Princess Endut

Princess Endut
22. Kediaman Wiwi


__ADS_3

Weva terdiam menatap arah luar kaca jendela mobil yang kini melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Wiwi. Sahabat-nya itu memang sering menumpang jika ingin berangkat ke sekolah lagi pula Weva malu jika harus berjalan sendiri di koridor sekolah menuju kelasnya sendirian. Sepagi apapun Weva berangkat ke sekolah, tetap saja ada beberapa siswa dan siswi yang datang lebih cepat mendahului Weva dan yah mereka semua salah satu pembully itu yang selalu melontarkan kata-kata pedas dan menyakitkan hati.


Weva tertunduk menatap bekal biru yang berisi nasi goreng buatannya tadi subuh. Ini spesial untuk Birlyan walupun Weva tak tahu apakah Brilyan memakan nasi goreng buatannya atau malah membuangnya ke tempat sampah. Weva juga tidak pernah menanyakan hal itu kepada Brilyan, lagipula Weva tak peduli dengan semua itu.


Menurutnya yang terpenting Weva sudah berusaha merebut hati sang pangeran impian nya yang selama ini menjadi impiannya dan keinginannya selama bertahun-tahun. Jika sudah cinta maka tak ada pengaruh yang bisa memudarkan rasa cinta, ya hal itu yang Weva rasakan.


Jatuh cinta kepada seorang pria memanglah indah, tapi tidak indah jika pria itu tidak mencintai kita.


Mobil kini menepi tepat disebuah rumah sederhana yang tak lain adalah rumah Wiwi. Terlihat seorang wanita yang berumur sekitar 38 tahun tengah sibuk menyapu halaman rumah lantas membuat Pak Walio berbinar kedua matanya.


"Ahay, pucuk dicinta ulang pun tiba. Kemana pun beta pergi nona berparas cantik selalu ada di hati."


"Sekarang nona yang punya hati ini sudah ada di depan mata. Ahay, tunggu beta, nona," ujar Pak Walio yang langsung merapikan rambut kritingnya dengan jari-jari tangannya sambil mendongak menatap cermin di mobil.


"Ah, sudah tampan sekali beta ini," ujarnya dengan bangga lalu tak berselang lama dengan cepat ia melangkah turun dari mobil dan segera berlari ke arah wanita berparas ke ibu-an yang tak lain adalah mama kandung dari Wiwi.


Perlu kalian tahu jika Mama dari Wiwi merupakan cinta dari pandangan pertama Pak Walio yang tetap bertahan sampai sekarang.


Kedua mata Weva membulat menatap kaget pada Pak Walio yang terlihat masih berlari seperti seekor monyet yang telah melihat pisang.


"Pak Walio!!! Iih masa Weva nggak dibukain pintu?!!" Kesal Weva dengan kedua tangannya yang memegang permukaan jendela mobil.


Sungguh meresahkan, terkadang karena cinta seseorang melupakan tugasnya. Seperti Pak Walio sekarang yang lupa untuk membukakan pintu untuk Weva.


"Selamat pagi bidadari, eh! Maksudnya selamat pagi Adek ina," sapa pak Walio sambil tersenyum malu dan sesekali merapikan rambutnya yang sukar untuk rapi.


"Eh, pak walio," ujarnya dengan bernada lemah lembut sembari menghentikan kesibukannya yakni menyapu halaman rumah yang sudah tak terlalu kotor itu.


Ya, sifat lembut Ina sepertinya tidak menurungkannya pada Wiwi yang lebih galak dan pemarah itu. Entah dari mana Wiwi mendapatkan bakat sikap pemarah seperti itu. 


"Pak Walio!!!" teriak Weva membuat pak Walio menoleh dengan wajah terkejutnya.


"Waduh."


"Bukain pintunya!!!" teriak Weva membuat pak Walio dengan cepat berlari menghampiri Weva.

__ADS_1


"Gimana, sih, pak Walio? Nggak bukain Weva pintu?" tanya Weva dengan kesal sembari menatap pak Walio yang sedang membuka pintu mobil.


"Maaf, Nona Weva, beta lupa."


Weva mendecapkkan bibirnya lalu segera melangkah meninggalkan pak Walio yang kini nampak menggaruk kepalanya dengan wajah yang nampak bersalah.


"Selamat pagi, Tante."


"Eh, Weva. Selama pagi juga."


