My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 128 Semakin Cinta


__ADS_3

Setelah seharian menemani Sheena dan saling bertukar cerita, Belinda pun pulang. Belinda juga membantu Sheena untuk mandi dan juga membantu merias Sheena untuk menyambut Arsen pulang.


Sheena kemudian menuju dapur, memasak makanan sehat sesuai resep yang sudah Arsen tempel di kulkas. Tepat jam setengah 6, Arsen tiba di rumah. Melihat Sheena sibuk di dapur, Arsen mengendap dan langsung memeluk Sheena dari belakang.


''Hai Sheena-ku.'' sapa Arsen dengan lembut tepat di telinga Sheena.


''Hai Arsen-ku. Kamu membuatku kaget saja.''


''Kamu wangi sekali,'' kata Arsen sambil mengendus leher Sheena.


''Kan sudah mandi.''


''Kamu masak apa?''


''Masak sesuai list yang sudah kamu tempel sejak awal kita satu rumah. Sebaiknya kamu mandi dulu sana.''


''Seharusnya tunggu aku pulang. Aku akan memasak untukmu.''


''Arsen, luka di perutku sudah tidak apa-apa. Sama sekali tidak perih.''


''Iya tapi kamu harus tetap hati-hati jangan mengangkat yang berat-berat.''


''Iya aku tahu. Ini kan lagi masak, bukan angkat-angkat.''


''Aku akan mandi tapi beri aku vitamin K dulu.'' Kata Arsen. Sheena menghentikan aktifitasnya lalu memutar tubuhnya menghadap Arsen. CUP!


''Sudah kan?'' ucap Sheena. Arsen tersenyum lalu membalas kecupan Sheena.


''Aku mandi dulu ya.''


''Iya.''


Setelah selesai mandi, Arsen segera menyusul ke meja makan. Kali ini semua aturan yang sudah Arsen buat sendiri, perlahan ia tabrak semua. Mandi yang biasanya memakan waktu satu jam lebih, kini dua puluh menit pun selesai. Ciuman yang baginya tabu, kini justru membuatnya ketagihan.


''Tumben mandinya cepat?'' tanya Sheena.


''Aku sudah sangat lapar.'' Jawab Arsen.


''Duduklah, biar aku yang melayanimu.'' Ucap Arsen seraya mendudukkan Sheena. Sheena hanya bisa pasrah melihat sikap Arsen yang semakin hangat dengannya.


''Oh ya tadi aku dan Kak Queen habis mengobrol.''


''Kak Queen pulang?''


''Tidak. Belinda tadi yang vidio call. Aku senang sekali bisa cerita banyak dengan Kak Queen.''


''Pasti kalian membicarakan aku juga?''


''Tentu saja. Kami bertiga bergosip tentangmu,'' seloroh Sheena dengan tawanya.


''Siap-siap saja dia meledekku, begitu dia sampai di Indonesia. Karena dia tahu bagaiamana sulitnya kita untuk berteman baik.''


''Memang itulah yang sangat aku nantikan Arsen. Seorang Tuan sempurna mencintai gadis dekil bahkan sampai menikahinya. Sepertinya cerita kita seru juga kalau di buat sebuha novel.''


''Iya aku akan menantikan dimana aku di bully oleh Kakakku sendiri.''

__ADS_1


''Memangnya kenapa? Kamu marah? Atau menyesal dengan semua ini?''


''Tentu saja tidak, Sheena. Aku hanya merasa lucu saja. Takdir seseorang tidak pernah ada yang tahu. Orang yang kita benci bisa menjadi orang yang paling kita cintai.''


''Iya benar katamu, Arsen. Sepertinya kita memang terkena karma deh. Sama-sama saling benci tapi ternyata kita malah disatukan dengan cara seperti ini.'' Ucap Sheena.


''Lalu apa kamu bahagia?''


''Tentu saja aku bahagia Arsen. Kebahagiaanku semakin lengkap karena aku memiliki keluarga yang lengkap dan banyak orang yang menyayangiku.''


''Aku juga bahagia bisa melihatmu bahagia.'' Ungkap Arsen.


''Arsen, aku ingin jalan-jalan di luar.''


''Jalan-jalan kemana? kamu masih butuh banyak waktu istirahat Sheena.''


''Aku bosan di rumah. Aku ingin pergi ke pasar malam.''


''Pasar malam? Untuk apa?''


''Untuk main-main lah. Kalau kamu tidak mau, aku minta Kak Arthur saja untuk menemani.''


''Oke-oke, setelah ini kita berangkat.''


''Makasih Arsen-ku.'' Kata Sheeja dengan senyum lebarnya.


''Iya sama-sama Sheena-ku.''


''Daripada harus pergi dengan Arthur, yang ada dia malah mencuri kesempatan,'' gumam Sheena dalam hati.


Setelah makan malam, Sheena pun segera bersiap, begitu pula dengan Arsen. Mereka berdua segera pergi ke pasar malam yang di inginkan oleh Sheena.


''Kamu pernah ketempat seperti ini?'' tanya Sheena pada Arsen yang berdiri di sampingnya.


''Pernah tapi saat aku di Korea. Disana lebih bagus daripada sini.''


''Sudah jangan membanding-bandingkan, disini juga tanah kelahiranmu kan. Ayo kita kesana!" Sheena lalu menggandeng tangan Arsen dan mengajaknya menuju ke arah komidi putar.


''Lebih baik kita ke Dream Land saja daripada kesini.''


''Ya sudahlah tidak apa-apa. Aku kan pinginnya ke pasar malam. Kamu tahu, aku dulu sering sekali di ajak Ayah ke pasar malam. Kalau disini kan hiburannya terjangkau, Arsen.''


