My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 156 Manipulatif


__ADS_3

Sesampainya di restoran, Dave pun segera memesankan makanan untuk Belinda.


''Oh ya Dave, aku boleh tanya sesuatu?''


''Tanyakan saja, Bel?''


''Mmmm jadi bagaimana dengan uangnya? Kamu cicil tidak apa-apa lah.''


Mendengar ucapan Belinda, Dave meletakkan sendok dan garpunya. Ditagih hutang, membuat Dave kehilangan selera makan.


''Dulu kamu bilang, tidak usah buru-buru di kembalikan. Kembalikan saat semuanya membaik. Bukankah aku ini kekasihmu. Kok kamu nagih ya?''


''Bukannya seperti itu Dave tapi Papa sudah tahu kalau aku meminjamkan uang padamu. Dan saat ini semua fasilitas yang aku miliki disita oleh Papa. Aku di paksa kerja dan harus pakai motor pergi kemanapun. Kamu tahu kan, hal ini akan semakin sulit bagi kita untuk mendapatkan restu. Bahkan setelah resepsi pernikahan Kakakku, aku harus pindah rumah. Aku tidak boleh tinggal serumah dengan Papa dan Mama. Setidaknya kalau uang itu kembali, Papa bisa memberikan restu pada kita.'' Cerita Belinda dengan tatapan memelas.


''Tega sekali Papa kamu, Bel. Kamu kan putri kandungnya sendiri, kenapa tega sekali.''


''Bukan tega Dave, Papa hanya ingin mengajari aku tanggung jawab. Kamu sebenarnya cinta apa nggak sih sama aku?''


''Kenapa kamu masih tanya seperti itu, Bel? Kalau aku tidak cinta, untuk apa aku jauh-jauh menyusul kamu kemari. Bukannya restu tapi malah penolakan yang aku dapat dari orang tua kamu. Apa aku terlalu miskin untuk kamu? Aku sadar kok kalau aku tidak sehebat pria itu, pria yang di jodohkan oleh orang tua kamu.'' Dave memasang wajah memelasnya.


''Bukan seperti itu, Dave. Orang tuaku sama sekali tidak melihat materi.''


''Kalau tidak melihat materi, kenapa mereka menolakku, Bel? Aku bisa kok bahagiain kamu dengan caraku. Kamu sebenarnya serius tidak denganku?''


''Aku serius, Dave. Aku bahkan memperkenalkan kamu di hadapan keluargaku, bahkan di depan keluarga pria yang di jodohkan dengan ku. Aku bahkan menantang Papa. Aku sudah mengorbankan semuanya untuk kamu, Dave. Apa bukti itu tidak cukup?''


''Bel, bagaimana kalau aku hanyalah pria miskin dan tidak seperti yang kamu bayangkan?''


''Tidak masalah, Dave. Aku menerima kamu apa adanya. Memangnya kenapa? Bukankah bisnis kamu masih jalan?''


Dave menunduk sambil menggenggam tangan Belinda. ''Habis semuanya, Bel. Semua asetku disita bank. Aku di tipu lagi. Dan polisi sedang mencari mereka. Surat rumah, perusahaan sudah aku jaminkan pada bank. Aku hanya tinggal punya mobil ini dan sekarang aku tinggal di sebuah kontrakan. Semua di bekukan, Bel. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.''


''Ya ampun, Dave. Kenapa kamu baru bilang? Kamu yang sabar ya. Terus gimana sekarang?''


''Keluarga kamu sudah pasti tidak akan menerima ku, Bel. Aku hanya punya sisa uang untuk membayar makanan kita ini. Aku ingin kembali tapi aku tidak ada uang. Aku ingin membangun ulang bisnisku. Atau aku mulai disini saja supaya kita bisa selalu dekat.''


''Tapi aku tidak bisa membantu apa-apa, Dave.''


''Oh ya apa kalau kamu menerima perjodohan itu, semua fasilitas akan di kembalikan?''

__ADS_1


''Aku tidak tahu, Dave. Bisa jadi iya tapi Papa tetap akan memintaku bekerja. Memangnya kenapa?''


''E... tidak apa-apa.''


''Kamu sabar ya, nanti gaji pertamaku akan aku berikan padamu. Kamu bisa memulai bisnis lagi.''


''Bel, aku tidak tahu harus bilang apa. Kamu sangat baik, Bel. Aku sangat beruntung memiliki kamu, Bel. Aku janji akan bangkit lagi dan akan membahagiakan kamu. Tapi maafkan aku karena belum bisa mengembalikan uang kamu itu.''


