My Perfect Husband

My Perfect Husband
Keseruan di rumah Rosi


__ADS_3

Setelah adegan mellow antara Naynay dan Rosi tadi, mereka berempat memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Niatnya mau ke taman hiburan, tapi Afif tidak mengizinkan karena terlalu ramai. Yang sebenarnya dia takutkan adalah istrinya yang imut menggemaskan itu dilirik lelaki di sana.


Maka dari itu, mereka memutuskan untuk berkeliling mall saja. Sekalian Naynay ingin membeli baju-baju imut untuk Araa. Bayi itu duduk anteng di stroller sambil menggigit mainannya.


Rosi dan Rania sangat antusias memilih baju untuk Araa. Sedangkan Naynay sedang memilih bandana yang membuat air liurnya menetes, begitu menggoda. Naynay kemudian menggendong Araa dan membawa bayi itu ke tempat aksesori tadi.


"Araa mau yang mana?" tanya Naynay sambil mendekatkan Araa pada rak aksesori bayi di depannya.


Tangan Araa menarik satu jepit rambut yang paling dekat dengannya, kemudian membawa jepit rambut itu ke dalam mulutnya. Kebiasaan anak kecil yang giginya baru tumbuh memang suka gigit-gigit ya.


"Bubu aja yang pilihin, jangan digigit, Sayang." Naynay mengambil jepit rambut dari tangan Araa dan memanggil Rania.


"Kenapa?" tanya Rania yang membawa troli yang dipenuhi baju untuk Araa.


"Banyak banget, gak bakalan kepake semua..." ucap Naynay terkejut melihat isi troli yang bejibun itu.


"Ini kita udah pilihin size sampe Araa umur satu setengah tahun, tenang aja."


"Yaudah. Nih, sekalian masukin ke sana!" Naynay memasukkan jepit rambut yang tadi diambil Araa ke dalam troli. Kemudian tangannya kembali memilih aksesori unyu-unyu untuk putri angkatnya itu.


"Ini dari Uncle," ucap Ezriel seraya menyerahkan paper bag berwarna putih kepada Araa. Dia sempat berkeliling mencari hadiah untuk Araa, dan pilihannya berlabuh pada sepatu lucu berwarna pink. Bayi itu tertawa senang dan berusaha menggapai paper bag itu.


"Makasih, Uncle!" ucap Naynay sambil menerima paper bag itu dan meletakkannya di atas stroller Araa.


Ezriel tersenyum lebar, menjadi uncle dari anak wanita yang dia cintai ternyata tidak buruk juga. Dia berjanji dalam hatinya untuk berusaha mengubur perasaan cintanya pada Naynay. Menjalin hubungan adik dan kakak memang pilihan yang baik daripada menjauh.


Setelah Rania dan Rosi puas memborong baju dan keperluan Araa lainnya, mereka pulang ke rumah Rosi. Rosi memaksa karena dia merasa Naynay sudah jarang bermain ke rumahnya. Naynay yang sudah mendapat izin untuk bepergian seharian ini pun mengangguk setuju.


Mereka masuk dan berkumpul di ruang keluarga, kecuali Ezriel yang pamit pergi dengan alasan ingin bertemu teman lama. Araa sudah tertidur di pangkuan Naynay. Karena tangannya sudah terasa pegal, Naynay membaringkan putrinya itu di sofa.

__ADS_1


"Kamu itu lagi hamil, Nay. Jangan sering-sering gendong Araa, dia kan berat." Rania mulai menasihati Naynay, dia sendiri tahu betapa beratnya bayi gembul bernama Araa itu.


"Dia nggak bakalan tidur kalau nggak dipeluk, Ran," balas Naynay sambil meregangkan otot tangannya yang terasa pegal.


"Nay, apa aja yang kamu rasain semenjak ada makhluk kecil di sana?" tanya Rosi sambil menunjuk perut Naynay.


"Kenapa? Kamu udah ada rencana punya anak?" tanya Rania kepo.


"Sekarang sih belum, tapi Joan mau cepat-cepat punya anak. Rencananya sih habis acara kelulusan mau projek bayi sama dia," jawab Rosi santai tidak menyadari bahwa yang bertanya tadi masih perawan ber-label Do Not Cross.


