
"Aaaaa!!!"
Bruak!!!
Semua buku-buku yang ada di rak kayu itu berhamburan jatuh ke lantai setelah Weva melemparnya ke sembarang arah. Weva menjambak rambutnya dengan keras. Kedua kelopak matanya membengkak dan sembab. Sejak tadi ia tak pernah berhenti untuk menangis.
Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menangisi kehidupannya yang penuh kekecewaan. Weva menyadarkan tubuhnya ke dinding kamar. Menghantamkan kepalanya beberapa kali ke dinding dan memutuskan untuk duduk di atas lantai kamar.
Ia memeluk lututnya yang telah lelah berjalan kaki untuk pulang ke rumah. Weva hanya butuh waktu sendiri. Ia tak ingin ada yang mengganggunya saat ini bahkan ia tak mengirim pesan untuk pak Walio untuk mengabarinya.
Tubuhnya masih berada di atas lantai tepat di hadapan lantai yang masih berserakan buku-buku dan beberapa barang lainnya. Ruangan kamarnya kini telah berantakan setelah Weva menghabiskan waktunya mengamuk di dalam kamar sendirian untuk melepaskan amarahnya.
Nafas Weva teresenggal-senggal. Ia mengusap pipinya yang tak pernah kering karena terus-terusan dibasahi oleh air mata.
Kedua matanya menatap nanar pada lantai. Pikirannya melayang entah memikirkan apa.
"Bodoh, Weva. Sangat bodoh. Harusnya Weva nggak boleh salah orang."
"Tapi gimana sekarang? Brilyan ternyata bukan anak laki-laki itu."
"Kenapa? Kenapa Weva harus salah orang? Aaaa!!!"
"Kenapa Weva harus salah orang?!!" teriaknya sekali lagi.
Weva mengembuskan nafas sesak yang sejak tadi seakan tertahan di dadanya. Ia menunduk menatap nanar pada gelang merah yang ada pada pergelangan tangannya.
"Kamu sebenarnya siapa, sih?"
"Kenapa saat itu kamu harus datang dan nolongin Weva? Sekarang gimana caranya Weva bisa ketemu sama kamu?"
"Gelang merah ini nggak cukup untuk mencari kamu. Weva bahkan nggak tau wajah kamu gimana?"
"Kamu dimana, sih?"
"Weva mau ketemu."
__ADS_1
Weva kembali melepaskan tangisnya. Ia tak peduli pada malam yang telah menunjukkan pukul 3 subuh. Yang ia ingin lakukan hanyalah untuk melepaskan rasa kekecewaannya yang begitu dalam.
...***...
Brilyan mematung di atas balkon rumah, tempat dimana ia selalu menghabiskan waktunya di sini sepanjang malam sebelum ia tidur.
Pria itu sejak tadi telah menangis sedih karena telah ditolak oleh gadis yang ia cintai. Ia gagal untuk mendapat gadis yang berwajah mirip dengan Ibunya. Itu berarti ia telah ditinggalkan oleh dua sosok perempuan yang telah ia sayangi. Hancur semua harapan dan rencana yang telah ia rangkai beberapa minggu yang lalu.
Brilyan mendongak menatap langit alam yang tetap saja sama seperti apa yang selama ini selalu ia lihat saat malam hari. Bintang indah untuk langit yang indah namun, tak seindah dengan kondisi hati Brilyan saat ini.
Hancur, tentu saja perasaan itu ada pada dirinya sekarang. Makan malam yang ia bayangkan akan menjadi malam yang paling bahagia bahagia dalam hidupnnya rupanya menjadi malam yang paling menyedihkan baginya.
Acara makan malam, tim pemusik, restoran yang ia sewa untuk semalam, dan...
Brilyan mengeluarkan cincin dari saku jasnya. Cincin ini ia beli dari uang tabungannya khusus untuk Weva jika ia telah resmi berpacaran.
