Princess Endut

Princess Endut
56. Amarah Geng Sangmut


__ADS_3

Weva melangkah keluar ketika dua gadis alay ini membawanya keluar dari kelas meninggalkan Brilyan yang nampak tak perduli.


Tangan Weva terus ditarik begitu sangat kasar oleh kedua gadis bertubuh langsing itu.


Entah kemana ia akan dibawa oleh mereka dengan amarah yang nampak di wajah mereka. Apa kesalahan yang telah perbuat sehingga mereka terlihat marah seperti ini.


Weva yang masih ditarik itu menoleh ke segala arah berusaha untuk mencari seseorang. Sekarang siapa yang akan menolong dan melindungi Weva sementara Wiwi tak ada di sini. 


Weva mendongak menatap tulisan Toilet yang ada di bagian atas bangunan bercat biru itu. Apa yang akan mereka lakukan dan membawa Weva ke toilet.


Bruak!!!


Tubuh Weva terhempas cukup keras di dinding membuat Weva meringis merasakan sakit di bagian punggungnya.


Pintu-pintu WC terbuka memperlihatkan tubuh setengah ketika para siswi-siswi mengintip. Mereka juga terkejut setelah mendengar suara keras itu.


"Keluar lo semua!!!" teriak Firda yang memukul keras permukaan pintu WC membuat semua siswi-siswi berlarian keluar dari WC.


Firda mendorong salah satu siswi yang melintas pelan di sampingnya membuat siswi itu langsung terjatuh ke lantai namun, bukan malah marah ia malah bangkit dan kembali berlari pergi.


Weva menoleh menatap tiga gadis berparas cantik itu yang tidak peduli dengan ringisan Weva. Ya, siapa yang peduli pada rada sakit yang Weva rasakan. Tak satu pun ada yang peduli kepadanya. Bagi mereka itu semua tidak penting.


"Nantangin gue lo?" tanya Fhina sambil menopang pinggangnya di hadapan Weva.


Weva menggeleng cepat sembari menatap Fhina dan ia menoleh menatap Firda yang ikut bicara.


"Murahan banget, sih lo, jadi orang jelek. Pakai bilang suka lagi sama si Brilyan," oceh Firda.


"Hem, betul, tuh," sahut Harni sembari masih sibuk mengarahkan kameranya ke arah Weva.  


Sepertinya ia kembali sibuk dengan live instagramnya.


"Weva nggak nantangin, kok," bela Weva.


"Maksud lo ngedeketin Brilyan bukan nantangin? Itu secara nggak langsung lo nantangin gue tahu nggak, dasar gendut," kesal Fhina mendorong keras kepala Weva dengan ujung jari telunjuknya


Weva meringis saat dorongan itu seakan menggerakkan tulang lehernya dengan keras, itu sakit.


"Gue nggak suka, yah kalau lo itu ngedeketin Brilyan," Kesal Fhina dengan nad suaranya yang terdengar menggerutu.

__ADS_1


"Lo denger nggak, sih kita bilang apa?" tanya Firda membuat Weva hanya mampu tertunduk dan diam seperti patung.


Weva takut menghadapi atau bahkan sekedar melihat mereka semua. Mereka terlihat sangat menakutkan.


"Denger nggak lo?" Jambak Firda di telinga Weva membuat Weva meringis kesakitan.


"I-iya-iya Weva dengar," jawabnya cepat.


Fhina yang merasa masih kesal itu dengan penuh amarah menjambak rambut Weva dan mengguncangkan-nya begitu sangat kuat lalu melempar Weva ke lantai yang basah dibantu oleh kedua sahabatnya.


Bruk!!!


Weva meringis merasakan telapak tangannya yang bergeser di permukaan lantai toilet. Bagaimana Weva bisa melawan sementara lawannya lebih banyak darinya. Yakin lah walaupun tubuh Weva gendut, tapi Weva sama sekali tak kuat. Jika saja kekuatan bisa diukur dengan berat badan mungkin Weva sudah menginjak tiga gadis ini dengan mudah, tapi ini tak bisa Weva lakukan.


"Rasain lo!!!" teriak Harni lalu tertawa. 


Bukan hanya Harni yang tertawa, tapi kedua sahabatnya juga Fhina dan Firda yang terlihat tertawa seakan begitu sangat puas dengan apa yang ia lakukan. Mereka jahat, tak ada bedanya dibandingkan dengan pemeran antagonis di sebuah film.


Belem sempat Weva menatap telapak tangannya yang terasa sakit itu tiba-tiba saja Firda menyiraminya dengan air yang ia ambil dari dalam WC menggunakan timba.


Mereka kembali tertawa begitu puas dengan apa yang telah mereka lakukan kepada Weva. Rasa puas itu semakin menggebu dikala mereka melihat air mata Weva yang menetes membanjiri pipin gendutnya.


