
Di dalam kamar, Olivia sudah mengenakan lingerie seksi untuk memikat Fandi. Berharap Fandi akan menyentuhnya. Saat masuk kamar, Fandi cukup terkejut melihat penampilan Olivia malam itu. Tentu saja Olivia sangat seksi tapi hati tetap tidak bisa di paksakan. Melihat Fandi, Olivia berjalan mendekat dan memeluk Fandi.
“Fan, Mama sudah membelikan kita tiket ke LA. Sudah saatnya kita kembali kesana. Penerbangan besok jam 9 pagi.” Kata Olivia.
“Aku sudah sembuh Liv jadi aku tidak mau pergi kesana lagi.” Ketus Fandi seraya melepaskan pelukan Olivia.
“Tapi kan kita sudah rencana untuk menetap disana, Fan?” Olivia menatap kecewa Keara Fandi yang langsung masuk kedalam selimut.
“Aku lebih nyaman disini. Aku akan kembali ke perusahaan dan membantu Papa disini.” Mendengar ucapan Fandi, Olivia sudah tidak bisa membantahnya lagi. Olivia menggigit bibir bawahnya menahan rasa kesal dan kecewa.
“Fan, kamu bahkan tidak melihatku. Apa ingatan kamu sudah pulih, Fan? Aku merasa kita semakin jauh.” Gumam Olivia dalam hati. Olivia kemudian menyusul Fandi berbaring diatas tempat tidur. Dibelainya wajah tampan Fandi.
“Fan, sampai kapan kamu bersikap seperti ini? Kalaupun kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti istri, setidaknya anggaplah aku sahabatmu. Bersikaplah hangat seperti biasa.” Kata Olivia dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Fandi pun membuka matanya dan menatap Olivia.
“Kenapa kamu tidak bilang kalau aku amnesia?” ucapan Fandi benar-benar membuat Olivia terkejut. Ya, selama ini Fandi hidup dengan sebagian dari ingatannya.
“Kalau kamu sahabatku, seharusnya kamu membantu mengingat sebagian memoriku. Bukan malah menjerumuskan ku kedalam kehidupan yang tidak utuh ini, Olivia.” Fandi kemudian beranjak dari tempat tidur dan keluar menuju teras balkon. Fandi benar-benar marah, amnesianya benar-benar dimanfaatkan di manipulative untuk mengubah perasaan dan kenangannya yang hilang sebagian. Beruntung perasaan Fandi masih sadar karena ia sama sekali belum menyentuh Oilivia. Setelah mengetahui kebenaran itu, Fandi begitu semangat untuk sembuh dan meminta kembali ke Indonesia untuk mencari kenangannya yang hilang. Dan menikah dengan Olivia seperti sebuah jebakan yang sudah direncanakan oleh Mamanya.
“Fandi, apa maksudmu?” Olivia menyusul Fandi ke balkon.
“Kenapa kamu mau dijadikan tumbal oleh Mama, Liv? Kamu sudah tahu kalau perasaanku kepadamu hanya sebatas seorang sahabat.”
“Lalu kenapa kamu mau menerimaku? Seharusnya kamu bisa menolaknya, Fan.”
“Karena aku kasihan padamu, Liv. Mama terus membujukku untuk menikahimu. Apalagi kamu begitu tulus untuk merawatku jadi aku tidak enak kalau harus menolaknya.” Jawab Fandi tanpa memikirkan perasaan Olivia. Hati Olivia benar-benar hancur mendengar apa yang di ucapkan oleh Fandi.
“Apa? Kasihan?” Olivia menekan dada Fandi dengan telunjuknya.
__ADS_1
“Aku tidak butuh rasa kasihan dari kamu, Fan. Aku memang sangat bodoh ya ternyata. Sudah tahu cintaku bertepuk sebelah tangan tapi masih saja aku mau menikah denganmu. Seharusnya kamu juga tahu kalau perasaanku dari awal itu tulus, bukan main-main. Aku juga tidak tahu, kenapa aku bisa begitu mencintai kamu, Fan?”
“Kalau kamu memang mencintai aku, seharusnya kamu bantu aku. Bantu aku mengingat masa lalu aku, bukannya malah mengikuti semua keinginan Mama. Kamu sama saja dengan memanfaatkan sakit ku ini, Liv. Seharusnya kamu dari awal jujur tentang apa yang aku alami, Liv. Dengan kamu jujur, aku bisa melihat ketulusanmu tapi nyatanya apa? Kamu memanfaatkan semua ini demi mendapatkan aku. Jangan salahkan aku kalau aku bersikap dingin padamu. Jadi jangan bersikap seolah kamu yang tersakiti. Disini aku lah yang paling tersakiti. Kamu tega mempermainkan perasaan ku dan menipuku. Apa ini arti sahabat, Liv? Seandainya kamu dari awal jujur, bisa saja hati aku ini luluh dan aku benar-benar membuka hatiku untuk kamu, Liv. Kamu dan Mama sama saja.” Fandi kemudian berlalu meninggalkan kamarnya dan pergi menuju ruang kerjanya. Olivia hanya bisa menangis dengan penyesalannya.
