
Naynay baru saja selesai mandi dan sekarang sedang menatap pantulan tubuhnya di cermin. Ada beberapa tanda kemerahan di bagian dadanya karena ulah Afif semalam. Tanda kemerahan itu masih membuatnya sedikit mengingat traumanya. Sambil memejamkan mata dan mengepalkan tangan, Naynay meyakinkan dalam hatinya kalau itu adalah perbuatan suaminya, bukan orang lain.
Setelah lebih tenang, dia segera menuju ke ruang ganti untuk mengenakkan pakaian sekaligus menyiapkan keperluan Afif untuk bekerja hari ini. Dress longgar di bawah lutut berwarna navy menjadi pilihan Naynay. Selesai dengan segala urusannya di sana, Naynay keluar dan membangunkan Afif yang masih tertidur tengkurap.
Mata Naynay kembali menatap ke arah punggung Afif, lebih tepatnya di nama yang terukir di antara dua sayap besar itu. Tangannya bergerak mengelus nama itu kemudian tersenyum manis. Naynay membungkuk dan memberikan kecupan hangat di pipi kanan Afif.
"Kak, bangun!" ucap Naynay sambil menusuk-nusuk pipi Afif yang tadi dia cium.
Perlahan mata tajam Afif terbuka, bukannya bangun dia malah menarik tubuh Naynay hingga berbaring di sampingnya dan dia peluk erat. Drama yang sama dan selalu terjadi setiap pagi.
"Kak, nanti telat lho," ucap Naynay sambil berusaha lepas dari pelukan suaminya.
"Aku tidak sengaja membuat dadamu memerah, apa kau takut?" tanya Afif mengingat kecerobohannya tadi malam yang mencetak beberapa tanda kepemilikannya di dada Naynay.
Naynay menggeleng sebagai jawaban, dia sudah menekan rasa takutnya. Ya walaupun masih sedikit takut, dia akan terus berusaha agar traumanya sembuh.
"Kayaknya Nay nggak butuh Dokter Naomi lagi deh, Kak."
"Kau tidak mau sembuh?" tanya Afif mengangkat sebelah alisnya.
"Bukan gitu, tapi Nay ingin berusaha sendiri buat sembuh. Nay yakin kok bakalan sembuh, tapi Kakak ikut bantuin juga." Naynay mengulas senyumnya agar Afif mau menyetujui perkataannya.
"Apa yang aku dapat kalau aku membantumu?" tanya Afif menggoda Naynay.
Bibir bumil mulai mengerucut sebal. "Boleh jadi bayi lebih sering." Menyikapi perkataan Afif dengan serius.
Mata Afif membola sempurna mendengarnya, dia memandang aneh Naynay yang wajahnya begitu dekat. "Nay, kau sehat?"
"Sehat," balas Naynay bingung. Emangnya dia terlihat seperti orang sakit, ya?
"Kau sadar, kan, dengan apa yang kau katakan tadi?" tanya Afif masih tidak menyangka. Tentu ini kesempatan besar untuknya bisa memiliki Naynay seutuhnya. Meskipun dia yang merenggut kesucian Naynay, tapi kan istrinya itu tidak tahu. Jadi Afif berpikir bahwa ini merupakan jalan sempurna untuk membuat Naynay jatuh cinta padanya.
__ADS_1
"Kakak nggak mau bantuin Nay buat sembuh?" tanya Naynay polos membuat Afif yang senyum-senyum sendiri tersadar.
"Kau istriku, tentu aku akan membantumu!" balas Afif kembali bersikap cool. Padahal dalam hatinya dia begitu senang karena bisa jadi bayi sepuasnya. Dasar mesum, tapi kalau sama istri sendiri nggak apa-apa dong, ya.
Setelah itu Afif segera masuk ke kamar mandi. Selesai mandi, dia akan dibantu Naynay memakai pakaian dan dasinya. Setelahnya mereka turun untuk sarapan. Seperti biasa, Naynay akan melayani Afif di sana.
'Kayaknya kita bakalan susah bertahan di sini, Sayang.' Naynay mengelus perutnya di bawah meja.
Sejak tadi, dua pasang mata manusia memandanginya dengan pandangan tidak suka. Naynay sudah merasakan bahwa dua gadis yang duduk di seberangnya ini akan selalu mengusiknya.
"Aku pergi dulu," ucap Afif sambil mencium jidat Naynay sebelum masuk ke mobil.
