
Selama perjalanan menuju kantor, Belinda dan Arthur tidak banyak bicara, keduanya kompak diam. Belinda marah karena Arthur tidak menghabiskan makanannya. Sementara Arthur bergelut dengan perasaannya sendiri. Namun Belinda tidak bisa berada di situasi seperti itu.
''Kenapa sih makanan buatan ku tidak kamu habiskan?'' Belinda masih menanyakan itu pada Arthur.
''Aku sudah kenyang.'' Singkat Arthur.
''Setidaknya bisa hargai sedikit usahaku untuk membuatkan mu sarapan.'' Ucap Belinda dengan suara memelan.
''Aku kan sudah memakannya dan meminum susunya. Aku lebih senang sarapan dengan nasi daripada dengan roti.''
''Kenapa kamu tidak bilang? Lalu biasanya kamu sarapan dengan apa?''
''Aku menyukai nasi goreng dengan toping telur dadar yang menggunakan irisan cabai.''
''Oh begitu. Sorry, aku tidak tahu. Karena selera kita berbeda.''
''Sepertinya memang kita berbeda.'' Kata Arthur dengan tegas. Entah kenapa ucapan Arthur itu membuat Belinda merasa sedih.
Sesampainya di kantor, Belinda melihat Grace yang sudah berdiri di depan kantor Arthur.
''Itu kekasih gelapmu sudah menunggu, '' ketus Belinda.
''Dia sahabatku, bukan kekasihku.''
''Sahabat? Bulshit! Tidak ada persahabatan yang murni antara seorang pria dan wanita.'' Sinis Belinda. Belinda dengan kesal lalu turun dari mobil Arthur. Bahkan ia menutup pintu Arthur dengan kasar. Arthur hanya bisa menghela. Ia kemudian turun dari mobilnya.
''Pagi Nona! " sapa Belinda pada Grace yang sudah berdiri di depan pintu.
''Pagi Belinda. Kamu kenapa bisa satu mobil dengan Arthur?''
''Oh tadi saya nebeng Nona. Karena motor saya mogok. Tidak sengaja bertemu di jalan. Permisi.'' Jelas Belinda seraya berlalu dengan perasaan kesalnya. Arthur juga mendengar alasan Belinda pada Grace.
''Selamat pagi Arthur.'' Sapa Grace seraya cipika-cipiki kepada Arthur.
''Ada apa? Kenapa sepagi ini?'' tanya Arthur dengan ekspresi datarnya.
''Kamu kenapa? Kenapa wajahmu datar sekali? Aku kesini untuk membawakan mu sarapan.''
''Iya, mungkin terlalu lelah. Baiklah ayo keruanganku.'' Ajak Arthur.
''Oke.''
Setibanya di ruangan Arthur, Grace langsung duduk di sofa dan membuka kotak makan yang ia bawa. Arthur juga duduk di samping Grace. Sementara Belinda memilih acuh dan sibuk dengan layar komputernya.
''Nasi goreng dan telur dadar kesukaanmu. Aku bangun pagi sekali untuk membuatkanmu ini. Tapi maaf ya kalau rasanya tidak sama seperti dulu.''
''Oke, aku akan memakannya. Karena aku juga belum sarapan.''
''Baiklah, aku penasaran melihat reaksimu.'' Ucap Grace sambil memperhatikan Arthur makan.
__ADS_1
''Bagaimana?'' tanya Grace.
''Mmmmm enak. Rasanya masih sama.'' Ucap Arthur sambil mengacungkan jempolnya untuk Grace.
''Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya.''
''Halo Erick! Iya, aku sudah di kantor. Kamu dimana?'' suara Belinda yang keras, membuat Arthur dan Grace kompak menoleh kearah Belinda.
''Baiklah, aku akan kesana. Tunggu ya.'' Belinda mengakhiri panggilannya. Belinda lalu beranjak dari duduknya dan mendekat kearah Arthur.
''Tuan Arthur, saya permisi keluar sebentar ya.'' Ucap Belinda seraya berlalu dengan senyum lebarnya. Arthur hanya mengangguk pelan karena sebenarnya ia tidak rela jika Belinda pergi.
''Sepertinya hubungan Nona Belinda dan Erick semakin akrab ya.''
''Mmmm aku tidak tahu soal itu, Grace.''
''Aku yakin Erick akan segera menyatakan cintanya pada Nona Belinda. Menurutku mereka sangat serasi sekali. Bagaimana menurutmu?''
''Biasa saja. Aku tidak terlalu mencampuri urusannya. Dia masih muda dan pikirannya juga masih labil. Jadi ya pasti perasaannya juga belum pasti.''
''Tapi aku berharap mereka berdua jadian. Supaya Nona Belinda mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Aku juga kasihan pada Nona Belinda apalagi setelah mendengar ceritanya dari Erick kalau Nona Belinda tinggal di rumah yang sangat kecil dan sederhana.''
''Sudahlah tidak usah memikirkan mereka.''
''Oh ya, bagaimana denganmu? Aku ingin tahu siapa wanita yang di jodohkan denganmu.''
