
Keesokan harinya, saat Brian membuka mata, ada sosok wanita cantik yang begitu dicintainya ada dihadapannya.
''Akhirnya, aku bisa memiliki kamu, Gea. Baru kali ini aku mencintai seorang wanita seperti mencintaimu.'' Gumam Brian dalam hati sambil memandangi wajah cantik wanitanya. Perlahan, Gea terbangun sambil mengulat. Matanya terbelalak melihat pria yang ada dihadapannya.
''BRIAN!" seru Gea yang segera melepaskan tubuhnya dari dekapan Brian.
''Tuh kan lupa, marah.'' Keluh Brian.
''Apa yang kamu lakukan?''
''Apaan sih, cuma tidur bareng aja. Kamu suka lupa deh.'' Kesal Brian sambil beranjak dari tempat tidur.
''Pakaian kamu juga masih utuh.''
''Hehehe maaf, aku setiap bangun tidur selalu saja ingat kejadian buruk itu.''
''Ya sudah kamu balik ke kontrakan kamu dan mandi ya. Aku juga mau mandi. Oh ya kamu berangkat saja dulu ya.''
''Kamu mau kemana?''
''Ada urusan sebentar.''
''Oke.'' Jawab Gea tanpa menaruh rasa curiga.
Setelah Gea berangkat ke kantor, Brian pergi kerumah kedua orang tuanya. Sungguh, Brian merindukan segala kemewahan itu.
''Morning Pah-Mah,'' sapa Brian dengan wajah lesunya begitu sampai dirumah kedua orang tuanya.
''Hei sayang.'' Nyonya Dira memberikan pelukan dan kecupan untuk putra bungsunya itu. Nyonya Dira selalu lupa kalau Brian itu sudah dewasa.
''Ya ampun kamu kok kusam begini sih? Ya ampun sayang, wajah kamu juga makin tirus.''
''Iya lho, habis kemana saja kamu Brian?'' sahut Tuan Keenan dengan pura-pura tidak tahu apa yang di lakukan putra bungsunya dua hari belakangan ini.
''Mah-Pah, ngobrolnya nanti saja ya. Aku lapar.'' Rengek Brian.
''Ya sudah, ayo duduk! Kamu mau sama apa?''
''Semuanya Mah. Nasinya yang banyak, Mah.''
''Oke bontot kesayangan Mama.'' Nyonya Dira dengan semangat menuangkan nasi, sayur dan segala jenis lauk pauk. Sampai piring menggunung. Brian makan dengan tenang namun seperti orang kelaparan. Tuan Keenan dan Nyonya Dira dibuat tercengang dengan kerakusan Brian. Untuk pertama kalinya Brian makan seperti itu.
''Mah, sepertinya pengorbanan Brian sangat berat ya sampai membuatnya rakus begitu.'' Bisik Tuan Keenan dengan kekehannya.
''Iya Pah. Aduh, kasihan sekali anak Mama ini.''
''Biarin Mah. Biar dia tahu betapa susahnya hidup di kampung.''
__ADS_1
GROAK! Tanda Brian sangat kenyang.
''Hehehe maaf Pah-Mah, kelepasan. Oh, kenyang sekali perutku.'' Ucap Brian sambil mengelus perutnya.
''Jadi apa yang terjadi selama dua hari terakhir di rumah Gea?'' selidik Tuan Keenan.
''Papa tahu ya?''
''Iya, Hyung yang cerita.''
''Oke baiklah, aku akan menceritakan semuanya dari pertama sampai terakhir.'' Ucap Brian dengan semangat. Brian lalu menceritakan apa yang ia alami selama di rumah Gea. Mulai dari perjalanan saat berangkat sampai pulang. Nyonya Dira dan Tuan Keenan tidak bisa menahan tawa, mendengar cerita Brian yang melakukan hal-hal yang tidak pernah ia alami selama ini.
''Astaga, kamu mencangkul di sawah?''
''Iya Mah.''
''Persis banget sama Papa kamu. Kenapa dejavu gini ya, Pah?'' kenang Nyonta Dira.
"Memangnya Papa pernah apa?" tanya Brian.
"Pernah lah. Papa malah kesenengan naik kerbau."
"Hahahaha! Seorang Papa main ke sawah? Apa tidak jijik Pah?" ledek Brian.
"Eh kamu sama Mama kamu sama saja, malah ngledekin Papa. Terus gimana? Sudah dapat restu belum?"
"Hehehe sudah, Pah. Siapa sih yang bisa menolak pesonaku.''