“Fandi sekarang sangat membenciku. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memberitahukan tentang masa lalunya dengan Sheena? Tapi bagaimana dengan Mama Citra?” gumam Olivia.
Saat Fandi hendak menuju ruang kerjanya, suara Nyonya Citra menghentikan langkahnya.
“Fandi, mau kemana kamu Nak?”
“Eh Mah, aku mau ke ruang kerja.”
“Ini sudah tengah malam, kenapa tidak tidur?”
“Aku belum bisa tidur, Mah. Jadi sebaiknya aku kerja saja.”
“Iya Mah, sudah. Dan Fandi tidak akan pernah kembali kesana. Fandi akan menetap disini.” Tegas Fandi.
“Memangnya kenapa Fan? Lalu rumah yang sudah dibeli disana bagaimana? Bukannya kalian ingin memulainya dari sana?”
“Rumahnya disewakan saja dan tidak akan ada yang di mulai disana, Mah. Fandi juga sudah sembuh. Oh ya untuk undangan pernikahan dari Tuan Darwin, biar Fandi saja yang menghadirinya bersama Olivia.” Jelasnya secara berlalu menuju ruangan.
“Ada apa dengan Fandi? Kenapa dia merubah rencananya mendadak?” gumam Nyonya Citra dalam hati.
Di ruang kerja itu, Fandi mencoba mencari tahu, siapa tahu ada kenangannya yang hilang yang bisa ia temukan kembali. Setelah lelah mencari, hasilnya pun nihil. Fandi kemudian kembali ke kamar. Ia mendapati Olivia duduk memeluk kakinya di lantai. Fandi tetap diam dan mengabaikan Olivia. Ia membuka semua almari dan setiap sudut laci pun tak terlewatkan.
“Apa yang kamu cari, Fan?” tanya Olivia.
__ADS_1
“Kenanganku yang kamu hilangkan dari aku.” Ucapnya dengan penuh penekanan. Olivia lalu berdiri, melihat Fandi yang tampak begitu gusar.
“Dimana kamu menyembunyikannya, Liv?” tanya Fandi dengan suara meninggi.
“Menyembunyikan apa maksudmu, Fan?”
“Jangan pura-pura bodoh atau aku semakin membencimu, Liv.” Bentak Fandi. Olivia tercekat mendengar bentakan Fandi karena untuk pertama kalinya Olivia melihat kemarahan di mata Fandi.
“Aku akan ceritakan semuanya, Fan.” Ucap Olivia lirih.
“Ceritakan apa yang hilang dari dalam memoriku.”
“Apa setelah kamu tahu, kamu akan meninggalkan aku dan menceraikan aku, Fan?” tanya Olivia dengan sesenggukan. Fandi lalu melihat kearah Olivia. Mata Olivia sembab dan merah, suaranya pun terdengar parau. Fandi menghela nafas panjang, berusaha meredakan amarahnya. Melihat Olivia menangis sesenggukan seperti itu, membuat hati Fandi menjadi luluh. Apalagi saat masih kecil dulu, Olivia memang begitu manja dengan Fandi. Bahkan saat Olivia sedang menangis dan bersedih, ia lah yang selalu menenangkannya.
“Katakan saja Liv, aku ingin mendengarnya.”
“Sebelumnya aku minta maaf kalau aku harus menyembunyikan ini. Mama Citra terus menekanku untuk tidak mengatakannya padamu, Fan. Bukan hanya Mama yang menekanku tapi……,” Olivia terdiam.
“Tapi apa Liv? Siapa yang menekanmu? Kalau kamu tetap berbohong, aku yang akan pergi dan aku pastikan kamu tidak akan bisa melihatku lagi.” Kata Fandi dengan nada mengancam.
“Sheena, Fan. Sheena memintaku untuk diam dan lebih baik kamu tidak tahu.”
“Sheena? Masa laluku ada hubungannya dengan Sheena. Katakan semuanya Olivia.” Ucap Fandi sambil mencengkeram erat kedua bahu Olivia.
“Jadi Sheena itu…..,”
Bersambung....
__ADS_1