Princess Endut

Princess Endut
34. Alasan


__ADS_3

"Saya tidak punya waktu," jawab pak Ahmad sembari berpura-pura menyibukkan dirinya dengan laptop.


"Ini penting, pak."


Pak Ahmad menghela nafas berat lalu ia menoleh menatap Weva.


"Saya sudah bilang, kan kalau saya tidak punya waktu-"


"Tapi, pak-"


"Weva Evanita Said, saya benar-benar sangat sibuk, silahkan keluar!" Pintah pak Ahmad dengan nada yang masih sopan.


Weva dalam beberapa saat terdiam membiarkan pak Ahmad yang nampak sibuk dengan layar laptopnya. 


"Pak Ahmad harus dengar apa yang Weva mau bilang."


Tak ada jawaban.


"Pak Ahmad curang," ujar Weva membuat gerakan jari tangan pak Ahmad yang menekan tombol keyboard itu terhenti. Kedua mata pak Ahmad beralih menatap Weva.


"Apa kamu bilang? Curang?" tanya pak Ahmad.


Weva mengangguk membuat pak Ahmad tertawa kecil. Ia menghela nafas panjang lalu menyilangkan kedua kakinya.


"Apa buktinya kalau saya curang? Kamu tidak boleh, dong menuduh orang tanpa ada bukti."


Mendengar hal itu membuat Weva segera mengangkat kertas yang kini dijadikan sebagai alat buktinya. Alat bukti yang memberanikan Weva datang ke ruangan pak Ahmad.


"Ini buktinya, pak."


"Semuanya ada di sini."


Melihat hal itu membuat pak Ahmad kini mendecakkan bibirnya. Bagaimana bisa ia lupa dengan kertas itu.


"Semua jawaban Weva benar dan jawaban Fhina banyak yang salah, pak, tapi kenapa bukan Weva yang terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk ikut di olimpiade nanti? Kenapa harus Fhina?"


"Padahal, kan, pak Ahmad tahu kalau Fhina itu dulu gagal dalam olimpiade matematika terus kenapa Fhina kembali diikut sertakan?".l


Tak ada jawaban.


"Tolong, pak untuk tahun ini izin, kan Weva yang ikut olimpiade matematika mewakili sekolah!"


"Weva bisa, pak."


"Weva yakin bisa mewakili sekolah di olimpiade nanti dan buat semuanya bangga."


"Weva janji, Weva bakalan giat belajar, Weva bakalan-"


"Weva!" panggil pak Ahmad membuat Weva kini langsung terdiam.


"Saya tahu kamu bisa, tapi itu semua tidak mungkin."


Dahi Weva mengkerut menatap heran setelah apa yang pak Ahmad katakan.


"Maksud, pak Ahmad apa?"


"Saya tidak mungkin mengikut sertakan kamu ke dalam olimpiade mewakili sekolah ini."


"Tapi, pak-"


"Saya percaya kamu bisa mendapat juara satu jika ikut olimpiade ini, tapi percayalah, Nak dibandingkan kamu dan Fhina, penampilan Fhina lebih mendukung dibandingkan kamu."

__ADS_1


Weva seketika terdiam kaku dengan sorot matanya yang masih menatap serius ke arah pak Ahmad.


"Maksud pak Ahmad?"


"Kamu mau tahu alasannya?"


Weva terdiam, ia tak menjawab ataupun mengangguk.


Pak Ahmad menghela nafas lalu segera bangkit dari kursinya dan melangkah mendekati sebuah gorden biru yang menutupi jendela.


Sreeeek


Pak Ahmad membuka kain gorden biru itu cukup lebar membuat Weva menatap bangunan dan lingkungan sekolah dengan jelas.


Pak Ahmad terdiam sejenak di depan jendela seakan belum siap untuk bicara lagi.


"Lihat di sana!" Tunjuk pak Ahmad ke arah luar membuat Weva melangkah maju dan beralih menatap Fhina yang nampak tengah bersenda gurau dengan anggota geng Sangmut nya.


"Lihat baik-baik, Weva!" pintah pak Ahmad.


Weva hanya mampu menurut membuatnya terfokus kepada Fhina.


"Fhina tinggi seperti model yang melangkah di atas catwalk."


"Yah, kamu juga tinggi tapi sayangnya kamu tidak seperti model."


"Fhina sangat cantik sedangkan kamu-" ucapan pak Ahmad terhenti beberapa saat.


Weva tertunduk sembari meremas jari-jarinya yang sudah berkeringat. Rasanya ada yang mengganjal di hatinya. Weva berharap tak ada kata bully-an untuknya dari pak Ahmad.


