My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 148 Hukuman ++


__ADS_3

Malam itu pun akhirnya Arsen dengan rasa kecewa memutuskan untuk tidur juga. Tidak mungkin juga ia membangunkan Sheena. Sedangkan Sheena merasa sangat puas bisa mengerjai Arsen.


Keesokan harinya, dering ponsel Arsen membangunkannya dari tidur malamnya. Tangannya meraba diatas nakas, lalu menyambar ponselnya begitu saja.


''Halo Tuan, hari ini ada meeting pagi. Proposal yang anda minta sudah saya siapkan.'' Ucap Soni. Arsen berusaha mengumpulkan nyawanya lalu menoleh kearah Sheena yang masih terlelap.


''Undur meeting setelah jam makan siang.''


''Sudah saya duga kalau anda akan mengundurnya.'' Soni terkekeh diseberang sana.


''Maksudmu apa Son?'' selidik Arsen.


''Pasti anda ingin menghabiskan waktu anda dengan Nona Sheena kan?''


Arsen mengernyitkan dahinya. ''Darimana kamu tahu?''


''Saya sedang bersama Pak Roni disini. Jadi Pak Roni menemani Nona Sheena datang kemari. Kemarin malam Pak Roni dan Nona Sheena baru tiba, Tuan.'' Ungkap Soni.


''Oh jadi dia sudah pintar akting ya, awas saja kamu Sheena. Kamu benar-benar akan aku hukum.'' Gumam Arsen dalam hati. Tanpa banyak bicara Arsen mengakhiri panggilannya begitu saja.


Arsen lalu beranjak dari tempat tidur dan segera pergi mandi. Selesai mandi, ia segera menyiapkan sarapan sandwich tuna dan dua gelas orange juice. Sheena kemudian terbangun dan ia merasa sangat segar sekali.


''Udara disini dingin, membuat tidurku semakin nyenyak.'' Sheena lalu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kamar. Ia mendapati Arsen sedang menyiapkan sarapan.


''Sudah bangun?''


''Iya. Udara yang dingin disini membuat tidurku sangat nyenyak.''


''Sebaiknya kamu mandi. Apa kamu tidak ingin pergi jalan-jalan?''


''Jalan-jalan? Kamu tidak pergi ke pabrik?''


''Aku pergi setelah jam makan siang.''


''Oke baiklah.'' Ucap Sheena seraya berlalu.


Arsen menyeringai. ''Sepertinya aku harus berbaik hati dulu supaya aku bisa menghukummu,'' gumam Arsen dalam hati.


Beberapa menit kemudian Sheena sudah rapi dan juga wangi. Ia sudah duduk manis di ruang makan bersama Sheena.


''Seharusnya aku yang menyiapkanmu sarapan.'' Ucap Sheena.


''Tidak apa-apa. Anggap saja ini permintaan maafku juga.'' Sheena mengangguk dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Arsen memanggil Sheena ke kamar.


''Sheena, kemarilah. Aku ada sesuatu untukmu.'' Panggil Arsen. Sheena yang barus aja selesai mencuci piring menurut dan masuk begitu saja ke kamar.


''Ada apa Arsen?''


''Aku membeli sweater couple untuk kita.'' Arsen menunjukkan sepasang sweater rajut berwarna biru laut dengan logo brand ternama pada Sheena.


''Wah, ini sangat lucu.'' Ucap Sheena begitu antusias.


''Duduklah disini.'' Kata Arsen sambil menepuk sisi tempat tidur. Sheena menurut dan duduk begitu saja.


''Sekalipun aku tidak memberimu kabar, sekalipun aku marah tapi kamu tidak bisa lepas dari pikiranku, Sheena. Saat pulang meeting kemarin, aku melintas disebuah toko dan melihat sweater rajut ini. Akhirnya aku memutuskan untuk membelinya. Aku berencana membawanya pulang tapi karena kamu menyusulku, jadi aku berikan sekarang saja.''


''Terima kasih ya. Aku sangat menyukainya. Ini menggemaskan sekali.''


''Bagaimana kalau kita coba dulu?'' kata Arsen.


''Oke, aku ganti ke kamar mandi dulu ya.'' Kata Sheena.


''Kita kan sudah suami istri. Aku juga akan mencobanya disini.'' Kata Arsen.


''Hehehe oh iya aku lupa.''


''Arsen, apa yang kamu lakukan?'' berontak Sheena. Namun sayang, Arsen sudah mengunci tubuh dan kedua tangan Sheena.


''Aku ingin menghukummu.''


''Menghukum apa?'' tanya Sheena tergagap.


''Kamu juga sudah membohongiku.''


''Berbohong apa maksudmu?'' Sheena pura-pura tidak mengerti maksud Arsen.


''Kamu pergi kesini tidak sendirian kan?'' tegas Arsen. Sheena lalu meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya.


''Aku bersama Pak Roni.''


''Dan bodohnya aku percaya dengan ucapanmu.''


''Salah siapa percaya? Aku pikir kamu pintar tapi ternyata masih bisa di bohongi.''


