
Ken yang terpancing dengan ujaran Roy dan kevin kini melangkah lebih dekat disusul Weva yang kini ikut melangkah mundur.
"Lo mau kemana?" tanya Ken sembari terus melangkah mendekati Weva.
Weva tak menjawab. Ia tetap terdiam sambil terus melangkah mundur ditambah lagi dengan sorotan mata Ken yang sedari tadi menatapnya dengan tajam.
Tatapan tajam ini benar-benar mengancam Weva, jika saja ada tatapan yang mampu membakar seseorang mungkin, Weva lah orang yang pertama yang terbakar dengan tatapan tajam ini. Hah, ini pasti sungguh panas.
Semua orang masih setia menatap ke arah Weva dan Ken, bahkan mereka terlihat saling berbisik.
Langkah Ken terhenti. Kedua mata Ken menatap Weva lalu beralih melirik sesuatu yang sedari tadi Weva sembunyikan dari balik tubuhnya yang gendut itu.
Weva membulatkan matanya. Ia ikut menatap ke arah bekal yang ada di belakangnya lalu kembali mendongak menatap Ken membuatnya menelan ludah.
Tuhan, tolong selamatkan Weva yang gendut ini! Tubuh gendut ini tak punya dosa sedikit pun.
Weva menelan ludah lagi, jika saja Weva punya kekuatan untuk menghilangkan diri dari tempat ini mungkin, Weva sudah berpindah tempat dari tadi.
Simsalabim, huh, tolong lenyap kan Weva sekarang juga, Tuhan!
Weva mohon!
Ken yang sedari tadi menatap Weva kini dengan cepat meraih bekal yang berada di balik tubuh Weva yang gemuk membuat dada Ken begitu dekat dengan wajah Weva.
Kedua mata Weva membulat sempurna, tubuhnya kini seakan terkunci rapat setelah aroma wangi parfum dari tubuh Ken tercium sangat jelas dari indra penciumannya menembus paru-parunya.
Bau apa ini? Apakah ini bau wangi surga dunia yang sesungguhnya, oh, sungguh memabukkan sekali. Ternyata pria pembully ini memiliki tubuh yang begitu sangat wangi, tak seperti bau pria yang selalu melintas di samping Weva. Apalagi jika bau tubuh Weva, hanya bau keringat.
Semuanya nampak terkejut sambil menutup mulut seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat, jika Ken nyaris memeluk tubuh gendut Weva yang kini terpatung di tempatnya berdiri.
Ken melangkah mundur sembari tangan kanannya yang kini telah berhasil mengangkat bekal pink milik Weba. Senyum liciknya kini terlihat membuat Weva tersadar dari lamunannya yang sejak tadi sibuk membahas aroma wangi tubuh Ken.
"Nah, dapatkan!"
Ken mengoyang-goyangkan bekal pink itu dengan bangganya di depan Weva yang kini terkejut bukan main.
Itu bekal berisi nasi goreng spesial untuk Brilyan, pria yang paling ia cintai.
"Itu bekal Weva!" Tunjuk Weva.
__ADS_1
"Ya iya lah ini bekal lo, terus siapa lagi kalau bukan lo?"
"Yah, udah sini bekal Weva!"
"Nggak!"
"Sini bekal Weva!" minta Weva penuh harap.
"Nih, ambil!" Julur Ken.
Weva melompat beberapa kali berusaha untuk meraih bekal yang berada di tangan Ken yang masih di tinggikan olehnya. Semuanya berseru dengan iringan decakan tawa ketika Weva melompat membuat semua orang yang ada di sekitar kejadian bisa merasakan lantai yang sedikit gemetar.
Bagi mereka Weva tak ada bedanya dengan induk gajah yang ada di sirkus dan ini termasuk dari hiburan gratis.
"Sini nggak bekal Weva!" ancam Weva, yah, walau sebenarnya Weva tak berniat untuk mengancam pria berandal itu, tapi harus bagaimana lagi Weva sangat butuh bekal itu.
