Princess Endut

Princess Endut
216. Suapan Untuk Brilyan


__ADS_3

Laila tersenyum menatap Brilyan yang terlihat duduk diam menanti dirinya membuka rantang berwarna biru berisi makanan yang telah ia masak di rumah.


"Makan dulu, ya setelah itu minum obat."


"Aku sudah capek minum obat."


Gerakan tangan Laila terhenti. Ia menoleh menatap Brilyan yang nampak tertunduk dengan wajah yang nampak cemberut. Wajah itu tak pernah telihat segar seperti dulu, tetap saja pucat.


"Brilyan nggak boleh capek kalau Brilyan mau cepat sembuh Brilyan harus minum obat," jelas Laila dengan nada yang begitu lembut.


"Betul itu Brilyan, Brilyan harus minum obat biar cepat sembuh," tambah Pak Ahmad yang baru saja masuk ke dalam ruangan perawatan setelah mengantar Johan ke parkiran.


"Tapi sampai kapan, Mama?"


Laila tersentak kaget, jantungnya terasa berhenti berdetak di detik ini juga ketika ia mendengar Brilyan untuk pertama kalinya mengucapkan kata Mama untuknya. Ia dengan cepat menoleh menatap sosok suaminya yang juga sama terkejutnya sedang duduk di sofa.


Brilyan tersenyum ragu.


"Aku boleh, kan panggil Mama?"


Bibir Laila seketika bergetar menahan tangisan yang berusaha untuk ia tahan di dalam kerongkongannya. Dengan kedua mata yang telah menahan genangan itu dengan cepat mengangguk rasanya ia juga tak sanggup untuk berbicara saat ini.


"Boleh, kan?"


"Bo-bo-leh, Boleh, nak! Boleh! Mama sangat senang jika Brilyan memanggil Mama dengan sebutan Mama."


Brilyan yang tersenyum lemah itu menggerakkan kepalanya menatap ke arah pak Ahmad lalu kembali berujar, "Bapak."


Pak Ahmad yang sejak tadi duduk diam mengamati keduanya seketika dibuat terkejut saat Brilyan mengucapkan kata bapak sambil menatapnya.


"Apa? Brilyan manggil saya Bapak?"


Brilyan mengangguk membuat pak Ahmad yang tersenyum bahagia itu menoleh menatap sang istri yang juga ikut sama bahagianya hingga tak berselang lama pintu ruangan terbuka memperlihatkan sosok Weva dan Ken yang berdiri berdampingan di bibir pintu.


Ken mengeryit, menatap bingung pada sosok sang Mama yang terlihat mengusap pipinya dengan mata yang telah dibanjiri dengan air mata.


"Loh? Mama nangis?"


Laila menggeleng. Ia kembali menatap Brilyan lalu mengelus kepala Brilyan.

__ADS_1


Brilyan menatap ke arah Ken dan Weva dengan penuh serius membuat keduanya kebingungan. Entah apa yang ada dipikiran Brilyan saat ini saat melihat Weva dan Ken berduaan masuk ke dalam ruangan rawat Brilyan.


"Brilyan."


Brilyan menoleh menatap Laila yang menjulurkan sendok ke arah bibirnya.


"Yuk makan!"


"Aku nggak mau disuap sama Mama."


"Kenapa, Nak?" tanya Laila yang dibuat panik begitu pula dengan pak Ahmad


Brilyan menggerakkan tangannya hingga akhirnya ia menunjuk ke arah pintu dimana sosok Weva dan Ken masih ada di sana.


"Aku mau disuap sama dia!" Tunjuknya.


Nafas Ken terasa sesak di dalam dadanya. Sudah pasti Brilyan menyuruh Weva untuk menyuapinya. Tak sanggup jika seperti ini membuat Ken menggerakkan kakinya berniat untuk melangkah pergi.


"Kak Ken, aku mau disuap sama Kakak Ken," tambah Brilyan membuat kedua mata Ken membulat.


Ia menoleh menatap Brilyan yang terlihat tersenyum ke arahnya. Ken telah salah, bukan Weva yang Brilyan tunjuk tapi dirinya.


"Suap aku, dong! Kan seorang Kakak harus ngejagain adiknya."


"Oh, jadi sekarang lo mau dimanja gitu sama gue?"


"Tidak, aku tidak bilang gitu."


"Oh, ya?"


Brilyan mengangguk membuat Ken mendecapkkan bibirnya pertanda ia siap.


"Ya udah sekarang gue yang akan suapin lo sampai lo kenyang."


Brilyan tersenyum memperlihatkan giginya yang tersusun rapi itu saat ia melihat Ken yang sedang mengaduk bubur dan menjulurkan sesendok bubur ke arah mulut Brilyan yang terbuka menerima suapan.


"Gimana? Enak nggak?"


Brilyan mengangguk, "Enak banget."

__ADS_1


"Lebay tau nggak," gurau Ken membuat Laila tertawa kecil dan mendaratkan satu pukulan kecil di lengan Ken.


"Ini buburnya enak karena gue yang nyuapin."


"Masa?"


"Ya iyalah. Dibilangin nggak percaya."


"Lebay tau nggak," ejek Brilyan membuat pak Ahmad, Laila dan Weva tertawa sementara di satu sisi Ken dibuat terkejut karena tak menyangka jika Brilyan akan meniru caranya berbicara.


"Wah, berani ya lo sama gue."


Brilyan yang berusaha untuk menahan tawanya itu kembali bicara.


"Emang aku takut sama kakak?"


Ujung bibir Ken terangkat, berpura-pura jika ia sedang merasa sangat kesal.


"Heh, lo beruntung nggak dapat pukulan karena lo lagi sakit tapi kalau gue udah tau lo udah sembuh, liat aja!"


"Nih!" ujarnya sambil mengangkat jemari tangannya yang mengepal.


"Gue pukul lo sampai babak belur!" ancamnya.


"Tapi sebelum itu terjadi Mama yang bakalan pukul Ken," sahut Laila yang langsung menarik pelan telinga Ken membuat semua orang tertawa.


Benar saja ada kebahagiaan di dalam ruangan ini membuat beberapa orang yang melewati ruangan nampak kebingungan saat mendengar suara tawa dari dalam.


...*****...


Laila merapikan beberapa kain yang telah ia cuci tadi pagi, ada beberapa selimut di sana.


"Weva malam ini nginep di sini, ya!"


Weva yang sejak tadi asik mengobrol dengan Ken itu langsung menoleh menatap Brilyan yang baru saja bicara membuat Johan, pak Ahmad, Laila, Ken dan Weva saling berpandangan.


"Mau, kan? Bukan cuman Weva tapi semuanya. Aku mau malam ini semuanya ada di sini."


"Emang boleh kalau yang ngejaga banyak?" tanya Laila yang menatap ke arah yang lainnya.

__ADS_1


"Mungkin bisa. Aku kenal sama yang punya rumah sakit ini jadi kalau ada apa-apa bisa langsung telpon teman aku."


"Nah ide bagus jadi malam ini kita bisa kumpul bareng," sahut Ken yang bergerak melangkah duduk di samping Brilyan lalu merangkulnya.


__ADS_2