
Ken yang berada di dalam kamar mandinya itu memakai handuk putih untuk menutupi pinggang hingga ke lututnya. Ken menatap wajahnya sejenak di permukaan cermin sambil mengusap rambutnya yang basah itu dengan handuk.
Ken menghembuskan nafas panjang. Langkahnya yang berniat untuk melangkah keluar dari kamar mandi itu langsung tertahan saat menatap sekilas pada jaket yang berada di keranjang pakaian kotor.
Ia melangkah mendekati keranjang lalu meraih jaket dan merogoh sehelai foto yang terpampang sosok Ken dan Weva. Foto ini adalah foto yang Ken ambil dari keranjang tempat sampah setelah Weva menyuruh untuk membuangnya.
Ken melanjutkan langkahnya keluar dari kamar mandi dan tertawa kecil. Wajah Weva dan wajahnya sangat terlihat lucu di sini.
Senyum yang indah itu tak dapat hilang dari bibir Ken. Ia membuang selimutnya ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya di atas sana.
Kedua matanya menatap lekat pada sosok Weva yang terlihat menganga sebelum ia terjatuh tadi.
Ia mengerakkan ibu jari tangannya menyentuh permukaan wajah Weva sambil tersenyum bahagia. Ken bahkan tak mengerti mengapa ia bisa tersenyum seperti ini hanya karena melihat foto Weva.
Ken meletakkan foto itu ke permukaan kasur dan beralih untuk menatap langit-langit kamarnya. Ia memejamkan kedua matanya sesaat hingga kejadian selama ia jalan-jalan terbayang dalam ingatannya.
Senyum dan tawa Weva seakan terbayang dan tergiang-ngiang di indra pendengarannya. Seumur hidupnya Ken tak pernah menghabiskan waktu seharian penuh bersama dengan seorang gadis dan untuk pertama kakinya ia melakukannya bersama dengan Weva, si gadis gendut yang selama ini telah menjadi bahan bullyannya.
Ken tak mengerti dengan perasaanya saat ia bersama dengan Weva. Detak jantungnya, pola nafasnya, semuanya jadi meningkat jika berkaitan dengan Weva.
Yah, Ken akui jika ia merasakan sesuatu pada hatinya. Ken tersenyum lagi dan lagi bahkan ia sudah tak tahu lagii telah berapa kali ia tersenyum karena memikirkan Weva.
Jari tangannya bergerak dan mendarat pada bibirnya yang telah lancang dan tanpa permisi mencium kening Weva.
Apa Weva akan marah! Hah, ia bahkan tak memikirkan hal itu sebelum mencium Weva.
Ken mengigit bibir bawahnya dengan rasa malu dan tak berselang lama ia bangkit dari kasur. Ia melirik foto mereka yang masih berada di atas kasur itu sejenak sebelum ia meraih sehelai foto itu lalu bangkit.
Ken menarik kursi dan memutuskan untuk duduk di depan meja belajarnya yang bertemakan Barbie itu.
Ia menyobek sehelai kertas dari bagian tengah buku yang ia ambil dari dalam tas hitamnya. Ken menekan ujung pulpen pada dahinya berulang kali dengan pelan berusaha untuk memikirkan kalimat sesuatu yang ingin ia tulis.
Ken mulai mengerakkan pulpennya menghasilkan tulisan bertinta hitam pada kertas putih. Ken menghentikan gerakan tangannya, menatapnya sejenak sebelum meremuk kertas itu menjadi bulat dan melemparnya ke dalam keranjang sampah.
__ADS_1
Sepertinya ada yang salah pada tulisan itu. Ken kembali meraih kertas dan kembali menulis lalu meremuknya saat isi tulisan tak sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hal ini tak hanya dilakukan dua kali saja, tapi puluhan kali, namun tak membuat Ken menyerah. Sampai berserakan dimana-mana bahkan sampai mendarat jauh ke atas kasurnya. Ken tak peduli, yang ia pikirkan adalah isi surat yang ia buat ini sesuai dengan harapannya.
...****************...
"Ini, Non."
