
Mau tidak mau dan demi cinta Brian ikut ke sawah. Oke, masalah makanan Brian tidak sebawel Arsen. Tapi untuk ke sawah dan bermain lumpur, tentu saja sebagai seorang putra Keenan Arga Dirgantara, tentu saja mempunyai rasa jijik. Brian hanya bisa pasrah dengan nasibnya. Ia juga harus siap-siap mabuk darat lagi saat pulang nanti.
"Ini cangkulnya, Brian. Kamu cangkul di sebelah sana, aku sebelah sini." Kata Pak Hendi.
"Iya Ayah." Pasrah Brian. Brian dengan membawa cangkul menuju arah yang diperitahkan oleh Pak Hendi.
"Ini bagaimana caranya?" gumam Brian. Brian lalu melihat kearah Pak Hendi, bagaimana cara mencangkul.
"Oh begitu caranya." Gumamnya lagi. Dan ternyata cangkul itu berat.
"Gila! Ini berat juga tapi Ayahnya Gea bisa kuat dan terlihat enteng." Batin Brian.
"Ayo semangat Brian! Setidaknya pulang dari sini, kamu sudah siap mengajukan proposal kerja pada Papa. Dan wujudkan mimpi Gea." Batinnya. Kini Brian berusaha sekuat tenaga untuk mencangkul. Baru juga lima menit, Brian sudah merasakan lengannya linu-linu.
"Ayo Brian! Anggap saja kamu sedang nge-gym. Oke." Batinnya bersorak dengan semangat. Meskipun batinnya bersorak semangat tapi tubuhnya tidak bisa diajak kompromi.
"Ayah, istirahat dulu ya!" Teriak Brian diseberang sana.
"Iya. Istirahat saja dulu nanti lanjut lagi." Kata Pak Hendi sambi mencangkul tanpa lelah. Pandangan Brian mengedar, melihat hamparan sawah yang hijau dan luas.
"Memang tanah disini berpotensi untuk dijadikan lumbung padi." Batinnya bergumam. Pandangan Biran lalu tertuju pada sosok Pak Hendi. Ada rasa kagum dibenak Brian melihat Pak Hendi yang bekerja begitu keras. Membuatnya memiliki ide untuk belajar tentang pertanian. Setelah lima menit istirahat, Brian mulai mencangkul kembali. Selang sepuluh menit, Brian istirahat lima menit, begitu terus sampai senja mulai menyapa.
"Ayo Brian, kita pulang!" Teriak Pak Hendi yang berhasil menyelesaikan satu petak sawah sehari. Sedangkan Brian, seperempatnya saja tidak ada. PAYAH! Brian kemudian berlari mendekat kearah Pak Hendi.
"Maaf ya Ayah, cuma bisa sedikit. Sawahnya luas sekali."
"Tidak apa-apa. Besok pagi kamu lanjut lagi."
"Lanjut lagi?" Brian terbelalak lagi.
"Iya, Brian. Satu hari target Ayah satu petak sawah."
"Seluas ini?"
"Iya."
"Kenapa tidak pakai traktor atau sapi?"
"Mahal sewanya. Tingkat kesejahteraan didesa ini kecil. Mereka lebih memilih membajak sendiri karena hemat ongkos."
"Lalu semua sawah ini milik Ayah?"
"Semua sawah ini milik orang lain, Brian. Mereka mempercayakan Ayah untuk merawat sawah ini. Mereka yang punya ini kerjanya di luar pulau. Setap satu bulan sekali pemiliknya pulang."
"Jadi Ayah di gaji atau bagi hasil?"
"Di gaji perhari tiga puluh ribu. Kalau panen, Ayah juga dapat upah lagi. Sama seperti yang lain juga. Cari kerjaan disini susah, Brian. Makanya sampai Gea merantau ke kota. Begitu mendapat pekerjaan di kantoran, Ayah senang dan bangga sekali."
"Hah? Tiga puluh ribu? Astaga, kecil sekali." Batin Brian merasa miris.
"Iya Ayah. Gea memang pekerja keras. Kalau sawah disini mahal atau murah ya Yah?"
