.


Mereka semua berpesta dengan gembira malam itu. Afif menatap semua orang di sana dengan rasa haru yang menyeruak di dalam dada. Dia bersyukur karena semua orang yang ada disekitarnya begitu baik, walau sering dia bentak jika melakukan kesalahan.


Afif berlatih menatap Naynay yang duduk di sampingnya sambil memangku Araa, tak bisa diungkapkan lagi rasa syukurnya karena memiliki istri sepertinya. Wanita yang tak sengaja dia gagahi hingga hamil, wanita itulah sumber kebahagiaannya sekarang.


"Aku mencintaimu," ucap Afif sambil mencium sebelah pipi Naynay.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Terharu nggak sih, pas Afif berdoa dan cium tangan Pak Hen?


__ADS_2