
Perasaan apa ini? Tolong sadar!
Kedua mata Weva kini menatap langit-langit ruangan. Bayangan wajah Ken seakan terbayang di atas membuatnya jadi tak konsentrasi.
Tuhan, apakah mata Weva sudah rusak sampai melihat langit-langit ruangan pun sudah berubah menjadi wajah Ken.
Weva meneguk salivanya. Dari sini ia juga bisa merasakan hangatnya jari tangan Ken yang masih menggenggam jari-jari tangannya.
Tuhan, perasaan apa ini?
"Woy!!!" teriak Ken membuat Weva terkejut.
Ia menatap Ken yang kini masih menatapnya.
"Ngapain lo ngelamun? Cepetan sit-up!"
Weva mendengus kesal. Rasanya Weva tak nyaman dengan situasi ini.
"Ah, udah ah! Nggak usah bantu Weva!" ketus Weva yang langsung menghempas kedua tangan Ken yang langsung melotot tajam.
"Udah enak gue bantuin masih aja nyolot. Dasar gendut!" maki Ken yang langsung bangkit membuat Weva mendongak.
"Yah, udah lo sit-up aja sendiri!"
Weva melirik menatap Ken yang melangkah pergi meninggalkannya. Weva bernafas lega. Akhirnya Ken pergi meninggalkannya dan tak membuat Weva jadi sesak nafas seperti ini.
"Aduh, Ken! Ken itu nggak tahu aja gimana jantung Weva kalau Ken ada di dekat Weva."
"Weva nggak mau kalau hati Weva itu pindah ke Ken sementara tujuan Weva itu buat Brilyan."
Hari ke tujuh....
Weva berlari mengelilingi kompleks perumahan Ken dengan langkah yang begitu melelahkan. Ini sudah putaran yang ke lima di sore yang begitu sangat cerah.
Baju kuning terang, celana kuning terang yang pernah ia gunakan disaat pertama kali ia datang ke tempat gym Ken dan membuatnya malu kini melekat di tubuhnya. Weva tak peduli dengan tatapan orang-orang kompleks yang menatapnya intens karena bajunya yang terlalu terang. Tujuan Weva hanya satu yakni langsing dan bisa dikejar oleh Brilyan.
Sesekali tangannya meraih handuk kecil yang berada di punggung lehernya dan mengusap keringat yang bercucuran membasahi wajahnya. Tak lupa juga Weva meraih kaca mata bulatnya dan mengusap pelan permukaan kaca mata yang mengaburkan pandangannya dari keringat. Ini semua ia lakukan tanpa pernah menghentikan larinya dengan satu penyemangat, Brilyan.
Weva tersenyum menatap Ken yang berada di kejauhan menatapnya sambil memegang alat pengukur waktu. Yap, Ken sedari tadi tengah menghitung waktu berapa lama Weva berlari. Ken hanya memastikan jika Weva berlari sesuai waktu yang ditentukan dan yang paling terpenting adalah Weva tak singgah di pinggir jalan dan menemui penjual bakso atau pun ice cream.
__ADS_1
Weva tahu bakso adalah penggoda nomor satu baginya tapi Brilyan merupakan semangat baginya. Harus Weva akui jika setelah Brilyan mengatakan hal itu kemarin ia jadi sangat bersemangat seperti yang Weva rasakan saat ini.
"Enam putaran!!!" teriak Ken ketika Weva melintasinya.
Weva menoleh dan memberikan senyum manisnya kepada Ken yang ikut membalas senyum Weva. Weva kembali memutar kepalanya dan kembali fokus pada larinya.
"Semangat, Wev!" teriak Ken lagi.
Ken tersenyum menatap Weva yang telah berlari sudah cukup jauh darinya.
Ken yang asik melihat Weva kini terhilang senyumnya melihat Pinky yang ikut berlari di belakang Weva.
"Pinky!!!" teriak Ken.
Lapangan
Weva berlari mengelilingi lapangan kompleks sementara Ken sedang bersorak di pinggir lapang sembari bersorak memberikan semangat persis seorang pelatih yang menyoraki anak didiknya yang tengah ikut lomba lari.
