My Perfect Husband

My Perfect Husband
Rania panas


__ADS_3

Sisa hujan yang malam tadi mengguyur cukup deras sudah menguap kembali karena panas matahari. Ketika panas matahari sudah menyengat kulit, maka hari sudah dianggap siang oleh beberapa orang. Tapi bagi pelajar yang setiap hari bergelud dengan buku-buku tebal, walau seterik apapun panas matahari, mereka akan memanfaatkan waktu libur sehari ini untuk malas-malasan. Kebanyakan pasti lebih memilih guling-guling di tempat tidur sambil berselancar di dunia maya.


Seperti Naynay yang masih tidur di dalam pelukan hangat Afif setelah dini hari tadi ngidam makan ice cream rasa vanila. Permintaannya itu membuat Afif dan Hendrayan kelabakan mencari mini market yang masih buka. Banyak sih yang masih buka, tapi masalahnya ice cream rasa vanila itu tiba-tiba menjadi salah satu makanan langka.


Setelah hampir dua jam Afif dan Hendrayan mencari, akhirnya ada satu toko yang menjual ice cream vanila. Kedua laki-laki itu langsung memborong makanan manis tersebut untuk si bumil yang tadinya sampai menangis karena permintaannya sempat ditolak.


Mata Naynay terbuka ketika pelukan di tubuhnya bertambah erat. Sang pelaku yang sudah bangun sejak tadi mulai senyum-senyum tak jelas. Tunggu, kenapa Naynay merasa malu sekarang karena sempat mengatakan kangen kepada Afif tadi malam.


"Ayo kita di kamar seharian!" Afif menaikkan kakinya ke atas pinggang Naynay. Hal yang biasa dia lakukan ketika gemas dengan istrinya itu.


"Kita bakalan tidur seharian begitu?" tanya Naynay sambil memperbaiki beberapa helai rambutnya yang menutupi matanya.


Kesal, itu yang selalu Afif rasakan sekarang. Istrinya yang imut menggemaskan itu tidak pernah paham apa yang dia maksud. Masa iya, seharian di kamar cuma buat tidur doang.


'Aku sangat ingin membelah kepalamu dan memeriksa apakah otakmu bermasalah atau tidak, Hanaya!' Begitulah suara hati Afif yang sekarang berwajah malas.


"Kalau kau mau melakukan yang lain, ayo!" Dengan nada malas karena Naynay sudah mematahkan harapannya untuk ber-uwu ria di atas tempat tidur.


"Nay laper," cicit bumil itu menatap Afif dengan mata yang berbinar terang.


"Kau tidak merasa mual sekarang?" Afif baru menyadari kalau Naynay tidak mengalami morning sickness pagi ini.


Naynay menggeleng polos. "Enggak, Kak."


Afif turun dari tempat tidur dan keluar secepat kilat dari kamar. Naynay sendiri menatap pintu kamar yang sedikit bergerak sehabis dibuka kasar oleh suaminya tadi. Mau kemana beruang tampan itu sampai berlari dan melupakan image cool-nya?


Naynay membereskan tempat tidur dan pergi ke kamar mandi setelahnya. Dia hanya cuci muka dan gosok gigi saja, karena Naynay itu malas banget buat mandi. Setelah memastikan wajahnya bersih, Naynay keluar dari kamar mandi. Ternyata suaminya sudah kembali dan sedang duduk di sofa sambil memainkan hpnya.


Melihat Naynay keluar dari kamar mandi, Afif memberi kode dengan menepuk sofa di sampingnya. Setelah istrinya itu duduk, dia mengambil mangkuk berisi bubur ayam dari atas meja. Sarapan untuk mereka berdua adalah alasan beruang tampan itu sampai berlari keluar dari kamar.


"Aku suapi, setelah ini kita akan menyusun kegiatan apa yang akan kita lakukan." Beruang tampan meniup sesendok bubur di tangannya sebelum masuk ke dalam mulut kecil koala buntingnya.

__ADS_1


"Tapi kita nggak beneran di kamar seharian kan, Kak?" tanya Naynay memastikan agar bisa antisipasi dari sikap gila plus ganas Afif.


"Itu terserah aku nantinya," ucap Afif santai membuat Naynay pasrah. Tangan kekar laki-laki itu terus bergerak menyuapi Naynay dan dirinya sendiri bergantian sampai akhirnya bubur di mangkuk itu habis.


Tiba saatnya mereka menyusun kegiatan apa yang akan dilakukan hari ini. Beruang tampan dan koala bunting sudah duduk di atas tempat tidur sambil memegang hp masing-masing.


"Nay pengin hunting snack sepuasnya!" Usulan pertama terdengar dari si koala bunting.


"Di mana?" tanya beruang tampan.


