My Perfect Husband

My Perfect Husband
Menyelesaikan Masalah


__ADS_3

Suasana rumah masih sama, Aiko masih di luar karena belum dipersilakan masuk. Dia hanya berharap agar sang cucu bisa memberinya kesempatan untuk meminta maaf. Dia sedang duduk di kursi yang tadi diambilkan oleh salah satu bodyguard atas perintah Pak Hen.


Sedangkan di dalam kamar, Naynay memberikan segelas air putih pada Afif setelah suaminya itu tenang. Sekarang mereka berpindah ke sofa agar tidur Gamaliel tidak terganggu.


Afif menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa, sebelah tangannya tak pernah lepas dari menggenggam tangan Naynay.


"Kalau mau cerita, Nay dengerin." Naynay mengusap rambut dan mencium pipi Afif. Helaan napas terdengar sebelum akhirnya Afif bersuara.


"Dia Aiko, ibu tiri papaku. Mungkin mengejutkan untukmu, tapi ini benar-benar terjadi padaku. Aiko pernah membuangku ke hutan agar hubungan papa dan mamaku rusak. Saat itu umurku sekitar 5 tahun. Dia menyukai papaku dan berharap agar orang tuaku bercerai setelah aku tidak ada."


Naynay menutup mulutnya, dia begitu terkejut mendapati fakta ini. Suaminya ternyata juga punya kisah kelam dan membekas hingga sekarang.


"Aku takut melihatnya, seakan aku kembali di waktu di mana dia membuangku ke tengah hutan dan hampir mati. Aku juga takut dia melukaimu dan Gama."


Naynay memeluk Afif, dia menciumi kening suaminya itu bertubi-tubi. Tapi pikirannya sekarang adalah wanita bernama Aiko itu, apa dia sudah pulang?


"Temenin Gama tidur, ya. Nay mau ke dapur sebentar," ujar Naynay membuat Afif melepas pelukan mereka.


"Suruh Pak Hen saja!" tolak Afif yang takut jika Aiko melukai Naynay.


"Ke dapur doang, sana temenin Gama!" balas Naynay sambil mengelus dada Afif yang terasa berdetak begitu kencang. Afif dengan tidak rela pergi ke ranjang dan berbaring di samping Gamaliel yang matanya setia tertutup.


"Jangan keluar sebelum Nay kembali, ya." Naynay mengecup bibir Afif dua kali sebelum berjalan menuju pintu dan keluar setelah membuka kunci.


Langkah kaki Naynay menuju pintu utama, dia bisa melihat kalau keadaannya masih sama seperti sebelumnya. Naynay mendekat ke arah bodyguard, namun Pak Hen berusaha menahannya. Tapi dia berhasil melepaskan cekalan di tangannya.


"Nay nggak bakalan kenapa-kenapa kok."

__ADS_1


Naynay berjalan menuju Aiko yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Wanita itu sedang memainkan hpnya hingga dia tidak sadar bahwa Naynay sudah berdiri tepat di depannya.


"Permisi, bisa kita bicara?" ujar Naynay sambil tersenyum kecil.


Aiko mendonggakkan kepalanya ketika mendengar suara lembut itu. Dia menatap tak percaya pada Naynay yang sedang berdiri di depannya dengan aura yang begitu kuat. Seperti lembut, namun bisa juga berbahaya. Aiko yang berasal dari negara ilmu-ilmu dalam hebat itu tentu bisa merasakannya.


Naynay berjalan menuju taman depan dan duduk di kursi panjang yang ada di sana. Dia menepuk ruang kosong di sampingnya agar Aiko duduk di sana.


"Saya hanya tahu sedikit permasalahan Anda dengan suami saya. Anda bisa melihat sendiri bagaimana kedatangan Anda disambut kurang baik di sini. Saya minta maaf untuk itu." Naynay menundukkan sedikit kepalanya sambil tersenyum ramah. Dia tidak merasakan ancaman dari wanita di sampingnya ini.


Aiko mengangguk kecil dengan mata yang sudah berkaca-kaca, namun dia berusaha agar tidak menangis.


"Kesalahan yang aku perbuat dulu adalah alasan dia tidak menerimaku. Aku sungguh menyesal, sangat menyesal telah bersikap sebegitu rendahnya. Selama 19 tahun, aku hidup dalam penyesalan. Dibenci keluarga besar suamiku karena sikap burukku. Hanaya, aku hanya butuh kata maaf dari Afif. Hidupku tidak tenang sebelum mendapat maaf darinya." Aiko menunduk dalam dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


Tangan Naynay terangkat dan mengelus punggung Aiko yang bergetar. Dari penjelasan wanita itu, dia tahu kalau Aiko berkata jujur. Terlihat dari bentuk emosi yang sama sekali bukan dibuat-buat.


Aiko menatap Naynay sambil mengangguk semangat, dia menghapus kasar air matanya. "Baiklah, aku akan kembali ke sini nanti malam. Terima kasih, Hanaya!"


Naynay tersenyum dan mengangguk. Setelah itu dia pamit untuk kembali ke dalam, sedangkan Aiko pamit untuk pulang. Nanti malam dia akan kembali ke sini lagi.


*****


Malam harinya, Naynay sedang membantu Afif memakai pakaiannya. Suaminya itu baru saja selesai mandi karena tadi sore asik bercerita dengannya. Banyak hal yang Afif ceritakan, termasuk bagaimana cerita lengkap tentang masa lalunya yang buruk.


"Kakak nggak mau nyelesain masalah itu?" tanya Naynay pelan sambil mengusap dada bidang Afif yang masih terbuka.


"Aku tidak mau bertemu dengannya," balas Afif tidak mood. Dia menarik tubuh Naynay hingga benar-benar menempel pada tubuhnya.

__ADS_1


"Apa yang kau bicarakan dengannya tadi pagi?" tanya Afif menatap datar mata Naynay.


Naynay sedikit terkejut, namun dia melingkarkan kedua tangannya di leher Afif. "Nay bilang kalau Kakak akan menemuinya malam ini, ohh, sebentar lagi. Dia setuju."


Afif menghela napas kasar dan mencium kasar leher Naynay. Istrinya ini membuatnya kesal setengah mati.


"Nay temenin, kita ketemu dia, ya. Kakak nggak bakalan bisa tenang kalau masalah ini belum selesai. Apa keputusan Kakak nanti, pasti Nay dukung."


Afif menatap Naynay dengan pandangan lembut, dia mengangguk kecil pertanda ragu. Namun dia akan melakukannya agar masalahnya dengan Aiko selesai dan wanita itu tidak pernah menampakkan dirinya lagi dihadapannya dan keluarganya.


Akhirnya mereka keluar dari kamar dan menuju ruang tamu, di mana Aiko sedang duduk di sana. Gamaliel dititipkan pada Silla dan Qiara.


Aiko berdiri dengan gugup saat Afif dan Naynay mendekat. Rasanya seperti oksigen tidak mau masuk ke dalam paru-parunya, susah sekali bernapas. Tangannya mengepal, menguatkan dirinya untuk menerima nasibnya.


"Apa maumu?" tanya Afif singkat dengan nada dingin. Dia duduk berhadapan dengan Aiko, Naynay disampingnya.


Tubuh Aiko bergetar, dia tidak berani menatap Afif maupun Naynay.


.


.


Plis, besok aku up lagi.. InsyaAllah 😭😭😭


.


.

__ADS_1


__ADS_2