Princess Endut

Princess Endut
150. Arti Kata


__ADS_3

Wiwi membulatkan matanya menatap serius pada jarum jam yang berdetak sesuai waktu.


"Yaaah, satu menit lagi," ujar Wiwi yang begitu tak sabar.


"Empat."


"Tiga."


"Dua."


"Satu."


Setelah Wiwi berhitung tayangan di tv yang menampilkan sebuah iklan kini menampilkan sinetron yang telah sejak tadi ia tunggu-tunggu.


Wiwi melompat ke kasur membuat Weva yang sedang serius membaca buku novel yang ia beli di toko buku karena rekomendasi dari Brilyan sedikit terguncang.


Ia yang sedang duduk diam langsung menurunkan buku novel dari depan wajahnya menatap Wiwi yang menambah volume suara dari remote kontrol yang ada di tangannya.


"Udah main?"


"Tuh!" Tunjuk Wiwi dengan ujung bibirnya.


"Ini emang udah episode keberapa?"


Wiwi terdiam. Raut wajahnya terlihat begitu serius mengikuti adegan sinetron yang sedang tayang.


"Wiwi!"


"Ah, apa, sih? Wev? Gue serius nonton, nih," jawabnya tanpa pernah menoleh menatap Weva.


Weva menghembuskan nafas panjang. Yah, seperti ini lah Wiwi yang tak ingin diganggu jika sedang menonton sinetron kesukaannya. Aktor tampan dan aktris cantik yang berpadu pada drama percintaan yang memabukkan para penikmat sinteron.


"Aaaaa!!! Soswate banget, deh! Aduh, ganteng banget, sih!!!" jerit Wiwi sambil menyentuh kedua pipinya.


Weva kembali menghentikan bacaannya dan kembali melirik Wiwi yang menggeliat seperti cacing kepanasan di lantai.


Wiwi tertawa cekikikan, menjerit dan menggeliat di atas lantai yang kali ini persis seperti orang kesurupan mahluk siluman buaya.


"Wi!"


Tak ada jawaban dari gadis kurus berambut sepinggang itu. Ia sudah seperti orang gila karena mengangumi peran utama yang masih tayang itu.


"Wiwi!"


"Aaaaaa!!!"


"Wiwi!" tegur Weva diiringi dengan lemparan sebuah buku novel yang langsung menghantam punggung Wiwi.


"Heh! Kenapa, sih? Ganggu aja."


"Wiwi berisik tau nggak. Ganggu Weva baca buku."


"Ya, udah baca bukunya di ruang TV aja!"


Weva menghela nafas. Ia bangkit dari kasur dan melangkah menuju pintu. Weva mengintip, membuka pintu itu dengan pelan hingga dari sini ia bisa melihat suasana rumah yang sunyi.


"Wi! Tante Ina belum pulang dari rumah sakit?"


"Belum," jawab Wiwi tanpa menoleh menatap Weva yang masih memegang ganggang pintu.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian Wiwi yang asik menonton itu menoleh menatap Weva yang kembali merangkak di atas tempat tidur.


"Loh? Kok, nggak keluar?"


"Weva takut sendiri."


Suasana kini mendadak sunyi, hanya ada suara percakapan di TV yang terdengar.


"Sunyi, ya, Wi kalau Nenek Ratum nggak ada. Rumah kayaknya sepi."


"Em, iya," jawab Wiwi seadanya.


Weva mendengus kesal. Gadis kurus itu sejak tadi menangapi ujarannya dengan kalimat sederhana.


Semenit kemudian mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Weva sibuk dengan buku novelnya sedangkan Wiwi fokus dengan sinetron kesukaannya.


"Aaaaa, romantis!!!"


Weva tersentak kaget membuat buku novel yang ada di tangannya itu terjatuh ke atas kasur. Wiwi kembali menggeliat di atas lantai persis seperti tadi.


Weva mengernyit bingung membuat kedua mata Weva melirik menatap layar tv yang memperlihatkan aktor tampan itu mengecup kening lawan mainnya.


Seketika Weva teringat kejadian semalam dimana Ken yang telah mencium keningnya di malam itu. Tak ada bedanya yabg dilakukan di layar TV.


Weva masih terdiam memikirkan hal itu membuatnya kembali menatap Wiwi yang telah duduk sambil mengerakkan kedua tangannya untuk mengipas wajahnya yang kepanasan.


"Wiwi kenapa?"