"Disini harganya murah. Makanya pemiliknya memilih di lempar ke orang."
"Tapi sama saja kan Yah, hasil panen bukan milik Ayah seutuhnya,."
"Ya mau bagaimana lagi daripada menganggur. Cukup tidak cukup harus cukup. Anggap saja sebagai olahraga." Ucap Pak Hendi yang masih bisa mengulas senyum diwajahnya.
"Ayah semangat saja ya. Semoga nanti Gea bisa membeli sawah sendiri dan hasilnya bisa dinikmati bersama keluarga."
"Amin. Kalau orang tua kamu kerjanya apa?" tanya Pak Hendi. Sesaat Brian bingung mencari karangan cerita.
"Mmmm hanya kuli bangunan saja." Celetuk Brian asal.
"Yah, apapun pekerjaannya yang penting halal. Kamu juga hebat bisa kerja kantoran. Dulu kuliah?"
__ADS_1
"Iya Ayah. Dapat beasiswa."
"Wah, hebat kamu ya. Semangat ya mumpung masih muda. Sekarang kita pulang."
"Iya Ayah."
Sejak membajak sawah bersama, Brian dan Pak Hendi semakin akrab. Brian bertanya begitu banyak pada Pak Hendi tentang dunia pertanian. Keduanya terlihat begitu akrab duduk di atas kursi bambu, diteras depan rumah.
"Nah, ini singkong rebus, kamu coba, Brian."
"Singkong? Aku belum pernah memakan makanan seperti ini," gumamnya dalam hati.
I-iya Ayah." Dengan ragu-ragu, Brian menyomot satu potong singkong rebus dari piring.
"Hmmm rasanya seperti kentang ya, Yah. Teksturnya lembut."
"Kamu tidak pernah makan singkong?"
"E... pernah kok Yah. Tapi tidak seenak ini, biasanya keras." Jawab Brian asal.
"Memangnya rumah kami ini mana?"
"Mmmm di Lombok, NTB, Yah." Ceplos Brian dengan segala jawaban asal-asalannya.
"Wah, jauh juga ya ternyata."
"Hehehe iya Yah."
"Besok setelah dari sawah, Ayah ajak kamu ke kebun singkong."
"Ayah menggarap kebun juga?"
"Iya. Untuk tambahan makan sehari-hari, Brian. Tidak mungkin juga kami menggantungkan hidup pada Gea."
"Amin. Ayah doakan kamu sukses ya."
"Terima kasih, Yah."
Ternyata dari dalam ada sepasang telinga yang menguping pembicaraan dua pria berbeda generasi itu.
"Tuh, Ayah sudah akrab sama Brian."
"Iya Bu. Gea lega sekali."
"Brian rajin juga ya. Ibu setuju kamu sama dia. Tapi jangan buru-buru nikah ya, kalian ini masih muda. Nabung dulu."
"Iya Bu, itu pasti."
Sementara itu dikediaman Tuan Keenan, Tuan Keenan mengundang para anak dan menantu untuk makan malam bersama.
"Jadi, Brian beneran ikut bersama Gea, Arsen?" tanya Tuan Keenan.
"Iya Pah."
"Jadi mereka berdua sudah jadian?" sahut Belinda.
"Iya Bel. Kamu tidak tahu?" Arsen menimpali,
"Tidak. Ya syukurlah kalau cintanya diterima. Baru juga beberapa hari lalu merengek minta bantuan. Eh sekarang sudah jadian tidak ada kabar," gerutu Belinda.
"Ya biarin lah, sayang. Brian lagi fokus-fokusnya mengejar cinta," sahut Arthur terkekeh.
"Oh ya jadi kapan kalian berangkat honeymoon?" tanya Nyonya Dira.
__ADS_1
"Besok, Mah." Jawab Belinda.
"Doain ya Mah-Pah, kita selamat sampai tujuan." Sambung Arthur.
"Pasti Arthur. Kami juga berdoa semoga kalian cepat dapat momongan." Ucap Tuan Keenan.
"Iya biar cucu Mama makin banyak," sahut Nyonya Dira dengan begitu semangat.
