
Arsen tengah sibuk membuatkan makan malam untuk Sheena. Dada ayam yang ia marinasi lalu di panggang, di tambah dengan aneka sayuran yang ia tumis dan juga satu porsi nasi merah. Tak lupa segelas susu full cream untuk Sheena. Setelah semuanya siap, Arsen membawanya ke kamar.
''Sheena, saatnya makan malam.'' Kata Arsen dengan nampan di tangannya.
''Ya ampun Arsen, aku kan bisa makan di bawah. Kamu tidak perlu membawanya ke kamar.'' Ucap Sheena yang berusaha bangun dari tempat tidur.
''Iya aku tahu tapi kamu tidak boleh bergerak terlalu banyak. Ingat, lukamu belum kering jadi kamu harus lebih hati-hati.''
Sheena mendengus, mendengar apa yang Arsen ucapkan. Sheena mengernyit, melihat makanan yang dibawa oleh Arsen.
''Apa itu?''
''Makanan lah. Kamu harus makan-makanan yang lebih sehat, Sheena. Kamu ingin bisa punya anak kan?''
''I-iya sih.'' Jawab Sheea dengan gugup.
''Makanya kalau kamu ingin punya anak, pola makan juga harus di atur. Makan yang sehat-sehat yang kaya akan nutrisi, bukan sembarangan.''
''Tapi akan kalau mau punya anak, harus di buahi. Sekalipun makan sehat, kalau tidak di buahi mana jadi.''
''Iya setelah kamu sembuh, aku akan membuahimu. Sekarang makanlah dulu." Kata Arsen dengan santainya sambil menyodorkan suapannya di depan mulut Sheena. Sheena pun terdiam mendengar ucapan Arsen.
''Apa maksud bocah ini?'' gumamnya dalam hati.
''Haaaaa, buka mulutmu!" pinta Arsen. Sheena lalu membuka mulutnya dan memakan suapan dari Arsen.
''Ayo, kunyah sampai habis. Enak kan?'' Ucap Arsen. Sheena hanya mengangguk dengan memaksa senyumnya.
''Kamu sudah makan malam?'' tabya Sheena.
''Setelah ini aku akan makan.''
''Sebaiknya kita makan bersama saja.'' Sheena lalu merebut sendok Arsen dan memberikan suapan pada Arsen namun Arsen malam diam saja.
''Ayo makanlah! Kita sudah bertukar air liur saat berciuman jadi jangan jijik makan satu sendok denganku,'' ucap Sheena dengan tatapan sini. Arsen menghela lalu dengan berat hati menerima suapan dari Sheena.
''Nah, terapi seperti ini juga sangat ampuh untuk menghadapi sakitmu. Kita sudah berciuman berkali-kali, masa iya satu sendok saja kamu mikir-mikir.'' Ucap Sheena.
''Iya-iya, memang siapa yang jijik sih.'' Sahut Arsen. Keduanya lalu saling menyuapi. Setelah selesai makan, Arsen lalu memberikan obat untuk Sheena.
''Terima kasih ya, sudah menjaga dan merawatku.''
''Iya sama-sama. Aku akan tidur di sofa sampai kamu sembuh.''
''Memangnya kenapa?'' tanya Sheena.
''Aku tidak ingin nanti aku malah menyentuh lukamu. Jadi lebih aman, aku tidur di sofa dulu.''
__ADS_1
''Iya.'' Sheena kemudian beranjak dsri tempat tidurnya. Ia ingin pergi ke kamar mandi namun baru satu langkah, Arsen menghentikannya.
''Mau kemana?''
''Aku mau pipis.'' Jawab Sheena meringis. Arsen lalu menggendong Sheena ala bridal style menuju kamar mandi.
''Arsen, aku bisa jalan. Aku tidak lumpuh.''
''Iya tapi kata dokter tidak boleh terlalu banyak gerak. Sudah, diam saja.'' Ucapnya. Sheena hanya bisa mendengus dan pasrah. Arsen bahkan membawa Sheena sampai pada closed.
''Kalau sudah selesai panggil aku ya, aku tunggu di luar. Jangan keluar sendiri, bahaya.''
''Iya-iya.'' Jawab Sheena. Arsen kemudian keluar dari kamar mandi dan menunggu Sheena di depan pintu. Beberapa saat kemudian, Sheena berteriak memanggil Arsen.
''Arsen, aku sudah selesai.''
Mendengar panggilan Sheena, Arsen pun membuka pintu dan kembali menggendong Sheena lalu membawanya ke tempat tidur.
''Sekarang tidurlah.'' Ucap Arsen.
''Aku belum mengantuk. Aku sebenarnya bosan di rumah terus. Aku dulu seharian di luar. Pulang saat menjelang malam saja.''
''Memangnya apa yang kamu lakukan di luar sana?''
''Ya kerjalah, memang mau apalagi.'' Celetuknya.
''Sungguh? Kemanapun?''
