
"Siapa?"
"Mereka," jawab Weva dengan kedua matanya yang sengaja dibulatkan sementara kedua bibir Wiwi menganga masih berusaha untuk mengatur nafasnya.
Jujur saja Weva juga lelah, ini lebih melelahkan dari pada berlari mengitari gurun Zahara. Yah, ini agak lebay tapi ini kenyataan. Tubuh gemuk seperti ini pasti lelah jika harus lari-lari seperti tadi.
"Yuk, Wi, naik!" ajak Weva lalu segera melangkahkan kaki kanannya hingga ia mulai menginjak anakan tangga tanpa menunggu persetujuan dari Wiwi.
Weva mengerang dengan sekuat tenaga sambil memegang cukup keras di pegangan tangga. Ini lumayan memakan tenaga untuk naik ke atas sana.
Ini yang dinamakan perjuangan yang sebenarnya dan nyata.
"Wev-"
"Satu!" hitung Weva yang berhasil memotong ujaran Wiwi.
Hitungan itu diiringi dengan Weva yang mulai mengangkat kaki kirinya.
Tatapannya tajam menatap anakan tangga yang kedua, ini sungguh melelahkan sementara di tempat yang sama kini Wiwi terlihat meremas jari-jari tangannya.
"Pelan-pelan, Wev!" ujar Wiwi khawatir.
Wiwi begitu khawatir bukan kepada Weva melainkan kepada pegangan tangga besi itu. Wiwi takut jika pegangan besi itu patah setelah ditekan oleh Weva. Bagaimana bisa Wiwi tak takut, jika saja pegangan tangga itu patah mungkin Bu Yungmi akan menghukumnya lagi seperti tadi.
Tuhan tolong selamatkan pegangan tangga itu, kasihanilah dia.
"Wi, gue capek!" aduh Weva dengan mulutnya yang menganga seakan meminta untuk diisi dengan air.
Wiwi melongo. Ini baru tangga pertama tetapi, Weva sudah seperti ini. Terlihat seperti peminta-minta yang haus dengan uang.
__ADS_1
Wajah lemas Weva terlihat membuat Wiwi takut. Bagaimana jika Weva pingsan di sini lalu siapa yang akan menggendong Weva dan membawanya ke UKS?
Wiwi? Yang akan mengangkatnya?
Oh tuhan itu tidak mungkin. Lengan Weva yang seberat kaki gajah itu tak mampu ia tahan. Bagaimana bisa Wiwi yang kata orang kurus ini menggendongnya?
Wiwi melangkah sedikit menjauh. Wiwi takut jika Weva benar-benar pingsang dan menimpa tubuhnya, bisa jadi gepeng tubuh Wiwi nanti.
Wiwi berlari menaiki anakan tangga dengan mudah sembari menghadap ke Weva yang masih susah payah menarik nafasnya.
"Ayo, Wev!"
"Lo harus semangat!" ujar Wiwi dengan semangat 45 yang berkobar.
Weva menelan ludah di kerongkongannya yang terasa mengering, ditatapnya sahabat sok dewasanya itu yang masih memberi semangat di atas sana.
Weva melongo. Ia menoleh ke belakang dimana terakhir kali ia melihat Wiwi dan kini Wiwi sudah ada di depannya. What? Semudah itu!
Hah! Rasanya Weva sangat iri dengan Wiwi yang memiliki tubuh yang begitu kecil dan ramping. Andai saja tubuhnya tak seberat gajah dan tak selebar kasur mungkin Weva tak akan sesusah payah seperti ini hanya untuk naik tangga.
Memang susah. Tubuh Wiwi memang sudah kurus sejak dulu sedangkan tubuh Weva sudah gendut sejak dulu. Sahabat sejak kecilnya itu memang beruntung.
Kata orang mereka itu saling melengkapi. Weva gendut sedangkan Wiwi kurus, Weva berkulit agak gelap sedangkan Wiwi berkulit lebih putih, Weva berkaca mata sedangkan Wiwi memiliki mata jeli. Bayangkan saja jika disaat ujian Wiwi bisa melihat kunci jawaban dari teman sebangku yang duduk paling depan.
Weva berambut pendek sedangkan Wiwi berambut panjang, Weva yang sikapnya polos sedangkan Wiwi yang sikapnya lebih dewasa tapi yang paling menguntungkan adalah Weva anak yang cerdas dalam bidang hitung menghitung hingga ia bisa dapat peringkat satu di kelas.
"Ayo, Wev! Angkat kaki lo kayak gini!" pinta Wiwi sembari terus memberi contoh.
Wiwi terus melangkah dengan mudah melewati belasan anakan tangga yang berbaris itu.
__ADS_1
"Ayo, Wev!" ujar Wiwi yang sudah berada di anakan tangga yang paling tinggi.
Weva menganga. Semudah itu Wiwi menaiki anakan tangga.
Wiwi kembali menuruni anakan tangga lalu berhenti tepat di belakang Weva, sedikit menjauh, yah, Wiwi masih terbayang jika Weva pingsan, Wiwi takut jadi pisang gepeng.
"Ayo, Wev!" pinta Wiwi.
Weva mengangguk. Semangat ini kian meningkat ditambah Wiwi yang masih memberinya semangat.
"Yok bisa yok bisa yok! Yok bisa yok bisa yok!!!" sorak Wiwi dengan semangat sambil melompat kegirangan seperti cheerleaders yang sedang bersorak untuk permainan bola basket di pinggir lapangan.
Weva tersenyum bahagia membuat gigi putihnya itu terlihat. Wiwi lucu juga jika seperti ini. Weva heran, sahabatnya ini kadang sok dewasa dan kadang kayak bocah.
"Du-"
Kedua mata Weva terbelalak lalu dengan cepat menurungkan kakinya yang berniat untuk menginjak anakan tangga yang kedua.
Weva begitu sangat terkejut ketika gerombolan pria berandal itu berada di anakan tangga paling atas dan mereka semua terlihat sedang menatap serius ke arah Weva yang kini masih terdiam dengan wajah kagetnya.
Wiwi yang berniat untuk naik ke anakan itu kini terhenti, gerombolan pria itu begitu menakutkan tapi ia sedikit tersenyum ketika melihat pria berwajah tampan yang berdiri paling depan.
"Oh Tuhan, pria tampan itu lagi," ujar Wiwi sambil memegang dadanya yang terasa berdebar saat melihatnya.
Bibirnya terus tersenyum dengan wajahnya yang ingin pingsang dengan tatapan terpesonanya.
Weva menelan ludah. Ini musibah yang Weva takuti sejak awal hingga membuatnya lari-larian sejak tadi.
Dengan cepat Weva membalikkan tubuhnya berniat untuk lari dari musibah ini. Lebih baik ia bertemu hewan buas daripada ia harus bertemu dengan geng brandal ini.
__ADS_1
"Berhenti lo!!!" teriak seseorang dari belakang.