
''Fan, satu hal yang kamu lupa. Kamu melupakan malam itu. Malam dimana kita bercinta meskipun kamu menganggapku sebagai Sheena. Aku bahkan tidak cerita apapun pada Mama tentang apa yang terjadi malam itu.'' Gumam Olivia dalam hati.
''Fandi tidak mau makan Oliv?'' tanya Nyonya Citra saat melihat Olivia kembali dengan nampan yang masih berisi makanan.
''Belum Mah.''
Nyonya Citra menghela nafas kasar. ''Mau sampai kapan dia seperti itu?''
''Sudahlah Mah, biarkan Fandi tenang. Jangan paksa Fandi.'' Kata Tuan Ifan.
''Ya sudah Olivia, lebih baik kamu juga makan. Ayo duduk, Nak.'' Kata Nyonya Citra.
''Iya Mah.''
''Oh ya kapan Papa dan Mama kamu kembali dari Jepang, Liv?'' tanya Tuan Ifan.
''Papa dan Mama bilang besok, Pah. Itu kalau tidak tidak delay lagi pesawatnya dan kalau tidak ada pekerjaan mendadak lagi.''
''Olivia, kamu harus segera hamil.'' Celetuk Nyonya Citra. Seketika Olivia pun tersedak mendengar ucapan Ibu mertuanya.
''Hamil Mah?''
''Iya. Kalau kamu hamil, Fandi tidak akan pernah punya pikiran untuk menceraikan kamu. Apalagi berpikir tentang Sheena itu lagi. Apa kalian sama sekali belum melakukannya?''
''Mama ini pertanyaannya membuat Olivia tidak nyaman saja.'' Sahut Tuan Ifan.
''Harus seperti itu, Pah. Kita harus membuat Fandi melakukan itu. Apa Papa tidak ingin segera memiliki cucu. Sheena saja sudah hamil, masa iya Olivia belum hamil juga.''
''Mama tahu kan kondisi Fandi bagaimana? Cintanya hanya untuk Sheena. Dia bahkan marah dengan kita karena kita menikahkannya dengan Olivia. Bagaimana bisa Fandi melakukan itu tanpa cinta Mah?'' bantah Tuan Fandi.
''Cinta urusan belakangan, Pah. Ada banyak cara untuk membuat Fandi melakukannya. Kasihan Olivia Pah, kalau ada anak, Fandi tidak akan pernah melepaskan Olivia. Dan bisa jadi dia juga akan melupakan Sheena.'' Kata Nyonya Citra.
__ADS_1
''Apa yang dikatakan oleh Papa benar. Fandi masih mencintai Sheena. Bahkan hari itu Fandi melakukannya dengan menyebut nama Sheena. Bukan hanya menyebut nama Sheena tapi menganggap ku adalah Sheena.'' Gumam Olivia dalam hati.
''Olivia, tenang saja. Serahkan semua urusan sama Mama ya. Sekalipun Sheena sekarang dari keluarga kaya raya, menantu Mama tetap kamu. Apalagi sejak kecil kalian sudah bersahabat lama.'' Ucap Nyonya Citra. Sekalipun Nyonya Citra egois tapi Olivia merasa tenang karena status sosial Sheena tidak membuat Nyonya Citra goyah. Setidaknya ia merasa masih ada yang mendukungnya untuk bersama Fandi. Meskipun Olivia harus terluka.
Setelah selesai makan malam, Olivia kembali ke kamar. Ternyata Fandi sudah tidur, bahkan Fandi masih tetap sama tidur di sofa, bahkan sejak hari dimana mereka melakukan hubungan suami istri. Olivia menatap wajah sosok pria yang begitu ia cintai. Berharap kesabarannya selama ini, akan membuat Fandi mencintainya lebih dari sekedar sahabat.
Olivia lalu naik keatas tenpat tidur dan dibalik selimut ia menumpahkan air matanya. Dadanya serasa sesak sekali. Dia membungkam mulutnya sendiri supaya tangisannya tidak terdengar oleh Fandi.
Keesokan harinya, Fandi bangun pagi-pagi sekali.
''Fandi, mau kemana kamu sepagi ini?'' tanya Nyonya Citra saat sedang menyiram bunga di halaman depan rumah.
''Mau cari angin, Mah.'' Jawabnya ketus. Fandi kemudian melajukan mobilnya begitu saja tanpa menghiraukan Mamanya.
''Fandi, kamu sungguh keterlaluan.'' Gerutu Nyonya Citra.
Sementara itu, Olivia baru saja terbangun dari tidurnya. Ia melihat kearah sofa dan Fandi sudah tidak ada disana.
''Aduh, kenapa kepala jadi pusing begini?'' gumam Olivia. Olivia tiba-tiba teringat, kalau bulan ini ia belum menstruasi. Setelah menyeka bibirnya, Olivia lalu melihat kalender.
''Iya, seharusnya bulan ini aku sudah menstruasi. Apa aku hamil?'' Olivia kemudian mengambil tespek dan segera melakukan tes urine. Mata Olivia berkaca-kaca melihat hasil tespek itu. Bulir air mata membasahi wajah Olivia. Karena hasil tespek itu positif.
