
"Berapa?" tanya Harni dengan nada memaksa.
Weva terdiam. Kedua matanya melirik menatap Wiwi yang kini diam seribu bahasa.
"Heh, malah bengong lagi lo."
"Weva harus jawab?"
"Ya iyalah lo harus jawab!" jawabnya dengan nada kesal membuat Weva menghela nafas berat.
Weva kembali menoleh menatap Wiwi yang kini terlihat menggeleng. Yap, Wiwi sepertinya sangat takut jika Weva menjawab pertanyaan dari Harni.
"Ayo jawab! Fans mut Harmut udah nggak sabar mau dengar jawaban dari kamyu tahu nggak. Cepetan jawab!"
"Emm, du...du...dua." Weva mengangkat dua jarinya ke arah kamera sembari tersenyum ragu. Ini kebohongan yang hakiki.
Yap. Weva tak makan dua kali tapi banyak kali.
"Oh my Goooood mut!!!" jerit Harni membuat Weva dan Wiwi menutup kedua telinganya dengan kompak. Entah mengapa mereka sangat suka berteriak dan menjerit seperti itu. Sepertinya tenggorokan tiga gadis geng ini sangat ahli dalam berteriak.
"Kalian dengar kan guys mut?" Tatapannya dengan heboh ke arah kamera, siaran langsung di Instagram itu masih berlangsung.
"Dua? Dia makan dua kali dalam sehari dan dapat badan segendut ini? Oh my Gooood mut!!!"
Di satu sisi Wiwi rasanya tak tahan dengan penghinaan ini. Ini siaran langsung yang berarti ada banyak orang yang melihat kejadian ini. apa lagi Wiwi tahu, Harni miliki milyaran pengikut di Instagram.
Bayangkan ada banyak orang yang menyaksikan kejadian pembullyan ini.
"Matiin kameranya!" Tunjuk Wiwi membuat Harni terdiam setelah mendengar ucapan Wiwi yang baru saja terlontar.
Kedua mata Harni berkedip berusaha untuk memastikan jika ini bukanlah mimpi.
What? Apa ini serius?
"Matiin?" tanya Harni tak percaya.
Wiwi mengangguk. Ya Tuhan, semoga ini bukan jalan kematian baginya setelah berkata seperti ini. Berhadapan dengan anggota geng Sangmut merupakan sebuah bencana besar.
"Lo nyuruh gue matiin?" tanya Harni dengan nada suara yang lebih dijelaskan dan penuh hati-hati.
Wiwi mengangguk, mengiyakan.
"Berani banget lo nyuruh-nyuruh gue."
Harni melangkah mendekati Wiwi yang tak mundur dari tempatnya berdiri.
"Enak aja lo nyuruh gue matiin, emang lo siapa?"
Wiwi terdiam, kedua sorot matanya masih bertahan beratap dengan kedua mata Harni.
__ADS_1
"Gue nggak mau!" sambung Harni secara mentah-mentah lalu kembali tersenyum menatap kamera, sepertinya ia masih sibuk dengan komen-komen di live instagramnya.
Wiwi yang geram itu pun merampas handphone dari tangan Harni membuat semuanya terkejut.
Demi apa Wi?
Lo bisa senekat itu?
Wi, lihat lah! liang kuburmu sudah tergali di depan mata.
Siap-siap dikubur kamu!
"Heh!!!" Suara teriakan itu terdengar mencekam diiringi langkah cepat yang mengarah ke arah Wiwi.
Wiwi yang merasa terancam itu secara refleks melangkah mundur dengan tangan kanan Firda yang sudah berada di kerah bajunya, mencengkeramnya dengan kuat bahkan Wiwi merasa jika ia kesulitan untuk bernafas.
"Berani lo sama kita?" tanya Firda yang mempererat cengkramannya
Wiwi tersentak dengan nafasnya yang terasa terkunci secara tiba-tiba hingga menekan dadanya cukup kuat. Tamatlah riwayatnya kali ini.
Mau dikubur sekarang sepertinya!
"Lo berani ngelawan kita? Hah?!!!" teriaknya membuat Wiwi memejamkan kedua matanya. Mulut itu berteriak tepat di depan wajahnya membuat Wiwi bisa merasakan hawa hangat dari mulut Firda.
"Lo yang cari gara-gara sama gue, bukan gue yang cari gara-gara sama lo," jawab Wiwi.
