
"Pak Walio!!!" teriak Weva.
...****************...
Motor Vespa Ken kini berhenti tepat di hadapan pagar rumah yang nampak tertutup rapat dengan tatapannya yang kini keheranan menatap sosok gendut dengan wajah sumringah seakan begitu bahagia melihat kedatangannya.
"Lo?" tunjuk Ken keheranan.
"Selamat sore, Ken. Hari ini Weva siap untuk nurunin berat badan Weva," ujar Weva semangat 45 yang berkobar.
"Cepat banget lo ke sini?"
"Namanya juga semangat."
Ken tersenyum sambil secara perlahan ia mendorong pagar dan menuntun motor vespa birunya masuk ke dalam pekarangan rumah.
"Ken!!!" teriak Weva sembari berlari menghampiri Ken yang tengah sibuk memarkir motor Vespanya.
"Weva udah nggak sabar, nih," ujarnya semangat.
Ken membalikkan badannya menatap Weva yang kini mencengirkan senyumnya cukup lebar membuat Ken terdiam dengan tatapan heran.
"Ayo!" ajak Weva.
Ken yang semula terdiam kini tersenyum dan perlahan ia tertawa melihat Weva yang nampaknya begitu semangat hari ini.
"Loh, kok ketawa? Weva lagi semangat banget loh ini," terangnya jujur.
"Yah, aneh aja."
"Aneh?"
Ken mengangguk.
"Lo, kok tumben semangat kayak gini? Biasanya, kan lo yang paling malas kalau disuruh lari."
Weva tertunduk dengan wajah malunya sembari meremas ujung baju kuning terangnya yang ia kenakan.
Ken menatap bingung. Wajah Weva cukup aneh jika tersenyum seperti itu.
"Ih Kenapa, lo?" tanya Ken sembari memukul lengan Weva dengan pelanm
"Aw swakit," ujarnya manja sembari meringis dan tersenyum geli membuat Ken terheran.
"Ih, lo kenapa sih? Gila lo, yah?" tanya Ken yang kini menggeliat takut.
"Keken, hari ini itu Weva bahagiaaaa banget. soalnya Weva udah tahu kalau Brilyan itu juga suka sama Weva makanya Weva senang banget kayak gini," jelasnya sembari meremas dan memutar ujung bajunya.
Senyum Ken mendadak sirna setelah mendengar hal tersebut. Entah mengapa, tapi rasanya Ken tak suka jika Weva menyebut nama pria itu.
"Ooooh. Jadi karena itu lo senang sampai kayak gini?" tanya Ken sembari mengangguk.
__ADS_1
"Hehehe, iya."
Ken menarik dalam-dalam nafasnya dan membuangnya kasar lalu beranjak meninggalkan Weva yang kini menoleh menatap kepergian Ken dengan heran.
"Loh, Ken mau kemana?"
Ken menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Weva yang kini berlari mendekatinya.
"Ken kenapa?"
"Marah sama Weva?"
"Nggak!" jawabnya ketus.
"Terus kenapa? Ayo, dong! Weva udah nggak sabar, nih pengen langsing biar bisa dikejar sama Brilyan."
"Lo kira gue ini unta nggak pernah lapar kalau nggak makan? Gue lapar mau makan dulu," kesalnya sembari menunjuk ke arah wajahnya.
"Kok, Ken marah sama Weva?"
"Yah lo maksa mulu. Lo kalau mau lari biar langsing, Lo lari sendiri sana!!!" teriak Ken sembari menunjuk Weva yang hanya mampu melongo keheranan.
Ken melangkah pergi meninggalkan Weva yang kini hanya terdiam dengan tatapan bingungnya.
Pinky menggonggong seakan ikut menanggapi hal ini membuat Weva menunduk menatap Pinky.
"Tuh, Tuan kamu kambuh lagi," kesal Weva sembari melangkah dan duduk di anakan tangga teras rumah.
Pinky berlari kecil dan menghampiri Weva yang tersenyum dan mengelus kepala Pinky dengan lembut.
Pinky menggonggong membuat Weva tersenyum mendapati respon dari Pinky yang dibalas dengan elusan lembut.
"Tuan, Pinky kayaknya gila, deh. Kebanyakan hirup asap motor vespa, tuh dia."
"Eh, nanti Pinky ketemu sama si Bobo, yah? Nanti Weva kenalin sama si Bobo terus kalian bisa sahabatan deh. Nggak kayak Weva sama si Ken yang tiap hari berantem mulu."