''Aku harus bahagia atau sedih? Bagaimana kalau Fandi tidak menginginkan anak ini?'' gumam Olivia sambil memegangi perutnya. Olivia pun menagis sesenggukan di dalam kamar mandi.
''Tapi Mama akan tetap menjaga kamu, Nak. Kalau Papamu tidak menginginkanmu, Mama akan menjaga dan membesarkanmu seorang ini.''
...****************...
Pagi itu dirumah Arsen, Arsen sedang menemani Sheena olahrga ringan di halaman depan rumah.
''Nah, bagus sayang. Kalau kamu olahraga seperti ini otot-otot kami tidak kaku. Lagi pula ini cuka olahraga kecil. Tapi tumben-tumbenan kamu olahraga, biasanya juga malas kalau diajak olahraga.''
__ADS_1
''Ini juga baby kamu yang meminta. Aku rasa baby twins kita punya dua karakter yang beda. Bisa jadi satunya mirip kamu dan satunya mirip aku, sayang.'' Ucap Sheena terkekeh.
''Tidak apa-apa lah, yang penting jangan mirip tetangga. Bagi aku yang penting kamu dan baby kita sehat sayang.'' Arsen kemudian berlutut menghadap Sheena, ia kemudian menempelkan telinganya di perut Sheena.
''Sayang, kapan dia besar ya? Aku ingin merasakan tendangannya.''
''Sabar dong, biasanya enam atau 7 bulan sudah mulai terasa.'' Kata Sheena sambil mengelus kepala Arsen.
''Sudah, ayo kita lanjut olahraganya. Kamu ini malah tengokin perut setiap hari.''
''Rasanya tidak sabar menunggu dia lahir.'' Arsen lalu mengecup perut Sheena dengan gemas. Sheena hanya bisa tertawa geli dengan tingkah suaminya.
''Sheena!" suara itu, membuat senyum Arsen dan Sheena memudar. Fandi sudah berdiri di depan gerbang rumah Arsen yang terbuka. Seketika raut wajah Arsen berubah masam. Fandi lalu melangkahkan kakinya memasuki pelataran rumah mewah Arsen.
''Untuk apa kamu datang kemari?'' tanya Arsen dengan sinis. Sheena lalu menggenggam tangan Arsen, memberi tanda supaya Arsen tidak tersulut amarah.
''Maaf kalau kedatanganku menganggu kebahagiaan kalian.''
''Ya, tentu saja kedatanganmu sangat menganggu.'' Ucap Arsen.
''Fan, ada apa kamu kemari? Aku senang melihatmu sembuh.'' Ucap Sheena.
''Sheena, aku sudah ingat semuanya. Aku sudah ingat semua kenangan tentang kita. Kenapa kamu tidak sabar menunggu ku? Kita bisa bahagia bersama Sheena. Kenapa kamu melupakan aku begitu saja dan menikahi pria lain?''
''Fandi, aku rasa kamu sudah tahu alasannya. Sebelum mengenal kamu, aku lebih dulu mengenal dia, suamiku.''
''Maksudmu, apa kamu selama ini selingkuh di belakangku?''
''Tidak Fandi! Kami sudah berteman sejak kecil. Bahkan keluargaku sudah tahu dan mengenal Sheena sejak dulu, dengan kondisinya yang tidak seperti sekarang ini. Namun setelah itu Sheena menghilang dan aku sekolah di luar negeri. Pertemuan kita juga tidak ada unsur sengaja. Sepertinya takdir mempertemukan kami kembali. Aku dan dia bahkan saat bertemu kembali tidak ada rasa saling cinta. Dan kami juga tidak tahu kapan cinta itu hadir di tengah-tengah kami. Kamu harus sadar, kalau kamu sudah memiliki istri. Sekalipun ingatanmu sudah pulih tapi kehidupanmu dan Sheena kini sudah berbeda. Sheena sama sekali tidak selingkuh, dia juga dulu sangat mencintaimu bahkan saat aku dan Sheena di pertemukan kembali. Aku tahu betapa menderitanya Sheena bertahan untuk mencintaimu. Semua hinaan, cacian bahkan rela Sheena terima demi bertahan untuk mencintaimu. Apalagi Ibumu yang begitu membenci Sheena dan merendahkan Sheena seenaknya. Memang kesalahan apa yang diperbuat Sheena sampai Ibumu begitu membenci Sheena? Kembalilah pada kehidupanmu yang baru, Fan. Ada wanita yang begitu tulus mencintaimu. Simpan semua kenanganmu dan Sheena dalam-dalam. Karena aku juga tidak akan pernah melepaskan Sheena. Aku sangat mencintainya dan aku juga akan menjaganya sampai hembus nafas terakhirku.'' Ucap Arsen dengan penuh ketegasan dengan sorot mata yang tajam pada Fandi.
**Bersambung... Apakah yang akan di lakukan Fandi selanjutnya??
__ADS_1
Yukk like, komen dan votenya yang banyak ya, terima kasih 🙏😘**