
Ken menunduk menatap Weva yang mulai memasang wajah penuh harap. Ken terdiam sejenak.
"Ok gue bantu lo," putus Ken membuat Weva terbelalak.
"Yang bener?"
"Iya bener, yah udah cepetan berdiri!"
Weva tersenyum kegirangan dan dengan susah payah ia bangkit dari rerumputan dan mencengirkan senyumnya menatap ke arah Ken yang masih tetap mempertahankan wajah datarnya.
"Ken beneran, kan mau bantuin Weva lagi?"
"Emmm, tapi-"
"Yeeeee!!!" Soraknya bahagia sembari melompat-lompat.
"Hust! Denger gue dulu!" suruh Ken membuat Weva berhasil menghentikan lompatannya.
"Tapi peraturan yang dulu sebagian gue hapus."
"Dihapus?"
"Iya."
"Apanya yang dihapus?"
"Sekarang gue putusin kalau peraturan yang lo nggak boleh sahabatan sama si sahabat cerewet lo itu, gue hapus, jadi-"
"Hah? Yang bener?" potong Weva.
"Gue belum selesai ngomong, Endut!"
Weva tertawa kecil sambil menutup bibirnya.
"Jadi lo bisa sahabatan lagi sama dia."
"Ah, makasih Ken!!!" senangnya dan untuk yang kedua kalinya Weva kembali memeluk Ken dan melompat kegirangan.
Ken kembali terhenyak mendapati pelukan yang datang secara tiba-tiba itu dan untuk yang kedua kalinya perasaan yang aneh itu kembali datang. Ken mendorong secara perlahan tubuh Weva yang kini memberikan jarak antara ia dan Weva.
"Apaan, sih, lo pakai peluk-peluk segala?"
"Kan Weva bahagia, Ken."
"Yah terus kalau lo bahagia harus pakai peluk-peluk kayak gitu?"
"Ih, apaan sih marah-marah melulu, deh dari tadi," kesal Weva walau ia masih terlihat sedikit tertawa karena masih terbawa suasana.
"Yah, lo juga, sih yang-"
"Ya udah-udah. Banyak banget protesnya. Weva balik ke kelas, yah, dadah Keken!" goda Weva sembari mencubit pelan pipi Ken lalu berlari meninggalkan Ken yang terbelalak kaget mendapati cubitan itu serta Weva yang telah memanggilnya dengan nama panggilan kesayangan dari Tante Laila dan Pak Ahmad. jika Ken berada rumah.
Ken menyentuh pipinya yang telah dicubit oleh Weva. Ken tak tahu ia ingin marah atau tidak, tapi tak berselang lama ia tersenyum kecil.
__ADS_1
Entah apa yang menyebabkan dirinya tersenyum hanya saja ada rada senang saat Weva melakukan hal itu.
...****************...
"Yeeeeee!!!" sorak Weva dan Wiwi sembari melompat secara bersamaan setelah Weva memberi tahu hal yang telah dikatakan oleh Ken dan disambut gembira oleh Wiwi.
"Lo serius kan, Wev?" tanya Wiwi yang menghentikan lompatannya.
"Beneran."
"Lo nggak bohong, kan?"
"Nggak. Masa Weva bohong sama Wiwi."
"Serius?"
"Seriuuuus!!!"
"Jadi tadi Ken ngomong gitu dan gue bisa sahabatan sama lo lagi selama lo dibantuin sama si Ken?"
"Iya Wiiii."
"Yeeeeee!!!" Sorak keduanya lagi sembari melompat kegirangan membuat semua siswa dan siswi yang berada di dalam ruangan kelas melongo menatap kedua sahabat ini.
...****************...
Weva melangkah menuruni mobil yang telah dibuka oleh pak Walio disusul Wiwi yang turun dari pintu mobil sebelah lalu melangkah beriringan menuju pintu utama rumah Wiwi bersama dengan Weva yang kini tersenyum bahagia.
Untuk pertama kalinya bagi Weva datang ke rumah Wiwi setelah beberapa hari ini tak bersama. Mungkin itu hanya hal biasa, tapi menurut Weva hal itu sangat menjadi beban untuknya karena yang selalu menyemangati nya adalah
"Kamu sakit apa, Wev?"
"Sakit?" tatapnya heran.
Ina melepaskan pelukannya dan menatap Weva dengan penuh keheranan. "Loh, katanya kamu sakit udah lima hari?"