"Di mall aja, tapi Kakak nggak boleh pake acara tutup mall segala!" Ultimatum tak kasat mata dapat ditangkap beruang tampan dari kalimat si koala bunting.


Beruang tampan mengangguk tanda menyanggupi. "Baiklah. Apa lagi?"


Koala bunting berpikir keras, apa yang akan dia usulkan lagi. "Kita ke panti sehabis dari mall."


"Oke!" Beruang tampan kembali mengangguk pertanda setuju.


"Udah, Nay cuma mau dua kegiatan aja." Jari telunjuk dan jari tengah koala bunting memperjelas ucapannya tentang dua kegiatan yang dia inginkan.


"Baiklah kalau begitu, sekarang pergi mandi!" Dagu Afif mengarah ke kamar mandi yang pintunya terbuka lebar.


"Kakak nggak ada usulan gitu?" tanya Naynay heran.


"Keinginanku hanya satu," ucap Afif sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah. "Kita akan di kamar semalaman, di rumahku!"


Nahhh, perasaan Naynay sudah tidak enak tuh. Kamar menjadi ruangan yang paling ditakuti Naynay, pasalnya si beruang tampan auto berubah menjadi singa lapar haus belaian saat di dalam sana. Suka cium-cium, kadang tangannya bergerak nakal di beberapa bagian tubuh Naynay. Baru saja Naynay bersorak riang dalam hati karena tidak jadi di kamar seharian bersama satu makhluk dengan tiga nyawa itu. Satu manusia sombong, satu lagi beruang tampan, dan yang satunya lagi adalah singa lapar itu.


Akhirnya, setelah siap dengan pakaian casual, Afif dan Naynay sudah duduk anteng di dalam mobil. Sopir sudah pasti adalah si sekretaris yang merangkap menjadi semua profesi demi melayani Tuan dan Nona mudanya. Di kursi samping sopir, duduklah si jomblo Rania sambil tersenyum senang karena diajak Naynay jalan-jalan. Ya siapa tahu nanti ditraktir ini-itu sepuasnya, kan? Hahaha, Rania senyum-senyum sendiri.


Sekitar 45 menit berkendara, mereka akhirnya tiba di mall. Setelah memarkirkan mobil, Afif langsung saja menggandeng mesra jemari Naynay dan meninggalkan Rania berdua dengan Ryan. Mereka berempat sudah memakai masker dan kacamata hitam agar tidak dikenali.

__ADS_1


"Aku ditinggal dong!" ucap Rania tak percaya ketika Afif dan Naynay sudah tak terlihat lagi oleh matanya.


Ryan menepuk pundak Rania pelan. "Anda mau sampai kapan di sini, Nona?"


"Yaudah, ayo kita susul Naynay!" Dengan semangat gadis perawan itu berlari meninggalkan Ryan sendirian. Laki-laki itu tertegun karena tidak menduga bahwa sahabat nona mudanya bisa se-natural itu dalam bersikap.


Di supermarket mall, Naynay kalap memandangi semua snack manis yang berjejer di kiri kanannya. Troli yang dia dorong sudah penuh. Matanya masih berbinar menatap semua makanan manis di sana, tapi tatapan dingin Afif membuatnya mengurungkan niat untuk membelinya.


Tapi walaupun Afif menatap Naynay dingin, tangan laki-laki itu terus menggenggam tangan istrinya itu. Sesekali Afif juga mencuri kecupan di pipi Naynay yang tertutupi masker hitam. Pemandangan yang membuat Rania panas dalam sendiri di belakang. Sambil mendorong trolinya, dia mengomel di dalam hati.


'Harusnya tadi aku menolak untuk ikut pergi, aku benar-benar tidak siap menonton ke-uwu-an ini.'


Ryan sendiri menahan tawa melihat ekspresi Rania yang masam. Dia sendiri sudah lumayan terbiasa melihat beruang tampan dan koala bunting mesra-mesra di depannya. Jadi dia ya biasa-biasa saja.


"Semoga aku cepat dapat pacar." Rania berdoa dengan suara lirih dan tangan dengan sikap berdoa, tapi sialnya di dengar oleh Ryan yang masih berjalan di sampingnya.


"Sekolah dulu, Nona. Jodoh sudah diatur oleh Tuhan, akan bertemu juga walau pernah tersesat di hati orang lain." Wahh, Ryan sukses membuat Rania mengangkat kedua jempolnya ke depan wajah.


"Mantap, Kak!" pekik gadis itu terkesima mendengar kalimat pencerahan dari Ryan yang hidungnya mulai kembang-kempis bangga.


"Jadiin story bagus nih." Rania segera meng-upload kata-kata menyejukkan hati para jomblo tadi ke laman instastory-nya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Up selanjutnya diusahakan dua bab, ya....


InsyaAllah....


__ADS_2