My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 115 Hangat


__ADS_3

Selama Arthur menyanyi, Arsen menatap Sheena. Sekalipun tangannya dan Sheena saling menggenggam tapi fokus Sheena pada penampilan Arthur. Setelah mendengar lirik lagu yang Arthur persembahkan untuk Sheena, Arsen mengerti seberapa dalam perasaan Arthur pada Sheena. Arsen teringat akan ucapan Sheena, bahwa Arthur lebih gentle ketimbang dirinya.


''Aku akui, aku belum berani. Apa aku harus mengatakan perasaanku ini pada Sheena?'' gumam Arsen dalam hati.


''Tapi apakah Sheena sudah mencintai aku?'' gumam Arsen dalam hati.


Setelah acara selesai, Arsen dan Sheena segera pulang. Namun di tenga jalan, Sheena merasa lapar.


''Arsen, aku lapar.'' Kata Sheena sambil mengusap perutnya.


''Mau makan dimana?''


''Nasi uduk saja.''


''Malam-malam begini mau nasi uduk?''


''Memangnya kenapa? Mau itung-itungan jumlah kalori?'' ucap Sheena dengan perasaan kesalnya.


''Iya-iya terserah.''


''Ingat ya perjanjian masih berlaku, belum genap satu minggu.''


''Ya terserahlah.'' Arsen hanya bisa pasrah dengan permintaan Sheena. Sesampainya di warung lesehan nasi uduk pinggir jalan, Sheena segera memesan untuk dua porsi tak lupa dengan minumnya.


''Ayo duduk!" kata Sheena yang masih lihat Arsen berdiri.


''Duduk di bawah sini,'' Arsen mengernyitkan dahinya.


''Iyalah, namanya juga lesehan.''


Arsen mendengus. Ia melepas coatnya dan menjadikannya alas duduk, walaupun sudah ada tikar disana. Arsen melihat penjual memeras es jeruk dengan perasan manual biasa, bukan perasan seperti di restorannya.


''Itu kenapa pakai tangan meresnya? Kan ada alatnya.''


''Orangnya udah cuci tangan Arsen.''


''Aku mau air mineral saja.''


''Ya terserah deh.'' Kata Sheena pasrah. Tak lama kemudian pesanan pun datang.

__ADS_1


''Pak, air mineral satu.''


''Iya Mbak.'' Jawab Bapak penjual nasi uduk itu.


''Sheena, ini pakai kobokan lagi? Tidak ada sendok?'' tanya Arsen.


''Iya aku mintakan sendok ya.'' Kata Sheena. Sheena lalu meminta sendok dan garpu pada si penjual.


''Ini, makanlah dengan tenang. Karen aku juga mau makan.''


''Bagaimana aku bisa makan kalau dia selalu mengajakku ketempat seperti ini? Ini lebih parah dari warteg kemarin. Di pinggir jalan, debu, polusi, astaga. Piringnya cuma di celup dalam baskom dan tidak ada wastafel. Lihat saja air bekas cucian piringnya. Mana bersih walaupun di sabun? Kalau di warteg masih mending. Kalau disini? Airnya tidak mengalir langsung. Bisa-bisanya Sheena makan dengan lahap.'' Gumam Arsen dalam hati. Selera makannya benar-benar drop. Ia meletakkan sendok dan garpunya. Arsen memilih untuk minum saja.


''Kenapa tidak dimakan?''


''Ini lebih jorok dari warteg. Lebih baik aku makan di rumah. Habiskan saja makananmu. Jangan paksa aku! Lambungku sensitif.''


''Iya aku tahu. Lambungmu kan memang lambungnya orang kaya. Jadi tidak bisa di ajak miskin.''


''Bukannya bentuk lambung semua sama?''


''Beda! Lambungmu dari bahan premium, sedangkan lambungku dari daur ulang,'' ucap Sheena dengan mulut penuh makanan. Arsen hanya bisa menghela karena ia benar-benar tidak bisa makan-makanan seperti itu. Namun Sheena tidak peduli sama sekali.


''Cucikan ini. Jangan lupa rendam pakai air hangat untuk menghilangkan kuman dan bakterinya.'' Kata Arsen seraya berlalu menuju kamarnya.


''Dasar menyebalkan sekali,'' gerutu Sheena. Sheena pun segera kembali kekamarnya untuk mengganti bajunya dengan piyama. Setelah selesai, Sheena melakukan apa yang di perintahkan oleh Arsen. Setelah merebus air, Sheena lalu merendamnya dan segera mencucinya malam itu juga.


Sheena mencucinya dengan cara manual. Namun saat Sheena hendak berdiri untuk mengambil gantungan baju, Sheena terpeleset dengan cukup keras. Sheena yang saat itu berusaha berpegangan pada jemuran, justru jemuran pakaian itu menimpa tubuhnya. Suara rintihan Sheena dan suara gubrak, terdengar sampai kamar Arsen.


