My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 187 RASA


__ADS_3

''Brian, kenapa elo nggak berangkat kerja?


''Bagaimana aku bisa meninggalkan kamu dengan keadaan seperti ini Gea?''


Gea tertawa mendengar ucapan Brian. ''Udah berangkat sana! Luka begini saja kecil, Brian.''


''Jangan meremehkan luka itu, Gea.''


''Memangnya elo nggak dimarahin apa?''


''Aku sudah meminta ijin cuti beberapa hari. Aku bilang saja kalau saudaraku yang mengalami kecelakaan. Jadi aku dapat ijin.'' Ucap Brian dengan senyum lebarnya.


''Wah, elo pintar bohong juga ya?''


''Bohong untuk kebaikan tidak masalah,'' celetuknya.


''Padahal gue juga bohong sama orang tua gue. Mungkin ini hukuman buat gue juga sih. Karena masih ikut balap motor diam-diam. Tapi jujur ya, kenapa elo baik sama gue? Elo bisa aja kan nggak peduli sama gue. Apalagi kita kenal juga baru hitungan minggu.''


''Ya karena menurutku kamu itu baik. Dan yang lebih penting kamu mau berteman denganku. Dengan aku yang seperti ini. Oh ya, keberadaanku disini tidak membuat seseorang marah kan?''


''Marah? Memang siapa yang marah?''


''Pacarmu lah, siapa lagi?''


Gea tertawa. ''Gue jomblo happy.''


''Apa kamu tidak pernah jatuh cinta? Atau memiliki kekasih?''


''Pernah sih cuma ya gitu, aku dijadikan bahan taruhan saja. Dan yang lebih parah gue hampir di perkosa cowok biadab itu. Gue di perkosa setelah dia bikin gue mabuk, bahkan dia udah siapin kamera untuk merekam adegan itu. Biasalah mereka anak orang kaya. Aku pikir dia tulus tapi ternyata modus. Untung lah gue saat itu masih bisa sadar dan kabur. Sejak saat itu gue trauma banget sama cowok. Apalagi mereka anak orang kaya yang mau memanfaatkan keadaan saja.''


''Brengsek juga ya. Tapi kamu tetap suka cowok kan?''


''Ya iyalah. Trauma bukan berarti gue nggak normal. Ya gue lebih hati-hati aja lah supaya nggak mudah kebujuk rayuab gombal buaya. Gue bahkan di permaluin satu sekolah karena dianggap cewek nggak bener sama mantan pacar brengsek. Itulah sebabnya setelah lulus SMA, gue milih merantau. Sekalipun gue bisa bersihin nama gue tapi tetap aja hal itu membekas buat gue. Dan gue harap, elo juga tulus temenan sama gue, Brian. Setelah sekian lama, baru kali ini gue deket sama cowok dan itu elo.''


''Aku jadi tersanjung mendengar ucapanmu. Tapi baguslah kalau kamu berhasil membersihkan nama kamu. Sebaiknya sekarang kamu sarapan dan minum obatnya.''


''Makasih ya Brian. Perkenalan kita singkat tapi kamu begitu menjagaku dan mau berkorban untukku.''


''Sama-sama, Gea.''

__ADS_1


Setelah menemani Gea sarapan dan minum obat, Gea meminta Brian untuk mengajaknya keluar kamar.


''Brian, gue pingin jalan-jalan keluar.''


''Keluar kemana Ge?''


''Di taman rumah sakit lah, bosen banget di dalam kamar terus.''


''Oke baiklah.'' Brian kemudian membantu Gea untuk duduk di kursi roda. Setelah itu Brian mendorong Gea menuju taman.


''Oh ya Gea, apa aku perlu menghubungi orang tua mu?''


''Jangan Brian! Aku tidak ingin mereka sedih apalagi menambah beban mereka. Biar aku yang menanggung semuanya karena ini salahku.''


''Oh begitu, baiklah.''


''Oh ya bagaimana dengan kehidupan cintamu?'' tanya Gea.


''Kehidupan cintaku, tidak ada yang menarik, Gea. Wanita jaman sekarang terlalu realistis jadi tentu saja sangat susah mengambil hati mereka kalau masa depan ku belum jelas seperti ini. Sudah sangat jarang ada wanita yang mau di ajak susah apalagi di ajak meniti karir bersama. Mereka lebih suka yang instan dan siap pakai.''


''Ya memang harus begitu sih, Brian. Namanya juga manusi, pola pikirnya berbeda.''


''Menurut gue, elo baik sih. Memang sih semua cewek itu realistis tapi bagi gue yang penting jadi laki-laki itu tanggung jawab. Mau miskin mau kaya, asalkan dia masih mau kerja dan bener-bener tanggung jawab, bagi gue nggak masalah. Entah kenapa gue lebih seneng meraih sukses itu sama-sama dengan pasangan. Kalau punya pasangan dari keluarga kaya, sedangkan gue kayak gini, gue takut aja kalau suatu saat gue itu direndahin dan di hina karena gue miskin.''


''Tapi tidak semua orang kaya seperti itu, Gea.''