"Emmm-" Weva menoleh menatap ke arah pintu rumah berharap ia menemukan kemunculan Wiwi.


"Wiwi udah bangun?" tanya Weva.


"Aduh, Wiwi belum bangun, masih tidur dia soalnya semalam begadang," jelas ina memberi tahu.


"Begadang?"


"Iya. Masuk aja ke dalam, Wev! Soalnya dari tadi si Wiwi Tante bangunin tapi nggak bangun-bangun."


Ina mengangguk dengan senyuman membuat Weva menghembuskan nafas berat lalu segera melangkah masuk ke dalam rumah. Menurut Weva rumah Wiwi adalah rumah kedua baginya, terkadang Weva sering menghabiskan waktunya di rumah ini jika Mommy-nya dan Dady-nya keluar negeri.


Bagi Weva Tante Ina sudah seperti Ibu kedua bagi Weva, wanita yang benar-benar baik dan begitu sangat penyayang.


Pak Walio terdiam sejenak menatap kepergian Weva dan tersenyum lebar saat Weva sudah tak terlihat lagi. Ia melangkah lebih dekat di samping Ina sambil merapikan rambutnya.


"Aduh, Mamanya Wiwi ini rajin sekali eh, masih gelap begini sudah menyapu halaman," ujar pak Walio membuat Ina tertawa kecil.


"Pak Walio bisa saja, ini kan sudah keharusan saya, Pak."


"Aduh, eh mama Ina ini sudah cantik, baik dan rajin lagi. Aduh, sudah cocok sekali jadi istri saya begitu, hahaha."


Ina tersenyum malu setelah mendengar ucapan pak Walio yang selalu membuatnya salah tingkah. 


"Ah, mau saya bantu?" tanya pak Walio yang langsung meraih sapu dari tangan Ina.

__ADS_1


"Tidak usah, Pak Walio!" Tahan Ina yang langsung menarik kembali sapu miliknya.


"Ah, sudah tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai kerja sama kita, hehehe."


Ina tertawa kecil dengan raut wajahnya yang sedikit tidak mengerti dengan apa pak Walio katakan. Ia kini hanya tersenyum menatap pak Walio yang nampak sibuk menyapu halaman rumah.


"Hahaha, seperti ini, kan?" tanya pak Walio yang nampak tersenyum dengan kedua matanya yang menatap ke arah Ina sementara tangannya yang menggerakkan sapu dengan asal-asalan.


"Iya," jawab Ina yang sesekali tertawa dan menunjuk ke arah sampah yang tak disapu oleh pak Walip.


...****************...


Langkah berat Weva kini terhenti ketika ia mendapati seorang wanita tua yang berumur sekitar 74 tahun yang nampak tengah asik duduk disebuah sofa empuk sembari fokus menatap layar tv yang kini tengah menayangkan film drama Korea. 


Weva menghela nafas panjang. Mengapa sepagi ini ia harus melihat Nenek dari Wiwi. Sepertinya dunianya yang terasa sunyi itu akan kembali terusik oleh ocehan Nenek Ratum yang super berisik itu.


Ya, wanita tua itu adalah Ibu dari Ina yang berarti wanita tua ini adalah Nenek Kandung dari Wiwi. Nenek dari Wiwi cukup meresahkan, jika kalian ingin tahu.


 


Weva mengendap-ngendap memasuki sebuah kamar yang sedari tertutup rapat. Siapa lagi jika bukan kamar Wiwi. Sepertinya gadis cerewet itu harus segera dibangunkan jika tidak ia pasti akan terlambat datang ke sekolah.


"Ya ampun!!!" Kaget Weva menatap Wiwi yang masih menganga di atas kasur birunya.


      


"Oi, Wi!!! Wiwi harus bangun!!!" Guncang Weva ditubuh Wiwi yang masih tertidur pulas di atas kasurnya.


Tubuh Wiwi terguncang hebat namun, kesadaran Wiwi nampaknya belum terusik hingga membuat Weva mengeluh hebat. Entah mimpi apa yang didapati oleh otak Wiwi yang begitu membuatnya terbelenggu ke dalam dunia tidurnya. 


"Wiwi bangun!!!" teriak Weva dengan kesal sembari terus menguncang tubuh kurus Wiwi.


Weva menghembuskan nafas berat sembari menopang pinggangnya dengan kedua sorot matanya yang masih sibuk menatap tubuh Wiwi.


Apa gadis ini mati?

__ADS_1


__ADS_2