
Pukul 10:00
Jam istirahat dimulai, setelah bel dibunyikan semua murid-murid Cendrawasih Internasional School segera bergegas keluar dari kelas masing-masing untuk mengisi lambung mereka yang telah kelaparan setelah mengikuti proses pembelajaran.
Di satu sisi Weva nampak terdiam menatap Wiwi yang tengah duduk termenung di sana. Apakah Wiwi baik-baik saja saat ini dan apa yang ada di perasaanya setelah beberapa hari ini tak bersama dengannya.
Weva ingin tahu apakah Wiwi juga rindu dengannya atau hanya Weva yang merasakan rasa rindu itu, Ini yang Weva pikirkan sekarang.
Ken melirik. Sudah sejak tadi ia memperhatikan Weva yang terus saja menatap ke arah Wiwi.
"Gue kasih lo waktu lima menit buat ngobrol sama sahabat cerewet lo itu," ujar Ken membuat Weva terbelalak kaget dan memutar tubuhnya menatap Ken yang sedang asik memainkan handphonenya.
"Ken ngomong apa?"
Ken menghela nafas panjang. "Lo itu tuli atau gimana, sih? Nih, lo denger baik-baik!" perintah Ken serius sembari menarik pelan daun telinganya.
"Gue kasih lo waktu lima menit buat ngobrol sama sahabat cerewet lo itu," ulang Ken membuat Weva tersenyum kegirangan.
Kesambet apa pria monyet itu sehingga mengizinkannya.
"Beneran?" Girangnya tak menyangka.
"Em," sahutnya malas lalu melangkah keluar dari ruangan kelas yang kini menyisakan dua orang saja, yakni Weva dan Wiwi.
Suasana kelas kini menjadi sunyi membuat Weva canggung untuk memulai percakapan. Weva menggeleng berusaha untuk menyingkirkan rasa sungkan kepada sahabatnya itu.
"Ayo, Wev! Jangan gini, dong! Wiwi itu sahabat lo. Masa lo deg-degan kayak gini, sih?"
Suara geseran kursi terdengar membuat Weva dengan cepat menoleh menatap ke arah sumber suara dimana Wiwi nampak melangkah berniat untuk keluar dari ruangan kelas.
Weva khawatir bukan main. Ia harus bicara dengan Wiwi, lagipula Ken sudah memberinya kesempatan dan tak mungkin untuk ia sia-siakan.
"Wi!!!" panggil Weva cepat sembari berlari mendekati Wiwi yang tak kunjung menghentikan langkahnya.
"Wiwi!!!" panggil Weva lagi.
Apa suaranya terlalu kecil untuk bisa di dengar oleh Wiwi.
"Wiwi!!!" panggil Weva dengan tangannya yang telah berhasil mengenggam pergelangan tangan Wiwi yang terpaksa menghentikan langkahnya.
"Kok, Wiwi enggak berhenti, sih?" tanya Weva dengan senyumannya, Ia kini telah berdiri berhadapan dengan Wiwi yang beralih untuk menatap ke arah lain.
"Wiwi enggak denger Weva teriak manggil Wiwi?"
"Dari tadi Weva panggil Wiwi, loh."
"Lo mau apa, sih?" ketus Wiwi dengan wajah malasnya.
Mimik wajah Weva seketika berubah menjadi datar dengan senyumnya yang menghilang dari bibirnya.
"Wi-wi-wiwi kenapa?" tanya Weva terbata-bata.
Wiwi hanya terdiam lalu tak berselang lama ia menghempaskan tangannya membuat pegangan tangan Weva terlepas.
__ADS_1
"Kok, Wiwi kayak gitu sama Weva?"
"Emang kenapa? Sekarang gini, deh, kenapa lo datang lagi sama gue? Lo, kan belum langsing."
Weva masih terdiam kaku dengan tatapan tak menyangka.
"Wi-"
"Udah deh, Wev! Lagian gue pikir-pikir kita enggak usah, deh sahabatan lagi."
"Loh, kok gitu, Wi ? Emang Weva salah apa sama Wiwi?"
"Kok, lo malah pura-pura bego, sih? Bukannya yang selama ini salah, yah lo kan bukan gue?"
Weva terkejut bukan main. Kedua matanya bahkan tak berkedip sedikit pun. Weva tak menyangka jika Wiwi akan mengatakan hal tersebut.
"Gue sekarang sadar, kenapa gue saking bodohnya mau sahabatan sama lo yang lebih mentingin tubuh langsing dibandingin ngepertahanin persahabatan kita."
"Wi, tapi kan-"
"Tapi apa, Wev?!!" geretak Wiwi membuat Weva tersentak kaget.
"Lo itu egois tahu enggak!!! Lo lebih mentingin diri lo sendiri tanpa perduli sama persahabatan kita yang udah lama!!!" Tunjuk Wiwi dengan kesalnya.
"Lo enggak pantes dikatain sahabat, Wev!!! Sahabat macam apa yang setuju untuk ngejauhin sahabatnya hanya untuk langsing!!!"
