Princess Endut

Princess Endut
194. Pengumuman


__ADS_3

"Klorin?" Tatap Sasmita tak mengerti.


Ia yang masih kebingungan itu menoleh menatap Weva yang menarik-narik pelan rambutnya untuk menutupi rasa kegugupannya.


"Para peserta dipersilahkan untuk naik kembali ke atas panggung untuk pengumuman perlombaan!"


...****...


Firda meraih buah apel yang berada di atas keranjang buah. Ia menyadarkan tubuhnya ke permukaan bantal untuk menjadi sandaran.


"Guys Mut!" ujar Harni yang sedang asik menatap handphonenya.


Mereka kini masih berada di dalam ruangan perawatan rumah sakit setelah perkelahian itu.


"Mut!"


"Em?" sahut Fhina malas tanpa menoleh.


Wajah Fhina terlihat terdapat perban di bagian kening, pipi kanan dan dagunya serta hidungnya yang terlihat bengkak. Sebenarnya ia ingin melaporkan tindakan kekerasan ini kepada pihak polisi tapi ia sadar yang memulai perkelahian itu adalah dirinya.


"Lo ingat tentang perlombaan cerdas cermat yang batal lo ikutin karena masuk rumah sakit kan?"


"Em," sahutnya malas.


"Fhimut tau nggak, sih sekarang itu udah mau pengumuman."


"Lo tau dari mana?" sahut Firda yang sejak tadi asik dengan buah apelnya.


"Nih, Harmut lagi nonton livenya."


"Mana? Mana? Gue mau liat!" minta Firda membuat Harni berlari turun dari ranjang rumah sakit dan menghampiri Firda melewati ranjang yang Fhina tempati.


Firda menatap serius ke arah layar handphone milik Harni yang menampilkan kegiatan perlombaan itu.


"Tambahin volumenya!"


...****...


Weva menoleh menatap pria yang sedang berdiri di atas panggung. Satu persatu peserta naik ke atas panggung dan berdiri bersama dengan pasangan masing-masing membuat Weva kembali menatap Sasmita.


"Semangat aja! Mommy nggak bakalan kecewa kalau you kalah. Semua udah ada yang atur."


"Papi!"


Burhan ikut tersenyum. Ia mengangguk berusaha untuk memberitahu Weva jika apa yang Sasmita katakan benar. Mereka melangkah kembali ke arah bangku penonton setelah anggota panitia yang menyuruh mereka duduk sesuai arahan.

__ADS_1


Johan menepuk bahu Brilyan yang tersentak kaget. Ia yang berniat untuk bangkit dari kursi itu membuat nafasnya tiba-tiba saja langsung tertahan diiringi detak jantungnya yang berdetak sangat cepat. Sebuah beban jika ia harus berhadapan dengan Papanya.


"Kamu harus ingat! Papa nggak mau kamu kalah! Kalau hari ini kamu kalah dan nggak jadi pemenang maka kamu tau kan apa hukumannya?"


Brilyan mengangguk membuat Johan tersenyum. Ia menepuk bahu Brilyan lalu kembali berujar, "Naiklah!"


Brilyan meneguk salivanya. Ia bangkit dari kursi dan melangkah ke arah panggung. Johan yang tersenyum licik itu dengan perlahan melirik menatap ke arah pak Ahmad yang sudah sejak tadi menatap ke arahnya.


Johan tersenyum sinis membuat sudut bibirnya terangkat. Ia menarik nafas pendek dan beralih menatap putranya yang telah berada di atas panggung bersama dengan Weva.


"Para hadirin yang terhormat. Syukur kita ucapkan karena kegiatan lomba cerdas cermat berpasangan tingkat SMA telah memasuki acara pengumuman."


"Setelah melewati kegiatan proses tanya jawab dan nilai poin yang telah dikumpulkan maka para juri telah menentukan pemenang dalam lomba cerdas cermat berpasangan tingkat SMA dibagi menjadi tiga juara."


"Juara ketiga diberikan kepada."


Anggota panitia ini menjeda kalimatnya membuat para penonton dan peserta terdiam menanti pengumuman.


"Selamat kepada SMA Delima!!!"


Sorakan tepuk tangan terdengar bergemuruh memenuhi ruangan stadion mini ditambah lagi disaat seseorang melangkah melintasi Weva dan Brilyan sambil membawa medali dan piala.


Semua para pendukung SMA Delima bersorak bahagia disaat mereka melihat putra dan putri andalan mereka dikalungkan medali berwarna emas pada lehernya dan diserahkan piala.


Para penonton yang merupakan pendukung dari SMA Jaya Abadi melompat-lompat bahagia sementara di kursi penonton disebelah kanan terutama para pendukung Cendrawasih Internasional School terlihat diam dengan raut wajahnya yang terlihat khawatir.


Johan menghembuskan nafas berat. Ia masih diam dengan sorot matanya yang menatap tajam ke arah Brilyan yang hanya mampu terdiam.


"Selanjutnya yang paling kita tunggu-tunggu adalah juara pertama yang kami berikan kepada."


Weva terdiam. Nafasnya seakan tertahan di dada. Di bangku penonton juga terlihat Sasmita yang memeluk erat jemari tangan suaminya yang merasa khawatir.


Wiwi meneguk salivanya. Ia mengusap jemari tangannya yang berkeringat. Ia menoleh menatap Ina dan pak Walio yang menyentuh tangannya secara bersamaan.


Ken mengusap wajahnya yang terasa memanas lalu melipat bibirnya ke dalam sambil menopang dagu.


