
Begitu sampai di rumah Arsen, Brian segera bepamitan untuk kembali ke kontrakannya.
''Brian, kenapa buru-buru? Kenapa tidak setelah selesai makan malam saja kamu kembali?'' Sheena berusaha mencegah Brian pergi.
''Tidak apa-apa Noona, aku hanya ingin segera kembali.''
''Atau ada seseorang yang menunggumu?'' selidik Sheena.
''Ah iya! Atau jangan-jangan kamu sudah punya pacar ya?'' timpal Belinda.
''Tit-tidak! Aku belum punya pacar.'' Jawab Brian dengan gugup.
''Ya sudah, setidaknya kembali setelah makan siang ya. Kamu dan Belinda boleh bawa camilan apa saja di sini. Aku tahu kalau kalian berdua pasti sangat kesulitan hidup dengan cara seperti ini.''
''Sayang, kamu jangan terlalu memanjakan mereka.'' Sahut Arsen.
''Apa yang di katakan Arsen itu benar Sheena. Kalau seperti itu, mereka tidak bisa mandiri.'' Timpal Arthur.
''Tidak apa-apa Arsen, Kak Arthur. Sekali-kali saja tidak masalah kan? Kalau begitu aku siapkan bekal untuk kalian ya. Supaya kalian bisa menghemat. Terutama untuk kamu Belinda, pasti uang kamu berkurang banyak karena mentraktir kami.''
''Eonni, kamu sangat pengertian sekali. Eonni adalah peri pelindungku dari mereka yang begitu jahat dan tega kepadaku.'' Ucap Belinda dengan manja, sambil mengarahkan pandangannya pada Arsen dan Arthur.
Akhirnya setelah selesai makan siang, Brian pamit pulang terlebih dahulu. Sedangkan Belinda memilih tinggal disana. Arthur juga berpamitan setelah selesai makan siang karena banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Begitu tiba di kontrakan, rumah Gea masih tampak sepi. Brian lalu memilih untuk merapikan beberapa snack yang sudah di bawakan Kakak iparnya. Setidaknya Arthur benar-benar bisa menghemat.
''Noona memang sangat baik. Aku berharap bisa mendapatkan seorang pendamping seperti Noona Sheena, Noona Queen dan juga seperti Mama. Karena mereka adalah wanita hebat dan panutanku untuk mendapatkan seorang pendamping hidup. Oh ya si Gea kemana ya? Apa dagangannya belum habis?''
Tak lama kemudian terdengar suara motor Gea yang cukup berisik memasuki pelataran rumahnya. Setelah mematikan mesin motornya, Gea melihat kearah rumah Brian yang hanya tersekat oleh tembok pembatas setinggi bahu orang dewasa. Gea melihat motor Brian sudah terparkir disana.
''Nah, sudah pulang tuh orang. Darimana saja sih dia? Sebaiknya aku kasih dia dessert box ini. Biarlah dia menikmati makanan enak juga.'' Gumam Gea. Gea kemudian segera menuju rumah Brian.
''Brian!" panggil Gea sambil mengetuk pintu rumah Brian. Brian dengan semangat empat lima, membuka pintu untuk Gea.
''Gea, ada apa? Ayo masuk!" kata Brian.
''Nggak usah, gue cuma mau kasih elo ini.'' Ucap Gea sambil menyodorkan dessert box pada Brian.
''Untukku?'' Brian terkejut. Kenapa Gea memberikan dagangannya pada dirinya. Apakah tidak habis?
''Iya buat elo, Brian.''
''Dalam rangka apa ini?''
''Ya sebenarnya gue kalau minggu gini, dagangan dessert kayak gini. Berhubung masih, jadi gue kasih sama elo. Biar elo bisa icipin juga makanan enak ini. Elo belum pernah nyobain kan?''
''E-e-belum pernah. Memang apa ini? Kamu buat sendiri?''
''Ini namanya dessert box. Cobain deh, enak. Buatan gue sendiri kok ini.''
__ADS_1
''Wah, kamu hebat juga ya. Pekerjaan lelaki bisa, pekerjaan perempuan bisa. Memang daganganmu belum habis?''
''Iya dong, harus itu. Masih tersisa dua jadi gue bagi sama elo. Oh ya elo darimana aja? Dari kemarin nggak kelihatan.''
''Oh, aku menginap di rumah temank kerjaku, dia sedang ulang tahun dan memaksaku menginap.''
''Tapi tadi aku seperti melihat kamu di area Dream Land.''
''Dream Land? Apa itu? Maaf aku tidak tahu. Kamu sendiri tahu, aku dari kampung. Sudah pasti aku belum hafal daerah sini.''
''Iya juga ya. Pasti hanya mirip saja, soalnya gue lihatnya juga cuma dari belakang doang. Kapan-kapan deh gue ajak elo jalan-jalan. Gue pulang dulu ya, mau mandiin motor buat persiapan balap lagi.''
''Mau balap lagi?''
''Iya.''
''Boleh ikut?''
