My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 248 Menjemput Cinta


__ADS_3

Akhirnya setelah menempuh perjalanan berjam-jam Brian sampai juga dirumah Gea. Brian bergegas turun dari mobilnya.


Tok tok tok! Brian mengetuk pintu rumah Gea. Bu Hana membuka pintu untuk Brian.


"Ibu." Sapa Brian seraya mengecup punggung tangan Bu Hana.


"Bu, apa Gea ada?"


"Masuk dulu nak Brian." Bu Hana mempersilahkan Brian untuk duduk.


"Siapa Bu?" teriak Gea seraya berjalan menuju ruang tamu. Gea terkejut melihat kedatangan Brian.


"Gea," lirih Brian.


"Untuk apa kamu disini?" ketus Gea.


"Gea, kamu tidak boleh bersikap begitu pada Brian." Tegur Bu Hana. Brian beranjak dari duduknya dan menarik Gea dalam pelukannya.


"Gea, aku mohon jangan seperti ini."


"Lepaskan aku Brian! Hubungan kita sudah berakhir." Gea berusaha memberontak namun Brian mencoba sekuat tenaga mempertahankan Gea.


"Aku tidak mau kita putus." Ucap Brian.


"Brian-Gea!" suara lantang mengagetkan keduanya. Brian melepaskan pelukannya.


"Ayah," gumam Brian.


"Ada apa ini sebenarnya?" Bu Hana tampak bingung. Kedua orang tua Gea pun merasa bingung. Karena Gea belum cerita apa-apa pada kedua orang tuanya tentang masalah yang sebenarnya. Gea kembali kerumah dengan alasan cuti.


"Gea, kenapa kamu memutuskan Brian?" tanya Pak Hendi.


"Iya Ge, ada masalah apa?" sahut Bu Hana. Brian merasa bingung dengan situasi itu.


"Kamu tidak cerita pada mereka?" bisik Brian.


"Tidak." Ketus Gea. Gea sengaja tidak cerita apa-apa pada kedua orang tuanya karena tidak mau membuat orang tuanya sedih dan terbebani. Setelah suasana hatinya membaik, Gea juga akan mencari pekerjaan lain di luar kota dan belajar melupakan Brian.


"Kalian duduk!" perintah Pak Hendi. Gea dan Brian duduk dihadapan kedua orang tua Gea.


"Ayah-Ibu, sebelumnya aku minta maaf. Sungguh dari awal aku tidak ada niat berbohong terutama pada Gea. Rasa cinta ku pada Gea sangatlah tulus dan tidak main-main."


"Iya Nak Brian, sebenarnya kalian ini kenapa?" tanya Pak Hendi.


"Sebenarnya aku bukanlah Brian yang kalian pikirkan."


"Sudahlah Brian, kamu tidak usah menjelaskan apa-apa lagi. Level kita berbeda. Kita bagaikan langit dan bumi. Carilah wanita yang sepadan dengan dirimu." Ucap Gea.


"Gea, maksud kamu apa?" tanya Bu Hana.

__ADS_1


"Brian ini adalah putra dari pemilik perusahaan Gea bekerja."


"Hah? Apa?" kompak Bu Hana dan Pak Hendi. Keduanya terperangah tidak percaya.


"Dia selama ini membohongi aku dengan menyamar sebagai orang lain." Sambung Gea.


"Maaf Ayah-Ibu, aku melakukan itu karena ingin mencari wanita yang benar-benar tulus mencintaiku, Bu. Selama ini gadis di luar sana lebih menyukai uangku saja. Aku menayamr juga bukan keinginanku sendiri tapi keinginan orang tua ku. Mereka ingin aku lebih mandiri dengan menjadi orang biasa meninggalkan nama besar keluarga karena aku selama ini tinggal di luar negeri dan kebetulan aku baru lulus kuliah. Orang tua ku ingin anak-anaknya belajar mandiri meskipun semuanya serba ada. Akhirnya aku memanfaatkan itu untuk mencari seseorang yang menerima ku apa adanya. Dan itu adalah Gea, Ayah-Ibu. Hanya dia yang mau menerimaku. Menerimaku sebagai orang biasa." Jelas Brian panjang lebar, berharap kedua orang tua Gea mengerti.


"Ayah salut dengan pemikiran orang tua kamu. Ayah pun merasa aneh dengan sikapmu kemarin selama disini. Pantas saja kamu kesulitan melakukan semua itu."


"Itu semua demi Gea, Ayah. Aku tulus mencintai Gea."


"Lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu, Brian?" tanya Pak Hendi.


"Aku semalam bahkan sudah membawa Gea menemui kedua orang tua ku. Mereka bahkan dari awal sudah sangat mendukung, Ayah. Sebelum memperkenalkan Gea pada mereka, aku sudah banyak cerita dengan mereka. Orang tua ku tidak pernah menilai seseroang dari status sosialnya tapi dari hati. Mereka sangat mendukung hubungan kami." Jelas Gea.


"Gea, jangan samakan semua orang kaya seperti Vino. Buang jauh rasa trauma itu. Ibu bisa melihat ketulusan nak Brian. Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa lari dari masa lalu, Gea. Kamu harus maju jangan selalu menoleh kebelakang," ucap Bu Hana dengan bijak.


"Aku juga mengucapkan terima kasih karena Ayah dan Ibu menerima ku dengan tulus tanpa melihat latar belakang keluargaku. Itu yang membuatku semakin yakin untuk memilih Gea."


