My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 227 Gairah Pengantin Baru


__ADS_3

“Rambut kamu sudah bersih, Bel. Sekarang kamu mandi dulu ya.”


“Katanya mau mandi berdua.” Ucap Belinda.


“Aku pesan makanan dulu ya dan aku juga belum ganti baju.”


“Ya sudah, aku bantu lepasin ya. Kalau aku tinggal lepas handuk saja. Masa kamu tidak tergoda dengan tubuh istri kamu ini.”


Arthur tertawa. “Sumpah, kamu gemesin banget. Kamu tunggu ya, sabar. Aku tidak mau nanti kita kelaparan.” Ucapnya sambil mengelus kepala Belinda. Arthur kemudian keluar dari kamar mandi dan segera memesan makanan. Belinda sendiri sudah memancing Arthur dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya tapi nyatana Artuhur tidak bereaksi.


“Apa aku kurang seksi? Apa tubuhku tidak seseksi Grace?” gerutunya dalam hati. Belinda kemudian menyusul, keluar dari kamar mandi. Ia kemudian memeluk Arthur dari belakang.


“Apa sudah selesai telepon?”


“Sudah, Bel. Kamu ini mengagetkanku saja.”


“Apa kamu tidak mencintaiku?”


“Kenapa kamu tanya seperti itu?”


“Ini kan malam pengantin tapi kamu biasa saja.”


Arthur menghela. Ia kemudian berbalik menghadap Belinda. “Kamu ingin aku melakukan apa?”


“Lakukan saja apa yang kamu mau.” Ucap Belinda dengan tatapan manja.


“Tapi janji ya jangan menangis?”


“Memangnya apa yang ingin kamu lakukan padaku? Sampai meminta aku untuk tidak menangis.”


“Kalau ini hal pertama bagimu rasanya sangat sakit.”

__ADS_1


“Memang apanya yang sakit?”


Arthur kemudian menarik pinggang Belinda. Ditatapnya kedua bola mata yang sedikit sipit itu. “Kamu siap tidak?”


“Siap dong. Untuk apa aku memakai handuk begini kalau bukan untuk memancing gairahmu.”


“Wah, kamu nakal juga ya ternyata.”


“Iya. Aku memang sangat nakal tapi nakal hanya denganmu saja.” Keduanya saling menatap lalu saling tersenyum. Melihat sikap Belinda yang semakin merajuk, justru membuat Arthur sangat senang meskipun tetap tersimpan rasa canggung dihatinya.


“Baiklah, kini aku akan melepas kendaliku.”


“Oke siapa takut, kita lepaskan sama-sama suamiku.”


“Oke, mari kita lakukan.”


“Tapi jangan panggil aku Belinda.”


“Panggil aku sayang, supaya suasana semakin romantic dan hangat.”


“Oke baiklah, sayang. Dan jangan panggil aku Kakak.”


“Lalu apa?”


“Panggil aku sayang juga.”


“Baiklah sayangku, suamiku.” Kata Belinda dengan senyum lebarnya yang sungguh menggemaskan itu. Arthur kemudian mengecup kening Belinda. Dan keduanya pun mulai berciuman. Permulaan, ciuman keduanya sangat lembut saling merasakan betapa lembutnya kedua bibir itu ketika saling bersentuhan. Ciuman keduanya lalu semakin panas dan semakin bergairah. Arthur lalu menggiring tubuh mungil Belinda kearah sofa. Hingga ciuman itu beralih ke sofa dengan posisi Belinda berada diatas pangkuan Arthur. Setelah puas berciuman, kening keduanya beradu. Gairah keduanya mulai memuncak. Tangan Belinda lalu melucui kemeja Arthur. Arthur pasrah dan membiarkan Belinda melucuti pakaiannya. Sementara tangan Arthur, melepas handuk yang melilit tubuh Belinda. Kini tampaklah tubuh Belinda terbuka tanpa sehelai benang pun. Gunung kembar yang tidak terlalu besar namun bulat dan menggemaskan, membuat Arthur langsung menyukainya. Arthur lalu meminta Belinda untuk berdiri. Ia ingin melihat kemolekan tubuh istrinya. Belinda menurutu saja namun ia justru menjadi malu, telanjang bulat dihadapan suaminya.


“Sayang, sekarang lepas celanamu. Aku malu kalau harus telanjang sendirian.” Pinta Belinda dengan manja. Arthur tersenyum. Ia kemudian berdiri dan menuntun tangan Belinda untuk melepaskan celananya.


“Kamu lepas sendiri sayang.” Ucap Arthur. Tentu saja Belinda mengangguk dan perlahan melepas ikat pinggang, melorot celana Arthur dan terakhir cd milik Arthur. WOW! Belinda dibuat tercengang melihat bastone milik Arthur yang sudah menegak seperti keadilan yang sedang di perjuangkan.

