Princess Endut

Princess Endut
163. Siapa Dia?


__ADS_3

"Yah pasti makin gendut, lah," jawab Fhina membuat kedua sahabatnya itu kembali tertawa.


...****************...


Suara high heels terdengar seiring langkah kaki yang bergantian melangkah  di sebuah jalan. Gadis dengan pakaian ketat berwarna putih membentuk lekuk tubuh langsingnya serta rok sebatas lutut yang melekat pada tubuhnya berhasil menyita setiap pandangan.


Gadis yang melangkah bak model profesional itu mampu mencuri perhatian setiap orang yang melihatnya. Siapa pun itu, baik itu pria tua, wanita tua, dewasa bahkan anak-anak. Tak ada kata berkedip saat mereka terus melihat sosok gadis bertubuh langsing itu.


Rambut hitam yang telah ditata lurus dengan ujung yang bergelombang berbentuk spiral nampak terhempas-hempas ketika ia melangkah.   


...****************...


"Ahahaha, setuju banget," tambah Harni yang tak mampu untuk menahan tawanya.


"Makin jelek juga, hahaha," sahut Firda membuat kedua sahabatnya itu, Fhina dan Harni kembali tertawa.


...****************...


Para gerombolan pria yang sedang asik mengobrol itu langsung dibuat melongo setelah menatap wajah gadis yang kini masih melangkah melintasi para kerumunan orang yang langsung membelah jalan.


Sosoknya berhasil menyita semua perhatian orang banyak dan tak ada satu pun yang terlewati.


Bruak!!!


Suara keras sepeda yang terhempas ke permukaan aspal ketika pengemudi sepeda itu terus menatap ke arah belakang menatap setiap langkah gadis tersebut membuatnya tak menyadari jika ada tiang di depannya. 


Bukan hanya para kaum pria yang melongo menatap gadis itu, tetapi semua gadis juga ikut melongo.


Gadis dengan tubuh langsing itu berhasil menyita semua perhatian orang banyak dan satu hal yang membuat mereka melongo, yakni wajahnya.   


...****************...


"Satu lagi, satu lagi!" ujar Harni yang mengangkat satu jari tangannya.


"Apa?" tanya Fhina dan Firda dengan kompak.


"Makin iyuuuuuw, hahaha."


Ketiganya tertawa begitu kegirangan mengabaikan para siswi dan siswi yang sejak tadi menatapnya. Fhina melirik tajam membuatnya sadar jika sedari tadi ada gadis culun yang sedang menatapnya.


"Kenapa lo ngeliatin kita?!!" bentak Fhina membuat gadis itu tersentak kaget.


Gadis itu menggeleng dan memilih untuk tertunduk lalu melangkah jauh.


Ketiga gadis geng Sangmut ini kembali tertawa bahagia. Selama ini tak ada yang berani dengan mereka. Apalagi sekarang mereka adalah kakak kelas yang sekarang menjadi penguasa di sekolah ini. Kini tak ada yang berani melawan atau macam-macam yang namanya geng Sangmut karena siapapun yang berani melakukannya akan diberi pelajaran oleh mereka secara habis-habisan.


"Ehm, si gendut jelek itu beda sama kita. Kalau kita makin hari itu makin cantik, terkenal-"


"Huhuy," potong Harni. 


"Dan...,"


Fhina terdiam sesaat memikirkan kalimat yang akan ia ujarkan lagi membuat kedua sahabatnya itu terdiam menanti.


"Dan?" tanya Harni memancing.

__ADS_1


"Dan, Ah pokoknya the best, lah," putusnya kehabisan kata-kata membuat kedua sahabatnya itu kembali tertawa.


Seorang pria melangkah melintasi geng Sangmut sembari menggelengkan kepalanya perlahan. Entah mengapa mereka selalu menjerit seperti seekor tikus kejepit yang meminta pertolongan.


"Kak, Brilyan!" panggil seseorang membuat pria pendiam seperti es balok itu menoleh.


Yap, dia Brilyan. Si pria idaman Weva yang tak kunjung berubah dengan sikap dinginnya.


"Kak, Brilyan. Nanti kak Brilyan jadikan ajarin aku rumus fisika?" tanya gadis itu.


Brilyan mengangguk namun, tak ada kata-kata yang ia ujarkan dari bibirnya. Belum sempat gadis itu berujar kini Brilyan membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.


Jangan tanyakan dia akan kemana! Tentu saja kini ia akan melangkah ke perpustakaan.


Sekarang waktu Brilyan belajar sangatlah padat pasalnya tak lama lagi ia akan mengikuti olimpiade fisika antar sekolah dan lagi dan lagi Brilyan lah yang ikut serta.


Tetapi, perlu kalian ingat ini bukan kemauan Brilyan tapi ini semua keinginan Johan, Papanya.


...****************...