''Iya emang nggak semuanya tapi kan kebanyakan seperti itu, Brian. Mungkin ini karena gue pernah ngrasain kayak gitu kali ya jadinya ada rasa takut berlebihan. Dihina dan direndahkan itu sangat menyakitkan apalagi kalau nama orang tua di bawa-bawa.''


''Kalau suatu saat Gea tahu siapa aku, apa dia masih mau berteman dengan ku? Lalu dia marah apa tidak ya?'' gumam Brian dalam hati. Mendengar dari apa yang Gea ucapkan, sudah pasti Gea juga akan menilai diri Brian seperti itu.


...****************...


''Selamat pagi Tuan Arthur. Aku sudah menyalin semua tugas yang anda berikan.'' Ucap Belinda saat menyapa Arthur yang baru saja tiba.


''Oke, kerja bagus. Setelah ini ikut aku ke tempat bank sampah.''


''Bank sampah? Memang ada ya? Kenapa tidak bank tempatnya uang?'' ucap Belinda dengan senyum polosnya.


''Makanya belajar Nona Belinda. Jangan manja!''

__ADS_1


''Makanya aku tanya Tuan Arthur. Apa perusahaanmu juga mengurus sampah?''


''Ya iyalah. Semua sampah itu di daur ulang untuk menjadi barang baru lagi. Siapa tahu salah satu barang yang kamu gunakan itu dari daur ulang sampah.''


''Oh sepertinya tidak mungkin. Semua barangku branded semua.''


''Jangan banyak bicara! Lebih baik siapkan tanganmu untuk menulis hasil peninjauan lokasi di bank sampah nanti.''


''Bisakah aku di kantor saja? Tentu disana akan sangat menjijikkan dan bau.'' Ucap Belinda sambil mengerutkan hidungnya.


''Namanya sampah itu pasti bau. Kalau sampah wangi, sudah pasti akan di budidayakan sendiri.''


''Oh my god! Bagaimana bisa perusahaanmu ini juga menimbun sampah?''


''Setiap pagi truk sampah perusahaan, akan mengelilingi setiap rumah. Jangan salah, kami membayar mereka untuk mendapatkan sampah-sampah itu. Setidaknya kami membantu mereka untuk mendapatkan uang dan menghargai mereka dengan pantas. Mereka lebih mempercayai kami daripada para penampung barang rongsokan ataupun sampah. Kami dipabrik juga memperkerjakan mereka yang mempunyai kekurangan. Dimana, saat mereka membutuhkan pekerjaan, tidak ada yang mau menampung mereka. Nanti kamu bisa melihat sendiri di sana, Bel. Kamu juga bisa belajar banyak dari mereka.''


Mendengar penjelasan Arthur, seketika Belinda terdiam dan tak berkutik. Selang satu jam, Arthur dan Belinda pergi menuju bank sampah. Tentu saja sarung tangan, masker, bahkan Belinda mengganti heelsnya dengan sepatu boat supaya tidai kotor. Arthur hanya bisa tertawa melihat sikap Belinda yang menurutnya sungguh berlebihan. Baru juga sampai, Belinda sudah merasakan mual dab ingin muntah.


''Astaga Kak Arthur, ini busuk banget. Aku rasanya tidak sanggup. Apa kamu memintaku untuk mengorek sampah?''


Arthur tertawa. ''Siapa yang menyuruhmu untuk mengorek sampah? Kita hanya menyurvei pengolahan limbah sampahnya. Bagian mengorek, semuanya menggunakan mesin. Ini pengolahan limbahnya nanti masuk ke dalam, sudah tidak bau lagi. Karena di dalam juga ada kantornya, Belinda.'' Jelas Arthur.


''Kamu amati prosesnya, tulis, lalu buatkan aku ringkasannya, mengerti?''


''Iya mengerti. Aku merasa bukan seperti sekretaris tapi seperti anak kuliah yang study tour. Bukankah sekretaris hanya mengatur jadwalmu dan mendampingimu saat ada meeting?''


Arthur menghela. ''Belinda, kalau mau belajar harus dari bawah dulu. Kamu harus tahu seluk beluk perusahaan. Dan apa saja yang di produksi perusahaan tempatmu bekerja. Kalau kamu banyak bicara dan bawel, aku akan memperkerhakan kamu disini.''


''Eh-eh jangan-jangan! Iya-iya aku tidak akan bawel.''


''Baiklah sekarang ikuti aku.''


''Siap Tuan Arthur.''


Dan benar kata Arthur, Belinda banyak belajar di tempat itu. Mereka yang memiliki kekurangan, mendapat pekerjaan dari Arthur. Sebagian dari mereka ada yang tuna rungu, tuna wicara bahkan memiliki satu kaki. Tentu saja Arthur menempatkan mereka sesuai dengan kemampuan mereka. Mereka yang bekerja adalah mereka yang pantang untuk meminta-minta. Arthur juga menyapa mereka dengan ramah, bahkan cara Arthur memberikan pengarahan kepada pegawainya, membuat Belinda terpaku dan kagum.


''Kak Arthur semakin kesini kenapa semakin keren ya? Dia memang hebat. Meskipun dia terkadang menjengkelkan tapi dia punya hati yang tulus dan jiwa sosialnya sangat tinggi.'' Gumam Belinda dalam hati.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2