"Yah, baper lah. Malah nanya lagi. Emang siapa yang nggak baper kalau mereka berdua kayak gitu. Malah si Boy pakai cium-cium lagi, gue kan juga mau," jelasnya sambil bertingkah geli.


Weva seketika tersenyum. Sepertinya Wiwi bisa menjawab pertanyaan yang sejak semalam telah menggangu pikirannya dan bahkan menjadi beban dalam benaknya.


"Wi!"


Wiwi mengerakkan kepalanya ke kanan dan kiri agar bisa melihat layar TV, namun itu tak mudah. Wiwi mendesis kesal menatap pasang wajah Weva seakan tak punya dosa.


"Lo ngapain, sih? Ganggu banget. Gue mau nonton!" protesnya sambil mendorong tubuh Weva, namun tak berhasil membuat Weva bergeser.


"Weva mau nanya sama Wiwi."


"Tapi gue lagi nonton."


"Tapi Weva mau nanya sama Wiwi."


"Yah, kalau mau nanya, ya nanya aja! Apa susahnya, sih? Tapi nggak usah duduk di depan gue juga, dong!"


"Badan lo itu nutupin TV, gue nggak bisa liat apa-apa tau nggak! Lo duduk di atas kasur aja, kan tetap bisa nanya sama gue!" lanjutnya.


"Tapi ini penting."


Wiwi menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Rasanya ia ingin membanting kepalanya ini ke dinding saja


"Yah, udah cepetan ngomong!"


Weva tersenyum memperlihatkan giginya yang tersusun rapi itu sementara gadis kurus yang ada di depannya terlihat menopang kepalanya dengan malas.


Tuhan, ia kehilangan beberapa adegan di sinetron kesukaannya.


"Weva mau nanya, tapi Wiwi harus jawab jujur sama Weva."

__ADS_1


"Em."


Weva menarik nafas panjang lalu menoleh kiri dan kanan berusaha untuk memastikan kalau tak ada orang yang akan mendengarnya.


Wiwi melongo. Gadis gendut di hadapannya ini persis seperti pencuri yang takut ketahuan.


"Lo itu kenapa, sih? Udah lah cepetan ngomong! Kalau lama mending minggir, deh! Gue mau lanjut nonton."


"Eit! Eit! Weva mau ngomong, kok."


"Hah, ya udah ngomong!"


Weva kembali menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan lewat ujung bibirnya.


"Wi!"


Tak ada jawaban dari Wiwi. Ia diam memasang wajah lelah, lebih tepatnya lelah menanti.


"Kalau cowok cium kening cewek itu artinya apa?"


"Cinta," jawab Weva tanpa pikir panjang.


"Hah?"


Kedua mata Weva membulat, bibirnya menganga tak menyangka. Wiwi bergeser dari duduk membuatnya mendengus kesal menatap iklan pada layar TV.


"Tuh, kan iklan. Ah, lu mah ganggu banget," ocehnya yang memilih untuk menekan tombol remote kontrol mengganti siaran TV.


Weva masih terdiam. Ia bahkan tak bergerak sedikit pun.


"A-apa? Wi-wi-wi bilang apa?"


"Cinta, Wev! Kalau cowok udah berani cium kening cewek itu tandanya dia cinta, apalagi kalau udah pacaran atau nikah."


"Tapi kalau cowok dan cewek itu cuman temen, gimana?"


"Yah, itu sama aja, sih menurut gue. Itu tandanya cowoknya itu suka sama si cewek, yah cuman si cowoknya ini itu malu-malu buat ngasih tau atau ngungkapin ke si cewek."


"Kalau mereka suka berantem gimana?"


"Kadang, nih, ya cowok yang suka ngajak berantem itu adalah cara mereka buat bisa deket sama si cewek."


"Semakin cewek itu marah maka semakin senang si cowok karena dari situ si cewek akan fokus ke cowok," jelasnya.


Kedua mata Weva menatap ke arah lantai, tak menentu. Pikirannya kini tertuju pada Ken.


"Apa Ken suka sama Weva?" bisik Weva yang nyaris tak terdengar.


"Apa?" tanya Wiwi.


"Ah?"


"Lo ngomong apa?"


"Nggak, Weva nggak ngomong apa-apa," jawabnya sambil tersenyum gugup.


Weva bangkit lalu melangkah menaiki tempat tidur dan kembali berpura-pura membaca buku novel padahal ia memikirkan tentang perasaan Ken.


Tapi apa ini benar?

__ADS_1


Ken suka Weva?


__ADS_2