My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 153 Pelajaran Hidup


__ADS_3

Belinda terkejut saat tiba di rumah, Papanya sudah datang. Tuan Keenan menatap kearah belanjaan Belinda.


''Pap-Papa,'' ucapnya tergagap.


''Belanja lagi? Darimana kamu dapat uang?'' tanya Tuan Keenan dengan sinis.


''Mmmm ini, Kak Arthur yang membelikannya.'' Jawab Belinda sambil melirik kearah Arthur yang berdiri di sampingnya.


''Arthur?'' ucap Tuan Keenan sambil mengarahkan pandangannya pada Arthur.


''Iya Om. Aku yang membelikannya untuk Belinda. Hanya hadiah kecil saja.'' Jawab Arthur.


''Kamu masuk ke kamar, Bel.'' Perintah Tuan Keenan.


''I-iya Pah.'' Jawab Belinda seraya berlalu menuju kamarnya.


''Arthur, ikut Om ke ruang kerja ya.''


''Baik Om.'' Jawab Arthur.


Kini Tuan Keenan dan Arthur duduk saling berhadapan di ruang kerja. Tuan Keenan kemudian mengeluarkan lembaran print out mutasi rekening Belinda.


''Kamu lihat ini, Arthur.'' Ucap Tuan Keenan.


''Apa ini, Om?''


''Lihat saja, Arthur.''


Arthur begitu terkejut melihat nominal uang yang di transfer oleh Belinda, sekaligus pengeluaran Belinda yang begitu boros setiap bulannya.


''In-ini milik Belinda, Om?''


''Iya. Sejak dekat dengan pria asing itu, dia semakin boros. Sudah boros tapi semakin boros. Dan yang lebih mengejutkan uang 2 Milyar di kirim ke rekening atas nama pria itu.''


''Belinda dan Arsen ini sama-sama bodoh memilih kekasih. Mudah sekali di manfaatkan.'' Gumam Arthur dalam hati.


''Lalu Om, apa yang harus aku lakukan dengan semua ini?''

__ADS_1


''Arthur, untuk itu Om ingin kamu menjadi pendamping hidup Belinda. Dia butuh sosok pria seperti kamu. Om tidak bisa merestuinya dengan sembarangan orang. Om tidak melihat status sosialnya tapi kalau seperti ini? Kasihan Belinda kan. Dia masih polos untuk menghadapi berbagai macam sifat manusia. Dan dia mudah sekali di bodohi, begitu juga dalam memilih teman. Semua teman-temannya hobinya hangout dan happy-happy saja. Saat ini Om sedang menyita semua kartu kreditnya, bahkan mobilnya. Kamu jangan manjakan dia ya tapi ajari dia.''


''Ajari bagaimana Om?''


''Ajak dia bekerja di perusahaan kamu. Supaya dia punya tanggung jawab dan tidak foya-foya. Ajari dia arti kehidupan itu seperti apa. Om ingin dia menjadi lebih dewasa. Bukan menjadi gadis manja seperti ini.''


''Kenapa tidak di perusahaan Om saja?''


''Arthur, kalau dia perusahaan Om, sudah pasti dia tidak akan serius belajar dan bekerja karena itu perusahannya sendiri. Kalau di perusahaan orang lain, dia akan lebih tanggung jawab.'' Mendengar ucapan Tuan Keenan, Arthur terdiam sejenak dan berusaha memikirkan sesuatu.


''Baiklah aku akan meminta Belinda menjadi sekretarisku, Om.''


''Itu ide bagus, Arthur. Kalau seperti itu, kamu bisa memantaunya langsung. Kalau dia melakukan kesalahan, Om rela sekali kamu memarahinya dan memberinya hukuman. Om ingin Belinda berubah. Biarkan besok dia berangkat kerja naik angkot atau taksi. Maafkan Om kalau merepotkan kamu dan Om terkeksan egois. Karena saat ini yang Om percaya adalah kamu, Arthur. Kalau Belinda ingin menemui pria itu, biarkan saja. Om ingin tahu bagaimana kalau semua fasilitas Belinda Om cabut, apa yang akan di lakukan pria asing itu. Om tidak ingin kejadian Arsen terulang lagi. Jadi Om mohon sekali bantuan kamu, Arthur.''


''Iya Om, aku pasti akan membantu Belinda untuk Om dan Tante Dira. Kebetulan aku juga sedang membutuhkan sekretaris baru.''


''Om juga sudah bicara dengan Papa kamu dan Papa kamu tidak masalah. Setelah ini, Om akan bicara pada Belinda. Kamu bersikap profesional saja padanya, tidak usah sungkan-sungkan untuk menegurnya.''


''Iya Om. Aku pasti akan melakukan yang terbaik.'' Ucap Arthur penuh dengan keyakinan.


Setelah selesai makan malam, Tuan Keenan mengumpulkan istri dan kedua anaknya di ruang keluarga.


''Ada apa sih Pah-Mah? Sepertinya ada sesuatu yang genting.'' Tanya Brian.


