
Keesokan harinya, Gea akhirnya tersadar. Saat ia membuka mata, kepalanya terasa sangat berat dan masih terasa pusing.
Gea mengedarkan pandangannya. ''Gue dimana?'' gumamnya dalam hati. Gea terkejut saat melihat Brian tertidur dengan menelengkupkan kepalanya di bibir brankar.
''Apa yang terjadi denganku?'' gumam Gea lagi.
Gea lalu menepuk pelan bahu Brian. ''Brian, bangun."
Dan Brian pun terbangun. Perlahan ia mengerjapkan mata dan menguceknya.
''Gea! Syukurlah kamu sudah sadar ''
''Gue dimana ini?'' tanya Gea.
''Dirumah sakit. Lihat tangan kamu di infus.'' Kata Brian.
''Gea, kamu kenapa? Apa semalam ada yang mencelakai kamu? Bagaimana kamu bisa kecelakaan seperti itu.'' Ucap Brian seraya berdiri mengambilkan minum untuk Gea.
''Minumlah dulu.'' Kata Brian. Gea mengangguk lalu meminum segelas air putih yang diberikan oleh Brian. Gea terdiam, mencoba mengingat apa yang semalam terjadi. Sambil meringis menahan sakit di kepala, Gea berusaha mengingatnya.
''Semalam seperti ada yang nendang gue, terus gue terjatuh.''
''Menendang bagaimana maksud kamu?''
''Ya saat balapan itu, ada yang nyalip gue tapi dia justru nendang gue. Elo tahu sendiri posisi kecepatan tinggi tapi di pepet terus di tendang, otomatis gue kehilangan keseimbangan terus terjatuh dan terguling ke bawah. Iya-iya, itu yang gue ingat.''
''Mereka pasti curang karena takut kalah.''
''Kurang ajar sekali mereka! Gue benar-benar akan membalas dendam sama mereka. Itu gang motornya Nando.''
''Gea, sudahlah! Jangan berurusan dengan mereka. Dan aku minta kamu berhenti balapan, Gea. Itu bahaya.''
''Tapi mereka tidak bisa dibiarkan, Brian. Tapi gimana elo bawa gue ke rumah sakit? Apa menjadi urusan polisi?''
''Mereka meninggalkanmu begitu saja. Aku melihatmu terjatuh di bawah dan kepalamu terluka. Untung saja tidak ada luka yang serius. Hanya saja kaki kananmu retak. Aku sengaja tidak melapor polisi karena urusannya akan menjadi panjang, kamu bahkan bisa kena denda karena balapan liar.''
''Astaga, gue bahkan nggak lihat kalau kaki gue seperti ini. Bagaimana gue bisa balas dendam? Gue harus sembuh dulu. Terus motor gue gimana?''
''Sudah dibawa ke bengkel, Gea. Sudah, jangan cemaskan apapun selain dirimu saat ini.''
__ADS_1
''Brian, terima kasih ya elo udah bawa gue ke rumah sakit. Tapi sebaiknya kita pulang saja karena biaya rumah sakit mahal. Belum biaya perbaikan motor gue.''
''Gea, jangan pikirkan soal biaya. Aku sudah membayarnya.''
''Membayar? Darimana elo dapat uang Brian. Elo aja kesusahan. Anak perantauan sama kayak gue, pakai sok-sokan bayarin biaya rumah sakit gue segala lagi.''
''Ya, aku pinjam uang kantor Gea. Untungnya mereka mau bantu pinjam.''
''Brian, bukannya gue nggak makasih tapi kan gue tahu keadaan elo gimana? Elo gue ajak balapan, kalau gue dapat uang, mau gue bagi sama elo. Ya, biar dandanan elo keren dikitlah, nggak berantakan kayak gini. Apalagi kemeja kerja elo itu-itu aja yang gue lihat.''
''Gea, aku tidak menyangka kamu memikirkan dan memperhatikanku dari hal sekecil itu.'' Gumam Brian dalam hati.
''Ya sudah lah, kamu tidak usah memikirkan aku sampai sejauh itu. Aku bahagia menjadi diriku sendiri, Gea. Aku bahagia dengan apa yang aku miliki sekarang. Tidak perlu berlagak keren tapi nyatanya cuma tong kosong saja. Yang penting kan aku punya kemampuan.''
Gea tersenyum, ia salut dengan pemikiran Brian. ''Gue nggak nyangka kalau elo nggak malu dengan keadaan elo saat ini. Apalagi dijaman sekarang, semua orang mengutamakan gengsi.''