Pinky menggonggong membuat Weva tersenyum bahagia dan kembali mengelusnya.
...****************...
Suara pluit terdengar begitu nyaring diiringi teriakan Ken yang kini meneriaki Weva yang dengan semangatnya berlari mengelilingi lapangan bola yang berada di kompleks perumahan.
Nampaknya ini sebuah kemajuan drastis dari Weva yang ia tunjukkan sekarang. Ini sudah putaran yang ke sepuluh di malam ini dan Weva memutuskan untuk tak berhenti membiarkan seluruh keringatnya bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
Tatapan Weva tajam menatap arah langkahnya yang masih bisa Weva lakukan walau harus ia akui jika bagian perutnya telah sakit.
Lari Weva perlahan pelan dengan nafasnya yang telah ngos-ngosan.
"Apa sebaiknya Weva istirahat sebentar aja kali, yah?"
"Aduh, Weva udah capek banget lagi."
__ADS_1
"Lari Wev!!!" teriak Ken menyoraki di pinggir lapangan.
Weva menoleh menatap Ken yang nampak tersenyum sembari menganggukkan kepalanya seakan meyakinkan Weva jika ia bisa untuk berlari lagi.
Weva menatap Ken dengan tatapan nanar seakan ia tak tega untuk menyia-nyiakan sorakan semangat itu.
"Ayo Weva lari!!! Weva nggak boleh lemah kayak gini dan ngebiarin Ken kecewa karena Weva malas-malasan."
"Ayo Wev!!!"
Weva menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya sangat kasar dari mulutnya.
"Aaaaaa!!!" teriak Weva membuat larinya kembali cepat.
Weva menghempaskan tubuhnya begitu saja di rerumputan yang sedikit basah karena hawa dingin di malam ini yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Kedua mata Weva yang semula terpejam kini dengan perlahan terbuka menatap indahnya langit malam yang dihiasi milyaran kerlap-kerlip bintang. Weva tersenyum indah. Baru kali ini ia berbaring di rerumputan dan menatap langit secara langsung.
Weva yang masih tersenyum itu menutup kedua matanya seakan menikmati setiap hembusan angin malam yang membelai lembut wajahnya.
"Andai Brilyan di sini mungkin Weva akan menjadi orang yang sangat-sangat bahagia di dunia ini."
"Kapan, ya Brilyan bisa jadi milik Weva?"
"Oy Wev!!!" teriak Ken sembari berlari menghampiri Weva.
Weva yang mendengar teriakan Ken dengan cepat membuka kedua matanya mendapati wajah Ken yang nampak indah diterpa cahaya bulan.
Weva mampu melihat wajah Ken dengan jelas dari sini di mana Ken masih berdiri dengan memposisikan wajahnya sejajar dengan wajah Weva.
Weva terkesima menatap setiap sudut wajah Ken yang terlihat jelas dari bawah sini. Entah mengapa rasanya wajah Ken jika seperti seperti ini terlihat sangat tampan.
Weva menutup kedua matanya cepat.
"Ah jangan, Weva! Ingat Brilyan, Wev! Brilyan lebih tampan dari pada pria monyet pemanjat tower tangki air itu. Sadar, Wev! Sadar!"
"Woy, Wev!!!" teriak Ken lagi.
Weva mendecakkan bibirnya kesal dan segera membuka matanya dan menatap Ken tajam.
"Kenapa sih, Ken?" Kesal Weva sembari berusaha bangkit dari rerumputan.
"Lo, tuh yang kenapa baring di sini?"
Weva menghela nafas dan setelahnya ia memasang wajah cemberut lagi. "Aaaaah !!!" teriaknya yang kemudian kembali berbaring di rerumputan.
"Weva capek," adunya.
Ken mengembungkan kedua pipinya dan mengangguk mengerti. Tak berselang lama Ken ikut membaringkan tubuhnya tepat di samping Weva yang masih tersenyum menatap langit.
Ken terdiam menatap langit yang kali ini benar-benar indah dipandang. Ken mengerakkan kepalanya menatap Weva yang terlihat terus tersenyum.
__ADS_1
Senyum kecil Ken terlihat dari sudut bibirnya. Dari sini ia bisa melihat wajah Weva dari samping. Pipinya yang chubby itu terlihat indah jika diterpa cahaya bulan yang berkolaborasi dengan cahaya lampu lapangan.
"Cantik," ujar Ken membuat Weva dengan cepat menoleh.