"Oppa, sejak kapan makan pakai tangan langsung?" Belinda baru menyadari keanehan Kakaknya.
"Lho, iya lho, Arsen. Papa baru lihat." Tuan Keenan terkekeh.
"Sejak Sheena , hamil Pah. Dunia kami tertukuar." Timpal Sheena dengan tawanya.
"Ya ampun, ini kejadian yang sangat unik. Putraku yang sempurna kini semakin sempurna. Bahwa makan menggunakan tangan langsung itu adalah puncak kenikmatan makan yang sesungguhnya." Kata Nyonya Dira dengan begitu bangganya.
"Ihh Mama, jorok ih." Ucap Belinda sambil mengendikkan bahunya.
"Apaan sih, Bel kamu ini. Nanti kalau kamu hamil, biar deh ngidamnya kayak oppa kamu ini. Makan pakai tangan. Tanpa memikirkan kalori dan kuman."
"Mama ini ah, nyebelin." Kesal Belinda.
"Kamu ini berlebihan. Makan langsung pakai tangan enak tahu." Timpal Arthur sambil mengelus kepala Belinda.
"Dan Sheena mah yang jadi super jijik. Entahlah Mah, kenapa bisa begini. Makanan yang Sheena suka menjadi kesukaan Arsen dan menjadi menjijikkan dimata Sheena."
"Hahahaha, bagus sayang. Biar tuh suami kamu merasakan kenikmatan yang sesungguhnya. Papa kamu dulu juga gitu. Bawelnya bikin malu."
"Mama apaan sih, malah Papa di sangkut pautin." Protes Tuan Keenan yang disambut tawa anak dan menantunya.
"Memangnya Papa parah juga, Mah?" tanya Arsen penasaran.
"Lebih parah kamu, Arsen." Kata Nyonya Dira yang mempertegas ucapannya.
"Pantas saja oppa kelihatan berisi sekarang." Timpal Belinda.
"Iya tiba-tiba jadi mager."
"Wah, sungguh hal yang tabu seorang Arsen mager. Biasanya tiap pagi udah bakar kalori," ledek Arthur yang memang sudah hafal kebiasaan Arsen.
"Udah deh jangan ngeledek. Bawaan istri hamil juga." Kesal Arsen.
"Mungkin bawaan kembar kali, Arsen." Sahut Tuan Keenan.
"Bisa jadi juga sih, Pah. Tapi dulu pas Mama hamil kamu, selera kita tidak tertukar. Tapi ada momen unik dikelahiran kamu dulu. Mama belum pernah cerita ya sama kalian?"
"Memangnya kenapa Mah?" tanya Arsen penasaran.
"Pas, Mama mau melahirkan, Papa kamu bawa ke rumah sakit pakai masker wajah. Masker carcoal warna hitam. Tahu kan kalian? Sampai satu rumah sakit takut lihat Papa kamu. Kalau Mama ingat, selalu sakit perut." Semua pun tertawa mendengar cerita Nyonya Dira.
"Kok bisa gitu sih Pah? Papa ih," ucap Belinda.
"Hei, Papa kamu ini takut tua. Makanya rajin pakai masker. Takut Mama berpaling. Mama lagi kontraksi itu sampai opa sama oma saja kaget waktu itu."
"Astaga, Papa ini kocak juga ternyata." Belinda sampai sakit perut merasa geli membayangkan dulu bagaimana tingkah Papanya.
"Papamu kan narsisnya nggak ketulungan. Tuh," Kekekh Nyonya Dira.
"Mama ini, buka aib di depan menantu."
"Bukan aib Pah, itu cerita unik." Kekeh Nyonya Dira tiada henti.
"Tapi Papa memang sangat tampan kok dan awet muda. Anak sudah empat, sudah ada cucu tapi masih tampan. Sehat-sehat ya, Pah." Ucap Sheena dengan lembut.
"Terima kasih menantuku, sayang. Kamu memang paling bisa menghibur hati Papa yang dipermalukan Mama mu ini." Ucap Tuan Keenan. Suasana makan malam pun menjadi hangat dan dipenuhi senda gurau.
__ADS_1