"Lo emang kurang aj-"
Suara tanya itu terdengar dari belakang kerumunan membuat semuanya menoleh menatap ke sumber suara.
Wajah sangar Bu Yungmi nampak terpampang nyata di sana membuat kerumunan itu berhambur menyisahkan geng Sangmut dan dua makhluk yang tengah berbinar menatap kehadiran Bu Yungmi.
"Kabur Firmut!" Tarik Fhina ketakutan, wajah menyeramkan itu lebih menakutkan daripada malaikat pencabut nyawa.
Firda melirik sorot mata Wiwi yang dibuat setajam mungkin. Haruskah gadis sok pemberani ini dibiarkan begitu saja. Rasanya tinju Firda sudah gatal ingin menghantam wajah sok pemberani itu dan memberikan pelajaran untuk Wiwi, jika ia telah salah mencari masalah dengan geng Sangmut.
"Ayo Firmut!" Paksa Fhina menarik lengan Firda sekuat mungkin.
Firda mengeluh bimbang mungkin, sebaiknya ia pergi dan melepas Wiwi untuk kali ini dan memberikan pelajaran dilain waktu. Yah, Bu Yungmi lebih berbahaya jika mengamuk.
"Jangan macam-macam lo!" Kalimat peringatan itu terlontar disusul lepasan genggaman di kerah baju Wiwi yang dibuat sekasar mungkin.
"Sini hp gue!" ujar Harni lalu merampas handphone dari tangan Wiwi dan segera mengelapnya di sebuah tisyu basah.
"Banyak kuman tangan lo!!!" teriak Harni membuat Wiwi mengangkat tangannya dan menatap telapak tangan. Sekotor itu kah telapak tangannya.
Wiwi menoleh menatap Weva yang ikut menatap telapak tangannya.
"Oh, iya, Wi, ada kumannya," ujar Weva yang malah ikut menunjuk telapak tangan Wiwi sementara Wiwi memandangi Weva dengan wajah datar tanpa ekpresi.
__ADS_1
"Awas lo!!!" teriak Firda yang sudah menjauh dari Weva dan Wiwi yang kini dengan kompak menoleh menatap kepergian geng Sangmut itu.
"Gue nggak takut!!!" teriak Wiwi sok berani karena ada Bu Yungmi di belakangnya.
Langkah Firda terhenti dengan wajah kesalnya.
"Oh, berani yah lo sama gue?!!" teriak Firda yang berniat untuk mendekati Wiwi dan Weva.
"Firdmut, lo mau kemana, sih?" tanya Harni yang langsung menggenggam erat pergelangan tangan Firda.
"Ayo sini lawan kita!!!" teriak Harni.
"Hah?" kaget Weva yang tak percaya dengan apa yang Wiwi katakan.
"Wiwi mau ngelawan mereka?"
"Hust! tenang aja! Di belakang ada Bu Yungmi!" bisiknya.
Kedua mata Weva berbinar, itu berarti dia aman dan selamat.
"Hey, ayo lawan Wiwi!!!" teriak Weva.
"Kok, gue, sih?"
"Kan yang nantangin Wiwi bukan Weva, iya kan?"
Weva tersenyum lalu tertawa kecil membuat wajah Wiwi datar menatap Weva yang perlahan memudarkan tawanya.
"Weva salah, yah?"
Firda mendecakkan bibirnya kesal. Dua gadis ini benar-benar menguji nyalinya.
"Sini lo!"
"Firda, udah! Ayo cepetan kabur!"
"Tapi-"
"Mut!" teriak Fhina membuat Firda dan Harni menoleh.
"Ayo cepetan! Gue nggak mau dihukum tahu nggak cuman gara-gara lo kepancing sana si gendut dan si kurus jelek itu," kesalnya.
"Firmut!!! Cepetan!" bisik Harni dengan kedua rahangnya yang menegang.
Firda mendecakkan bibirnya dengan kesal menatap Weva dan Wiwi yang malah menjulirkan lidahnya dan mengolok-ngoloknya. Sudah jelek malah tambah dijelek-jelekkan.
"Firmut, ayo cepetan!" Tarik Harni membuat Firda akhirnya melangkah pergi mengikuti ke arah mana Harni membawanya.
Kejadian ini berakhir dengan anggota geng sangmut yang beranjak pergi dari tempat ini. Weva dan Wiwi secara bersamaan menghembuskan nafas lega, yah, kali ini mereka terbebas dari orang jahat itu.
__ADS_1