"Juara pertama yang kami berikan kepada Cendrawasih Internasional School!!!"


"Aaaaa!!!" teriak Wiwi dan pak Walio dengan kompak sambil melompat-lompat bahagia dan saling berpegangan tangan.


...***...


"Yeeeeee!!!" teriak Firda dan Harni kompak sambil melompat secara bersamaan dan berpelukan.


Mereka turut bahagia mendengar pengumuman pemenang juara pertama yang kembali diberikan kepada sekolah mereka setelah setahun lalu hanya mendapat juara dua.

__ADS_1


"Sekolah kita menang!!!" teriak Harni lagi.


Disatu sisi Fhina hanya mampu terdiam. Ia menghela nafas panjang lalu tertunduk. Apa mungkin Klorin, si gadis yang ia ajak berkelahi beberapa hari yang lalu itu memang adalah alasan dalam kemenangan ini.


Fhina memanglah sadar jika Klorin memang lebih cerdas dan layak untuk mengikuti lomba cerdas cermat itu dibanding dirinya. Mungkin jika ia yang menjadi pasangan Brilyan, ia tidak mungkin meraih juara satu itu.


...***...


Kedua bibir Weva terbuka, kedua matanya membulat kaget setelah mendengar pengumuman. Weva mendongak menatap ke langit-langit tinggi ketika kertas-kertas kecil berwarna gold itu berguguran menghujani panggung dan mengenai wajah lembutnya.


Weva menutup mulutnya yang terbuka itu dengan jemari tangannya. Impiannya! Ini adalah impian yang Weva inginkan selama ini. Disaat semua para guru-guru Cendrawasih Internasional School melompat bahagia kini pak Ahmad hanya diam, entah apa yang ia pikirkan tapi kedua matanya menatap serius ke arah Weva yang masih berada di atas panggung.


Brilyan menoleh menatap Johan yang terlihat saling bersalaman dengan bangga kepada para penonton yang memberi ucapan selamat. Brilyan hanya terlihat diam di atas panggung memejamkan kedua matanya dengan erat dan membukanya perlahan. Untung saja ia kembali menang dalam perlombaan ini dan ia tak mendapat hukuman dengan belajar selama 24 jam yang diawasi oleh dua bodyguard.


"Selamat, ya."


"Terima kasih, pak," ujar Weva saat berjabat tangan setelah pria tua yang merupakan juri mengalungkan medali berwarna gold itu di leher Weva.


Weva menyentuh permukaan medali itu dengan pelan. Ia mendongak menatap ke arah Sasmita, Burhan dan Wevo. Setelahnya ia menoleh menatap ke segala arah mencari sosok pria yang tak henti-hentinya ia cari di setiap waktunya.


Gerakkan mata hitam Weva terhenti bergerak menatap ke arah Ken yang terlihat tersenyum tulus ke arahnya. Bibir Weva bergetar, rasanya ia ingin menangis tapi Ken kembali menunjukkan ke arah matanya lalu kembali menggeleng berusaha untuk melarang Weva menangis.


"Selamat untuk kepada para juara dan kami persilahkan untuk tim juara 1 berpasangan untuk memberikan sepatah dua kata!"


Weva yang terdiam memasang wajah datar itu menoleh menatap Brilyan yang sejak tadi menatap ke arah Johan. Brilyan menoleh menatap Weva lalu tersenyum sejenak. Keduanya melangkah mendekati microphone yang telah disediakan paling depan.


Brilyan melirik menatap Weva yang terlihat mengangguk sambil tersenyum. Brilyan menarik nafas dalam-dalam dan mulai berbicara.


"Terima kasih untuk semuanya. Yang saya dapatkan hari ini itu semua berkat Papa saya yang telah mendukung saya sehingga dapat berada di atas panggung ini."


"Papa saya adalah orang yang hebat. Beliau yang telah membimbing saya seorang diri setelah Ibu saya meninggal dalam menjalani hidup."


"Beliau adalah alasan saya bisa ada di tengah-tengah semuanya. Terima kasih, Papa."


Johan mengangguk. Ia tersenyum saat orang-orang mengucapkan kata selamat lagi bahkan ada beberapa para penonton yang terlihat saling berbisik mengagumi sosok Johan yang terdengar benar-benar begitu sempurna sebagai seorang Papa. Johan tersenyum begitu bangga, ini yang ia inginkan selama ini. Sebuah kalimat pujian dan tatapan kagum.


Pak Ahmad yang mendongak menatap ke arah Brilyan yang berada di atas panggung kini menggerakkan kepalanya menatap ke arah Johan. Johan yang membalas satu persatu pujian itu tak berselang lama menoleh menatap ke arah pak Ahmad dengan sebelah mata lalu tersenyum sinis.


Pak Ahmad menghela nafas. Ia tersenyum menatap ke arah Ken dan merangkulnya membuat Ken menoleh menatap Bapaknya sambil mengulurkan senyum.


"Giliran Klorin! Silahkan untuk memberikan sepatah kata!" pinta salah satu wanita membuat Weva mengangguk.


Weva melangkah selangkah ke depan dan berdiri tepat di hadapan microphone. Kedua matanya menatap ke segala arah dan menatap satu persatu orang tersayang yang terlihat tersenyum menatap ke arahnya.


Weva menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya lewat ujung bibirnya. Ia menelan salivanya dengan keras berusaha untuk menguatkan dirinya. Semuanya terdiam menatap ke arah satu sosok yang masih terdiam di atas panggung.

__ADS_1


__ADS_2