__ADS_1


“Sayang, besar.” Ucap Belinda.


“Kamu mau bermain seperti apa?”


“Apa saja. Mau makan bastone seperti ice cream boleh?”


“Lakukan saja apa maumu.” Ucap Arthur. Belinda lalu mendorong Arthur hingga terduduk di sofa. Belinda mulai melancarkan aksi fantasi sek..sualnya pada Arthur. Belinda berlutut daihadapan Arthur yang duduk di sofa, ia membuka lebar kaki Arthur. Dan ia mulai menyentuh bastone dengan lembut, menjilat ujungnya perlahan, membuat de…sahan kecil keluar dari bibir Arthur. Lalu Belinda mulai mengulumnya dari perlahan hingga dengan ritme yang cepat. Membuat Arthur melenguh sambil mengelus kepala Belinda. Gairah Arthur yang sudah di puncak ubun-ubun, membuatnya menghentikan aksi Belinda. Kina ia meminta Belinda untuk duduk di sofa dan membuka lebar kaki Belinda. Tampak lembah yang halus, membuat Arthur penasaran ingin bersilaturahmi kesana. Arthur membelainya lembut, membuat Belinda menggeliat kecil. Arthur kemudian mengecupnya perlahan, tercium aroma yang sangat harum. Lalu ia perlahan menjulurkan lidahnya dan menyentuh lembah itu dengan lembut. Belinda melenguh hebat sambil mere..mas kepala Arthur. Terdengar bunyi kecapan bibir dan lidah Arthur yang bermain di lembah milik Belinda. Susana didalam kamar semakin panas. Gairah bercinta keduanya tak terelakkan lagi. Arthur dan Belinda melakukan fantasi bercinta dengan sangat hebat dengan berbagai macam posisi untuk saling memuaskan.


Tangisan dan rengekan kecil pun keluar dari bibir Belinda saat bastone berusaha menerobos lembah milik Belinda.


“Sayang, sakit. Plean-pelan dong.” Rengek Belinda.


“Tahan sayang. Namanya juga baru pertama kali.” Ucap Arthur dengan nafas terengah. Dan setelah mencoba beberapa kali karena ia tidak tega melihat Belinda merengek sakit, akhirnya bastone berhasil menembus pintu lembah dan tenggelam masuk kedalam lembah itu. Keduanya kompak melenguh bersama saat dinding pertahanan dalam lembah itu runtuh. Kini giliran bastone untuk memompa di dalam lembah. Kini Belinda bisa tersenyum merasakan kenikmatan saat bastone maju mundur di dalam liang senggamanya. Suara decapan khas bercinta tentu tidak ketinggalan. Suaranya begitu nyaring dibarengi dengan de…sah nikmat dari bibir keduanya.


“Aku tidak akan lagi menahannya, Bel. Aku benar-benar akan mengurungmu di kamar ya. Kamu pikir aku kemarin tidak tersiksa dengan rayuanmu itu.”


“Lakukan saja sayang. Aku siap di kurung dan siap memuaskanmu.”


“Dasar ya, kamu kecil-kecil cabai rawit juga.”


“Iya dong. Aku akan membuatmu selalu ketagihan.”


“Terima kasih ya sudah mau menjaganya.”


“Pasti. Sekalipun aku tinggal di luar negeri, aku tetap mengerti batasanku. Ayo sayang, kamu hentak lagi sampai aku keluar.” Ucap Belinda sambil membelai wajah suaminya.


“Siap laksanakan!” Arthur kembali memberikan hentakan khas bercinta yang membuat gairah Belinda semakin memuncak. Hasrat keduanya tidak dapat terbendung lagi sampai pada akhirnya keduanya merasakan diatas puncak kenikmatan yang tiada tara. Belinda merasakan semburan hangat bastone di dalam rahimnya. Sementara Arthur merasakan denyutan dan jepitan dari otot-otot rahim Belinda. Gairah pengantin baru yang tak dapat terbendung lagi. Belinda yang memang senang menggoda Arthur, sebelum menikah ia sudah memepelajari segala macam posisi bercinta lewat blue film. Ia benar-beanr teracuni saat pertama kali melihat Arthur yang bertelanjang dada dihadapannya. Sejak saat itu otaknya menjadi kacau dan berfantasi liar. Namun kali ini ia benar-benar melepaskan fantasinya untuk memuaskan suaminya. Dan benar saja pengalaman malam pertama, membuat Arthur begitu puas dan sangat senang dengan pelayanan yang diberikan oleh Belinda.


“Istri mesumku.”


“Tapi memuaskanmu kan?” bisik Belinda.

__ADS_1


“Sangat sayang.” Keduanya pun terkulai lemas diatas tempat tidur sampai akhirnya tertidur. Sekalipun bangun lagi, mereka kembali menghabiskan waktu untuk bercinta lagi.


__ADS_2