''Mah, besok aku akan membawa Gea kerumah. Mama siapkan semuanya ya untuk Gea.''
''Kamu yakin Brian?'' tanya Tuan Keenan.
''Mama khawatir Gea akan marah sama kamu.''
''Semoga Gea mengerti, Mah. Sejujurnya aku juga khawatir. Tapi aku juga tidak bisa berbohong lama-lama pada Gea.''
''Berani berbuat berani betanggung jawab Brian. Itu sudah menjadi resiko keputusanmu.'' Sahut Tuan Keenan.
''Apa aku hamili Gea saja ya Pah-Mah, dengan begitu Gea tidak akan kabur.'' Celetuk Brian asal.
''Eh-eh jangan gila kamu, Brian.'' Tegur Tuan Keenan.
''Ide bagus, Brian. Dengan begitu Mama langsung punya cucu banyak sekaligus.'' Timpal Nyonya Dira.
''Mama ini malah mendukung anak melakukan hal yang tidak benar ya?'' Kesal Tuan Keenan.
''Hehehe becanda Pah.''
__ADS_1
''Becanda gimana? Kalau putramu nekat bagaimana? Kamu seperti tidak tahu kelakuannya ini.''
''Sudah, Papa dan Mama tidak usah berdebat. Aku akan menghadapi apapun resikonya. Sekarang Brian mau ke kantor dulu ya. Terima kasih untuk sarapan pagi yang super kenyang ini.'' Brian lalu mengecup pipi kedua orang tuanya secara bergantian, setelah itu pergi.
Sesampainya di kantor, Brian menuju ruangannya. Ia melihat Fani berulah lagi. Tampak Gea mengelap meja Fani yang tampak basah.
''Apa yang kamu lakukan Gea?''
''Eh Brian. Sudah datang rupanya? Ini meja Fani basah karena aku dia tidak sengaja menumpahkan teh.''
''Fan, kamu bisa membersihkannya sendiri kan?'' kata Brian dengan sorot mata penuh kekesalan.
''Tidak bisa! Sudahlah Brian, kamu jangan membelanya. Dia ini pantasnya memang jadi cleaning service, bukan staf begini. Terlalu tinggi untuk pendidikan yang rendah. Kalian ini sama saja ya. Couple kampungan.'' Ucap Fani dengan lagaknya yang sok. Brian mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarahnya. Seandainya Fani seorang pria, Brian pasti akan langsung menghajarnya.
''Tidak apa-apa Brian. Hanya mengelap meja saja.'' Sahut Gea berusaha mengalah.
Saat jam makan siang, Brian mengajak Gea menuju kantin.
''Aki tidak suka ya kamu menurut saja pada Fani. Disuruh apa-apa mau.'' Kesal Brian.
''Kamu tenang saja. Permintaannya masih wajar. Lagi pula yang dikatakan Fani itu benar. Kalau sudah tidak wajar, aku pasti akan melawan. Aku ingin bekerja dengan tenang Brian. Setelah aku pulang kemarin, aku melihat rona wajah bahagia dan bangga saat kedua orang tuaku tahu kalau aku kerja kantoran. Jadi aku tidak akan memupus harapan mereka padaku.''
''Gea, kamu...,'' Brian tidak bisa berkata-kata lagi dengan ucapan Gea. Brian meraih tangan Gea lalu menggenggamnya.
''Gea, bagaimana kalau besok aku ajak kamu menemui orang tuaku?''
''Kamu serius?''
''Iya aku serius.''
''Bukannya orang tua kamu di luar pulau?''
''Iya, mereka akan datang untuk kamu. Jadi bersiaplah untuk besok ya.''
''Aku kok deg-degan begini ya. Gimana ya Brian? Kira-kira mereka memberi restu kita apa tidak ya?''
''Mereka 100% akan menyetujui hubungan kita. Aku bisa jamin itu.''
''Lalu apa yang harus aku siapkan? Apa aku harus dandan? Atau memakai dress?''
''Pakailah pakaian yang membuatmu nyaman, Gea. Mereka akan menerima apa adanya diri kamu.''
''Tapi ya tetap saja aku deg-degan Brian. Masa iya mau bertemu mertua mau pakai pakaian asal-asalan.''
''Cieee mertua? Sudah siap nikah ya?'' goda Brian.
''Ihh apaan sih kamu, Brian.''
__ADS_1
''Gemes deh lihat kamu malu-malu kucing begini.'' Kata Brian sambil mencubit pipi Gea.
''Aku berharap, kamu mengerti alasanku, Gea. Semoga kamu tidak marah padaku.'' Gumam Brian dalam hati.