"Ayo, Wev lari!!!"
"Sisa dua putaran ke lapangan dekat gawang!!!"
Ini sudah putaran yang ke sebelas dimana kini pakaian Weva sudah basah karena keringat yang keluar dari tubuhnya.
Genap lima belas putaran kini Weva beralih untuk melompat -lompat menggunakan sebuah tali yang diputar sesuai perintah Ken yang kini sedang sibuk menghitung jumlah lompatan Weva sembari memegang stop watch yang menghitung berapa lama Weva melompat.
"Jangan menyerah, Wev!"
Gym Super K
Weva menghempaskan tubuhnya ke matras dimana tangannya berada dibelakang kepalanya. Kali ini Weva melakukan gerakan sit-up lagi dan lagi walau Weva tak pernah berhasil membangkitkan tubuhnya yang terasa berat itu.
"Ayo Wev semangat!" sorak Ken memberi semangat sembari memegang kedua lutut Weva yang sedari tadi ditekuk.
Weva telah menyuruh Ken untuk tak perlu memegang lututnya tapi yang keras kepala itu tetap saja tak mau mendengar perintahnya.
Weva mengusap kelopak matanya yang berkeringat serta kedua matanya yang terpejam erat.
Ini melelehkan. Perutnya bahkan sudah sannat sakit, tapi ini bukan waktunya untuk mengeluh dan menyerah. Weva harus bisa melalui ini semua.
__ADS_1
"Ayo Wev!" pintah ken.
Weva menarik nafas panjang dan menghembuskannya lewat ujung bibirnya.
"Ayo Wev! Lo pasti bisa!
"Ayo!"
Weva menatap Ken yang masih menatapnya dengan penuh keyakinan. Ia menghela nafas panjang dengan tenang.
"Ayo, Weva! Jangan kecewakan Ken yang udah mati-matian ngedukung Weva! Weva harus semangat!" Batinnya.
Weva kembali meletakkan kedua tangannya ke belakang kepalanya sembari melipat kedua bibirnya seakan berusaha untuk mengumpulkan semua kekuatannya.
"Ayo Wev! Lo pasti bisa!"
Ken terdiam sejenak dan tak berselang lama ia kembali bicara, "Ingat Brilyan!"
Weva mengerang dan segera mengangkat tubuhnya yang terasa berat itu dengan susah payah. Tubuh Weva bergetar seakan tak kuasa untuk mengangkat tubuhnya yang begitu gendut ini.
"Ah!!!" teriak Weva ketika ia berhasil melakukan sit-up membuat senyumnya merekah indah menatap ken yang memasang wajah datarnya.
Ken menatap ke arah lain. Ternyata Ken sadar ternyata pengaruh nama Brilyan sangat berpengaruh bagi Weva. Buktinya sekarang Weva bisa melakukan sit-up setelah ia menyebut nama Brilyan.
Apa sebesar itu rasa suka dan cinta Weva untuk Brilyan? Ken kembali menatap Weva yang masih mengatur nafasnya.
"Tuh, kan lo bisa sit-up, mungkin kalau gue nggak nyebut nama Brilyan, lo pasti nggak akan bisa sit-up kayak gini."
"Kok Brilyan?" tanya Weva tak mengerti.
"Yah iya lah si Brilyan. Siapa lagi coba? Coba lo pikir tadi lo nggak bisa sit-up tapi pas gue sebut nama Brilyan, lo langsung bisa," jelas Ken lalu ia bangkit dan melangkah meninggalkan Weva yang kini terdiam dengan tatapan herannya.
"Ken!"
"Ken! Kok pergi, sih? Ini Weva gimana?!!" teriak Weva.
Ken tak menjawab melaingkan ia terus melangkah meninggalkan Weva yang masih terdiam.
Entah mengapa Ken menyebut nama Brilyan atas dasar berhasilnya Weva dalam melakukan gerakan sit-up padahal Weva berusaha untuk melakukan sit-up karena sejujurnya ia tak mau mengecewakan Ken.
__ADS_1
Weva tak ingin membuat Ken kecewa dan usaha yang Weva tunjukkan ini untuk Ken, bukan Brilyan.