My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 129 Level 3


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Sheena meletakkan boneka besar itu di atas tempat tidur. Arsen mengernyit karena tempat tidurnya menjadi penuh.


''Sheena, kalau dia diatas tempat tidur, aku tidur dimana?'' kesal Arsen.


''Terus dia di taruh dimana? Kasihan kan kalau di lantai.''


''Kamu bisa meletakkannya di atas sofa Sheena. Kalau dia berada bersama kita, bagaimana aku caranya aku bisa memelukmu?''


Sheena menatap Arsen penuh selidik. ''Dasar aneh, masa sama boneka saja cemburu.'' Sheena lalu memindahkan bonekanya di atas sofa.


''Hubby, kamu mengalah dulu ya. Suamiku cemburu padamu.'' Kata Sheena pada boneka beruangnya itu.


''Tuh dia sudah aku pindahkan.'' Ucap Sheena. Sheena kemudian naik keatas tempat tidur. Arsen tersenyum lalu ia naik keatas tempat tidur. Arsen menarik tubuh memasukkan tubuh Sheena dalam dekapannya.


''Arsen, kalau seperti ini, aku tidak bisa nafas.'' Protes Sheena.


''Aku gemas sekali denganmu, Sheena.'' Ucap Arsen. Arsen kemudian mengecup seluruh wajah Sheena, bahkan Arsen meninggalkan tanda hisapan di pipi Sheena.


''Ihhhh sakit, Arsen. Semua wajahku penuh dengan liurmu.''


''Liur pria tampan itu harum Sheena. Jadi tidak akan bau,'' ucap Arsen terkekeh.


''Dasar narsis!" kesal Sheena.


''Sheena, ayo kita mencoba level 2 lagi. Setelah itu level 3.''


''Level 3, apa yang akan kamu lakukan padaku?'' tanya Sheena yang sedari tadi masih berada dalam kungkungan tubuh Arsen.


''Aku boleh menyentuhnya?''


''Menyentuh apa?'' tanya Sheena.


''Menyentuh tadi yang kenyal itu.'' Kata Arsen.


''Kamu mulai nakal ya, Arsen.''


''Katanya kamu mau membantuku? Percayalah semua keluarga setelah ini akan mendesak kita untuk punya anak. Kalau aku tidak belajar sekarang, bagaimana aku bisa membuahimu?''

__ADS_1


''Kamu sudah mulai pintar beralasan ya? Tapi kenapa kamu harus minta ijin, Arsen. Aku milikmu. Aku heran saja denganmu, mungkin pria di luar sana, jika ditempatkan di posisimu, tangan mereka sudah pasti kemana-kemana tapi kamu beda. Bahkan kamu selalu minta ijin.''


''Aku takut kamu belum siap dan kamu tahu sendiri kan aku bagaimana? Panduan dari beberapa film pun nyatanya belum bisa membuatku berani. Aku ingin melakukannya perlahan.''


''Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan Arsen.''


''Apa kamu tidak marah? Kemarin saja kamu marah.''


''Mmmm iya, itu karena aku terkejut. Tapi sekarang kamu bisa melakukannya.'' Kata Sheena. Kali ini Sheena berusaha membuka diri dan bersikap lebih berani pada Arsen. Walau bagaimanapun sebagai wanita normal, tentu saja Sheena ingin merasakan di sentuh dan di belai. Selain itu Sheena ingin Arsen sembuh.


''Arsen, sebelumnya ada yang ingin aku tanyakan padamu.''


''Iya katakanlah, Sheena.''


''Kalau kamu bisa sembuh, apa kamu juga akan dengan mudahnya bersentuhan dengan wanita lain?''


''Apa yang kamu pikirkan Sheena? Tentu saja tidak. Aku hanya ingin mau disentuh olehmu. Sepertinya penyakitku ini hanya tunduk padamu. Nyatanya saat di luar sana aku masih bersikap sama meskipun tidak seperti dulu yang begitu berlebihan. Kamu pikir aku ini pria apaan?''


''Berarti aku satu-satunya?''


''Tentu saja kamu satu-satunya. Hanya kamu yang bisa membuatku seperti ini Sheena. Dan aku baru menyadarinya.'' Ucap Arsen dengan tatapan yang begitu dalam pada Sheena. Arsen kemudian mendekatkan bibirnya pada Sheena. Sheena memejamkan matanya, saat bibir Arsen mulai menyentuhnya. Arsen semakin merapatkan tubuh Sheena padanya. Tangan Arsen pun mulai beregerak aktif meraba punggung Sheena. Setelah itu tangan Arsen menelusup masuk di balik piyama Sheena. Tangan Arsen menajalar melepas tali bra Sheena dengan bibir yang masih berpagut. Sheena membiarkan tangan Arsen menyentuhnya dan ia tetap menikmati ciuman Arsen yang semakin menuntut. Setelah tali bra terlepas, tangan Arsen menjelajah lembut kebagian depan, menelusup di balik bra. Dan Arsen untuk pertama kalinya merasakan sebuah benda yang begitu kenyal itu. Perlahan Arsen me..re..masnya sembari memainkan pucuknya. Nafas Sheena memburu, tubuhnya semakin terasa panas. Sheena semakin terangsang dengan sentuhan polos Arsen. Arsen kemudian melepaskan pagutannya. Ia menatap Sheena dan tersenyum. Bibir Sheena pun memerah karena ulahnya.