''Sheena!" gumam Arsen. Arsen segera berlari menuju ruang laundry dengan paniknya. Arsen sangat terkejut melihat Sheena terlentang sampai tertimpa jemuran baju.


''Sheena!" seru Arsen dengan paniknya. Arsen segara menyingkirkan jemuran pakaian itu dari tubuh Sheena.


''Sudah aku bilang, cuci pakai mesin saja. Jangan menyusahkan dirimu sendiri.''


''Kamu kan yang menyuruhku mencuci.''


''Iya tapi bukan sekarang, besok juga bisa. Memang aku minta sekarang?'' Arsen lalu menggendong Sheena dan membawa Sheena ke kamarnya.


''Itu pakaian yang kita jemur kotor lagi.''

__ADS_1


''Sudah jangan pikirkan itu. Aku harus memastikan kalau kamu baik-baik saja.'' Ucap Arsen sambil berjalan cepat menuju kamarnya. Setelah sampai di kamarnya, Arsen segera mengambil handuk untuk mengeringkan kaki Sheena. Arsen dengan paniknya mengambil cream untuk memijat kaki Sheena.


''Mana yang sakit?''


''Pinggul kanan ku yang terasa sakit dan lenganku ini. Karena aku buat menyangga tubuhku.''


Arsen lalu mengoleskan cream ke lengan Sheena dan mengurutnya dengan pelan.


''Aw, pelan Arsen.''


''Iya ini sudah pelan. Mulai besok jangan mencuci pakai tangan lagi.'' Ucapnya dengan kesal. Sheena hanya bisa mengangguk saja.


''Coba gerakkan maju mundur.'' Ucap Arsen. Sheena menurut saja.


''Sudah mendingan.'' Kata Sheena. Arsen lalu mengangkat kaki Sheena dan meletakkannya di atas pangkuannya.


''Maaf aku harus menyentuh pinggulmu. Mmm tidak perlu di buka. Tapi sebaiknya kamu oleskan cream ini dulu ke pinggulmu biar aku memijatnya dari luar.''


Sheena mengangguk dan menurut pada Arsen. Setelah Sheena mengoleskannya sendiri, Arsen lalu mulai memjiatnya dari luar.


''Aw sakit Arsen.'' Rintih Sheena.


''Tahan Sheena. Kalau tidak segera di pijat, besok sakitnya semakin terasa.'' Kata Arsen dengan pelan sambil terus memijat Sheena. Sheena merasa tersenyuh dengan kebaikan Arsen. Gelang yang ia pakai berbunyi, menandakan detak jantungnya berdebar sangat cepat. Arsen tersenyum melihat tanda apa yang keluar dari gelang yang Sheena kenakan itu.


''Dia selalu perhatian dan hangat kalau seperti ini.'' Gumam Sheena dalam hati sambil memperhatikan Arsen diam-diam. Setelah selesai memijat, Arsen meminta Sheena untuk istirahat.


''Sekarang sebaiknya kamu tidur dan istirahat. Ini juga sudah malam sekali.''


''Tapi tadi pakaian kita dan kamu juga belum makan malam.''


''Jangan pikirkan itu, Sheena. Sebelum ada kamu aku sudah terbiasa membuat makan malam untuk diriku sendiri. Tidurlah dan istirahatlah.'' Arsen lalu membaringkan tubuh Sheena dan memakaikan selimut pada Sheena. Tak lupa Arsen memberikan kecupan di kening Sheena. Arsen kemudian berlalu menuju ruang laundry untuk membersihkan kembali pakaian dan kerusuhan yang di buat Sheena.


''Pria ini, kadang hangat seperti selimut. Kadang dingin seperti es. Dan kadang begitu menyebalkan seperti sesuatu yang paling aku benci.'' Gumam Sheena dalam hati. Sheena lalu melihat kearah gelang yang Arsen berikan. Terdengar gelang itu menunjukkan gambar hati. Sheena lalu menyentuh dadanya, memastikan bahwa apakah detak jantungnya berdebar begitu cepat. Sheena lalu merasakannya dan menyamakannya dengan gelang itu.


''Wah, gelang ini sungguh ajaib. Dia bisa tahu bahwa jantungku berdebar saat Arsen bersikap hangat padaku. Pantas saja Arsen bisa tahu kalau kekasihnya itu selingkuh di belakangnya.'' Gumam Sheena. Sheena larut dengan perasaannya sendiri. Mengingat masa kecilnya dengan Arsen dan pertemuannya kembali dengan Arsen sampai pada akhirnya Sheena kemudian pun akhirnya tertidur.


Arsen yang masih berada di ruang laundry hanya bisa senyum-senyum sendiri saat menangkap sinyal perasaan gembira dari gelang Sheena.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2