Princess Endut

Princess Endut
176. Kejadian Di Bandara part 1


__ADS_3

1 Hari yang lalu....


Weva melangkahkan kakinya dilantai bandara setelah menghabiskan 7 jam perjalanan. Weva menghentikan langkahnya dan melepas kaca mata hitam yang ia gunakan hingga bandara yang telah ia tinggalkan setahun yang lalu itu terlihat jelas dikedua matanya.


Banyak yang berubah di tahun ini. Terutama orang-orang yang ada di bandara. Dulu orang-orang melihat Weva hanya dengan sebelah mata. Memandang Weva layaknya sampah di dunia tapi sekarang orang-orang bahkan tak segan untuk mengajaknya tersenyum atau sekedar menyapanya seakan-seakan mereka telah bertemu sebelumnya.


"Gimana, dek?" tanya Wevo yang berdiri di samping Weva.


"Kakak, pulangnya duluan aja, nanti aku telfon bodyguard Papi buat jemput Weva," ujar Weva membuat Wevo mengangguk.


"Oh, iya kak. Emmm, jangan kasih tau siapa-siapa, yah kalau Weva udah pulang dari Korea."


"Loh, terus kalau nanti pak walio tanya gimana?"


"Yah, nggak usah dijawab."


Wevo tertawa dan mencubit pipi Weva yang kini tak sebesar dulu.


"Oky, deh."


Weva tersenyum. Keberuntungan yang ia dapatkan juga adalah ia mempunyai kakak yang pengertian dan bisa diajak kerja sama.


Mungkin ini salah karena ia datang ke Jakarta tanpa memberitahu Wiwi atau pun Ken, tetapi bukan hanya saat ini ia tak memberikan kabar. Ia tak memberikan kabar selama setahun.


Bukan maksud ingin menghilang hanya saja Weva hanya ingin fokus pada niatnya saja tanpa ada sebuah gangguan.


Weva berdiri di balik jendela besar, kedua matanya menatap ke arah pak Walio yang sedang memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Ia tersenyum dengan bibir bergetar, nyaris menangis.


Weva sangat rindu pada pria berdarah Papua itu. Tak banyak yang berubah pada sosok yang sudah Weva anggap sebagai keluarga.


Weva hanya mampu mengintip dari kejauhan dan tak dapat datang menghampiri pak Walio karena Weva punya niat dan rencana yang lain.


40 Menit kemudian...


Weva duduk di kursi panjang yang ada di bandara sembari menggeser pelan layar handphonenya menanti bodyguard Papinya yang baru saja dihubungi untuk menjemputnya datang di sini.


Weva mengkerutkan kedua alisnya menatap panggilan telpon dari Wevo membuat Weva mengangkatnya cepat.


"Halo, kak."


"Dek-" Wevo menoleh menatap keluar gerbang menatap Wiwi dan Ken yang berteriak memanggil namanya.

__ADS_1


"Wiwi sama Ken ada di luar mungkin pak Walio udah kasih tau kalau Kakak udah pulang dari Korea dan mungkin mereka mengira kalau adek udah pulang juga," jelasnya sembari melangkah masuk ke dalam rumah mengabaikan Ken dan Wiwi yang masih berteriak.


"Mereka sekarang ada di luar?" tanya Weva dengan raut wajahnya yang begitu bahagia.


"Iya."


"Kakak, jangan bilang apa-apa dulu, yah! Biar Weva yang kasi tau mereka sendiri."


"Iya, dek."


Panggilan terputus setelah Weva memutuskan telponnya. Senyumnya muncul lagi setelah mengigit jika Wiwi dan Ken sekarang sedang berada di depan gerbang rumah dan kemungkinan besar mereka mencarinya.


Lebih dari beberapa menit Weva duduk di kursi membuatnya bangkit setelah mendapat kabar jika bodyguard papinya telah menunggu di luar bandara. Sebenarnya para bodyguardnya telah meminta untuk Weva menuggu di dalam tapi Weva khawatir jika hal ini menjadi perhatian semua orang dan malah mengerumuninya dan mengiranya seorang aktris persis seperti apa yang terjadi di Korea beberapa bulan yang lalu.


Langkah Weva tiba-tiba terhenti menatap pria yang amat sangat ia kenal tengah berlari. Yap, dia Ken. Si pria pembully yang dulu sangat ia benci dan berubah menjadi sang penolongnya selama seminggu.