"Gue juga yakin kalau setelah lo langsing, lo bakalan ngebuang gue jauh-jauh dari hidup lo, iya, kan?"
Weva menggeleng cepat dengan tatapannya yang sudah terhalang genangan air mata. Cobaan apa lagi yang harus ia hadapi setelah kejadian semalam. Baginya sudah cukup pertengkaran antara ia dan Mommynya, tak perlu juga ada sahabatnya, Wiwi.
"Berhenti? Kok, gitu, sih? Weva enggak mau."
"Udahlah, Wev! Lagian gue juga yakin sampai kapan pun kita enggak bakalan bisa sahabatan lagi, karena gue yakin sampai kapan pun lo yang gendut ini enggak akan bisa langsing."
Tangisan tanpa suara itu terhenti dengan tatapannya yang menatap tak menyangka pada apa yang Wiwi ujarkan barusan.
"Kenapa Wiwi tega ngomong gitu sama Weva?"
"Kenapa Wiwi, jadi berubah kayak gini, sih?"
"Siapa yang berubah?" ketus Wiwi yang kini melipat kedua tangannya di depan dada.
"Wiwi yang berubah."
"Siapa?"
Weva menggeleng, "Weva enggak nyangka Wiwi bisa berubah kayak gini."
"Gue enggak pernah berubah, tapi lo aja yang berubah sama gue."
"Enggak, Weva enggak berubah yang berubah itu Wiwi, bukan Weva.
"Siapa?!!" teriak Wiwi.
__ADS_1
"Wiwi!!! Wiwi yang udah berubah!!!" teriak Weva membuat Wiwi tersentak kaget, baru kali ini ia mendengar teriakan sahabatnya itu.
"Lo yang berubah!!!"
"Wiwi yang berubah!!!" teriaknya lagi diiringi dengan isak tangis.
Wiwi kini terdiam. Ia tak lagi berteriak.
"Sekarang Weva tanya sama Wiwi. Sebelum Weva setuju untuk ikut peraturan Ken, Weva tanya, kan sama Wiwi dan Wiwi setuju kalau Weva ngejauhin Wiwi, ta-tapi kenapa baru sekarang Wiwi marah?!!" teriaknya penuh amarah.
"Wiwi lupa kalau Weva sempat bilang kalau Weva enggak apa-apa kalau gendut yang penting kita enggak berhenti sahabatan!!!"
"Dan-dan Wiwi bilang ke Weva kalau wiwi enggak apa-apa persahabatan kita berhenti sejenak yang penting-ya-ang penting Weva langsing dan Weva enggak dibully lagi sama mereka!!!"
"Weva sayang sama Wiwi yang udah Weva anggap sebagai saudara!!!"
"Weva sayang sama tante Ina yang udah Weva anggap sebagai Mama Weva sendiri!!! Sekarang siapa yang salah?!!"
"Siapa?" tanyanya Weva lagi.
Wiwi seketika bungkam dengan teriakan Weva yang benar adanya. Wiwi jadi teringat jika sebelum kesepakatan itu Weva memang mengatakan hal ini.
"Sekarang haaaah, Se-sekarang Weva bakalan buktiin kalau Weva bisa langsing nanti," ujar Weva lalu beranjak meninggalkan ruangan kelas yang menyisakan Wiwi sendiri.
Weva mengusap air matanya melintasi koridor dengan rasa sakit di hatinya. Tak ada lagi keluarga, cinta dan sahabat yang tersisa hanyalah sakit, sakit dan sakit.
"Yeeeee!!!" sorak Fhina, Firda dan Harni kompak sembari melompat kegirangan.
Hal yang mereka tunggu-tunggu kini telah terjadi dimana persahabatan antara Weva dan Wiwi kini benar-benar hancur dan pertengkaran yang mereka dengar di luar ruangan kelas secara sembunyi-sembunyi membuat mereka bertiga sangat bahagia.
"Mut-mut!!!"
"Yes, mut-mut!!!" sorak Harni dan Firda kompak membalas ujaran Fhina.
"Rencana kita berhasil, yeeeee hahaha!!!" ujarnya puas.
"Yes, mut-mut. Haduh, kasian banget, sih tuh si gendut," girang Firda.
"Ehem , bener banget, tuh, tapi ah kenapa, sih Harmut enggak boleh rekam percakapan mereka? Lumayan, kan tontonan gratis buat followers Harmut," kesal Harmut.
"Cup, cup, cup! Sabar, mut!" ujar Fhina menenangkan.
"Eh, udah yuk kita ke kantin aja dari pada entar si Wiwi ngeliat kita di depan kelas dia."
"Em, bener juga, tuh yang Firdmut bilang,
yuk! Yuk! keburu Wiwi keluar!" tambah Harni membuat mereka bertiga melangkah pergi.
Di dalam kelas yang sunyi ini kini Wiwi sendiri. Ia terpatung dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Apa gue salah?"