"Kata siapa Tante?"
"Si Wiwi yang bilang, katanya kamu sakit."
Weva yang masih terheran itu dengan cepat menatap Wiwi yang nampak mengedipkan kedua matanya dan mengangguk cepat dengan wajah panik seakan memberikan kode agar Weva mengiyakan hal tersebut.
"Loh, emangnya kamu nggak sakit?"
"Emmmm, sakit kok. Weva sakit, jadi nggak bisa datang ke sini, hehehe," jawabnya berbohong.
"Aduh, kasian banget kamu, Wev. Sakit apa, sih sampai berat badan kamu turun begini?" tanya Ina sembari menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki Weva.
"Hah? Beneran Weva kurusan?" tanya Weva dengan antusias.
"Iya beneran, loh badan kamu kayak berubah. Sakit apa, sih? Parah, ya?"
"Beneran Tante?"
__ADS_1
"Iya beneran. Sakit apa kamu?"
"Aaaaaa!!!" jerit Weva kegirangan dan melompat-lompat sembari memeluk tubuh Ina yang kini tertawa seakan terpancing oleh rasa bahagia yang Weva rasakan.
Weva menghentikan lompatannya dan berlari menghampiri Wiwi dan memeluknya begitu erat lalu kembali melompat.
"Yeeeee, Wiiii!!! Akhirnya berat bedan Weva turun juga, Wi!!!"
"Iyaaaa, Wev. Gue seneng banget."
"Iya, Weva juga."
"Yeeeee!!! Akhirnya perjuangan Weva nggak sia-sia."
"Iya, Wev. Aaaaaa!!!" jerit Wiwi sembari terus melompat kegirangan membuat Ina hanya mampu melongo dengan tatapan herannya.
"Heh! Heh! Haresso! Ngapain kalian itu teriak-teriak kayak ketemu Oppa Korea gitu?" tanya Nenek Ratum.
Weva dan Wiwi sontak menghentikan lompatannya dan segera menoleh menatap Nenek Ratum yang kini nampak melotot sembari menopang ponggganya. Dari sini keduanya dapat melihat jelas layar TV yang menampilkan Oppa-oppa Korea kegemaran Nenek Ratum tengah bernyanyi dan menari disalah satu Vidio klip.
Weva dan Wiwi kini saling bertatapan penuh makna lalu dengan tatapan jahilnya keduanya saling mengangguk seakan memiliki rencana jahat.
Masih dengan wajah bahagianya mereka berlari menghampiri Nenek Ratum dan memeluknya begitu erat sembari melompat-lompat kegirangan. Nenek Ratum menjerit merasakan sesak yang menghimpit dadanya.
"Yeeeee!!!" sorak keduanya kegirangan.
Ina ikut tertawa menatap Weva dan Wiwi yang begitu sangat bahagia walau ia pun kini belum tahu apa yang menyebabkan mereka sampai sebahagia itu.
Senyum Ina sirna menatap Ibunya yang kini nampak menganga dengan matanya yang melotot seakan kehabisan nafas.
"Wiwi, Nenek kamu sesak nafas!!!" teriak Ina sembari berlari.
Weva dan Wiwi yang mendengar teriakan tersebut segera saling bertatapan dan keduanya dengan cepat menatap Nenek Ratum yang nampak sudah lemas.
Bruk!!!
Tubuh Nenek Ratum ambruk di sofa setelah Weva dan Wiwi secara bersamaan melepas pelukannya.
Lari Ina mendadak terhenti melihat Ibunya yang sudah terkapar di atas sofa dengan mata yang melotot sempurna serta mulut yang menganga.
"Ibu!!!" teriak Ina histeris membuat Weva dan Wiwi terbelalak kaget.
Ina berlari menghampiri Nenek Ratum dan memangku kepalanya dengan wajah yang sangat-sangat panik.
"Wiwi, cepetan cari taksi, Nak! Kita harus bawa Nenek kamu ke rumah sakit!!!" teriak Ina.
"Ke rumah sakit, Bu?"
"Iya cepetan."
"Iya, Bu," jawab Wiwi.
"Biar Weva panggil pak Walio aja, biar cepat," ujar Weva begitu panik dan segera berlari keluar dari rumah.
__ADS_1
"Pak Walio!!!" teriak Weva.