Di tempat lain kini Ken dan Wiwi berjalan berdampingan menuju ke luar sekolah yang kini telah ramai dipadati oleh ribuan siswa dan siswi Cendrawasih Internasional School.


"Gimana, Wi l? Lo udah ada kabar belum dari kak Wevo mengenai Weva?"


Wiwi menghela nafas membuat wajah sedihnya tercipta.


"Belum, Ken. Gue nggak tau sekarang Weva itu gimana kabarnya. Kesel banget, deh gue," ungkapnya jujur.


"Udah, lah! Nanti juga dia balik," ujar Ken berusaha menenangkan walau ia sendiri juga merasa resah dengan ketidak adanya kabar mengenai Weva.


 


"Apanya yang udah Ken? Si Weva masa nggak ngasih kita kabar? Kita ini, kan sahabatnya. Emangnya dia pikir kita nggak rindu apa sama dia?"


"Nih, kepala gue kayak mau pecah mikirin dia terus selama setahun tau nggak," lanjutnya


"Heh, berisik banget, sih lo. Dari dulu sampai sekarang lo nggak berubah tau nggak, berisik banget," kesal Ken.


Wiwi menghentikan langkahnya ketika Ken kembali mengoceh. Membuat Ken ikut menghentikan langkah kakinya juga.


"Yah, udah deh gue balik dulu."


"Em, titip salam, yah sama si Dady lo," ejek Ken membuat Wiwi dengan kasarnya memukul lengan Ken.


"Kurang ajar lo," kesal Wiwi yang kini tertawa.


Suara klakson mobil terdengar membuat Ken dan Wiwi menoleh menatap mobil yang sudah terparkir di depan gerbang sekolah.


Pintu mobil itu terbuka di susul sepatu hitam mengkilat membuat Ken melipat kedua bibirnya berusaha menahan tawa sementara Wiwi hanya garuk-garuk kepala.


"Wiwinyuuuu, yuhuy Wiwinyu anak Wiwi unyu kayak Dedy!!!" teriak pria yang kini berdiri kokoh di samping mobil mengunakan sarung batik serta kaca mata hitam.


Semua pandangan siswa dan siswi kini mengarah pada pria berambut keriting itu. Yap dia pak Walio, Supir pribadi Weva yang kini menjelma menjadi imam untuk Ina sekaligus ayah untuk Wiwi.


    

__ADS_1


"Tuh, lo dipanggil sama Dady," bisik Ken lalu tertawa.


"Diam lo!" ungkap Wiwi tak senang.


"Yuhuy, Winyu, Wiwi unyu!!!" Teriak pak Walio lagi.


Wiwi menghela nafas dan segera berlari menghampiri pak Walio yang tersenyum membuat gigi putihnya terlihat.


"Dedy ngapain, sih?"


Pak Walio melepas kaca matanya dan merentangkan kedua tangannya seakan siap untuk menyambut Wiwi dengan pelukannya.


"Idih, geli banget, sih."


"Why Winyu, Wiwi unyu? Gimana pelajaran hari ini? Ada masalah?"


"Nggak ada tapi Dady yang salah."


"Apa? Dedy salah apa?"


"Yah, nggak usah pakai teriak-teriak gitu, dong kalau jemput aku!"


"Loh, memang Dady ini salah apa? Apa teriak itu salah?"


"Ih, Dedy itu nyebelin, deh," kesal Wiwi lalu melangkah masuk ke dalam mobil.


Pak Walio mengkerutkan dahinya keheranan. Ia sama sekali tak mengerti mengapa Wiwi terlihat kesal padahal ia tak melakukan apa-apa. Yah hanya sedikit berteriak.


"Pak Walio!" sapa Ken dengan teriaknya sembari mengangkat tangannya melambai.


"Yuhuu!!!"


"Sehat pak?"


"Wah, beta sehat ini!!!" jawabnya.


"Dady Walio, kenapa sih teriak-teriak melulu?" kesal Wiwi sembari mengeluarkan separuh tubuhnya dari jendela mobil.


"Apa Winyu, Wiwi unyu?"


"Dady nggak usah teriak-teriak dong malu, nih diliatin orang. Tuh, semua orang pada ngeliatin kita."


"Apa salahnya? Toh mereka punya mata."


Wiwi menarik nafas panjang berusaha untuk menahan amarahnya.


"Masuk nggak sekarang!"


"Tunggu-"


"Masuk nggak! Aku aduin sama Ibu, ya!" ancamnya.


"Aduh, jangan Winyu, Wiwi unyu! Nanti kita punya Ibu itu marah."


"Yah, udah cepetan masuk!"

__ADS_1


Pak Walio hanya mengangguk dan tanpa basa-basi ia segera berlari masuk ke dalam mobil setelah melambaikan tangannya ke arah Ken.


__ADS_2