''Kamu tahu rasanya khawatir kan? Kamu itu tanggung jawabku jadi jangan pernah berbohong untuk hal seperti ini lagi. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan dirimu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku.''

__ADS_1


''Iya-iya maafkan aku. Aku juga kesal karena kamu membohongiku.''


''Kamu juga bodoh, kalau aku membuat story itu, sudah pasti Papa dan Mama yang akan turun tangan. Aku pun juga tidak menyangka kalau kamu akan menyusulku kemari hanya karena story itu.''


''Itu karena aku cinta dan tidak mau kehilanganmu. Sekarang sudah percaya kan?''


''Iya, aku percaya padamu. Berarti kita baikan ya?''


''Iya. Ya sudah ayo kita jalan-jalan.'' Ucap Sheena.


''Jalan-jalannya besok saja ya. Hari ini sampai nanti jam makan siang tiba, kamu harus di hukum. Terus setelah aku pulang kerja jam 10 nanti, kamu harus melanjutkan hukuman yang kedua.''


''Sekarang aku mengerti, pasti ini akal-akalanmu untuk menjebakku kan? Suapaya aku melepas pakaianku?''


''Iya,'' Arsen menjawabnya dengan lugas.


Sheena tersenyum simpul. ''Dasar licik!"


''Aku bisa lebih licik dari ini, Sheena. Jadi jangan macam-macam.'' Kata Arsen dengan sorot mata elang yang siap menerkam.


''Baiklah, tunjukkan kelicikanmu!" Sheena menantang Arsen dengan tatapan menggoda. Tanpa banyak basa-basi, Arsen langsung melahap bibir Sheena dengan ganasnya. Arsen melampiaskan hasratnya yang sudah lima hari tidak menyentuh Sheena, sejak pertengkaran itu. Begitupun Sheena yang juga merindukan kecupan bibir manis Arsen. Sheena tak ragu-ragu untuk membalas luma...tan dan hisapan pada bibir Arsen. Dengan kedua tangan dan tubuh yang masih terkunci, Sheena pasrah menerima serangan dari Arsen.


Ciuman Arsen mulai turun kearah leher Sheena, lalu turun kearah dua gunung kembar Sheena yang mana jejaknya sudah mulai hilang. Arsen sudah berjanji untuk tidak meninggalkan jejak di bagian dada ataupun leher Sheena, sebelum resepsi pernikahan di laksanakan.


Arsen kemudian melepas pengair bra milik Sheena. Kedua tangannya dengan sigap mere...mas kedua gunung kembar itu dengan sangat lembut. Sheena menggeliat, men...desah dan mendesis nikmat. Sembari mere...mas, Arsen memagut kembali bibir Sheena dengan ganasnya.


Gairah Arsen sudah semakin di puncak. Tangannya kemudian melorot rok jeans selutut milik Sheena beserta cd di dalamnya. Arsen membuka lebar kedua kaki Sheena, tangannya menyentuh kearea liang senggama yang sudah basah itu. Sheena menggigit bibir bawahnya menahan nikmat, saat jemari Arsen bermain dengan lembutnya. Dan de..sahan Sheena semakin hebat saat lidah tak bertulang bermain disana, sebuah kenikmatan yang tiada tara.


''Argghhhh, Arsen!" desah Sheena sambil menenggelamakan kepala Arsen lebih dalam ke liang senggamanya. Saking nikmatnya, Sheena membelitkan kedua kakinya ke leher Arsen. Arsen semakin bersemangat sambil meremas gunung kembar yang kenyal itu.


''Arsen, aku ingin keluar.''


''Keluarkan saja Sheena. Aku akan membuatmu mencapai puncak dengan banyak cara.'' Permainan lidah Arsen benar-benar membuat Sheena mengalami orgasme pertama hingga tubuhnya mengejang dan menggelinjang hebat.


''Bagaimana? Ronde pertama sudah puas?'' ucap Arsen dengan bibirnya yang basah.


''Puas sekali. Mau lagi,'' pinta Sheena dengan manja.


''Baiklah Sheena-ku.'' Arsen berhasil membuat Sheena mencapai orgasme beberapa kali. Merasa Arsen sudah memuaskannya, kini giliran Sheena yang harus membuat Arsen merasa puas berkali-kali. Tentu saja Sheena harus bisa memberikan kepuasan seimbang untuk suaminya itu. Arsen hanya bisa di buat mengerang nikmat dengan permainan lidah Sheena yang semakin hebat pula.


Sampai akhirnya bersatunya junior kedalam liang senggamanya. Arsen melampiaskan naf...su dan gairahnya dengan hentakan-hentakan yang membuat Sheena hampir kuwalahan dan ngos-ngosan. Sheena juga tak mau kalah, ia memberikan goyangan pinggul yang mampu membuat Arsen ketagihan. Pagi itu hingga jam makan siang, mereka menghabiskan waktu untuk bercinta. Membalaskan waktu beberapa hari yang sempat terbuang. Hanya ada nikmat, nikmat dan nikmat.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2