My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 178 Permintaan Aneh


__ADS_3

Sebuah keajaiban bagi Belinda karena hari ini ia bangun sangat pagi. Jam dinding masih menunjukkan pukul 4 pagi. Karena Belinda biasa bangun jam 8 atau jam 9 pagi, apalagi jam masuk kuliah dan sekolah lebih siang jika di banding di Indonesia.


''Masih jam 4? Kemarin saja aku bangun jam 6 sudah terlalu pagi. Tapi kenapa ini semakin pagi?''


Belinda lalu beranjak dari tempat tidurnya. Ia sangat terkejut melihat Arthur yang terlelap diatas sofa.


''Lho Kak Arthur kok disini?'' gumam Belinda. Belinda kemudian mengingat apa yang terjadi semalam.


''Oh iya, semalam aku yang menyuruhnya menginap,'' gumamnya sambil meringis. Belinda mendekat, melihat wajah Arthur lebih dekat.


''Kalau lagi tidur begini lucu juga ya. Dia memang tampan sih tapi nyebelin, galak dan cerewet. Baiklah karena dia sudah baik mau menemaniku disini, aku akan membuat sarapan untuknya.'' Belinda kemudian menuju dapur. Ia mulai memasak nasi, sesuai catatan yang dibuat oleh Arthur. Butuh usaha keras bagi Belinda untuk memasak sesederhana itu. Belum lagi percikan minyak yang mengenai tangannya, membuatnya menahan sakit. Demi membalas kebaikan Arthur, Belinda membuat sarapan kali ini. Peluhnya bercucuran selama memasak. Belum lagi saat mengupas bawang dan memotong cabai, membuat matanya basah dan perih.


Masak sesederhana itu, Belinda selesaikan dua jam lebih. Setelah semuanya siap, Belinda menata semua makanan di meja. Ia lalu segera pergi untuk mandi. Karena tubuhnya sudah bau dapur. Dengan penuh keterpaksaan dan rasa jijik, Belinda terpaksa mandi.


Selesai mandi dan dandan dengan cantik pagi ini, Belinda lalu membangunkan Arthur. Dan tidak biasanya bagi Arthur jam 6 belum bangun. Biasanya ia bangun siang saat libur kerja.


''Kak, bangun!" Belinda menepuk bahu Arthur. Perlahan Arthur pun terbangun.


''Jam berapa Bel?'' tanya Arthur dengan nada malas dan mata terpejam.


''Jam setengah 7.'' Jawab Belinda. Mata Arthur pun terbelalak, ia tercekat dan langsung beranjak dari bangunnya.


''Ada apa Kak?''


''Aku kesiangan.''


''Kak, aku sudah menyiapkan sarapan. Kakak mandi saja dulu.''


''Hah? Sarapan? Pasti beli.'' Arthur tersenyum mengejek.


''Selalu saja meremehkan aku. Mandi sana!" Belinda lalu menarik paksa Arthur menuju kamarnya. Karena kamar mandi ada di dalam kamar Belinda. Arthur terkejut melihat kamar mandi Belinda.


''Kam-kamu tadi mandi disini?''


''Iya. Memangnya kenapa? Sudah tahu kan sekarang, betapa tersiksanya aku.''


''Bersyukur! Masih saja mengeluh. Beruntung kamu mandinya tidak nimba ke sumur dulu. Tunggu diluar sana! Awas ngintip!"


''Yeay, siapa yang mau ngintip? Paling juga kecil.'' Celetuk Belinda asal.


''Kecil? Apa maksudmu?'' selidik Arthur. Belinda seketika menutup mulutnya dan ia segera kabur keluar dari kamarnya.


''Dia belum tahu saja seberapa milikku,'' gumam Arthur.


Setelah selesai mandi, Arthur menyusul Belinda menuju ruang makan.


''Serius ini kamu yang masak?''

__ADS_1


''Iyalah! Makanya cobain dulu.'' Kata Belinda.


''Oke.'' Arthur lalu mengambil nasi, sayur dan lauk yang sudah Belinda sediakan.


Arthur mengernyitkan dahinya merasakan suapan pertama masakan Belinda.


''Kenapa Kak?''


''Kamu kasih garam berapa kilo? Ini masakan kamu asin semua, Bel. Nasinya juga keras. Sepertinya kurang air ya? Memang tidak kamu cicipi?''


''Masa sih Kak?''


''Coba saja.'' Kata Arthur. Setelah mencobanya, Belinda juga mengeluarjan ekspresi yang sama dengan Arthur.