Rania menghela napas kasar mendengar ucapan ceplas-ceplos Rosi. Mendadak dia pengin nikah muda juga, ehh....


"Kamu pake alat kontrasepsi?" tanya Naynay yang kepo kenapa Rosi belum hamil.


"Nggak, aku pake kalender aja. Pas masa subur itu aku nggak kasih Joan jatah, dia juga nggak mau pake pengaman. Dulu dia udah setuju kalau tunggu aku lulus dulu baru punya anak." Nah, bicarain jatah lagi. Dua wanita itu sedang tidak sadar dengan Rania yang sedang gigit jari.


"Jawab pertanyaan aku tadi! Gimana rasanya?" tanya Rosi kembali ke pertanyaan awal tadi.


"Aku itu udah nggak bisa tidur tengkurap lagi sejak sebulan yang lalu, takut kegencet. Sekarang cuman bisa tidur menyamping, terlentang pun rasanya udah nggak nyaman. Napas juga udah mulai sesak," jelas Naynay lagi.


"Ngidam, ada nggak?" tanya Rosi yang sekarang begitu tertarik mendengar cerita Naynay.


Naynay mengangguk. "Ada lah, tiap jam 2 malam itu aku selalu bangun buat makan. Untungnya kak Afif selalu nemenin, setiap aku Ngidam yang aneh-aneh pun, dia juga selalu nurutin."


"Perhatian banget, jadi pengen punya suami juga." Rania tanpa sadar berucap seperti itu hingga membuat Naynay dan Rosi menoleh dengan ekspresi terkejut.


"Ran, kamu yakin?" tanya Rosi sambil mencolek lutut Rania yang terbuka karena dia memakai rok pendek di atas lutut.


"Eh, becanda doang....." Gadis perawan itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal setelah sadar dengan apa yang dia ucapkan tadi.

__ADS_1


'Tapi beneran pengen,' sambung Rania di dalam hati. Mendengar dan melihat langsung bagaimana kedua sahabatnya diperhatikan oleh suami mereka membuat Rania greget sendiri.


Naynay dan Rosi menggeleng mendengar balasan Rania. Mungkin sahabat mereka yang masih perawan itu memang benar-benar ingin bersuami karena hanya tinggal dia yang masih lajang. Nikah muda memang tidak dilarang, tapi butuh kesiapan dalam berbagi aspek agar rumah tangga bisa awet sampai tua dan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.


"Kak Ros, pas lakuin hubungan suami istri itu sakit, nggak?" tanya Naynay dengan wajah memerah. Dia malu, tapi kepo juga.


"Emangnya kamu belum lakuin itu sama suamimu?" tanya Rosi balik, tidak menyangka Naynay belum memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.


Naynay menggeleng pelan. "Belum, aku masih takut."


Rosi mengelus punggung Naynay yang menunduk. "Nggak perlu takut, lupain semua ketakutan kamu. Kan kamu ngelakuinnya sama suami kamu sendiri, dia juga nggak bakalan nyakitin kamu kok."


"Tapi gimana rasanya? Sakit nggak?" tanya Naynay dengan suara kecil.


"Pas pertama kali emang sakit, tapi setelahnya udah enggak lagi. Kamu nggak bakalan ngerasain sakit kok, cuman nanti pasti sedikit terkejut aja. Rileks, tubuh kamu harus santai,percayakan semuanya sama suami kamu."


Rania merebahkan tubuhnya di sofa yang dia duduk, telinganya sudah tidak sanggup lagi mendengar percakapan kedua sahabatnya yang sudah menikah itu. Dia memilih memejamkan matanya dan berharap bermimpi bertemu bias-nya agar pikiran kotornya hilang.


"Kedepannya, kamu jangan sembunyiin apa-apa lagi sama aku. Kita kan udah janji buat selalu saling support kalau ada masalah," ujar Rosi memperingati Naynay agar tidak main rahasia-rahasiaan lagi ke depannya.


"Iya," balas Naynay sambil tersenyum.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Pembicaraan yang aneh 😢


__ADS_2