''Sama saja Sheena! Dream Land tiket masuk dua ratus ribu tapi kamu sudah mendapatkan banyak wahana disana.''


''Arsen, sudahlah. Aku kesini mau cari hiburan bukan mau berdebat denganmu.''


''Iya-iya.''


Setelah sampai didepan komidi putar, membuat Sheena teringat masa kecilnya dulu bersama Ayahnya. Pak Damar selalu berusaha menyenangkan Sheena dengan segala keterbatasannya.


''Arsen, aku mau naik!" pinta Sheena.


''Sheena, kamu baru saja sembuh."


''Arsen, aku tidak selemah yang kamu katakan. Kalau begitu, aku naik sendiri ya.''

__ADS_1


''Jj-jangan! Ayo aku temani.'' Arsen tidak tega jika Sheena harus naik sendiri. Akhirnya Arsen dan Sheena naik bersama. Sheena berada di depan, sementara Arsen di belakang Sheena memeluk erat Sheena. Arsen menyandarkan dagunya pada bahu Sheena. Melihat senyum Sheena yang mengembang membuat Arsen sangat bahagia. Sheena merentangkan kedua tangannya, menikmati putaran wahana yang tak lekang oleh waktu itu.


''Apa kamu senang?'' tanya Arsen.


''Iya Arsen, aku senang sekali. Terima kasih ya sudah mengajakku kesini.''


''Bukan aku yang mengajak tapi kamu yang memaksa.''


''Hehehehe apapun itu sama saja.'' Jawab Sheena. Setelah puas bermain di atas komidi putar, Sheena mengajak Arsen menuju sebuah permainan.


''Arsen, kalau kamu bisa menembak deretan susunan kaleng itu, kita bisa mendapatkan boneka teddy bear itu. Kamu mau kan mencobanya untukku?''


''Kalau kamu mau, kita bisa beli sekarang.''


''Arsen, aku tahu kamu punya banyak uang tapi tidak seru rasanya kalau membeli langsung. Ayolah tembak kaleng itu untukku. Aku ingin teddy bear besar itu.'' Rengek Sheena seperti anak kecil.


''Oke baiklah tapi nanti aku juga minta hadiah darimu ya?''


''Iya-iya. Ayo dapatkan boneka itu untukku, semangat Arsen!" Ucap Sheena penuh dengan semangat. Arsen pun mulai menembak dan Sheena tidak menyangka Arsen adalah penembak yang sangat handal.


''Wah, suamiku memang sempurna. Semuanya bisa.'' Gumam Sheena. Deretan kaleng itu di libas habis oleh Arsen tanpa tersisa. Akhirnya Arsen bisa mendapatkan boneka yang Sheena inginkan.


''Ini untukmu, aku berhasil kan?'' kata Arsen dengan senyum manisnya itu.


''Terima kasih Arsen.'' Sheena melompat kegirangan, ia kemudian mengecup pipi Arsen.


''Kamu tahu, seumur hidupku baru kali ini aku mempunyai boneka sebesar dan sebagus ini. Dulu aku selalu meminta Ayah untuk memainkan permainan ini tapi Ayah selalu gagal. Dan Ayah hanya bisa mendapatkan peremen kapas untukku.'' Ucap Sheena yang mengenang masa kecilnya.


''Sheena kamu memang unik. Disaat semua wanita menginginkan sebuah kemewahan tapi kamu sangat berbeda. Disaat semua wanita menginginkan yang instan, kamu malah memintaku berjuang untuk mendapatkan boneka ini. Padahal aku bisa saja membelikanmu. Bahkan kamu sendiri saja sekarang bisa membelinya sendiri.'' Gumam Arsen dalam hati saat melihat Sheena memeluk erat boneka itu.


''Baiklah, sekarang apalagi yang kamu inginkan?''


''Kita pulang saja ya.''


''Baiklah, sini aku bawakan bonekanya, ini pasti berat.'' Ucap Arsen. Sheena lalu memberikan boneka itu pada Arsen. Arsen kemudian menggandeng tangan Sheena dengan erat.


''Kamu mau beri nama siapa boneka ini?'' tanya Arsen.


''Karena suamiku yang berhasil mendapatkan boneka ini jadi aku mau memberikan dia nama hubby.''


''Hubby?''


''Iya hubby, dari kata husband. Kalau hubby kan lebih imut, hehehe.''


''Jadi maksudmu? Aku seperti beruang ini?''


''Iya. Kalau kamu sedang kerja, ada dia yang menemaniku dan saat kamu kerja, aku merindukanmu, aku bisa memeluknya.''


''Oh jadi kamu menggantikan posisiku dengan boneka ini?''


''Sudah jangan mulai marahnya. Masa sama boneka saja cemburu. Kemarin sama dokter, sekarang sama boneka.'' Keluh Sheena.


''Aku tidak cemburu.'' Jawabnya singkat namun cemberutnya Arsen tetap kelihatan. Sheena lalu mengecup pipi Arsen. CUP!


''Aku sudah memberiku kecupan jadi jangan marah lagi.'' Kata Sheena dengan tatapan hangatnya. Arsen tersenyum lalu nengecup kening Sheena.

__ADS_1


''Iya Sheena, aku cemburu. Aku semakin takut kehilangan kamu dan aku semakin mencintaimu. Entah kapan rasa ini terasa begitu semakin dalam. Bahkan dengan boneka saja, aku punya rasa cemburu, aneh kan aku ini? Aku tidak ingin perhatianmu teralihkan dengan yang lainnya.'' Gumam Arsen dalam hati.


Bersambung....


__ADS_2