Fhina melangkah mendekati Weva dan menggengam kasar kedua pipi Weva hingga bibir mungilnya nampak berkumpul membentuk kerucut.


Kedua mata Weva mampu menatap sorot mata Fhina yang penuh amarah dari balik iris mata Weva yang sudah terhalang oleh air mata. 


"Heh, denger, ya!"


"Gue nggak suka kalau ada yang berani ngedeketin Brilyan, terutama lo!" ujarnya sambil mengerakkan tangannya membuat kepala Weva bergerak mengikuti gerakan tangan Fhina.


"Nggak sadar diri banget, sih jadi orang. Lo itu nggak usah kecentilan sama Brilyan karena sekali gendut yang bakalan tetap gendut," tambah Firda.


"Lo itu nggak ada bedanya sama sampah!


"Nggak ber-gu-na. Ngerti lo!"


"Liat badan lo, dong! Gendut! Brilyan nggak mungkin mau sama lo," tambah Harni.


"Denger nggak?!!" teriak Fhina yang masih menghimpit kedua pipi Weva yang sudah memerah.

__ADS_1


Weva hanya mampu menangis. Ia bahkan tak bisa menggerakkan bibirnya untuk menjawab pertanyaan mereka.


"Malah nangis lagi lo. Lo denger nggak?!!" geretak Firda di akhir kalimatnya sembari menjambak rambut sebahu Weva membuat wajah Weva mendongak ke atas menatap langit Toilet.


"I-i-ya" jawab Weva cepat.


Weva bernafas lega ketika jambakan itu terlepas dari rambutnyam. Rasanya jambakan itu benar-benar sakit dan Weva yakin jika beberapa helai rambutnya tercabut dari akarnya.


"Heh!"


Guncang Fhina yang masih menghimpit pipi Weva dengan kedua tangannya.


"Jangan sekali-sekali lo ngedeketin Brilyan! Kalau sampai gue ngeliat lo atau gue dapat kabar lo ngedeketin Brilyan, habis lo sama kita bertiga!" ancam Fhina lalu mendorong wajah Weva hingga tergulai ke lantai toilet.


Weva mengigit bibir bawahnya dengan mata yang sudah sedari tadi mengeluarkan air mata. Mereka kejam! Sangat kejam.


Weva melepas tangisannya ketika suara pintu toilet tertutup menandakan jika mereka telah keluar dari toilet. Weva mengusap kedua pipinya dengan telapak tangan yang telah memerah.


Weva bangkit dan segera melangkah pincang memasuki salah satu WC yang paling dekat darinya. Rasanya kaki kirinya terasa nyeri mungkin, terbentur di saat mereka menghempas Weva ke lantai.


Di dalam sana Weva duduk di atas closed yang tertutup rapat dan menangis sejadi jadinya. Sesekali Weva mengusap rok sekolahnya yang kotor karena telah duduk di atas lantai toilet setelah didorong oleh mereka.


Weva mengusap pipinya berusaha untuk kuat namun, hatinya seakan berteriak untuk segera mengakhiri hidupnya di detik ini juga.


Tapi, percuma jika Weva melakukannya. Weva takut mati dan tak akan melihat Brilyan lagi, yah, Brilyan adalah alasan bagi Weva untuk terus hidup, jika tidak mungkin is sudah mati.


Sudah berjam-jam Weva duduk dan meratapi nasib menyedihkannya di dalam WC ini yang begitu sangat sunyi walau dari dalam sini beberapa kali Weva mendengar aktivitas para siswi-siswi yang keluar masuk toilet dan beberapa dari mereka yang terdengar bergosip menceritakan dirinya yang disiksa dalam toilet.


Bukan malah prihatin, mereka bahkan tertawa seakan kejadian itu adalah hal yang lucu. Mereka jahat, sangat jahat.


Weva bahkan tak peduli dengan layar handphonenya yang beberapa kali menyala ketika Wiwi menelfonnya, yah, bocah itu pasti sudah berada di sekolah dan mencarinya.


Weva mematikan notifikasi handphonenya hingga tak ada yang mengetahui jika ada orang yang tegah duduk di salah satu WC yang masih tertutup rapat itu.


Weva mengusap air matanya lalu segera bangkit dan berniat untuk segera keluar dari WC yang telah menjadi tempat penenangnya saat ini.


"Gue juga nggak tahu."


"Gue nggak tahu kenapa polisi bisa tahu tentang hal ini."

__ADS_1


Kedua alis weva mengerut keherangan ketika suara samar-samar namun, masih bisa Weva dengar dengan cukup jelas dari dalam sini. Weva mendekatkan telinganya ke dinding ketika suara pria itu terdengar dari sebelah WC yang ia tempati.


__ADS_2