"Brian, bagi kami, kebahagiaan Gea adalah yang utama. Dengan siapapun Gea, kami sebagai orang tua akan mendukungnya." Lanjut Pak Hendi.


"Gea, aku mohon maafkan aku. Papa dan Mama ku sangat mendukung kita bahkan semua saudara-suadara ku. Kita semua sama dihadapan Tuhan, Gea."


"Maaf, aku belum bisa memberi jawaban." Gea kemudian berlalu begitu saja menuju kamar. Brian menghela nafas panjang, melihat sikap Gea.


"Yakin kamu mau tinggal disini. Ini jauh dari kata mewah, berbeda dengan kehidupan kamu."


"Tidak apa-apa Ayah. Ayah, aku ingin membeli sawah disini. Siapa tahu sawah yang Ayah kerjakan ingin dijual, aku akan membelinya."


"Kamu serius?"


"Iya Ayah. Aku bertanya pada Ayah karena aku ingin mengembangkan desa ini. Aku ingin mendirikan perusahaan yang bergerak dalam bidang pangan dan juga online shop. Supaya didaerah pelosok ini dapat terjangkau dengan mudah. Aku juga akan memperbaikan jalananĀ  disini Ayah. Supaya trasnportasi mudah untuk mengakses jalanan ini."


"Pasti Ayah akan membantu. Kamu biarkan saja Gea dulu. Ayah mendukung keinginanmu itu jadi manfaatkan waktu yang baik selama disini."


"Iya Ayah."


"Ibu salut sama kamu, Brian. Kamu rela jauh-jauh datang kemari demi Gea. Kamu benar serius kan? Jangan permainkan Gea ya?"


"Tidak akan Bu. Kalau sampai aku mempermainkan Gea, sudah dipastikan kedua orang tua ku lah yang akan memarahiku bahkan mengusirku. Sifat Gea sangat mirip denganku. Tangguh dan pemberani. Persis seperti Mama saat muda dulu."


"Kalau memang kamu serius, pintu rumah kami siap menerima kedatangan kedua orang tua kamu."


"Pasti Ayah. Papa dan Mama pasti akan sangat senang mendengarnya. Ayah dan Ibu mau aku ajak jalan-jalan?"


"Jalan-jalan? Kemana?" tanya Bu Hana.


"Ke kota mungkin. Kita ke mall."

__ADS_1


"Ah tidak usah nak Brian. Malu lah."


"Iya tidak usah." Tolak Pak Hendi.


"Ayah-Ibu, aku mencintai Gea jadi aku pun harus mencintai Ayah dan Ibu juga. Aku mohon jangan tolak ajakanku." Brian memohon.


"Ayah dan Ibu juga sebenarnya sudah lamatidak ke kota. Karena ke kota harus menempuh waktu satu jam menggunakan motor." Kata Pak Hendi.


"Kalau naik mobil lebih cepat, Ayah."


"Baiklah Ibu akan siap-siap. Diajak calon mantu juga. Biar Ibu bujuk Gea ya supaya ikut."


"Iya Bu."


Akhirnya setelah berhasil membujuk Gea, mereka siap pergi, meskipun wajah Gea masih cemberut.


"Ya ampun, mobilnya gede banget ya." Kata Bu Hana yang baru kali melihat mobil itu. Jeep wrangler rubicon berwarna putih sudah bertengger disana. Sebenarnya itu mobil milik Arsen. Tahu jalanan menuju rumah Gea sangat buruk, membuat Brian memutuskan memakai mobil itu.


"Ibu oh norak." Kesal Gea.


"Ibu memang norak dan kampungan kali, Ge." Kekeh Bu Hana.


"Ayah-Ibu, silahkan masuk." Ucap Brian seraya membukakan pintu belakang untuk kedua orang tua Gea.


"Gea, kamu duduk didepan." Lanjut Brian saat melihat Gea ingin duduk dibangku belakang. Pak Hendi memelototi Gea supaya menurut dengan ucapan Brian. Dengan wajah kesal, Gea akhirnya duduk bangku depan bersama Brian. Setelah semua masuk ke dalam mobil, Brian melajukan mobilnya.


"Baru kali ini Ayah naik mobil sebagus ini." Kata Pak Hendi dengan pandangan yang menyapu setiap sisi mobil.


"Mana lewat jalan terjal tidak terasa. Guncangannya halus." Kekeh Bu Hana.


"Nanti aku belikan Ayah dan Ibu mobil ya." Kata Brian.


"Ah tidak usah. Kami hanya senang saja nak Brian. Jangan dianggap serius."


"Kamu pikir keluarga kami matre apa? Jangan mentang-mentang kamu kaya, kamu bisa membeli harga diri kami." Ketus Gea.


"Ma-maaf Ge, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin membahagiakan kamu dan juga orang tua kamu."


"Basi!" lanjut Gea. Brian pun diam. Kedua orang tua Gea juga hanya terdiam.


"Iya, maaf." Ucap Brian.


"Gea, kamu jangan galak-galak. Ibu tidak suka kamu bersikap begitu."


"Anak Ibu itu aku atau dia sih?"


"Ya, kamu lah Gea. Kamu ini bicara apa."


"Sudah-sudah jangan bertengkar. Nanti fokus Brian terganggu." Pak Hendi berusaha menengahi.~~~~

__ADS_1


__ADS_2