''Ya sudah tidak perlu kamu pikirkan. Biar aku yang bicara pada Papa. Kamu harus tetap semangat ya.''


''Thanks ya, Bel. You are my everything.'' Ucap Dave sambil membelai wajah Belinda.


Arthur hanya bisa menggeleng melihat kebodohan Belinda. Makan siang itupun, Belinda yang membayarnya.


''Yah, gajian masih lama tapi makan siang sudah habis 500 ribu. Papa ini benar-benar keterlaluan. Aku sekarang mau beli apapun harus pikir padahal dulu tinggal gesek-gesek doang,'' gerutu Belinda dalam hati.


-


Akhirnya Arsen dan Sheena tiba di tanah air. Mereka mendarat dengan selamat. Sesampainya di rumah, Arsen dan Sheena kompak merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


''Perjalanan yang cukup melelahkan.'' Ucap Sheena.


''Apa kamu senang dengan bulan madu singkat ini?''


''Aku sudah tidak sabar menanti hari pernikahan kita. Kamu ingin mahar apa?'' tanya Arsen.


''Terserah kamu saja. Apapun yang kamu berikan, pasti aku terima, Arsen.''


''Mendekatlah,'' pinta Arsen. Sheena lalu menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Arsen. Arsen kemudian memeluk Sheena dengan erat.


''Kamu tahu, aku rasanya semakin tidak ingin jauh darimu Sheena. Aku selalu ingin bersamamu.''


''Sepertinya kamu kena karma deh.''


''Karma apa?'' tanya Arsen.


''Karma karena kamu dulu sangat membenciku dan sekarang semua perasaan itu berbanding terbalik. Iya kan?''


''Iya, ucapanmu benar dan aku mengakui itu.''

__ADS_1


''Makanya kalau tidak suka jangan berlebihan, kalau sudah seperti ini, kamu tidak akan bisa lepas dari aku.''


''Ya, ya, ya dan sekarang kamu menjadi sombong seperti diatas angin karena seorang serbuk berlian, manusia paling tampan dan sempurna di muka bumi ini bertekuk lutut di hadapan Sheena si gadis dekil.''


''Masih berani menyebutku dekil?'' kata Sheena sambil menunjukkan kepalan tangannya.


''Hehehe itu kan dulu. Waktu masih kecil kan wajar kamu belum bisa dandan. Tapi kalau sekarang glowing sekali.''


''Bagaimana kalau aku tetap dekil?''


''Aku akan tetap mencintaimu dan aku akan membuatmu selalu cantik.'' Jawab Arsen sambil memberikan kecupan di kening Sheena.


''Arsen, aku merindukan Ayah. Kamu mau kan menemaniku kerumah Ayah. Aku belum mengunjungi rumah baru Ayah. Aku ingin memastikan bahwa Ayah baik-baik saja. Sekaligus aku ingin memberikan Ayah oleh-oleh ini.''


''Oke baiklah, kapan kamu ingun kesana?''


''Bagaimana kalau besok pagi?''


''Oke, besok pagi aku akan mengantarmu kesana.''


''Lalu apa rencana kita hari ini?''


''Aku ingin kita istirahat di rumah saja atau kamu ingin kerumah Papa dan Mama juga?'' tanya Sheena.


''Kita kerumah Papa dan Mama besok sekalian saja. Aku juga ingin istirahat dirumah denganmu. Oh ya setelah resepsi, kita tunda bulan madu tidak apa-apa kan? Aku harus mempersiapkan launching gelang ini juga. Lalu produk kecantikan juga sedang proses lab. Kamu tidak apa-apa kan?''


''Tidak apa-apa Arsen. Aku mengerti semua kesibukanmu. Oh ya aku boleh tidak ikut bergabung di perusahaan Papa?''


''Tentu saja boleh. Walau bagaimanapun, kamu juga harus tahu seluk-beluk perusahaanmun sendiri. Kalau kamu memang bosan di rumah, kamu bisa bergabung di perusahaan.''


''Kamu sungguh mengijinkannya?''


''Tentu saja aku ijinkan. Kasihan Arthur juga kalau dia harus mengurus sendiri. Kamu kan nanti juga akan menjadi pewaris perusahaan Papa kamu.''


''Aku tidak memikirkan soal warisan Arsen. Aku ingin sekali belajar banyak hal. Aku hanya lulusan SMA saja jadi aku ingin belajar lagi terutama tentang perusahaan Papa.''


''Apapun keputusanmu, aku akan mendukungmu.''


''Terima kasih ya.''

__ADS_1


''Sama-sama Sheena-ku.''


Bersambung...


__ADS_2