
Malam itu Sheena dan Arsen memilih pergi mengunjungi orang tua Sheena terlebih dahulu. Apalagi orang tua Sheena telah menelepon dan menyiapkan makan malam untuk mereka.
''Sheena, kamu sudah kembali? Mama sangat merindukan kamu, sayang.'' Nyonya Sofi memberikan pelukan untuk putrinya itu.
''Aku juga sangat merindukan Mama dan Papa juga tentunya.'' Ucap Sheena. Nyonya Sofi memberikan kecupan di kening putri bungsunya itu.
''Papa tidak peluk?'' sahut Tuan Darwin.
''Tentu saja Sheena akan memeluk Papa. Sheena juga sangat merindukan Papa.'' Ucap Sheena memberikan pelukan untuk Tuan Darwin.
''Putriku, seandainya waktu bisa Papa putar kembali, ingin rasanya Papa melihat pertama kali kamu berjalan, berlari, bicara, terutama pertama kali memanggil Papa. Papa merindukan hal itu, Nak.''
''Pah, nanti Papa akan merasakannya dengan punya cucu.'' Celetuk Sheena.
''Memangnya kamu sudah hamil, sayang?''
''Hehehe belum kok Pah. Mungkin Papa tidak menemani tumbuh kembang Sheena tetapi Papa nanti akan menemani tumbuh kembang cucu Papa.''
''Tentu saja Nak. Papa tidak akan melewatkan saat bahagia menjadi seorang Kakek. Papa doakan semoga kamu cepat hamil ya.''
''Amin, terima kasih ya Pah.'' Sheena kemudian melepaskan pelukan erat Papanya.
''Arsen, menantuku. Bagaimana kabarmu Nak? Apakah semuanya baik-baik saja di Macau sana?'' Tanya Tuan Darwin seraya memberikan pelukan pada menantunya.
''Arsen baik Pah dan semuanya sudah membaik. Papa juga sehat kan?''
''Sehat Nak.''
''Mah, Mama juga sehat?'' Arsen giliran memeluk Ibu mertuanya
''Kami selalu sehat dan akan selalu sehat supaya bisa melihat cucu-cucu Mama nanti.'' Kata Nyonya Sofi.
''Amin Mah.'' Ucap Arsen.
''Oh ya Mah-Pah, ini oleh-oleh kecil dari kami.'' Kata Sheena sambil memberikan dua paperbag besar pada Mama dan Papanya.
''Terima kasih sayang, seharusnya kalian tidak usah repot-repot.'' Kata Nyonya Sofi.
''Tidak repot kok Mah. Ini ada juga dari untuk Kak Arthur. Kak Arthur mana Mah?''
''Katanya dia dijalan, Mama sudah bilang kalau kita akan malam bersama. Sudah, ayo kita langsung menuju ruang makan.'' Ajak Nyonya Sofi. Mereka kemudian menuju ruang makan.
__ADS_1
''Mama sudah masak banyak untuk kalian dan untuk menantu Mama yang tampan ini, sudah Mama siapkan khusus. Maaf ya kalau waktu itu Mama tidak tahu selera makan kamu seperti apa.''
''Tidak apa-apa Mah.''
''Ayo-ayo kita makan, biar Arthur nanti menyusul.'' Sahut Tuan Darwin.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara deru mobil Arthur memasuki pekarangan rumah. Melihat mobil Arsen sudah ada disana, Arthur pun segera turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.
''Malam semuanya!" sapa Arthur dengan wajah cerianya.
''Wah, adikku tersayang sudah pulang rupanya.'' Sheena yang sedang duduk, terkejut tiba-tiba Arthur memeluknya dari belakang. Bahkan Arthur memberikan kecupan di pipi Sheena. Hal itu membuat Arsen merasa gerah dan cemburu. Namun setelah itu, Arthur juga memeluk Arsen dan memberikan kecupan di pipi Arsen.
''Arthur, kamu menjijikkan sekali,'' ketus Arsen sambil mengusap pipinya.
''Aku khawatir kamu cemburu kalau hanya Sheena yang aku peluk dan aku cium,'' celetuk Arthur sengan senyum lebarnya. Arthur kemudian bergantian memeluk kedua orang tuanya dan memberikan mereka kecupan.
''Pah-Mah,'' ucap Arthur.
''Ayo duduklah, kita makan bersama.'' Kata Nyonya Sofi.
''Kak, aku ada sesuatu untukmu.'' Kata Sheena seraya memberikan sebuah paperbag untuk Arthur.
''Wah, aku dapat oleh-oleh nih. Terima kasih ya adikku, sayang. Oh ya sebenarnya aku juga ada hadiah untuk kalian berdua tapi masih di rumah. Aku tidak tahu kalau kalian sudah pulang, besok saja aku kirim ke rumah.''
''Hanya hadiah kecil saja, Sheena.''
''Mau besar ataupun kecil, bagiku itu luar biasa.'' Ucap Sheena.
''Bagaimana keadaan disana Arsen? Apa semuanya sudah membaik?'' tanya Arthur.
''Iya, aku sudah menyelesaikannya. Ya semoga semuanya kembali stabil.''
''Ingat sebentar lagi hari resepsi pernikahan kalian jadi ada baiknya kalian jangan kemana-mana dulu.'' Pesan Arthur.