Weva tersenyum dan memutuskan untuk memasang kacamata hitamnya dan melangkah ke arah Ken yang masih berlari.


Weva harap jika Ken ingat kepadanya.  


Bruak!!!


Tubuh Weva sedikit goyah saat Ken tanpa sengaja menabrak tubuhnya.


Weva menoleh menatap Ken yang masih berlari menjauh darinya. Belum jauh Ken berlari tiba-tiba Ken kembali menabrak seorang wanita muda membuat wanita itu terjatuh ke lantai.


Weva berlari dengan cepat menghampiri wanita muda itu dan membantunya untuk berdiri.


Weva kembali menoleh menatap Ken yang masih berlari memberi jarak kepadanya. 


  


Weva yang melihat hal tersebut hanya mampu tersenyum dan tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya menatap Ken yang sudah berlari cukup jauh darinya. 


"Ibu nggak apa-apa?" tanya Weva pada wanita itu.


Pertemuan pertama yang sangat unik yang diawali dengan tabrakan. Weva membalikkan badannya dan kembali melangkah sembari menyentuh dadanya yang telah ditabrak oleh Ken. 


Rasanya Weva ingin berteriak memanggil Ken. Weva ingin memberitahu jika ia adalah Weva, sosok gadis gendut yang selama ini ia cari.


Dia adalah gadis gendut yang telah ia ubah kisah hidupnya dalam semalam seakan ia adalah seorang princess yang berdansa di bawah guyuran air mancur pada saat itu.

__ADS_1


Weva melangkah keluar dari bandara disambut oleh dua bodyguard Papinya yang awalnya tak percaya jika dia adalah Weva. Tapi setelah Weva memperlihatkan bukti menggunakan nomor Mami dan Papinya barulah mereka percaya.  


Salah satu bodyguard itu membuka pintu mempersilahkan Weva untuk masuk namun, langkah Weva tertahan.


"Ada apa Non?"


"Emm, tunggu! Weva mau masuk sebentar ke bandara," ujar Weva lalu melangkah pergi dan melangkah masuk ke dalam bandara meninggalkan dua bodyguard yang sudah siap melajukan mobil.


Weva berlari masuk ke dalam bandara dan mencari sosok wanita yang sangat ia rindukan selama ini.


Entah sudah sampai di bagian mana Weva mencari sosok sahabatnya itu di bandara tapi ia tak kunjung menemukannya. Yap, siapa lagi jika bukan Wiwi.


Sudah pasti jika Ken berada di bandara kemungkinan besar kalau Wiwi juga ada di bandara. Ini tak ada bedanya disaat ia akan berangkat ke Korea.


Langkah Weva terhenti menatap seorang wanita yang tengah berdiri di tengah-tengah jalan di mana orang sedang berlalu-lalang melintasinya.


Itu sudah jelas jika sosok wanita itu dia adalah Wiwi.


Weva melangkahkan kakinya dan menghampiri Wiwi dan menepuk lembut punggungnya membuat Wiwi menoleh menatap Weva.


Kedua mata Wiwi terbelalak menatap wajah Weva dengan wajah yang seperti melihat sosok hantu.


"Hai, Wiwi" sapanya.


Wiwi melongo menatap heran pada gadis berwajah cantik yang telah menyebut namanya. Bagaimana bisa wanita cantik ini mengetahui namanya?


Wiwi menoleh ke arah kiri dan kanannya berusaha mencari sosok orang yang gadis cantik ini ajak bicara. Weva tersenyum dengan wajahnya yang sedikit keheranan.


"Wiwi, Wiwi cari apa?"


"Ka-kamu ngomong sama saya?" tanya Wiwi membuat Weva tertawa.


"Ih, kok nanya gitu sih, Wi? Ini aku Weva."


"Hah?" kaget Wiwi dengan kedua matanya yang terbelalak serta mulutnya yang terbuka lebar.


Suara terkejutnya itu menggema di dalam ruangan bandara membuat orang-orang yang ada di sekitarnya langsung menoleh dengan wajah pasang heran.


"Yang be-bener?"


"Iya, Wi. Ini Weva," jawabnya sembari mengangguk.

__ADS_1


"Hah?!!" kagetnya lagi.


__ADS_2