My Perfect Husband

My Perfect Husband
Babymoon (3)


__ADS_3

Afif terbangun bahkan sampai terduduk karena mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras. Dengan wajah khas bangun tidur dan rambut berantakan, Afif memaksakan matanya untuk terbuka.


"Kau kenapa?" tanya Afif pada Naynay yang wajahnya terlihat begitu kesal.


Naynay menatap Afif kesal dan segera masuk ke kamar mandi dengan baju yang basah. Koper mereka sudah diantarkan Pak Hen tadi pagi dan Naynay langsung memakai baju dengan panjang di bawah lutut. Kemudian dia pergi ke pantai untuk bermain air, di sanalah kekesalannya bermula.


Setelah membersihkan dirinya, Naynay keluar dari kamar mandi dan membuka lemari di mana semua pakaian mereka sudah dia susun tadi. Dia mengambil dalaman dan baju kaos oversize dari sana.


Afif yang melihat Naynay mengacuhkannya pun memakai jubah mandi yang berada di lantai dan mendekati istrinya itu. Dipeluknya Naynay dari belakang dan mencium tengkuk istrinya itu.


"Kenapa, Sayang?" tanyanya lembut dan memasukkan tangannya ke dalam celah jubah mandi Naynay di bagian dada.


Naynay menepis kasar tangan Afif dan masuk kembali ke dalam kamar mandi. Dia membanting pintu hingga Afif terkejut.


"Ada apa dengannya?" tanya Afif pada dirinya sendiri dan menunggu Naynay di depan pintu kamar mandi.


Lima menit kemudian, Naynay keluar dan berjalan tanpa menatap Afif yang berada di depannya. Afif mengikuti Naynay yang berjalan menuju balkon dengan baju yang hanya menutupi sampai setengah pahanya dan duduk di kursi yang ada di sana.


"Kau kenapa?" tanya Afif lagi yang belum tahu permasalahan yang membuat Naynay kesal. Dia berlutut di depan kaki mulus istrinya yang terekspose itu.


"Kakak jahat," ujar Naynay singkat tanpa menatap Afif. Matanya hanya fokus ke lautan luas yang airnya biru terang itu.


"Jahat kenapa, Sayang?" Menangkup kedua pipi istrinya agar menatap ke arahnya. Naynay sering sekali mengatakannya jahat ketika sedang kesal.


"Kakak jengukin dedeknya terus tadi malam, sekarang Nay nggak bisa main air di sana karena perih!"jelas Naynay sambil menunjuk pantai yang dihiasi ombak.


Tadi pagi setelah selesai menyusun pakaian di lemari, Naynay begitu semangat pergi ke pantai untuk bermain air. Tapi baru saja setengah tubuhnya terendam air, Naynay langsung meringis karena rasa perih di selangkangannya. Dia segera keluar dari air laut yang memang terasa lebih asin dari biasanya.


Gara-gara Afif yang kembali menggempurnya setelah jalan-jalan sebentar tadi malam, Naynay tidak bisa main air. Padahal dia begitu semangat melihat air laut yang begitu jernih dengan warna biru terang itu.

__ADS_1


Afif yang mendengarnya pun hanya bisa mengusap tengkuknya sambil menundukkan kepala. Menyembunyikan tawa tanpa suaranya mendengar penjelasan menggelikan dari istrinya. Setelah bisa mengondisikan ekspresinya, Afif mendongak menatap Naynay.


"Nanti sore kita berenang, kau mau?" tanya Afif sambil meletakkan dagunya di lutut Naynay.


"Tapi perih...." cicit Naynay berusaha mengangkat kepala Afif dari lututnya. Tampaknya keputusannya memakai pakaian pendek ini menjadi keputusan terburuk hari ini.


"Kau hanya belum mengenal villa ini," ucap Afif sambil berdiri. "Aku mandi dulu."


Naynay menatap Afif yang berjalan santai hingga tubuh tegapnya tak terlihat lagi. Belum mengenal villa ini? Naynay bangun dari duduknya dan menyusuri setiap bagian kamar. Namun dia tidak mendapati apapun yang aneh.


Afif yang baru saja keluar dari kamar mandi, menatap aneh istrinya yang bolak-balik memutari kamar. "Nay," panggilnya yang membuat Naynay menoleh.


