Princess Endut

Princess Endut
172. Kursi Dan Niat Geng Sangmut


__ADS_3

"Loh, ngapain lo di sini ?"


Klorin seketika meneguk salivanya saat pria berwajah tampan itu meliriknya begitu sinis. Ia menatap sebentar dan setelahnya ia kembali menatap layar handphonenya.


"Em, tapi kata-"


"Ken!" panggil Bu Yungmi membuat semua orang menoleh.


"Biarkan Klorin duduk di kursi sebelah kamu lagian kursinya juga kosong, kan?"


"Tapi-"


"Nggak ada bantahan dan penolakan saudara Ken!" tegas Bu Yungmi.


Ken membuang kasar udara dari lubang hidungnya setelah mendengar hal tersebut.


Klorin kembali menelan ludah mendapati wajah Ken yang terlihat tak suka dengan kehadiran dirinya dan dengan rasa gugup ia melangkah duduk tepat di samping Ken.


Baru saja klorin duduk dengan cepat Ken bangkit dari kursinya sembari menggendong tas dan meraih handphone-nya lalu melangkah pergi hingga memutuskan untuk duduk di samping Wiwi.


Wiwi mengekerutkan alisnya menatap aneh pada Ken yang kini duduk di sampingnya. Setelah Ken duduk Wiwi menoleh menatap Klorin yang terlihat diam di kursinya sendiri.


"Kok, lo pindah?"


"Emang kenapa?"


"Itu kasian banget, Ken."


"Risih gue," jawabnya sembari meletakkan tas kesandaran kursi.


"Kok, risih? Kan cantik Ken tuh liat aga mukanya!"


"Terus kenapa kalau cantik?"


Wiwi hanya menggelengkan kepalanya seakan tak mengerti dengan jalan pikiran Ken yang di luar dugaannya. Ada banyak murid pria yang berlomba-lomba untuk bisa duduk sebangku dengan Klorin tapi ini berbeda dengan jalan pikiran Ken.


"Ah, yang benar aja lo. Masa lo nggak mau duduk sama dia?"


"Lo juga."


"Idih, gue itu nggak mau duduk sama dia karena gue tunggu si Weva kalau Weva nanti pulang dari Korea si Weva duduk dimana?"


"Lagian Lo nyesel deh kalau nggak duduk sama dia," tambah Wiwi.


"Karena apa gue harus nyesel? Dia cantik ? Iya? Hah?"


Sudut bibir Wiwi terangkat. Ia kini diam menatap Ken yang kembali fokus ke layar handphonenya setelah mengajaknya berdebat.


"Idih, aneh lo!"


"Lo juga."


Klorin kini hanya mampu terdiam dengan perasaanya yang tak enak. Namun, ia berusaha untuk melepaskan senyum hangat kepada siswa dan siswi yang menatapnya dengan serius.


"Hai, kamu cantik banget," tegur siswa yang duduk di depannya.


Klorin hanya membalas dengan senyuman.


"Nanti kita makan bareng, yah di kantin? Mau?" tambah siswa yang satu lagi dengan semangat.

__ADS_1


"Dasar gombal lo!" tegur siswi lainnya yang mendengar hal tersebut.


"Huuuu!!!" sorak yang lain tak mau kalah.


Plak plak plak!!!


Suara pukulan di permukaan papan tulis kembali terdengar membuat semuanya menoleh menatap Bu Yungmi yang mengancam dengan tatapan tajamnya.


"Sudah-sudah nggak usah teriak!!!" teriak Bu Yungmi.


"Lah, emang siapa yang teriak?" bisik Wiwi.


"Tau, tuh sih guru listip," jawab Ken tanpa menoleh menatap Wiwi.


"Sekarang kita lanjutkan belajarnya," ujar Bu Yungmi membuat semuanya mengeluh.


Klorin tersenyum simpul dan memilih untuk mengeluarkan beberapa buku dari tasnya.


Pelajaran dimulai dengan suara nyanyian Indonesia raya yang dipimpin oleh Bu Yungmi dengan semangat diikuti oleh semua siswa dan siswi.


Sejam kemudian bel berbunyi tanda pelajaran berakhir dan menujukkan jika jam istirahat telah dimulai. Bu Yungmi melangkah keluar dari dari ruangan kelas setelah meneguk habis air minumnya. Yap, mungkin tenggorokannya merasa kering setelah bernyanyi tadi.


Baru saja Bu Yungmi melangkah keluar dari ruangan kelas tiba-tiba semuanya berhamburan dari kursinya dan berlari mengerumuni Klorin yang nampak terbelalak kaget.


"Hai, boleh kenalan nggak?" pria yang duduk di depannya itu langsung menjulurkan tangannya.


"Klorin boleh minta foto nggak?"


"Klorin aku juga mau minta foto!"


"Eh, nama aku Saipul? Aku yang paling ganteng di sini," sahut siswa sembari menjulurkan jari-jarinya.


"Nama aku Reno," sahut siswa yang satu lagi sembari menarik tangan Saipul menjauh dari Klorin.