Susunan rangkaian rencananya itu tak seindah realita. Luka tiada tanding yang ia rasakan begitu melukainya. Brilyan mengenggam erat-erat cincin itu sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
Langkahnya yang sempoyongan itu terhenti. Ia mematung di tengah ruangan kamar. Tatapannya terlihat kosong memikirkan sesuatu. Tak berselang lama ia membuka jemari tangannya yang sejak tadi mengenggam erat cincin putih dan menatapnya begitu lekat.
Tangan Brilyan gemetar memegang pisau tajam dan mengkilat saat diterpa cahaya lampu kamar. Ia telah putus asa.
Brilyan melangkahkan kakinya pelan dan memutuskan untuk duduk di samping tempat tidurnya. Kedua matanya yang telah memburam dihalang oleh air mata itu menatap setiap inci pisau yang terlihat sangat tajam.
Pisau ini adalah pisau cadangan yang selalu ia gunakan untuk memotong buah jika para pelayan rumah lupa untuk membawakan pisau untuknya.
Bibir Brilyan bergetar tak tertahankan, tubuhnya terasa menggigil membuatnya tak mampu untuk bernafas seperti biasanya.
Kedua matanya tetap menatap lekat pada permukaan pisau yang ia putar-putar ganggangnya berusaha untuk memastikan seberapa berkilaunya pisau ini.
"Tidak ada harapan lagi aku hidup. Semuanya telah pergi."
"Ibu dan Weva telah pergi meninggalkan aku di sini sendiri. Semuanya tidak peduli dengan aku."
"Papa hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri tanpa pernah peduli dengan aku."
__ADS_1
"Aku capek!"
"Aku capek belajar!"
"Aku capek dituntut harus selalu menjadi yang terbaik bagi Papa."
"Aku merasa jika aku ini bagaikan mahluk peliharaan yang hanya dilatih terus menerus lalu setelah itu diikutkankan kontes."
"Tidak sanggup, aku tidak sanggup untuk menghadapi ini semua."
Brilyan meraih foto almarhum ibunya yang ia satukan dengan cincin itu lalu tersenyum berat dengan bibir bergetar.
"Ibu! Aku tidak sanggup lagi."
"Aku ingin menyusul Ibu saja. Pergi dari dunia ini dan bertemu Ibu saja."
"Aku tidak sanggup Ibu."
Brilyan menarik nafas dalam-dalam dan menahannya di dada. Ia meletakan mata pisau tajam itu ke permukaan pergelangan tangannya tepat di atas urat tangannya yang terbayang di lapisan kulit putihnya.
"Aku rindu Ibu. I love you, Ibu!"
Brilyan menggerakkan pisau itu dengan sekali gerakan menghasilkan luka goresan yang cukup dalam yang berhasil memutuskan uratnya. Pisau itu terjatuh ke lantai diawali darah segar yang mengalir menetes deras ke lantai.
Brilyan tersenyum lebar. Ia mendongakkan kepalanya ke atas dengan mata yang terpejam dan setelahnya ia menunduk menatap foto almarhum ibunya dan cincin putih itu.
Tangisan Brilyan pecah. Tangannya terasa sangat sakit dan tak mampu lagi untuk di gerakkan. Lantai telah memerah karena darah dari goresan pisau itu yang benar-benar tajam.
Tubuh Brilyan ambruk ke lantai. Bibirnya menganga pucat walau berusaha untuk tetap tersenyum.
Jika ia mati malam ini maka itu bukanlah sebuah penyesalan bagi Brilyan karena ia akan mati sembari menatap foto almarhum Ibunya yang tetap tersenyum untuknya.
Brilyan memejamkan kedua matanya beberapa kali membuat penglihatannya menggelap disetiap menit berlalu. Ia sempat tertawa kecil setelah ia sadar jika mungkin tidak ada lagi, darah yang ada pada tubuhnya ini akan habis dan ia akan mati dengan perlahan.
"Ibu! Aku sayang Ibu," bisiknya nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Matanya meredup perlahan hingga kedua matanya terpejam sempurna. Jika ia mati maka ini adalah keputusan yang paling baik dan ini adalah hadiah untuk keegoisan Papanya.