''Brian, mulai besok kamu harus kerja di kantor ya. Walau bagaimanapun, kamu juga pewaris. Kamu harus belajar mulai sekarang untuk membantu Oppa Arsen.'' Ucap Tuan Keenan.


''Iya Pah. Brian akan belajar dengan baik.''


''Tapi jangan menggoda karyawan disana, Brian. Jangan pikir Papa tidak tahu ya.'' Tegas Tuan Keenan.


''Hehehe maaf Pah. Brian hanya berusaha akrab saja dengan mereka.'' Ucap Brian sambil menggaruk kepalanya.


''Dan untuk kamu Belinda. Mulai besok kamu juga harus bekerja.''


''Oke Pah, tidak masalah.'' Jawab Belinda dengan entengnya. Belinda menganggap kalau dia akan bekerja di perusahaan milik keluarganya sendiri.


''Tapi kamu besok bekerja di perusahannya Om Darwin, sebagai sekretaris Arthur.'' Jelas Tuan Keenan.

__ADS_1


Mata Belinda membulat. ''Apa? Jadi sekeretarisnya Kak Arthur? Papa tidak salah? Kita kan punya perusahaan sendiri.''


''Justru itu, kalau di perusahaan sendiri, kamu hanya bisa main-main dan jadi pemalas karena kamu bersikap bossy.''


''Itu si Brian kok enak di perusahaan sendiri.''


''Beda lagi porsinya. Brian dibawah pengawasan Papa langsung dan dia nanti yang akan membantu Oppa mu di perusahaan. Brian juga memulainya dari bawah.'' Jelas Tuan Keenan.


''Papa nggak adil banget sih.'' Kesal Belinda.


''Itu yang lebih adil, Bel. Sudah saatnya kamu berubah. Ingat sayang, tidak selamanya kehidupan kita di atas. Papa melakukan semua ini, untuk kebaikan kalian.'' Imbuh Nyonya Dira.


''Besok Brian juga Papa tempatkan menjadi staf biasa. Bahkan Papa tidak mengatakan kalau dia putra kandung Papa.'' Sambung Tuan Keenan.


''Ap-apa Pah? Papa tidak mengakui Brian? Dan yang benar saja Brian jadi staf biasa?'' Brian tidak menyangka dengan keputusan Papanya.


''Iya Brian. Kamu juga harus belajar dari bawah. Supaya kamu tidak menghabiskan uangmu untuk para gadis-gadis dan tebar pesona diluar sana. Sudah saatnya kamu mencari seorang gadis yang tulus mencintai kamu tapi melihat statusmu. Papa juga akan mencabut semua fasilitas kalian berdua.''


''APA?'' ucap Belinda dan Brian dengan kompak. Mereka sama-sama melotot tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Papanya.


''Iya. Kenapa kalian kaget? Kalian bebas, mau naik ojek, naik angkot ataupun taksi. Papa akan memberi uang saku satu bulan untuk transport dan untuk kalian makan. Bulan berikutnya setelah menerima gaji, kalian kelola dengan baik gaji kalian. Tinggalkan nama Dirgantara dari nama kalian berdua. Belajarlah mandiri dan cari jati diri kalian. Dan setelah resepsi pernikahan Kakakmu, kalian juga harus pindah dari rumah ini.''


''Papa mengusir kita?'' tanya Belinda tidak percaya.


''Tidak mengusir, Bel. Papa sudah menyiapkan dua rumah untuk kalian tinggali. Kalian masih boleh kok berkunjung kemari atau sesekali menginap. Papa ingin membuat kalian menjadi lebih mandiri saja. Kalau kalian sudah banyak berubah, Papa yang akan menjemput kalian pulang. Dan Papa akan langsung membelikan dua unit rumah mewah sesuai keinginan kalian, beserta fasilitas yang lain. Itu kalau kalian berhasil melewati tantangan dari Papa.''


''Pah, nanti aku tidak bisa bebas dong? Jadi cowok kere dong, Pah.'' Protes Brian memelas.


''Brian-Belinda, kalian nanti pasti akan mengucapkan terima kasih kepada Papa dan Mama untuk semua pelajaran ini. Kalian tetap anak Papa dan Mama. Tapi kalian harus belajar mandiri juga dengan meninggalkan nama Dirgantara untuk sementara. Kalian pasti bisa.'' Sahut Nyonya Dira yang berusaha memberi semangat putranya.


''Pah, aku boleh minta motor aja Pah. Motor butut tidak apalah daripada naik angkot.'' Kata Brian.


''Mmm Belinda juga, Pah. Motor matic gitu tidak masalah, meskipun bekas juga. Daripada desak-desakan naik angkot, belum lagi macet.'' Timpal Belinda.


''Oke, tidak masalah.'' Jawab Tuan Keenan. Brian dan Belinda kompak menghela nafas panjang, setidaknya untuk trasportasi keduanya tidak naik angkot. Apalagi Belinda, tidak mungkin harus berdesakan naik angkot.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2