Klorin tersenyum dan membalas setiap juluran tangan yang ia dapatkan. Bukan hanya siswa yang ia gapai tapi para siswi-siswi juga ikut berpartisipasi dalam kehebohan ini.


Kini suasana kelas menjadi berisik dimana semuanya saling berteriak untuk meminta berkenalan atau hanya sekedar menyapa.


Bukan hanya itu bahkan banyak dari mereka yang minta untuk berfoto bersama dan merekam Klorin untuk ia upload di media sosialnya.


"Klorin, minta nomor handphone, dong!" minta siswa yang kini menjulurkan handphonenya yang siap untuk dimasukkan ke dalam daftar kontak.


"Eh, enak ajah lo, Klorin jangan! Biar nomornya kasi ke aku aja!"


"Idih, jangan mau Klorin!"


"Tapi lu juga mau."


"Suka-suka gue, dong!"


"Huuuuu!!!" Sorak semuanya.


...****************...


Fhina, Harni dan Firda dengan cepat menghentikan langkahnya menatap aneh pada puluhan siswa dan siswi yang berlarian melintasinya menuju naik ke lantai tiga.


Biasanya ketika jam istirahat para siswa dan siswi pasti akan datang mengerumuninya untuk meminta foto atau sekedar menyapanya tapi mengapa sekarang mereka semua seakan tak di kenal, seakan tak ada yang mengenal mereka si geng Sangmut yang paling populer di sekolah ini.


"Itu kenapa sih lari-larian gitu?" kesal Fhina dengan wajah marahnya.

__ADS_1


Kedua sahabatnya itu menggeleng tak tahu. Tak berselang lama Harni menoleh menatap gerombolan siswa yang selalu datang lalu memaksa untuk berfoto dengannya dan kini mereka terlihat berlari mendekatinya.


Harni tersenyum sinis mungkin kali ini semua gerombolan siswa itu akan datang dan memaksanya lagi untuk berfoto seperti biasa.


Gerombolan siswa itu semakin mendekat seiring mereka berlari mendekatinya.


"Siap-siap mut! Pasti mereka akan ngerumunin kita!" ujar Harni percaya diri sambil mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Yah, pastilah."


Gerombolan itu semakin dekat dan...


"Loh? Loh? Kok mereka?" Tunjuk Harni kebigungan dengan wajah syoknya melihat mereka semua melintasinya.


"Ih, kok mereka ngelewatin kita gitu aja, sih?" Kesal Fhina dengan wajah syoknya.


"Loh, kok gini, sih?" bingung Firda yang ikut tak menyangka.


"Mereka nggak ngeliat kita atau gimana?" Kesal Harni menatap kedua sahabatnya yang kini juga ikut kesal.


"Tau, tuh. Biasanya, kan mereka itu selalu datang terus minta foto sama tanda tangan. Sekarang kenapa kayak gini?"


Tak berselang lama seorang siswa berlari melintasinya membuat Harni dengan cepat berteriak.


"Heh, pria menjijikan!!!" teriaknya membuat siswa itu menghentikan larinya dan menoleh menatap Harni.


"Sini, lo!" panggil Firda sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Sorry saya sibuk, saya mau ketemu sama murid baru itu di lantai tiga!" jelasnya memberitahu dan kembali berlari meninggalkan geng Sangmut.


Ketika anggota geng Sangmut ini menganga tak menyangka jika ada yang telah berani menolak perintahnya untuk yang pertama kalinya.


"Iiiiih, jadi, ini semua gara-gara si murid baru itu?" kesal Fhina dengan kedua rahangnya yang menegang penuh marah.


"Ih, Harmut kesel banget, deh sama murid baru itu," ujar Harni yang meremas ujung kipasnya dengan kesal.


"Iya, Firdmut juga kesel banget," tambah Firda.


Fhina menarik nafas sesaknya dalam-dalam yang terasa tertekan oleh amarahnya yang membara tak terkendali.


"Ok, mut sekarang juga kita naik ke atas lantai tiga dan ngasih murid baru itu pelajaran biar dia tau siapa kita!"


"Iya, Fhimut. Harmut setuju," tambah Harni mengangguk.


"Gue juga setuju. Kayaknya gue udah nggak sabar, deh mau pukul si murid baru yang sok cantik itu. Dia yang udah menarik semua perhatian semua orang sampai nggak ada satu pun yang peduli sama geng Sangmut," kesal Firda.


"Ayo mut! Kita berangkat!" ajak Fhina.


"Cuuus!!!" kompak Firda dan Harni bersamaan lalu melangkah.


"Eh! Eh! Tunggu!" tahan Fhina membuat langkah Harni dan Firda tertahan.


"Kenapa Mut!"


"Gue udah cantik, kan?"


"Ya, udahlah," jawab Harni dan Firda kompak membuat Fhina tersenyum bangga.


"Cantikan mana gue sama si murid baru itu?"

__ADS_1


"Nih, ya walau pun Harmut nggak pernah liat muka si murid baru itu tapi tetap aja Fhimut yang paling cantik."


Fhina tertawa kecil lalu mengibaskan kipas dan kembali melangkah diikuti oleh Harni dan Firda menuju lantai tiga.


__ADS_2