Naynay yang melihat Afif hanya memakai handuk saja pun wajahnya mulai memerah. Dia masih saja malu jika melihat pemandangan indah itu pada siang hari, bawaannya pengen pegang-pegang. Naynay segera berjalan menuju lemari dan mengambilkan pakaian untuk Afif.


"Nay, bantuin dong!" ujar Afif manja ketika Naynay menyerahkan pakaiannya ke tangannya. Naynay menghela napas pelan sebelum akhirnya membantu suaminya itu berpakaian.


Setelah membantu Afif, Naynay mengambil hpnya yang belum dia sentuh sejak tiba di sini. Dia menatap benda pipih itu dan suaminya yang berdiri di sampingnya secara bergantian. Kemudian tersenyum dan menarik tangan Afif menuju balkon.


Afif menyilangkan tangannya dan menatap Naynay dari atas ke bawah. "Pakai celanamu!" ucapnya datar.


"Nanti Nay potong di bagian kaki kalau mau diposting!" balas Naynay dengan ekspresi lucunya hingga Afif pun akhirnya setuju.


Afif dengan sabarnya memotret setiap pose istrinya itu. Untuk yang akan diposting di sosmed, Naynay menutupi hidung sampai dagunya dengan rambut dan juga tangannya. Lelah dengan posenya, Naynay mendekati Afif dan melihat hasil jepretan suaminya itu.


"Sekarang kita foto berdua," ujar Naynay sambil menempelkan hpnya di kaca dan mengatur timer.


Naynay mengangkat kelima jarinya dan timer mulai menghitung mundur, dengan cepat dia memeluk Afif dan tersenyum lebar. Berbagai pose mereka coba, Naynay mengajari Afif agar pose suaminya itu tidak kaku seperti kanebo kering. Puluhan foto baru mengisi galeri Naynay, dia langsung memposting beberapa fotonya sendiri dan juga foto bersama Afif tadi. Tak lupa memotong bagian wajah mereka agar tidak dikenali.


*****

__ADS_1


Sore harinya, Afif menepati ucapannya mengajak Naynay berenang. Mata Naynay membola sempurna ketika dinding polos di samping tempat tidur bergeser setelah Afif menekan bagian dinding tersebut. Kolam renang yang mengarah langsung ke lautan luas terlihat begitu menakjubkan.


"Ayo!" Suara Afif membuat Naynay menoleh pada suaminya yang ternyata sudah masuk terlebih dahulu.


"Tapi..." Naynay masih ragu karena takut merasakan perih lagi.


"Tidak akan perih, ini air tawar." Afif mengangkat sebelah tangannya membuka jubah mandi Naynay hingga tubuh mulus dengan balutan bikini hitam itu memanjakan matanya.


Naynay melangkah perlahan menuruni tangga hingga berdiri tepat di depan Afif. Suaminya itu memaksanya untuk memakai bikini ini hingga dia tidak bisa menolak. Lihatlah, sekarang mata dan tangan suaminya itu tidak bisa dikondisikan.


"Kakak nggak akan lakuin itu di sini, kan?" tanya Naynay yang melihat wajah mesum Afif.


Afif menarik Naynay ke dalam pelukannya dan mencium pipi chubby itu. "Tidak jika kau tidak mengizinkan," balasnya santai. Naynay menggelengkan kepalanya tanda ia menolak.


Sore itu mereka menikmati waktu dengan melihat matahari tenggelam dan burung-burung yang terbang di langit orange. Afif memeluk Naynay dari belakang sambil mengelus perut istrinya itu. Tendangan yang dia dapat sebagai respon elusannya membuat Afif tersenyum senang.


Ini lebih seperti honeymoon yang dilakukan oleh pasangan pengantin baru. Suara ombak yang saling mengejar dan menerpa pasir membuat suasana begitu menenangkan. Naynay mengusap tangan kekar Afif yang melilit perut buncitnya. Romantisnya Afif membuatnya begitu bahagia dan bersyukur memiliki suami sesempurna ini.


.


.


.


.


.


Vote, ya.....

__ADS_1


Kasihan akunya yang udah berusaha menghibur, tapi nggak kalian apresiasi 🍀


__ADS_2