
Setelah selesai bersih-bersih, Arsen terkapar di sofa ruang tengah. Sedangkan Sheena menata makanan online yang telah di pesan oleh Arsen. Sheena sedari tadi senyum-senyum sendiri melihat Arsen yang terlihat begitu lelah bahkan entah berapa ratus kali Arsen mendumel melayangkan protes pada Sheena. Namun akhirnya pekerjaan hari itu selesai di tangan keduanya.
“Arsen, ayo kita makan! Kita sudah melewatkan makan siang.” Teriak Sheena dari dapur. Arsen dengan malas bangun dari sofa.
“Sheena benar-benar menyiksaku hari ini. Tanganku bisa kasar dan kapalan kalau seperti ini setiap hari. Semua di kerjakan manual.” Arsen mendumel dengan dirinya yang berantakan. Arsen lalu menyusul Sheena menuju ruang makan.
“Capek ya?” goda Sheena.
“Kamu sengaja mengerjaiku kan?” ketus Arsen.
“Mengerjai bagaimana? Aku saja ikut bekerja membersihkan rumahmu yang sebesar ini. Bagiku kamu belum sempurna kalau belum bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah. Kalau hanya bisa menyuruh, semua orang juga bisa melakukannya.”
“Aku malas berdebat, aku mau makan.”
“Ini makanan yang sudah kamu pesan.” Kata Sheena sambil menyodorkan steak, makanan favorit Arsen.
“Terima kasih untuk nasi goreng yang kamu belikan ini.” Kata Sheena.
“Itu nasi goreng mahal.”
“Hei, aku sekarang sudah kaya jadi jangan mengejekku. Kalu kita terus seperti kapan bisa memulainya. Dasar pembully!”
“Iya-iya maaf.” Arsen kembali mengingat janjinya.
“Setelah ini sebaiknya kita segera bersiap.”
“Bersiap kemana?”
“Kamu lupa? Ini pagelaran musik sekolah Kak Arthur.”
“Apa tidak bisa kita istirahat saja?”
“Kalau kamu mau istirahat silahkan saja. Aku akan berangkat sendiri.”
Arsen mendengus. “Iya aku ikut.”
“Sheena,” panggil Arsen.
“Hmmmm,” kata Sheena sambil mengunyah makanannya.
“Sebaiknya mulai malam ini kita tidur di kamar yang sama saja. Kamu tidur di kamarku.” Kata Arsen dengan ragu-ragu.
“Sudah siap kamarmu kotor karena aku?” selidik Sheena.
“Kenapa tanya begitu? Apa kamu sudah merencanakan ingin mengotori kamarku? Bagaimana kita bisa memulainya kalau kamu juga bersikap seperti itu.”
Sheena tertawa mendengar ocehan Arsen. “Iya-iya.”
“Tapi pindahnya besok saja. Kita kan sudah seharian bersih-bersih.”
__ADS_1
“Badanmu saja yang pindah. Besok kita bereskan yang lain.” Kata Arsen. Sheena hanya mengangguk dengan mulut penuh makanan.
#######
Belinda sudah berada di sekolah Arthur. Suasana outdoor di acara itu tampak meriah sekali.
“Wah, dia pintar juga ternyata. Punya sekolah dan membuat acara sekeren ini,” puji Belinda saat melihat Arthur mempunyai sesuatu yang menurutnya smart. Ini untuk pertama kalinya bagi Belinda mengunjungi sekolah seni Arthur. Dari kejauhan Belinda melihat Arthur sedang asyik bercengkrama dengan para muridnya di belakang panggung. Arthur tampak begitu hangat dengan para muridnya.
“Arthur yang menyebalkan itu ternyata hangat juga. Bagaimana dia bisa membuka sekolah untuk mereka yang berkebutuhan khsusus? Bahkan sekolahnya sangat keren. Eh, untuk apa aku memikirkan dia. Dia besar kepala kalau aku memujinya.” Gumam Belinda. Saat Arthur menoleh kebelakang, ia melihat Belinda berdiri dari kejauhan. Arthur lalu memutuskan untuk menemui Belinda. Ekspresi kekaguman Belinda pada Arthur mendadak hilang dan berubah jutek seketika saat Arthur mendekat kearahnya.
“Hai Bel, sudah daritadi?”
“Baru saja.”
“Ya sudah kamu duduk saja sana.”
“Oke. Semoga acaranya sukses.”
“Terima kasih ya sudah mau datang.”
“TERPAKSA! Kalau bukan Papa dan Mama yang memaksaku.”
“Ya apapun itu, aku tidak peduli. Yang jelas terima kasih.” Belinda kesal sekali mendengar jawaban Arthur yang menurutnya sangta menyebalkan itu. Belinda mengepalkan tangannya menahan marah lalu segera pergi menuju kursi tamu yang sudah disediakan di depan panggung.