''Nanti kamu juga akan tahu. Minggu depan kami akan bertunangan.''
''Cinta itu pasti akan datang seiring berjalannya waktu. Yang jelas sepertinya aku sudah mulai merasakan sesuatu yang berbeda di hati aku.''
''Apa tidak ada lowongan untukku di hati kamu?'' celetuk Grace.
''Grace, please! Jangan bercanda seperti itu lagi. Aku tidak membuka lowongan lagi dan aku sudah menutupnya.'' Ucap Arthur terkekeh.
''Baiklah, apapun pilihanmu, aku mendoakanmu semoga kamu selalu bahagia.''
''Kamu juga carilah pasangan. Kamu mau mencari yang seperti apa? Biar aku bantu mencarikannya.''
''Yang tulus mencintaiku seperti Anthony. Oh ya kapan iklannya akan di tampilkan di televisi? Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya.''
''Setelah aku selesai bertunangan saja. Sekaligus aku akan melaunching produk baru daur ulang ku. Jadi pastikan nanti kamu datang ya.''
''Oke baiklah, aku akan datang. Siapa tahu di acara pertunanganmu aku menemukan jodohku?''
''Yeah, ide bagus. Siapa tahu saja kan.'' Ucap Arthur dengan senyum lebarnya.
Belinda dan Erick kini sedang duduk bersama di taman kantor.
''Terima kasih ya, Erick. Kamu baik sekali. Seharusnya kamu tidak usah repot-repot.''
__ADS_1
''Aku sama sekali tidak repot kok.''
''Terima kasih ya kamu sudah baik dan mau berteman denganku dengan tulus. Apalagi kita baru kenal beberapa hari tapi kamu sudah perhatian dan baik banget sama aku.''
''Aku hanya mengikuti kata hatiku saja, Bel. Aku ingin dekat denganmu saja. Oh ya karena aku fotografer, apa aku boleh mengambil gambarmu?''
''Kamu mau memotretku?''
''Iya.''
''Tapi dimana? Aku sedang makan. Mulutku pasti belepotan saos ini.'' Kata Belinda dengan mulut penuh makanan.
''Begini saja. Aku ingin memotret apa adanya diri kamu, Bel.''
''Erick, aku terlihat jelek.''
''Tidak Bel, kamu sangat cantik tanpa make up tebal. Ayolah! " bujuk Erick.
''Oke baiklah! Harus bagus ya.''
''Pasti! " Dan Erick mulai mengambil gambar Belinda. Erick begitu piawai mengambil angle gambar yang pas. Meskipun Belinda sedang makan tapi hasil fotonya sangat bagus. Setelah mendapatkan beberapa jepretan, Erick menunjukkan hasil fotonya pada Belinda.
''Lihatlah, Bel. Kamu terlihat natural. Kamu bahkan tidak canggung sama sekali. Seperti sudah biasa berpose.''
''Ah masa sih? Padahal aku asal gerak aja. Tapi ini bagus juga ya, foto sambil makan pun jadi lho. Kamu memang hebat. Bahkan bibir aku yang belepotan ini terlihat natural sekali. Kamu memang keren.'' Puji Belinda yang puas dengan hasil jepretan Erick.
''Kamu adalah wanita yang sangat unik yang pernah aku kenal, Bel.''
''Jangan membuatku besar kepala, Erick. Aku ini bawel, manja, cerewet dan keras kepala.'' Ucap Belinda.
''Justru itu, aku menyukai itu semua.''
''Baru kali ini ada seorang pria yang menyukai ku apa adanya. Berbeda dengan Kak Arthur yang selalu mengatai aku bla bla bla. Tapi bagaimana? Minggu depan aku sudah mau bertunangan dengan Kak Arthur. Mana kita sudah berciuman pula. Aduh, bikin bimbang nih.'' Gumam Belinda dalam hati. Erick lalu mengambil sapu tangan dari sakunya. Belinda terkejut dan gugup saat Erick menyentuh dagunya membersihkan mulutnya yang berantakan karena sisa makanan.
''Belinda, yakinkan perasaanmu. Siapa yang kamu pilih?'' gumamnya dama hati. Kini kedua mata itupun bertemu. Belinda kemudian terbatuk dan Erick segera memberikan Belinda minum.''
''Terima kasih.''
''Pelan-pelan, Bel.'' Ucap Erick dengan lembut.
''Erick, sepertinya aku harus segera kembali ke ruangan. Karena tadi sudah ada Tuan Arthur di dalam.''
''Oh ya tadi aku melihat Nona Grace. Apa dia bersama Tuan Arthur?''
''I-iya. Mereka sedang sarapan bersama. Aku kembali dulu ya. Takut Tuan Arthur marah. Sekali lagi terima kasih ya.''
''Baiklah, selamat bekerja. Kalau tidak sibuk, bagaimana kalau nanti makan malam?''
''Oke, tidak masalah. Bye Erick! "
__ADS_1
''Bye Belinda.''
...Bersambung.... Yukkkk like, komen dan vote yang banyak ya, makasih🙏🥰...