Ujung bibir Ken terangkat sembari terus mempermainkan gadis bertubuh gendut itu. Ini lumayan mengasikkan.
"Ayo ambil!" Pinta Ken sembari mengerakkan kepalanya, menganggukkan-nya beberapa kali dengan wajahnya yang terlihat menjengkelkan bagi Weva.
Wiwi hanya mampu menggeliat kesal, permainan ini cukup mempermalukan Weva. Sejak tadi ia berusaha untuk bicara tapi ia tak bisa. Dua pria berambut pirang telah menutup mulutnya dengan kain yang begitu sangat erat.
Mau terhambur tulang ini jika melawan dua pria yang kurang ajar dan tak punya hati nurani ini.
Dasar geng tak berguna. Mengapa SMA Cendrawasih Internasional School tidak memberantas geng yang seperti ini. Geng yang tak ada sisi positifnya.
"Sini Ken!" minta Weva sembari terus melompat berusaha untuk meraih bekal pink-nya yang masih ada di tangan Ken yang begitu sangat tinggi.
Untuk kemilyaran kalinya Weva benci dilahirkan menjadi sosok Weva, si gendut.
"Ayo ambil!"
"Cepetan!"
"Lo mau ini kan? Yah, udah ini ambil!"
"Ayo ini! Nih, ambil cepetan!" ujar Ken sembari mengerakkan bekal itu depan wajah Weva yang kini terdiam, memainkan-nya seakan Weva adalah seekor anak kucing yang akan bergerak jika dipancing dengan mainan.
Weva terdiam dengan nafasnya yang ngos-ngosan. Rasanya lemak ini seakan menekan paru-parunya hingga tak mampu bernafas normal. Dadanya seakan terikat tali seperti gadis yang dadanya terikat di iklan napacin, sungguh sesak bahkan Weva sudah tak sanggup untuk bernafas.
__ADS_1
"Sini bekal Weva!" minta Weva ketika nafasnya sudah mulai normal.
"Yah, udah ini!"
"Ayo ambil!" ujar Ken lagi sembari menyodorkan bekal pink itu.
Weva terdiam dengan wajah pasang kesalnya.
"Ayo ambil cepetan, Endut!" ujar Ken sembari menarik ulur bekal pink yang berada di tangannya ketika Weva mendekatkan tangannya ke bekal kesayangan Weva.
"Apa Ken bilang?"
"Apa?"
"Tadi Ken bilang sesuatu ke Weva! Weva nggak suka, yah!"
Ken mengernyit heran. Apa yang gadis gendut ini katakan?
"Yang mana?"
Weva mendecakkan bibirnya.
"Ingat, yah! Nama Weva itu Weva! W-E-V-A bukan Endut!" kesal Weva yang mendekatkan wajahnya yang sedang mendongak itu ke arah wajah Ken yang kini menunduk.
Ken terdiam. Jarak antara wajahnya dan wajah gadis gendut itu begitu sangat dekat bahkan jarak hidungnya nyaris bersentuhan.
Semua orang kini saling berbisik dan terkejut melihat jarak mereka yang begitu sangat dekat.
"Heh-" ujar Ken membuat Weva sedikit tersentak kaget.
"Kalau gendut yang gendut aja. Nama lo itu udah pantas dinamain Enduuuuuut," ujar Ken ditambah lagi disaat Ken yang mendekatkan wajahnya saat ia berbicara membuat Weva memundurkan wajahnya menjauhi wajah Ken yang terus mendekatinya dan berhenti saat ia berhenti bicara.
Weva menahan nafasnya agar ia tak terjatuh ke lantai disaat posisinya yang masih bertahan agar tak menyentuh wajah Ken.
Kedua mata Weva berkedip beberapa kali menatap kedua mata Ken yang begitu tajam membuat Weva menelan salivanya.
Ken kembali berdiri tegak membuat Weva segera bernafas lega dan ikut berdiri tegak. Hah, ini seperti tekanan batin.
"Yah, udah. Cepetan ambil!" ujar Ken yang kini menjulurkan bekal itu ke arah Weva.
__ADS_1