Weva tersentak kaget. Dengan cepat ia membalik sehelai foto yang sejak tadi is tatap tanpa rasa bosan. Ken di sini terlihat tampan dan lihat Weva! Bahkan ia tak menatap ke arah kamera, tapi ia justru menatap wajah Weva seakan Weva sedang menatap pria yang menjadi cinta pertamanya.
Tunggu! Cinta pertama Weva tetap Brilyan, bukan? Weva harap seperti itu.
"Makasih, Mbok."
"Iya, Non."
Mbok Rosi melangkah keluar dari kamar setelah meletakkan segelas air hangat ke atas meja. Weva sebenarnya tak tega untuk menyuruh Mbok Rosi yang sesekali menguap dengan mata sayup saat melangkah keluar dari kamarnya, tapi apa boleh buat. Weva hanya menurut perintah Ken.
Weva meraih segelas air hangat dan meminumnya dengan hati-hati. Weva menghembuskan nafas panjang. Saran Ken memang berguna, Weva jauh merasa lebih baik setelah minum air hangat.
"Bobo!"
Weva berlari menghampiri Bobo dan menarik boneka panda dari mulut Bobo yang terlihat mengigit leher boneka panda itu.
"Bobo! Kok, digigit, sih bonekanya? Ini kan boneka Weva. Bobo nggak boleh gigit!"
Weva mendudukkan dirinya di atas kasur, mengusap pipi boneka panda sebelum ia memeluknya dengan erat sambil tersenyum.
Ia membaringkan tubuhnya itu ke atas kasur. Kedua matanya menatap serius pada langit-langit kamarnya. Ia mengusap kepala boneka panda yang masih berada di atas tubuhnya. Kenangan kejadian malam tadi tak akan pernah Weva lupakan dalam hidupnya.
Rasanya boneka pemberian Ken yang masih ada di dalam pelukannya membuat Weva merasa nyaman.
Terlintas di pikiran Weva mengenai kecupan itu membuatnya dengan pelan mengerakkan tangannya dan menyentuh permukaan keningnya.
__ADS_1
Weva tersenyum malu dan lagi-lagi pipinya jadi memerah karena mengingat kejadian tadi.
"Kenapa Ken cium kening Weva?"
Weva menutup wajahnya itu. Rasanya ia ingin berteriak keras. Weva menyentuh kedua pipinya yang terasa hangat. Tuhan, kenapa ia jadi seperti ini.
"Weva kenapa, sih?"
"Kenapa perasaan Weva kayak gini kalau sama Ken?"
"Aaaaa! Weva, Weva kenapa?"
Weva bangkit dari kasur. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan lalu ia diam sejenak.
"Ah! Weva nggak bisa!" putus asanya yang kembali membaringkan tubuhnya ke kasur.
"Weva! Sadar!"
"Weva harus ingat Brilyan!"
"Harus!"
...****************...
Suasana malam hening seakan telah menjadi sahabat damai dan sejati pria yang kini duduk di depan jendelanya yang terbuka lebar memperlihatkan pemandangan kota yang terlihat berkerlap-kerlip di bawah sana, tak kalah indahnya pada bintang-bintang yang bertabur di atas sana.
Brilyan menopang dagu meratapi tulisan rumus yang sejak tadi ia pelajari pada buku catatan berwarna hitamnya.
Brilyan bangkit dari kursi, ia menurunkan kain gorden hitam menutupi jendela lebarnya. Brilyan melangkah mendekati lemari dan menatap satu persatu bekal milik gadis gendut yang setiap hari selalu datang untuk memberikan nasi goreng untuknya, walau telah beberapa hari ini ia tak lagi mendapati bekal itu di kolom meja.
Brilyan mendongak menatap bekal-bekal yang lain. Ada cukup banyak di sini bahkan saking banyaknya Brilyan tak mampu untuk menghitungnya. Gadis gendut itu memang selalu membawa bekal untuknya dari ia sekolah dasar hingga sekarang.
Brilyan tak mengerti mengapa gadis gendut itu mau melakukan hal itu kepadanya sementara ia tak peduli pada apa yang dia lakukan.
__ADS_1
Brilyan tersenyum tipis dan setelahnya ia melangkah ke arah kasurnya. Ia meletakkan buku catatan kecilnya di atas dada dan menutup kedua matanya dengan tenang.