“Hai Kak!” sapa Sheena sambil melambaikan tangannya pada Arthur.
“Halo adikku sayang,” ucap Arthur sambil mengusap kepala Sheena. Melihat itu Arsen sangat kesal. Namun ia berusaha menahan kesalnya demi Sheena.
“Kak, ini bagus sekali. Kak Arthur memang sangat hebat. Bangga sekali memiliki Kakak seperti mu, peduli dengan mereka yang mempunyai kekurangan.”
“Jangan memujiku seperti itu. Nanti aku bisa besar kepala.” Arthur terkekeh.
“Apa ada kendala Arthur?” sahut Arsen.
“Sejauh ini aman saja. Belinda juga baru saja datang. Sebaiknya kalian segera duduk karena acara akan segera di mulai.”
Sheena kemudian memberikan sebuah pelukan untuk Arthur. “Kak, semangat ya. Aku doakan acaramu berjalan dengan lancar.” Arthur terkejut mendapat pelukan dar Sheena. Perlahan Arthur mengangkat kedua tangannya membalas pelukan Sheena.
“Terima kasih Sheena dan jangan pulang dulu. Tunggu persembahan terakhirku untukmu.”
“Iya, aku menepati janjiku kali ini.” Ucap Sheena. Sheena sendiri hampir jatuh cinta dengan Arthur namun keadaan yang membuat Sheena tidak meneruskan perasaannya. Kebaikan keluarga Arsen yang membuat bibir Sheena terkunci dan membuat perasannya begitu saja. Siapa yang tidak jatuh cinta dengan seorang pria sehangat Arthur? Arthur kemudian melepaskan pelukan Sheena. Arthur lalu mengecup kening Sheena di hadapan Arsen. Arsen mengepalkan tangannya dan mengeratkan rahangnya menahan kesal melihat itu semua. Arthur kemudian segera kembali kebelakang panggung setelah memberikan kecupan terakhir pada Sheena sebagai seorang pria dan wanita.
“Kenapa kamu agresif sekali? Memeluk pria sembarangan.” Ketus Arsen.
“Arsen, dia kan Kakakku. Apa kamu lupa? Aku hanya memberinya semangat saja.”
__ADS_1
“Iya aku tahu tapi dia kan punya perasaan terlarang padamu.”
“Iya aku juga tahu. Berada di posisi Kak Arthur bukanlah sesuatu yang mudah. Mungkin kamu juga belum tentu bisa melewatinya. Apa kamu cemburu?”
“Menurutmu?” Arsen bertanya balik.
“Mana aku tahu! Kamu saja belum pernah mengatakan cinta padaku. Masa kamu kalah gentle sama Kak Arthur. Dia menyatakan cintanya padaku bahkan sampai membuatkanku sebuah lagu.” Ceplos Sheena.
“Oh jadi kalian sudah saling mengungkapkan perasaan? Sejak kapan?” tanya Arsen. Padahal Arsen sendiri sudah mengetahui hal itu.
“Ah sudahlah itu sudah lama. Lagi pula dia juga sekarang Kakakku.”
“Kamu selingkuh kan?”
“Sudah jangan menuduhku aneh-aneh. Selingkuh dari mana, kta saja belum meresmikan hubungan kita. Lebih baik kita segera menuju panggung dan duduk manis disana.” Sheena tanpa sadar menggandeng tangan Arsen dan mengajaknya duduk bersama. Melihat Belinda, Sheena pun segera menyapanya.
“Belinda!” panggil Sheena.
“Eonni-Oppa!” sapa Belinda sambil melambaikan tangannya. Belinda mendekat lalu Belinda memeluk Sheena dan Arsen secara bergantian.
“Duduklah bersama kami.” Kata Sheena.
“Aku lebih suka duduk di seberang sana. Lagi pula aku tidak mau menjadi obat nyamuk kalian berdua.” Gurau Belinda terkekeh.
“Bel, kamu dengan siapa?” tanya Arsen.
“Tenang Oppa, aku pergi bersama supir.”
“Ya sudah kalau begitu kembalilah ketempat dudukmu dan jangan buat keributan.”
“Iya-iya bawel. Eonni Sheena, aku kembali ketempat dudukku dulu ya.”
“Iya Bel.”
Arsen dan Sheena pun segera duduk. Arsen menggenggam tangan Sheena dengan erat. Sheena membiarkan pria disampingnya itu menggenggam erat tangannya. Acara pun di mulai. Acara pertama adalah sambutan dari Arthur sebagai pemilik sekolah Art School.