''Hehehe aku tuang-tuang saja tanpa icip. Ya sudah Kak, tidak usah di makan. Aku memang bodoh!" Belinda memukul-mukul kepalanya sendiri dengan kesal. Arthur melihat kedua tangan Belinda memerah karena percikan panas dari minyak.


''Dia pasti sudah berusaha pagi ini.'' Dalam lubuk hati Arthur, ia merasa kasihan pada Belinda. Apalagi melihat kondisi kamar mandi Belinda yang jauh dari kehidupannya yang real.


''Terima kasih sudah membuatkan ku sarapan. Kamu masih bisa belajar memasak lagi. Kamu bisa melihat takaran garam dan penyedapnya seberapa. Sebaiknya kita berangkat ke kantor saja. Nanti kita sarapan di dekat kantor saja. Kita kan ada meeting pagi.''


Belinda tertegun tidak percaya mendengar ucapan Arthur yang lebih menghargai usahanya daripada mencibirnya.


''Baiklah, aku ambil tas dulu.''


...****************...


''Sayang, kenapa aku malas sekali ya?''


''Kamu biasanya rajin bangun pagi. Bahkan setelah bangun kamu olahraga dulu. Ini kenapa jadi malas?''


''Mungkin aku terlalu lelah sayang. Kamu masak apa untuk sarapan pagi ini?''


''Memasak seperti biasanya, sesuai dengan catatan yang selalu kamu tempel di kulkas.''


''Sayang, aku mau yang lain.''


''Sarapan apa memangnya?''


''Aku mau nasi goreng buatan kamu.''


''Oke baiklah akan aku buatkan. Tapi lepaskan dulu pelukan kamu.''


Sebelum melepaskan pelukannya, Arsen terlebih dahulu mengecup bibir Sheena. Sheena juga membalasnya sebelum kembali ke dapur.


Nasi goreng telah siap tersaji diatas meja makan disaat Arsen juga sudah siap dengan pakaian lengkapnya untuk ke kantor.


''Hmmm aromanya wangi sekali. Telur dadarnya mana sayang?''

__ADS_1


''Ini sudah aku buatkan. Kenapa kamu jadi ikutan suka makanan kesukaan ku?''


''Entahlah, aku ingin saja dan mendadak suka.''


''Tidak takut dengan kalori?''


''Kan bisa olahraga sayang.''


''Memang kapan olahraganya? Kamu akhir-akhir ini sudah jarang olahrga.''


''Kita hampir setiap hari olahraga di atas tidur. Asal kamu tahu, penelitian menunjukkan, pria membakar rata-rata 101 kalori saat berhubungan intim.''


''Hmmm itu modus kamu saja dan teori kamu sendiri.''


''Serius Sheena, kamu coba browsing saja.''


''Dasar kamu! Oh ya aku mau di rumah saja ya.''


''Iya tidak apa-apa. Tapi nanti makan siang kamu ke kantor ya?''


''Kamu mau dimasakin apa?''


''Aku mau sayur lodeh, ikan kakap goreng terus sama tahu tempe goreng. Aku mau kerupuk juga sayang.''


Sheena mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Arsen. Makanan yang hampir tidak pernah di makan oleh Arsen.


''Sejak kapan kamu suka makanan seperti itu?''


''Tidak tahu sayang. Aku lagi pingin saja. Kamu saja bisa makan apa saja, aku pun akan mencobanya. Yang jelas aku ingin masakan ala kampung gitu. Pokoknya nanti kamu masakin ya.''


''Iya baiklah suamiku sayang.''


''Arsen ini semakin aneh saja permintannya. Tumben dia mau masakan bersantan seperti itu. Apalagi yang berminyak dan berlemak.''


''Oh ya sayang, nanti malam kita kerumah Mama Sofi ya. Aku ingin memakan masakan Mama Sofi yang waktu itu. Pas kita menginap disana. Kamu telepon Mama ya kalau kita akan malam disana.''


''Iya Arsen, nanti akau akan menelepon Mama.''


''Terima kasih sayang.''


Selesai sarapan, Arsen lalu berangkat ke kantor. Tak lupa peluk dan cium untuk Sheena tidak pernah ia lupakan.


''Hati-hati suamiku.''


''Iya istriku. Kamu baik-baik ya di rumah. Jangan lupa masak untuk aku nanti. Nanti kalau kamu sudah selesai masaknya, langsung telepon Pak Roninya biar dia jemput kamu.''


''Iya, kamu jangan khawatir.''

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2