''Bukannya seperti itu malah lebih bagus ya, Ge?'' ucap Brian seraya tersenyum.
''Brian, mendekatlah.'' Pinta Gea.
''Kamu butuh apa?'' tanya Brian.
''Sudah mendekatlah, aku tidak bisa bergerak dan hanya bisa duduk di atas ranjang ini.''
''Brian, makasih banyak elo udah bantuin gue. Gue janji, setelah gue sembuh, gue bakal kerja yang rajin buat bantu elo bayar pinjaman di kantor. Gue tetap nggak mau nyusahin elo dan biar hutang itu gue yang mencicilnya.''
Tiba-tiba jantung Brian berdebar begitu cepat saat Gea memeluknya. Biasanya berpelukan atau berciuman dengan wanita, bukanlah hal tabu bagi Brian. Bahkan saat melakukan itu, Brian tidak pernah merasakan jantungnya berdebar begitu cepat seperti saat Gea memeluknya sekarang ini.
''Ge-Gea, kamu tidak usah pikirkan aku. Bos ku sangat baik, jadi dia sangat mengerti keadaanku.'' Kata Brian dengan tergagap karena ia benar-benar di buat gugup oleh Gea.
''Apapun itu Brian. Gue yang tanggung jawab. Elo jangan bicara lagi karena kalau elo bicara lagi, gue nggak mau kenal elo lagi.''
''I-iya.'' Baru kali ini Brian dibuat tak berkutik oleh seorang gadis seperti Gea. Biasanya ia yang membuat gadis bertekuk lutut namun sepertinya kali Brian lah yang dibuat bertekuk lutut.
...****************...
''Sayang, sudah ada kabar dari Brian?'' tanya Sheena sembari mengoleskan selai coklat pada selembar roti tawar.
''Belum sayang tapi semuanya sudah beres.''
''Semoga Gea baik-baik saja ya.''
__ADS_1
''Aku baru kali ini melihat Brian membela seorang gadis. Dan kali ini dia sepertinya serius. Padahal dia biasanya suka bermain-main saja.''
''Mungkin Brian sudah menemukan seseorang yang tepat sayang. Seseorang yang bisa menerima Brian apa adanya tanpa melihat keadaan Brian saat ini. Keputusan Papa Keenan membiarkan Brian meninggalkan nama Dirgantara tentu saja akan membuahkan hasil.''
''Iya, sepertinya adik bungsuku itu menjadi lebih dewasa. Tapi entahlah aku belum bisa melihat perubahan Belinda. Dia masih saja manja.''
''Suatu saat Belinda juga akan berubah lebih dewasa sayang, kamu jangan khawatirkan itu. Sebaiknya selesaikan sarapanmu dan segera berangkat ke kantor.''
''Iya sayang. Tapi aku kok mendadak mual begini ya?''
''Mual bagaimana?''
''Masa iya makan roti tawar dan selai coklat aku mau muntah.'' Arsen kemudian buru-buru menuju toilet yang ada di dekat dapur. Baru juga satu suap, Arsen sudah memuntahkannya. Rasa mualnya begitu hebat sampai membuat perutnya terasa perih karena muntah. Sheena yang khawatir, menyusul Arsen menuju toilet.
''Arsen, kamu tidak apa-apa sayang?'' ucap Sheena sambil memijit tengkuk Arsen.
''Sayang, aku tidak mau sarapan itu. Aku benar-benar eneg.'' Ucap Arsen sambil memegang perutnya.
''Lalu, kamu mau apa? Biasanya juga sarapan seperti itu.'' Sheena lalu menuntun Arsen keluar.
''Sayang, buatkan aku telur dadar dengan irisan cabe dan nasi putih ya.''
''Kamu serius mau makan itu?''
''Iya sayang.''
''Ayo kamu duduk dulu.'' Sheena lalu membantu Arsen untuk duduk karena tubuh Arsen terasa lemas. Sheena kemudian membuatkan Arsen telur dadar sesuai dengan permintaan Arsen. Setelah jadi, Sheena segera menyiapkannya bersama dengan nasinya.
''Ini sayang, sudah jadi.''
''Terima kasih ya. Tapi sepertinya ada yang kurang.''
''Kurang apa?''
''Sayang, tuangkan kecap diatasnya. Pasti rasanya lebih mantap.''
''Hah? Kecap? Sejak kapan kamu suka makanan seperti ini sayang?''
''Sejak sekarang. Kamu dulu juga sering makan seperti ini kan? Jadi ya sudah, aku sekarang juga menyukainya.''
''Oke baiklah sayang.''
__ADS_1
Bersambung.....