“Selamat malam semua. Para hadirin dan tamu undangan yang saya hormati beserta bapak/ibu guru dan juga bapak/ibu wali murid. Perkenalkan saya Arthur Juan Antonio Winata, pemilik sekolah sekaligus pengajar disini. Lebih tepatnya pengajar musiman karena saya tidak selalu berada di Indonesia.” Ucap Arthur dengan tawa kecilnya.
“Sejak 6 tahun sekolah ini berdiri. Ini adalah tahun ke-6, dimana saya selalu dibuat bangga dan terharu dengan mereka. Anak-anak yang begitu saya cintai dan sayangi. Mereka selalu membuat saya kagum dengan segala kelebihan yang mereka miliki. Tujuan saya mendirikan sekolah ini adalah memang ingin memberikan mereka dan khususnya para orang tua sebuah harapan. Harapan bahwa mereka semua mampu tumbuh dan berkembang seperti anak normal lainnya. Sekaligus sebagai wadah untuk mengasah bakat mereka semua dalam bidang seni musik dan kesenian yang lain pula. Bagi saya kita semua sama. Kita tidak boleh membedakan satu sama lain dan kita harus saling peduli satu sama lain tanpa terkecuali. Dan yang paling penting adalah disetiap kekurangan pasti ada kelebihan yang tersimpan dalam diri kita semua. Untuk itu mari kita saling belajar dengan jangan hanya melihat satu sisi saja. Karena terkadang kita mempunyai sisi lain yang tidak semua orang tahu. Baiklah itu saya yang ingin saya sampaika. Terima kasih, selamat malam dan selamat menikmati suguhan terhebat dari siswa dan siswi Art School.”
Tepukan tangan membuat suasana semakin meriah dan membuat semuanya menjadi bersemangat. Selama Arthur berpidato, Belinda benar-benar bisa menemukan sisi lain dari Arthur. Sheena juga di buat kagum dengan sisi lain Arthur yang tidak semua orang tau. Sementara Arsen sendiri juga merasa bangga dengan Arthur karena Arthur bisa konsisten dan mepertahankan sekolah seninya ini. Walaupun keduanya sering cekcok tapi diam-diam Arsen juga mendonasikan penghasilannya setiap bulan untuk Art School tanpa sepengetahuan Arthur.
Lalu acara kedua adalah di mulai dengan kelompok paduan suara. Mendengar para anak kecil itu bernyanyi dengan sangat indah dan tulus, membuat Sheena terharu. Penampilan kedua, menampilkan kelompok musik angklung. Penampilan ketiga kelompok musik kecapi. Penampilan keempat permainan piano yang sangat indah dari salah satu murid peyandang disabilitas. Belinda pun ikut kagum melihat penampilan mereka semua. Penampilan selanjutnya adalah permainan gitar akustik sembari bernyanyi. Dan penampilan terakhir adalah kelompok grup band. Musik yang ceria membuat para tamu undangan sekaligus para wali murid bangga dengan kelebihan putra-putri mereka yang memang penyandang disabilitas. Memang 50% murid Arthur adalah penyandang disabilitas, sisanya adalah anak kurang mampu dan juga anak yang memang berasal dari keluarga berada yang tertarik dengan musik. Tentu saja dengan gedung yang berbeda sesuai dengan kemampuan anak. Kualitas sekolah Arthur yang bernama Art School memang sudah diakui, meskipun tergolong baru. Arthur sendiri beberapa kali mendapat penghargaan sebagai pemuda inspiratif. Begitu pula dengan anak didiknya yang mengikuti kejuaraan pianis tingkat Asia, yang berhasil mendapat juara 1 tingkat Asia. Dan masih banyak lagi prestasi dari Art School.
Akhirnya tiba pada cara penutup, dimana Arthur mempersembahkan lagu itu pada Sheena.
“Ini adalah persembahan penutup dari saya. Sebuah lagu yang terinspirasi dari sesorang. Tapi makna lagu ini luas sekali. Dan untuk itu malam ini, lagu ini saya persembahkan untuk anak-anak didik saya dan juga para guru yang sudah setulus hati mengajar mereka dengan penuh kasih sayang.”
Arthur pun mulai bernyanyi sambil sesekali melihat kearah Sheena. Suara Arthur yang menghangatkan, membuat suasana malam itu semakin syahdu. Saat pandangan Arthur tertuju pada Sheena, Sheena mengacungkan dua jempolnya pada Arthur. Selama Arthur bernyanyi, Belinda memperhatikan kalau Arthur selalu melihat kearah Sheena. Hanya sesekali saja pandangan Arthur mengedar kearah lain.
__ADS_1
“Hmmmm sepertinya ada sesuatu,” gumam Belinda dalam hati.
Bersambung... Yang mau lihat persembahan terakhir Arthur menyanyi untuk Sheena, cusss ke ig author aja ya @dydyailee536 🙏❤️