"Sedangkan muka kamu pas-pasan," sambung pak Ahmad.


Weva menengadahkan wajahnya sedikit ke atas berusaha menahan air mata yang siap untuk tumpah kapan saja.


"Fhina sangat langsing sedangkan kamu sangat gendut."


Yap, kalimat familiar itu kembali terdengar.


Ku mohon weva untuk kali ini jangan menangis! Ku mohon!


"Saya tidak bermaksud untuk membanding-bandingkan kamu dengan Fhina, loh, yah, tapi kamu benar-benar gendut."


"Jadi seperti ini, Fhina ibarat bidadari sedangkan kamu sebuah sumo."


Weva mengangguk pelan membuat air matanya menetes membasahi pipi gemuknya.


"Weva, mewakili sekolah bukan hanya mewakili tentang seberapa cerdas dan seberapa mampu ia menang, tapi yang kita lihat adalah seberapa pantas dia bisa mewakili sekolah."


"Penampilan lebih dipentingkan di sini, ya karena itu kami memilih Fhina yang mewakili sekolah dibandingkan kamu karena-"


"Karena Fhina sempurna," potong Weva.


"Yah, betul," jawab pak Ahmad membenarkan.


"Kami tidak mungkin membawa gadis gendut seperti kamu untuk mewakili sekolah, Weva."


"Mungkin dengan cara membawa Fhina untuk mengikuti olimpiade mewakili cendrawasih internasional school bisa menarik para calon siswa dan siswi untuk sekolah di sini."


Weva mengangguk lalu ia melangkah mundur menjauhi jendela serta pak Ahmad dengan air mata yang sudah sejak tadi mengalir. Weva sangat tak berniat untuk menangis di sini, tapi rasanya air mata ini tak mampu untuk Weva tampung dengan rasa sesakit ini.  


"Jadi karena itu, pak." Weva mengangguk tahu.

__ADS_1


Weva tersenyum berusaha kuat.


"Terima kasih pak atas penjelasannya."


"Jika saja saya tahu ini alasannya seperti itu mungkin saya tidak akan bersih keras untuk ikut olimpiade, pak."


"Memang, ya, pak, yang good looking selalu di bela dan yang ugly tersingkirkan."


  


"Terima kasih, pak, saya mundur."


Weva berpaling lalu melangkahkan kakinya beberapa langkah membuat tangisannya meledak di detik ini juga.


"Weva!" panggil pak Ahmad membuat Weva terhenti.


"Kalau saja kamu tidak sebesar ini mungkin Bapak akan membawa kamu untuk ikut olimpiade."


"Coba turungkan berat badan kamu sedikit saja mungkin bapak bisa mengikut sertakan kamu di olimpiade tahun depan."


Weva menoleh mantap pak Ahmad dengan kedua matanya yang sudah memerah.


"Tidak usah, pak! Saya mundur lagian saya yakin berat badan saya tidak akan pernah turun," ujar Weva lalu kembali berpaling dan melangkah lebih jauh lagi.


Seketika tangisan Weva meledak membuat pipinya basah karena air mata.


"Weva!" panggil pak Ahmad lagi membuat Weva kembali menghentikan langkahnya.


"Tolong jangan bilang ini ke tuan Burhan, yah!" ujar pak Ahmad menyebut nama Dady Weva.


Weva mengangguk, mengiyakan walau ia tak menoleh menatap pak Ahmad. Ia sangat malu sekarang.


"Oh iya, jangan lupa pintunya di tutup!"


Weva mengangguk lagi lalu kembali melangkah keluar dari ruangan pak Ahmad sambil mengusap pipinya yang telah basah itu.


"Untuk kesekian kalinya Weva menyesal dilahirkan sebagai gadis bernama Weva."


"Untuk kesekian kalinya Weva menangisi takdir Weva sendiri yang penuh penderitaan."


"*Mengapa harus Weva yang merasakan ini semua?"


"Mengapa harus Weva, Tuhan?"


"Kenapa bukan orang lain saja yang merasakan hal ini?"


"Kenapa bukan orang lain saja yang berada di posisi Weva yang sangat menyedihkan ini*?"


"Hati Weva ini mudah rapuh."


"Mata Weva ini mudah menangis."


"Pikiran Weva ini mudah berfikir buruk."


"Dan tubuh Weva ini mudah tersinggung."


"Itu semua karena satu hal"


"Gendut."


Weva melangkah keluar dari ruangan pak ahmad mendapati Wiwi yang nampak duduk di sebuah kursi panjang.

__ADS_1


__ADS_2