''Iya Sheena. Mana pernah aku bohong.''
''Bagaimana kalau kamu temani aku menonton film?''
''Film apa?'' tanya Arsen.
''Film kartun, hehehe. Aku butuh hiburan.''
''Oh baiklah. Aku ada film Charly Caplin, kamu pasti akan menyukainya.'' Arsen lalu menyalakan televisi dan dvdnya. Kemudian ia naik ke atas tempat tidur menemani Sheena. Keduanya duduk sambil bersandar disandaran ranjang. Sheena kemudian memberanikan diri untuk memeluk lengan Arsen dan menyatukan jari- jemari mereka. Arsen cukup terkejut dengan sikap Sheena yang mendadak memulainya terlebih dahulu.
''Oh ya kata dokter aku akan sembuh berapa lama?''
''Sekitar 4-6 minggu Sheena. Dan dokter pun berpesan supaya kamu menjaha pola makanmu. Jangan makan sembarangan lagi kalau ingin cepat sembuh.''
''Baiklah, kali ini aku akan menurut dan makan-makanan yang biasa kamu makan.''
''Tumben nurut, biasanya berontak.''
''Karena aku ingin sembuh setelah sembuh ya mulai lagi, hehehe.''
__ADS_1
''Dasar!" kata Arsen sambil memencet hidung Sheena.
Mereka berdua tertawa bersama melihat tontonan dalam layar televisi. Sampai akhirnya Sheena terlelap dalam bahu Arsen. Melihat Sheena yang sudah tertidur, Arsen mematikan televisi dan membantu Sheena untuk berbaring. Saat Arsen beranjak dan ingin pindah ke sofa, tiba-tiba saja Sheena menarik tangan Arsen dan memeluk lengannya. Saat Arsen berusaha melepaskannya, Sheena semakin erat untuk memegangnya. Dan akhirnya mereka tidur dalam satu ranjang kembali. Arsen sangat menjaga supaya tangannya tidak mengenai perut Sheena.
-
Keesokan harinya setelah selesai mandi dan mengganti pakaian, Sheena hendak mengganti plester pada luka bekas operasi namun ia kesulitan. Tiba-tiba Arsen masuk dan Sheena merasa terkejut lalu menurunkan kembali pakaiannya.
''Kenapa tidak ketuk pintu dulu?'' kata Sheena dengan gugup.
''Ini kan kamarku, ya suka-suka akulah. Kita sarapan, sarapannya sudah jadi.''
''Iya aku akan turun nanti.''
''Ada yang bisa aku bantu?'' tanya Arsen. Sheena menggeleng pelan. Namun Arsen melihat plester anti air di meja rias Sheena. Arsen mendekat lalu duduk. Arsen menghadapkan badan Sheena kearahnya.
''Kam-kamu mau apa?'' tanya Sheena tergagap.
''Angkat bajumu.'' Pinta Arsen.
''Iya tap-tapi kamu mau apa, Arsen?'' Sheena semakin tergagap.
''Jangan berpikiran aneh, aku ingun mengganti plester lukamu. Setelah mandi harus sering di ganti ya sekalipun ini plester anti air. Ayo angkat bajumu.''
Sheena menjadi gugup dan perlahan ia mengangkat bajunya ke atas. Arsen lalu menyentuh perut Sheena dan Sheena merasa semakin gugup. Perasaannya tidak karuan, begitu pula dengan Arsen. Melihat perut rata Sheena tepat di depan matanya. Sheena merasa ada kupu-kupu yang menari diatas perutnya, kala kulit tangan Arsen menyentuh kulit perut Sheena.
''Pelan-pelan Arsen.''
''Iya aku akan melakukannya dengan pelan.'' Ucap Arsen. Arsen lalu membuka plester itu perlahan. Arsen meniup pelan dan tiupan di perut Sheena, membuat tubuh Sheena panas dingin. Jantung Arsen berdegup kencang saat perut indah itu ada di depan matanya.
''Huft tenangkan dirimu, Arsen.'' Gumam Arsen dalam hati. Arsen lalu merekatkan plester baru di perut Sheena.
''Sudah selesai. Lain kali bilang kalau kamu merasa kesulitan.''
''I-iya terima kasih.'' Ucap Sheena seraya menurunkan kembali pakaiannya.
''Sekarang ayo kita sarapan!"
''Maaf ya seharusnya aku yang melayanimu tapi justru malah sebailknya.''
''Tidak masalah. Kamu sedang sakit dan aku juga sudah terbiasa mengurus diriku sendiri jadi santai saja.''
''Kenapa masih canggung saja ya? Padahal kita sudah berkali-kali ciuman.'' Gumam Arsen dalam hati.
''Sheena, perutmu disentuh saja kamu sudah panas dingin. Kenapa masih canggung juga padahal kita sudah sering berciuman.'' Gumam Sheena dalam hati.
Arsen kemudian menggendong Sheena dan membawanya menuju ruang makan.
__ADS_1
Bersambung....