Setelah mobil keluar dari gerbang yang jauh di depan sana, Naynay masuk kembali ke dalam. Dia sudah menyiapkan diri untuk menghadapi dua gadis yang sudah menunggunya di dalam sana.
"Kenalin, Silla. Aku adik kesayangan kak Afif." Gadis asing yang sudah Naynay ketahui namanya itu mengulurkan tangan untuk berkenalan.
"Hanaya," balas Naynay sambil menyambut uluran tangan Silla.
Setelah jabatan tangan mereka terlepas, Naynay hendak melangkah meninggalkan dua orang yang pandangannya masih tidak bersahabat itu. Rasanya dia tidak perlu dan akan berusaha menghindari dua orang ini agar tidak terjadi perkelahian.
"Seneng dong, bisa nguras harta kakak." Qiara pun ikut bersuara.
Naynay memutar tubuhnya dan menatap dua gadis itu dengan pandangan biasa. "Itu kalian sudah tahu, bahkan setengah dari hartanya saja sudah dialihkan menjadi milikku."
Naynay menertawakan ucapannya sendiri di dalam hati. Ya kali Afif mau memberikan setengah harta kekayaannya untuk wanita kotor sepertiku, batinnya miris. Sepertinya dia tidak akan bisa menahan diri jika kedua gadis ini mencari masalah, Naynay mencabut pemikirannya tentang menghindari dua gadis itu.
"Kau bilang kau hanya akan menjadi istri kakakku selama beberapa bulan, tapi kenapa kau mengambil alih hartanya?!" bentak Qiara marah dengan wajah memerah dan tangan mengepal.
"Sepertinya aku berubah pikiran, harta kakakmu membuatku tidak ingin pergi." Naynay tersenyum songong sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Qiara yang marah mendengar ucapan Naynay berniat untuk menamparnya, tapi tangannya ditahan oleh Silla. "Kau akan dapat masalah besar jika melakukannya," ucapnya pada Qiara.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan kau menyandang gelar istri kakakku lebih lama, Hanaya!!" teriak Qiara ketika melihat Naynay berjalan menjauh.
Naynay tak membalas, dia terus melangkah dan melambaikan tangannya untuk mengejek dua gadis yang sedang marah di sana. Saat menaiki tangga besar itu, Naynay mengelus perutnya dan tersenyum lebar ke arah Qiara dan Silla yang masih menatapnya.
Setelah sampai di kamar, senyum Naynay mulai memudar. Dia berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Sambil mengusap perutnya, Naynay kembali menertawakan dirinya atas ucapannya tadi.
"Kok aku kayak wanita matre, ya?" tanyanya pada diri sendiri sambil tertawa kecil.
Mata Naynay beralih menatap hpnya yang berdering di atas nakas di samping tempat tidur. Naynay berjalan untuk mengambil hpnya, takutnya nanti panggilannya dari Afif. Bisa ribet urusannya jika itu terjadi.
"Rania?" gumam Naynay melihat nama yang tertera di layar hpnya. Tumben sekali gadis perawan itu menelepon pagi-pagi begini.
*****
Di ruang kerjanya, Afif tertawa keras melihat layar hpnya yang menampilkan tiga orang wanita sedang perang mulut. Siapa lagi itu kalau bukan Naynay yang tadi adu mulut dengan Qiara dan Silla. Video pertengkaran mereka baru saja dikirim oleh Pak Hen yang merekam diam-diam.
"Ryan, wujudkan yang istriku katakan tadi!" titah Afif sambil meletakkan hpnya di atas meja kerjanya.
Ryan yang berdiri di belakang Afif itu tentu melihat dan mendengar semuanya. Dia menghela napas pelan melihat seberapa bucinnya Afif kepada Naynay, bahkan ucapan Naynay pun langsung dia wujudkan. Tapi sayangnya bumil di sana masih belum sadar kalau Afif mencintainya.
"Baik, Tuan Muda." Ryan berjalan keluar dari ruangan Afif untuk menghubungi pengacara yang akan mengurus pengalihan nama separuh kekayaan Afif nantinya.
"Kau selalu menggemaskan," ucap Afif sambil tersenyum tampan memandang foto yang bertengger cantik di atas mejanya. Itu adalah foto yang dia ambil ketika Naynay tertidur. Wajah polos imut itulah yang akan menemani Afif bekerja jika Naynay versi asli tidak ikut bersamanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bucinnya keterlaluan, ya, Fif.......