Keduanya saling menatap penuh gairah. Sheena lalu mulai kembali mel..umat bibir Arsen. Untuk pertama kalinya dada bidang Arsen itu saling bergesekan dan bersentuhan dengan dua benda kenyal itu. Arsen kemudian melepaskan pagutannya. Tangannya kemudian mere...mas bukit kembar itu. De..sa..han kecil pun lolos dari bibir Sheena. Terbayang adegan film blue dalam benak Arsen. Tentu saja Arsen mengingat semua adegan dalam film itu namun penyakitnya yang mengungkungnya selama ini, membuatnya menjadi overthingking. Hanya dengan Sheena ia melakukan hal yang di anggap bodoh dan menjijikkan ini.


Arsen kemudian mengguling tubuh Sheena dan kini ia berada di atas tubuh Sheena.


''Apapun yang ingin kamu coba, lakukanlah Arsen. Aku akan membantumu sampai kamu berani untuk melakukan ke tahap level selanjutnya.'' Ucap Sheena lirih sambil menangkupkan kedua tangannya pada wajah Arsen. Arsen kemudian melu...mat kembali bibir Sheena, ciuman itu kemudian turun ke leher dan mengarah pada bukit kembar itu.


''Arrghhhh!" de..sah Sheena saat Arsen mengulum pucuk buah dadanya. Sheena menekan kepala Arsen untuk lebih dalam bermain di bukit kembarnya itu. De..sa..han kecil Sheena membuat Arsen semakin bersemangat. Sampai Arsen meninggalkan tanda merah pada kedua bukit Sheena. Setelah puas bermain disana, Arsen menarik selimut untuk menutup tubuh Sheena dan juga tubuhnya. Arsen lalu memeluk Sheena, keduanya berbaling saling berhadapan. Nafas Arsen pun terengah. Sheena membelai lembut wajah tampan itu.


''Kamu sudah mulai berani ya? Lihatlah permainanmu meninggalkan jejak, Arsen.''


Arsen tersenyum. ''Apa menurutmu aku sudah lihai?''


''Tentu saja lihai sebagai seorang pemula. Kamu sungguh baru pertama kali melakukan ini? Menyentuh dada wanita?''


''Iya Sheena. Semua pengalaman pertamaku, aku lakukan denganmu. Maafkan aku baru bisa melakukannya sampai tahap ini.''

__ADS_1


''Kamu memang pria yang unik, Arsen. Dijaman sekarang, sudah sangat jarang pria yang punya pikiran bersih dan sehat sepertimu.''


''Sekarang kamu tahu kan kalau aku juga normal? Aku bukan gay seperti yang di tuduhkan.''


''Hei, kenapa kamu masih berpikir seperti itu? Buanglah pikiran buruk itu Arsen. Mereka hanya berpresepsi saja tanpa tahu kenyatannya.''


''Aku memang bodoh, Sheena. Aku merasa gagal menjadi seorang pria.''


''Kenapa seorang Arsen bisa berpikiran lemah seperti itu?''


''Seharusnya aku bisa langsung melakukan lebih tapi aku belum bisa melakukan lebih. Ada rasa cemas dan khawatir dalam pikiranku.''


''Tenanglah, aku tidak marah. Aku juga tidak akan mencari kepuasan dengan pria lain. Aku bisa merasakan bahwa juniormu berdiri tegak saat aku duduk diatasmu.''


''Iya itulah kelemahanku, seharusnya aku bisa melakukannya tapi aku belum siap. Terlebih kamu yang baru saja menjalani operasi, aku jadi tidak tega melakukannya. Maafkan aku Sheena karena aku belum bisa seutuhnya menjadi milikmu.''


''Tidak apa-apa Arsen, kita akan melakukannya perlahan-perlahan. Kalau kamu mengijinkan, bolehkah aku memulainya dulu?''


''Iya lakukan saja apa yang kamu inginkan Sheena. Sejujurnya seperti ini sangat menyiksa. Aku tidak bisa melakukan pelepasan.''


Sheena terkekeh. ''Astaga, baru kali ini ada pria aneh sepertimu. Sebaiknya kita sekarang tidur, aku sudah cukup lelah.''


''Bagaimana kalau malam ini kita tidur tanpa mengenakan pakaian?''


''Maksudmu kita telanjang?'' tanya Sheena tergagap.


''Iya tapi kita kan pakai selimut. Tapi jangan saling lihat dulu, besok pagi baru boleh lihat. Siapa tahu dengan ini kita bisa masuk ke level 4.''


''Kamu yakin?'' tanya Sheena.


''Iya aku yakin. Kamu tidak jijik atau risih kan?''


''Seharusnya pertanyaan itu yang aku tanyakan padamu, Arsen.''


''Aku akan mencobanya Sheena.''


''Baiklah.'' Jawab Sheena. Sheena dan Arsen lalu kompak melepaskan celana piyamanya. Kemudian Sheena menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Arsen. Dan keduanya pun tertidur.

__ADS_1


''Hhhh suami yang aneh,'' gumam Sheena dalam hati.


Bersambung...


__ADS_2