''Iya Kak, paling Arsen hanya ke kantor.''
''Kamu juga jangan pulang larut Arsen, resepsi pernikahan kalian sudah semakin dekat.'' Sambung Arthur.
''Iya sudah tahu, sok nasihatin aja.'' Ucap Arsen.
''Hei, aku ini Kakak iparmu jadi wajarlah aku memberimu nasihat.'' Kata Arthur.
__ADS_1
''Hmmm kalian ini setiap kali bertemu selalu saja seperti ini,'' kesal Sheena.
''Kamu tahu Sheena, sehari saja kita tidak adu mulut, rasanya bagai sayur tanpa garam,'' seloroh Arthur dengan tawanya. Sementara Arsen hanya mendecih dan menatap kesal Arthur.
''Sudah, ayo kita selesaikan makannya nanti kita lanjut ngobrol lagi,'' sahut Tuan Darwin.
Selesai makan malam, Sheena menghabiskan waktu bersama Papa dan Mamanya di ruang keluarga. Sementara Arthur, mengajak Arsen bicara empat mata di ruang kerja.
''Apa yang ingin kamu bicarakan denganku Arthur?'' tanya Arsen dengan sikap dinginnya.
''Arsen, Om Keenan meminta Belinda untuk bekerja di kantorku. Akhirnya aku memutuskan untuk menjadikan dia sekretarisku. Di tambah lagi Belinda cerita kalau semua fasilitasnya di cabut oleh Om Keenan, begitu juga dengan Brian. Om Keenan ingin Brian dan Belinda lebih mandiri dan lebih bijak dalam menjalani kehidupan ini.''
''Aku tidak masalah dengan itu semua. Justru bagus kalau Brian dan Belinda di latih seperti itu. Memang apa masalahnya?''
''Masalahnya semua ini karena kekasih adikmu itu si Dave. Dia meminta uang pada Belinda sebanyak dua milyar.''
''Apa dua milyar?'' Arsen terperangah.
''Jujur aku heran dengan kalian berdua. Kalian ini pintar tapi kenapa kalian ini bisa dengan mudahnya tertipu. Cinta boleh, bodoh jangan! Om Keenan menceritakan semuanya padaku. Dan sekarang lihat rekaman vidio ini.'' Arthur dengan kesal memberikan rekaman vidio siapa Dave sebenarnya pada Arsen.
''Kenapa sih kalian ini bodoh sekali? Aku belum memberikan rekaman itu pada Belinda. Kamu tahu sendiri, dia saja selalu bermasalah denganku. Kalau aku memberikan rekaman itu, tentu saja dia tidak akan percaya padaku. Kalian itu entah bagaimana, persoalan seperti ini mudah sekali tertipu. Aku melakukan ini demi Om Keenan. Aku harap kamu bisa menasihati Belinda untuk menjauh dari Dave. Aku khawatir pria itu bertindak lebih jauh pada Belinda. Aku sendiri heran dengan Belinda, dia itu bodoh atau lugu? Kemarin saja dia pulang kantor, mau saja di ajak pria itu ke kontrakannya. Untung saja aku mengawasi Belinda. Setidaknya jangan sampai kebodohanmu itu di ulang oleh Belinda.''
''Iya aku memang bodoh, terserah mau memaki diriku seperti apa. Tapi aku terima kasih karena kamu sudah menjaga Belinda.''
''Kalau bukan Om Keenan yang memintaku, aku tidak akan peduli dengan Belinda.''
''Kalian kan di jodohkan? Bukankah sudah seharusnya saling menjaga?''
''Tapi kami tidak setuju dan tidak saling cinta. Apalagi mempunyai istri seperti Belinda yang manja itu.'' Ketus Arthur.
''Aku tidak akan marah mendengar ucapanmu itu karena Belinda memang seperti itu. Kini aku bicara sebagai Kakaknya Belinda, aku mohon jaga dia. Dia memang terlalu lugu sekalipun sikapnya itu menyebalkan dan mungkin hampir mirip sepertiku. Tapi dia mempunyai hati yang baik. Karena dia adik perempuan satu-satunya jadi ya dia manja seperti itu. Aku merestui hubungan kalian berdua. Belinda butuh sosok pria seperti dirimu Arthur yang ceplas-ceplos dan juga tegas, meskipun bagiku kamu begitu menyebalkan.''
''Ya, ya, ya, aku memang menyebalkan tapi aku juga di butuhkan bukan?'' ucap Arthur dengan senyum miringnya.
''Iya sih, habis mau bagaimana lagi? Tidak ada kandidat lain.'' Ucap Arsen dengan senyum kecilnya. Arsen lalu memukul lengan Arthur, Arthur pun juga membalasnya. Mereka berdua saling tersenyum lalu berpelukan.
''Meskipun saat ini kamu tidak mencintainya, begitu juga dengan Belinda tapi aku lebih mempercayaimu untuk menjaganya. Kita tahu takdir kedepan seperti apa, yang jelas jaga Belinda dari pria tidak bertanggung jawab.''
''Tentu aku akan tetap melakukan itu sekalipun kita nanti tidak berjodoh.''
''Jangan katakan itu! Kita tidak tahu takdir kedepan seperti apa.'' Ucap Arsen.
__ADS_1
''Oke, terserah kamu saja lah mau bilang apa.''
Bersambung...