''Boleh aja sih. Gue tunggu jam 9 ya nanti.''
''Oke. Sekali lagi makasih ya.''
''Iya sama-sama.'' Gea kemudian pergi berlalu meninggalkan rumah Brian.
''Aku jadi semakin penasaran dengan Gea,'' gumam Brian dalam hati.
Malam harinya, Brian menghangatkan makanan yang dibuatkan oleh Sheena. Brian berniat ingin membagi makanan itu dengan Gea. Udang asam manis dan ayam pop yang begitu menggungah selera.
''Gea!" panggil Brian sambil mengetuk pintu. Gea yang kebetulan hendak makan malam, merasa bingung ingin makan apa. Mendengar suara Brian, Gea lalu pergi menuju pintu depan.
''Ada apa Brian?''
''Ini gue bawa makanan buat elo. Anggap saja barter.''
''Apa nih?''
''Ini udang asam manis sama ayam pop.''
''Wah, kebetulan banget gue juga baru mau makan. Hmmm sepertinya enak. Masak sendiri?''
''I-iya.''
''Ya udah, kita makan sama-sama aja.'' Kata Gea. Entah kenapa Brian tidak bisa menolaknya. Akhirnya mereka berdua makan satu meja.
''Hmmm ini enak banget. Elo pintar masak juga ya?''
''Tidak juga, Ge. Oh ya desert box buatanmu enak lho, manisnya juga pas.''
''Hehehe makasih ya.''
__ADS_1
''Emang setiap hari minggu kamu jualan disana ya?''
''Iya. Dan biasanya banyak sih, tidak cuma itu saja. Habisnya gue capek jadi keburunya cuma buat itu aja.''
''Terus hari ini tidak ke mini market?''
''Aku mengambil libur hari minggu suapaya bisa dapat uang tambahan.''
''Kalau boleh tahu, kamu masih punya orang tua kan?''
''Masih ada kok. Hanya saja setelah lulus SMA, gue langsung merantau. Orang tua gue cuma buruh kebun biasa.''
''Kamu tidak kuliah?''
''Tidak ada biaya. Sebenarnya dapat beasiswa sih tapi gue tolak. Soalnya gue udah capek mikir jadi enak kerja dapat uang. Apalagi balap motor udah jadi bagian hidup gue. Nanti gue dapat beasiswa, kuliah, tapi untuk hidup sehari-hari, keluar duit lagi. Kasihan orang tua gue kan? Jadi gue pilih merantau aja deh. Dikampung sering balapan, cuma hasilnya nggak sebanyak disini. Gue merantau, biar orang tua gue itu nggak cerewet dan terus nasihatin buat larang gue balapan, hehehe. Habis duitnya lumayan.''
''Tapi kan kamu ngakunya kerja kantoran? Bagaimana kalau mereka tahu?''
''Kalau ketahuan, ya sudah. Mengaku saja.'' Seloroh Gea dengan tawanya.
''Ya ampun Gea, aku baru pertama kali ini bertemu dengan wanita seperti kamu. Biasanya cewek itu kan kalem, anggun, lembut tapi kamu kebalikannya. Hobinya juga balap lagi.''
''Ya emang ini gue apa adanya, Brian.'' Jawabnya dengan santai.
''Mmmm kamu sudah punya pacar?''
Mendengar pertanyaan Brian, Gea hanya tertawa saja. ''Siapa yang mau sama gue? Cewek begajulan gini. Gue sama sekali belum ada pikiran kesana, Brian. Lebih enak kayak gini sih. Mau kemana aja bebas, nggak ada yang ngatur. Lagian gue juga belum pernah pacaran sama sekali.''
''Serius kamu, Ge? Masa tidak pernah jatuh cinta juga?''
''Pernah sih jatuh cinta tapi itu juga cinta monyet. Brian, cowok jaman sekarang tentu saja di lihat wajah dan penampilannya. Sedangkan gue ini mana bisa bersikap girly kayak gitu. Jaman sekarang susah nyari yang apa adanya.''
''Padahal kamu sebenarnya cantik, Gea.''
''Ah yang bener? Bikin gue ge-er aja. Baru kali ini lho ada cowok yang muji gue. Apalagi cowoknya itu tampan kayak elo. Elo sendiri gimana?''
''Aku? Masih jomblo juga. Siapa sih yang mau sama pria tidak bermodal seperti aku. Apalagi cuma modal tampang, emang bisa bikin kenyang?'' seloroh Brian dengan tawanya.
''Hahaha, iya juga ya. Jaman sekarang cewek yang di lihat kantongnya. Ganteng urusan belakang.''
''Makanya itu, aku mau sukses dulu baru deh nyari pasangan hidup.''
''Ide bagus. Tapi hati-hati juga Brian, terkadang mereka juga tidak sepenuhnya tulus.''
''Iya Gea, aku mengerti.''
''Gea tidak tahu saja, kalau aku ini mantan playboy,'' gumam Brian dalam hati.
Bersambung.... Yukkk like, komen, dan votenya ya, makasih....
__ADS_1